Sepanjang hidup Arsena, ini kali pertama ia menginjakkan kaki di bar. Tempat di mana saat ia melesakkan presensinya akan disambut oleh isi klub yang dipenuhi ingar-bingar lagu, sarat pengunjung yang mengalunkan tubuhnya mengikuti tempo, dibubuhi dengan lampu warna-warni yang berpendar.

Arsena benci kerumunan, akan segalanya yang ada pada ruang tempatnya berpijak. Kecuali satu nyawa yang dengan eloknya bergerak tanpa merasa diusik, tertawa dan berseru di tengah lautan manusia yang dikejar oleh rasa kebutuhan duniawi yang tak bersangkar.

Matanya terus membidik presensi Gabriel, seorang lelaki yang menjadi satu-satunya alasan ia mendobrak dan menyingkirkan seluruh rasa ketidakmampuannya di tengah bisingnya suasana.

Relungnya bergemuruh, pikirannya menjadi keruh. Lelaki yang sedari tadi ia amati lamat-lamat kini tengah berada dalam rengkuh seseorang yang ia tak kenali juga tak pedulikan identitasnya.

Netra Arsena bertumbukan, saling menarik dengan manik mata Gabriel yang kini hanya mengangkat kedua alis dan melayangkan tatapan arogansinya sebagai sarat tanya.

“Temen doang.” timpal Deo yang baru saja mendudukkan diri di samping Arsena, menarik kembali sadarnya.

“Apa?”

“Yang barusan sama Iyel, cuma temen.”

Arsena menukikkan alisnya. “Hubungannya sama gue?”

Deo tertawa renyah, tangannya meneguk gelas berisikan minuman beralkohol yang sedari tadi ia genggam. “Lo naksir, gue tau.”

“Sotoy.”

“Yaudah biasa aja dong lihatinnya!” timpal Deo dan menyodorkan botol yang baru saja ia buka ke hadapan Arsena.

Arsena menggeleng dengan cepat. “Gue nyetir, harus nganterin Iyel dulu.” anggukan serta tawa Deo lontarkan sebagai sahutan.

Dalam diamnya, Arsena tak melepaskan pandangnya dari lelaki penyandang asma Gabriel Eknath. Lelaki yang mulai ia kenal baik selama satu bulan ke belakang, lelaki yang satu persatu rahasianya mulai ia bawa ke daratan.

Segalanya tentang Gabriel menjadi satu kesatuan utuh yang ia bingung menamainya. Ada kalanya ia menjumpai Gabriel di atas rooftop dengan cerutu yang terselip pada jemarinya. Ada kalanya ia menjumpai Gabriel yang dengan mudahnya melesakkan diri ke dalam lingkaran yang baru ia sambangi, melontarkan senda guraunya juga akan kerendahan hatinya. Ada kalanya ia menjumpai Gabriel yang tengah berderma dengan uluran tangan lembutnya. Juga ada kalanya ia menjumpai Gabriel dengan pancaran mata penuh kesepian dalam ramainya dunia malam.

Seolah tak ingin kehilangan, membuat Arsena sadar akan masa remajanya kali ini. Bagaimana ia mulai melesakkan diri ke dalam gudang kelana dengan kehendak mematut kisah kasih soal romansa.