Shouldn’t
Detak jarum jam dinding yang terpasang pada salah satu sisi tembok kamar Orion pun terdengar nyaring, menemani serta memenuhi belukar pikir dua anak adam yang saling diam tak bergeming. Sesekali suara mesin sepeda motor yang berlalu lalang serta derap langkah mengiringi, semakin mempekeruh benak yang diam-diam tengah menciptakan gaduh.
Orion menghembuskan napasnya dengan gusar, kedua telapak tangannya ia gunakan untuk mengusap wajahnya secara kasar. “Terus sekarang kita gimana?”
“Apanya yang gimana?” tanya Noel, tangan kanannya memainkan sebuah pemantik api yang sedari tadi ia genggam.
“Kamu jangan kayak orang enggak habis kenapa-kenapa, El.”
Noel terkekeh, nyala api yang sebelumnya terus ia pandangi lamat-lamat pun bergoyang hingga redup tatkala terkena hembusan napasnya.
“Aku bingung, Iyon.”
“Aku ngerasa bersalah, Noel.”
“Kamu enggak sadar.”
“Dan kamu cukup sadar untuk nyadarin aku waktu itu.”
Noel menegak ludahnya dengan susah payah dan Orion tau akan hal itu saat melihat pergerakan jakun Noel yang terlihat lambat dan bersarat. Noel lekas membetulkan duduknya, menekuk kedua kakinya dan membawanya ke dalam rengkuhan. Jemari kakinya menciptakan gerak yang tak konstan, menarik seluruh atensinya lebih dari tatapan yang Orion lemparkan ke arahnya.
“Orion, aku bener-bener enggak tau harus bereaksi apa waktu itu. Bisa aku cuma diem karena tujuan aku untuk jenguk dan temenin kamu, bukan untuk bikin drama di saat kamu sakit.” ucap Noel, tangannya menggenggam erat sebuah pemantik yang enggan ia lepaskan. Seakan-akan jika ia melepaskan pemantik itu, akan lepas pula seluruh kekuatan yang telah ia bangun.
Noel menghentikan kalimatnya, ekor matanya melirik ke arah Orion yang masih terus melempar pandang ke arahnya. “Terusin, go on.”
“Tapi kalau boleh bilang, sumpah, it hurts me so much to the extent that I can’t feel anymore pain. I’ve been laughing at myself for the whole day karena hal itu.”
“Tiap liat wajah kamu rasanya aku inget lagi kejadian hari itu, aku benci banget.” ucap Noel dengan nanar.
Orion memijat batang hidungnya sekilas, berpikir keras akan jawaban dan tindakan yang akan ia lontarkan. “Noel.”
Noel berdeham sebagai jawab.
“Maaf.”
“Kamu udah berapa kali minta maaf sejak tadi? Kalau bisa diuangin bisa buat beli cupang seempang.” jawab Noel dengan kekehan kecilnya.
Orion menekuk kakinya dan ia rengkuh erat-erat. Kepalanya ia tenggelakan di atas lututnya, bersembunyi dalam lipatan tangannya. “Aku yang tadinya ngerasa enggak pantas buat sama kamu, semakin ngerasa enggak pantas buat kamu.” ucap Orion dengan suaranya yang redam.
“Ngomong apa sih lo? Gak jelas.”
Bagi Orion, menaruh hati pada manusia yang menebar hati baiknya ke siapa saja merupakan petaka berbalut senyum sebesar dunia.
Orion mengangkat wajahnya, memandang tiap inci profil wajah Noel yang terkesan tegas setelah ucapannya barusan. “El, setelah aku pikir-pikir kayaknya we shouldn’t be together ya? Your happiness is what matters the most to me and at this point of my life, aku merasa enggak bisa ngasih itu.”
“Orang sinting.” pekik Noel, tangannya melempar pemantik yang sedari tadi ia genggam ke sembarang arah hingga menimbulkan suara dentingan yang keras. “Gini nih yang gue takutin kalau cerita ke lo.”
“Gue cerita ke lo karena gue pengen lo tau, karena gue udah enggak kuat nyimpen sendirian. Niat gue ngomongin ini sama lo karena gue pengen kita baik-baik aja tanpa ada gue yang ngerahasiain hal ini dari lo. Gue..”
Noel menggantung kalimatnya, ia mengacak surainya dengan kasar. “Kesalahan lo yang enggak bisa disebut sebagai kesalahan, enggak nutupin semua rasa seneng gue waktu bareng sama lo, Orion.”
Keduanya memilih untuk menciptakan hening panjang, mempersilahkan suara orang-orang yang tengah berbincang diiringi dengan tawa di luar kamar yang menjadi pengisinya.
“El.” panggil Orion dengan lirih, tangan kanannya berusaha meraih tangan kiri Noel yang mengepal erat di atas lututnya. “Is it okay if we end up walk in a separate way?”
Noel memilih diam tak menjawab, kepalan tangannya semakin erat sedang Orion meraup oksigen dengan rakus, mengisi rongga dadanya yang terasa hampa. “It wouldn’t at first, but trust me, it’s okay.”
“Lo egois.”
“Terus lo apa? Maksa gue untuk mau ada sama lo ketika gue sendiri terus ngerasa bersalah dan mempertanyakan diri gue yang enggak pantes buat lo itu bukan egois?” ucap Orion dengan nada yang lebih tinggi dari runtutan kalimat yang sempat ia lontarkan sebelumnya.
Orion memberikan usapan-usapan pelan, berusaha untuk lebih meredakan Noel di saat dirinya sedang merasa di pucak gemuruh yang keduanya bangun.
“El, I started to realize that I loose myself when I’m around you. Tapi itu bukan karena kamu, karena aku sendiri. Aku tau, kamu gak pernah menyuruh aku untuk selalu positif atau apapun itu. Tapi aku, Noel. Aku sendiri yang memerintah diri aku untuk selalu berdiri tegap karena sekarang ada nama kamu yang beriringan sama langkah aku. Ofcourse I did cry once or twice, bahkan kamu adalah orang pertama yang aku cari ketika aku pengen nangis. Tapi ketika aku begitu, selepasnya aku merasa jadi beban buat kamu. Sedangkan aku gak mau jadi beban lagi bagi siapapun.”
“And on that time I realize that when I tried not to be a burden for someone, I became a burden for myself. And I guess, taking a separate way like this is currently the best thing. It might sound egoistic, but I am aware that this bring much benefit for me than for yourself. But I feel like I need to fix my relationship with myself first before I workout any relationship with other.” ucap Orion dengan volume suaranya yang kian lirih dan terdengar bergetar, tak ada kekuatan dari setiap untaian frasanya.
Setitik air mata lolos dari pelupuk Orion, mata yang menjadi favorit Noel untuk selalu ia tatap kini memancarkan redup yang berbalut kabut penuh rasa kalut juga takut.
Noel menepis tangan Orion yang memberikan usapan pada punggung tangannya dan meraih tas ranselnya dengan gusar, menggantungnya pada bahu kirinya dengan perasaan kecewa serta marahnya akan dunia juga akan Orion yang kini hanya diam tanpa berniat meliriknya presensinya yang perlahan menghilang ditelan pintu kamar.
Dan dengan begitu, lembaran kisah akan Orion dan Noel menemui akhir.