Siapa yang Paling Tersakiti?

cw // kisses

Pintu pagar yang berkarat menghasilkan bunyi derit ketika dibuka, Noel melangkahkan kakinya masuk ke pekarangan indekos tempat Orion menetap. Saat itu pukul lima sore dengan mega mendung yang menutup semburat jingga dari sang surya, tak terlihat satu nyawa pun, bahkan tidak pula seekor kucing.

Noel terus melangkah, kakinya dengan otomatis bergerak mendekat ke arah salah satu pintu yang terletak di paling ujung. Jika saat ini terdapat presensi lain selain dirinya, jelas jawabannya adalah debaran jantungnya yang sangat keras. Takut dan khawatir, dua kata yang cukup menggambarkan perasaannya saat ini.

Noel menghirup napasnya dengan rakus, mengumpulkan banyak oksigen dan menghembuskannya. Tangan Noel terulur untuk memberikan ketukan kecil pada pintu kayu di hadapannya, sebelum akhirnya memegang gagang pintu dan membukanya.

Presensi Junio di dalam sana bukan suatu hal asing sebab ia yang meminta, namun matanya kini terus membulat tatkala mendapati Junio dengan kaus oblongnya tengah berada dalam rengkuhan Orion bersamaan dengan bibir keduanya yang saling berpaut.

Dengan sisa-sisa kewarasannya Noel menelan ludahnya susah payah, membuat pergerakan lamban pada jakunnya. Lidahnya terlewat kelu untuk sekadar memanggil salah satu asma dari dua insan yang masih terus berpagutan untuk menginterupsi keduanya.

Tangan Noel menggenggam erat plastik yang memuat makanan serta obat-obatan, menampilkan buku-buku putih pada kukunya sebagai pelampiasan atas gambaran yang tengah ia rekam dalam memori di kepalanya.

Noel berdeham, membuat Junio terperanjat dan menjauhkan wajahnya dari Orion. Tangannya sibuk melepaskan lingkaran tangan Orion yang terlihat masih enggan untuk lepas.

“Noel...” lirih Orion dengan matanya yang masih terpejam erat, tangan kirinya memberikan remasan kecil pada kaus Junio merasa enggan ditinggalkan.

“Jun, ini tadi dititipin Bunda buat lo.” ucap Noel, tangannya mengulurkan plastik putih dengan stoples bening berisikan kue kering yang tersusun padat dan rapi.

Junio menggaruk tengkuknya, ia merasa marah serta malu atas dirinya sendiri bak ditelanjangi dan siap dimangsa hidup-hidup. Tangannya meraih sodoran plastik yang diberikan Noel, napasnya tercekat sukar untuk memasukkan oksigen ke dalam rongga dadanya. “Makasih ya, El.”

Noel tersenyum dan mengangguk kecil.

“El.”

“Enggak apa-apa.”

“Gue tadi—“

“Gak apa-apa.” selak Noel dengan punggung tangannya yang sengaja ia letakkan pada kening Orion, suhu panas menjalar dengan cepat pada tangannya yang dingin terkena terpaan angin sore serta lingkupan rasa gugup dan amarah.

“Gimana kliniknya?”

“Tutup. Lo pulang aja, Iyon udah sama gue.”

Sebagian besar dalam benak Junio bersorak dan terus merapalkan syukur sebab sejak detik pertama ia menyadari kehadiran Noel serta kesalahannya, ia ingin lekas melenyapkan presensi atas dirinya dari ruangan berpetak bercat putih tulang.

Thanks ya Jun, udah ditemenin.” sambung Noel dan berdiri di ambang pintu, siap menutupnya dengan rapat selepas Junio benar-benar tertelan oleh jarak.

Selepas presensi Junio yang sudah tak lagi menempati ruangan tersebut, meninggalkan satu noktah pada dada Noel terasa menyalurkan rasa pedih yang dengan singkat mampu menjalar ke seluruh tubuhnya, tangan serta kakinya pun terasa lemas tak memiliki sisa tenaga untuk berdiri lebih lama.

“Iyon, minum obatnya dulu.” ucap Noel dengan tangannya yang sibuk mengeluarkan obat-obatan dari kantung plastik kecil yang ia bawa.

Tangan kiri Noel menepuk serta mengusap pelan pipi Orion, membisikkan rangkaian aksara demi aksara pada telinga Orion. “Minum obat dulu, Iyon. Nanti tidur lagi.”

“El?” rintih Orion dengan matanya yang masih terpejam erat, kepalanya sengaja ia iringkan untuk menahan telapak tangan Noel supaya tak lekang dari pipinya.

Noel tersenyum dan berdeham kecil. “Iya? Aku di sini.”

“Aku sakit.”

“Pusing?” alih-alih memberikan jawaban verbal, Orion memilih untuk mengangguk lemah. “Iya makanya diminum dulu obatnya.”

“Aku tadi mimpi kamu ke sini.” ucap Orion dengan pelafalan katanya yang tak terlalu jelas, bak diseret dan dibubuhi gumam.

“Iya?”

Orion mengangguk. “Aku kira cuma mimpi, taunya kamu beneran di sini. Aku mau peluk.”

“Iya, minum obat dulu nanti baru peluk.” ujar Noel dengan penuh kehati-hatian, ibu jarinya terus mengusap alis Orion guna menghilangkan guratan pada dahinya dan menyalurkan tenang.

Orion menggeleng dengan netranya yang terus terpejam. “Obatnya cuma peluk dari kamu.” dengan sisa-sisa tenaganya, Orion menarik pergelangan tangan Noel hingga membuat Noel menjatuhkan badannya pada dada Orion.

Sepersekon setelahnya Noel dengan sigap memposisikan tubuhnya pada sisi Orion, menenggelamkan kepalanya pada ceruk leher Orion dengan tangan kirinya yang terus melingkar pada tubuh Orion. “Iyon, ini cuma tempat aku.”

Orion mengajukan tanya dengan berdeham.

“Ini, yang boleh gini cuma aku.”

Orion tersenyum dan berdeham mengiyakan, melayangkan banyak kecupan pada surai Noel. “Wangi kamu, aku suka.”

“Iyon.”

Hanya dehaman yang Noel dapatkan. “Iyon, aku mau cium.”

“Udah kan barusan? Nih lagi.” timpal Orion dan kembali mengecup surai Noel dan semakin mengeratkan rengkuhannya.

Noel menggeleng.

Put your lips next to mine.

Noel cukup sadar untuk meminta, sedang Orion cukup sadar untuk memberi. Noel yang sedari tadi menyembunyikan wajahnya pada ceruk leher Orion pun kini telah mengangkat wajahnya, menyambangi dengan wajah pucat pasi Orion.

Orion membuka matanya secara perlahan, remang cahaya dari lampu kamarnya pun lantas menyeruak. Sudut bibirnya perlahan saling menarik, membentuk senyuman tipis saat mendapati wajah Noel yang bersinggungan dengannya.

Tangan kanan Orion menarik dagu Noel untuk mendekat sebelum akhirnya melingkupi pipi kekasihnya. Netra keduanya saling terpaku, beriringan dengan bibirnya mengikis tiap senti yang membentang.

Hangat bibir Orion pun menyambangi bibir Noel yang terasa dingin, memberikan kecupan dalam dan saling bertautan dengan nyaman tanpa penuh tuntutan.

Seiring bertambahnya sepersekon detik, Noel kini merasa diburu oleh dirinya sendiri juga oleh potongan gambar yang menyitas benaknya bak benalu. Matanya memanas, pelupuknya tak lagi kokoh untuk menahan bendungan air mata yang tak diundang.

Orion yang menyadari akan air mata Noel yang mulai menetes dan berkenaan dengan kulit wajahnya pun berusaha untuk menjauhkan wajahnya.

“Jangan dilepasin sebelum aku yang lepasin, Iyon.” ucap Noel lirih sebelum akhirnya menarik tengkuk Orion untuk kembali ia taut bak mempertemukan dua keping puzzle untuk menjadi satu kesatuan utuh saat bersama.

Baik Orion maupun Noel kini saling mengembalikan segala pagutan yang saling ia lempar, dengan napasnya yang terus memburu serta degup jantung bak harmoni paling indah yang pernah keduanya dengar.

Noel tersenyum tipis dalam sela pagutannya. Seakan kini dunia tengah berteriak ke arahnya, lihatlah dia yang masih tersenyum padahal tengah mengemban luka serta duka.