Secarik Kertas di Dalam Nakas.
Farrel Gibran.
Tanpa sengaja dan tanpa rencana, gue yang tadinya berniat mengambil obat Mami pun teralihkan oleh selembar kertas dengan lecakan di setiap sudutnya yang tak terlihat familier dan amat mengganjal. Membuat gue dengan lancangnya menarik dan mengabsen tiap kata yang tersusun padat dan merayap di atasnya.
Mata gue memanas, kantung mata gue terlampau lelah dan ringkih untuk menahan hujaman air mata yang hendak bersorak-sorai menoreh bekas di secarik kertas yang gue pandangi lamat-lamat dan beri atensi pada setiap aksaranya.
Secarik kertas di dalam nakas, dengan untaian kalimat yang membuat sukma gue tersayat.
Entah harus bersimpuh di mana lagi aku. Tak mampu menopang juga tak mampu menuntun anakmu. Entah harus mengadu ke mana lagi aku. Sebab dia yang menjadi tempatku mengadu kini telah pergi meninggalkan luka yang tak terbendung. Entah harus berlari ke mana lagi aku. Sedang dia yang akan menuntunku telah berlari jauh meninggalkanku.
Gue hancur.
Gue dan Bara bak boneka lakon yang membutuhkan jalan untuk menjadi pemenang dalam pertunjukkan dunia yang tak seharusnya menjadi tempat gue bersamanya bersatu, benak gue terus menyeru untuk minta dituntun.
Entah berapa kali rasanya gue ingin mencongkel memori ini dari otak gue, memberikan ketenangan dan membawa kembali apa yang telah gue hancurkan. Detik itu juga gue proklamasikan kepada dunia bahwa pendekarnya telah gugur satu. Gue dengan segala janji yang telah gue tawarkan kepada Bara, meninggalkan dia di medan perang tanpa sempat memberi lencana.