Sisa-sisa embun masih terasa, ujung jalan raya masih sedikit terselimut kabut. Begitu pula pucuk-pucuk dedaunan nan jauh belum jelas terlihat nyata.
Noel bersedekap dalam balutan hoodie nya, rambut ari di sekujur tangan dan kakinya bergidik saat mentari belum terbit dengan benar. Dingin, hujan yang mengguyur Bumi semalam pun bak meninggalkan cinderamata.
Orion menghirup dalam-dalam hawa pagi pertama Jakarta, sesekali kakinya menyenggol rerumputan yang diselimuti sisa embun dan membentuk bulatan pada ujungnya.
“Lo beneran gila jemput gue jam segini.” ucap Noel, meraih pergelangan tangan Orion dan melihat arloji yang melingkarinya. “Kok tangan lo anget banget?”
Orion mengedikkan bahunya sekilas. “Tandanya harus pegangan.” ucapnya sebelum menautkan jemarinya dengan milik Noel, mengeratkan genggamannya. “Masih kedinginan nggak?”
Noel mengangguk sebagai jawab. Orion tersenyum dan menghentikan langkahnya, membuat Noel pun turut berhenti dan berdiri berhadapan dengan Orion. Orion meraih kedua tangan Noel, menangkupnya menggunakan kedua tangannya dan sesekali menciptakan gesekan-gesekan pelan sebagai penyaluran rasa hangat. Kepala Orion sedikit menunduk menyambangi tangan mereka yang masih menyatu, memberikan beberapa tiupan pada kedua tangan Noel dalam genggamannya.
“Udah anget sekarang.” ucap Orion dan kembali mengaitkan jemari tangan kirinya pada tangan kanan Noel, membawanya masuk ke dalam saku celananya dan kembali melanjutkan jalan-jalan pagi mereka.
“Jadi gimana tadi?”
“Apanya, sayang?” tanya Orion dan sedikit memalingkan wajahnya, membalas Noel yang tengah menatapnya dengan berbinar.
“Ayah.”
Orion ber-oh-ria singkat, mulutnya menggembung dan menerawang ke depan. “Enggak seserem yang gue kira, sih. Tadi waktu nungguin lo gosok gigi, sempet ngobrol soal basket sama sepeda.”
Noel menghela napasnya dengan kasar, menarik perhatian Orion yang menaikkan kedua alisnya dan segera memalingkan wajahnya menatap Noel. “Yah, alamat deh habis ini Ayah kena pelet juga!” Orion tertawa kecil dan semakin mempererat genggamannya pada tangan Noel, sesekali memberi usapan menggunakan ibu jarinya.
“El, ayo taruhan!”
“Apa?”
“Kata lo, Tabi sama Tobi bakal ada di sana nggak? Yang salah bayarin bubur ayam.” ucap Orion saat langkah keduanya semakin mendekat ke sebuah ruko kosong yang terasnya akan menjadi tempat Tabi dan Tobi berteduh. “Kata gue sih enggak ada.”
“Menurut gue juga enggak ada.”
“Nggak boleh sama dong jawabannya!”
Noel menendang pelan kaki kiri Orion menggunakan lututnya. “Lo curang! Harusnya dihitungin dulu, baru jawab.” Orion hanya terkekeh dan menjulurkan lidahnya.
Orion tidak berbohong jika presensi Noel merupakan hal yang sangat ia sukai dan syukuri, satu-satunya kebahagiaannya yang tersisa dan amat ingin ia lindungi dari usikan Ayah nya. Sudah lebih dari satu jam keduanya berbagi bilik yang tak begitu luas, berdesakan dan saling berebut mouse, sesekali Noel memekik gaduh tatkala kakinya didesak oleh kaki Orion sehingga tak sengaja mengenai papan pelindung CPU komputer dalam bilik.
Satu lagi hal di dalam catatan yang harus mereka coret hari ini. Mendudukkan diri keduanya di dalam bilik yang sama, sekadar saling menertawai status Facebook pada masa lampau yang kini terasa menggelitik, memesan dua gelas kopi yang menampilkan kepulan asapnya pada ruangan ber-AC serta satu bungkus camilan yang akhirnya hanya dibuka dan tergeletak begitu saja.
“Hidup bagaikan sungai yang mengalir, ada aja tai yang lewat.” ucap Noel tatkala membaca status yang terpasang pada akun milik Orion. Membuat ia mati-matian menahan gelak tawanya agar tak mengganggu pengunjung lainnya.
“Udah? Puas?”
Noel mengusak surai Orion yang kini tengah menatapnya sinis. “Belum!”
“Udah ah, El! Curang banget tadi gue cuma baca dua, lo udah baca lima.” ucap Orion, tangan kanannya melewati tubuh Noel dan segera menutup profil akunnya. Membuat Noel yang berada di belakang punggungnya pun semakin tertawa melihat Orion yang berlaga kesal.
Orion yang telah selesai menutup tampilan pada layar komputer pun memalingkan wajahnya, tanan kanannya yang semula memegang mouse kini ia tarik dan taruh di belakang kepala Noel, memberikan usapan dan sesekali memilin surainya. Tangan kirinya kini ia letakkan pada dinding penyekat bilik guna menumpu badannya supaya tak jatuh begitu saja dan menghimpit Noel.
Noel yang sedari tadi tertawa pun sekejap terdiam, dengan bibirnya yang terkunci sesekali ia membetulkan tubuhnya untuk duduk semakin ke belakang menjauhi wajah Orion yang malah semakin mengikis jarak bak mengejarnya.
“Apa?” tanya Noel yang berusaha menyembunyikan gugupnya. Noel yang sedari tadi memberikan gigitan pada bibirnya pun lekas menyudahinya tatkala kedua matanya menangkap ke arah mana mata Orion menatap.
Tangan Orion yang sebelumnya masih terletak pada kepala bagian belakangnya pun kini telah berpindah. Memberikan elusan pada kelopak matanya, berpindah ke pelipisnya, hingga turun dan mengusap pipinya, dan bersemayam pada bibirnya.
Noel paham betul apa yang kekasihnya inginkan.
Orion tampak memainkan lidahnya pada sudut bibirnya, memberikan gigitan kecil pada bagian dalam dan sapuan singkat pada tepi bibirnya. “Noel, aku mau cium. Boleh?”
Napas Noel semakin berderu serta tenggorokannya kini dengan susah payah menelan liurnya. Ia kepalang gugup. Tidak ada jawaban lain yang mampu Noel berikan selain anggukan kecil dan matanya yang perlahan memejam tatkala Orion semakin memangkas jarak yang menghalangi keduanya.
Noel merasa lemas yang teramat pada lulutnya, membebaskan sukmanya keluar dan menolak gravitasi. Melambung jauh ke tempat antah berantah. Deburan pada dadanya tak tertahan, mengacak-acak relungnya saat itu juga. Saat bibir itu, bibir milik Orion menyatu dengan bibirnya.
Noel tak berani membuka matanya, tak berani bergerak bagai ia akan mati saat itu juga jika melakukan pergerakan sedikitpun. Dengan napasnya yang masih terus memburu, Noel merasa Orion memulai pergerakannya.
Orion membawa ciumannya lebih dalam, menekan bibirnya sebelum akhirnya memberikan gigitan kecil pada bibirnya. Membuat Noel terperanjat dan membuka bibirnya, mempersilahkan Orion untuk memperdalam ciumannya dan mengobrak-abrik relungnya lebih lama.
Noel mendapat keberanian yang menjalar dalam benaknya setelah tangan kanan Orion melingkar pada pinggangnya, kini ia mengalungkan tangannya pada tengkuk Orion, mengusak dan sesekali memberikan remasan kecil pada surai kekasihnya.
Setelah merasa Noel mampu menemukan keberanian dan kenyamanannya, kini tangan kanan Orion memberikan rabaan kecil yang membuat Noel menggeliat dan semakin membuka bibirnya. Orion yang merasakan itu segera melesakkan lidahnya ke dalam mulut Noel, mengabsen rongga mulutnya dan berakhir dengan mereka yang bertukar saliva.
Noel yang sudah merasa kehabisan napasnya pun memutuskan tautan keduanya secara sepihak, dadanya tergerak cepat naik turun berusaha meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Kedua netra Noel masih belum berani menatap manik mata Orion dan ia merasakan rasa panas yang menjalar pada kedua pipinya. Bahkan ruangan ber-AC yang kini ia tempati pun terasa engap dan panas. Tangannya mengibas pelan tepat di depan wajahnya, sesekali ia menghembuskan napasnya kasar berusaha mengatur pernapasannya.
Orion yang melihatnya hanya terkekeh dan mengusak rambut Noel sebelum akhirnya mendekatkan wajahnya kembali tepat di hadapan wajah Noel. Diusapnya bibir Noel yang meninggalkan basah menggunakan ibu jarinya dengan penuh kehati-hatian, setelahnya ia membubuhi kecupan singkat. “Makasih, Noel.”
Hari itu keduanya saling belajar mengenai bagaimana ombaknya bergejolak, memahami tiap butir pasir yang ada agar mampu bergerak seirama.