Telak

Sebuah wajan yang bersarang di atas gerobak kayu terus mengepulkan asapnya, menyeruakkan aroma sedap dari makanan di dalamnya. Bara api yang berada di dalam tungku menarik penuh atensi Junio, percikan api-api kecilnya bak debaran jantung yang terus memercikkan pertumpahan rasa akan ketakutan, ketidaksiapan, serta kemarahan penuh akan dirinya.

Lidah Junio kelu serta napasnya terus menderu penuh gemuruh tatkala seorang lelaki yang menjadi alasannya terduduk di salah satu kursi plastik tengah menyembulkan eksistensinya, melempar pandang ke arah Junio dengan mimik wajahnya yang bersarat penuh akan letih.

“Lo udah pesen?” tanya lelaki tersebut ketika berhasil menyambangi Junio, tangannya ia simpan pada saku hoodie nya.

Junio menggeleng kecil sebagai jawab.

“Mau pedes?”

“Gue enggak usah, El.”

“Makan. Gue ajakin lo ketemu di sini karena emang mau makan bareng sama lo, bukan mau lo lihatin doang.” ujar lelaki tersebut dengan wajahnya yang tak menampilkan ekspresi datar, semakin sukar untuk Junio menebak belukar pikirnya.

“Mau pedes, gak, Jun?”

“Boleh.”

Lelaki itu hanya mengangguk singkat dan melenggangkan kakinya untuk memesan makan bagi keduanya, Junio dengan gesit menarik sebuah kursi plastik yang tak jauh darinya untuk ia sandingkan pada sisi kanannya.

“Gimana, El?” tanya Junio ketika lelaki tersebut sudah mendudukkan diri di sampingnya.

Noel, lelaki itu menukikkan kedua alisnya. “Apanya yang gimana?”

“Mau ngobrolin apa?”

“Mau makan.”

“Enggak mungkin lo ngajakin gue makan doang tanpa ada yang mau lo obrolin soal kemarin.”

Noel terkekeh. “Beneran, gue selaper itu terus tiba-tiba inget pernah diceritain Iyon katanya mi goreng di sini enak. Enggak mungkin gue ngajakin Iyon karena dia masih sakit, jadi ngajakin lo aja.”

“Lo sengaja ngasih gue makan biar kuat nahan ya?” selidik Junio, jemari kakinya terus ia tekuk berharap akan mendapatkan keberanian dari bawah sana.

“Nahan apa?”

“Nahan sakit waktu lo tonjokin nanti.”

Noel tertawa dengan lepas bak mendengar lelucon paling menggelitik, menimbulkan beberapa pasang mata tertuju kepadanya. “Lo kira gue bakal nonjokkin lo?”

Junio diam tak bergeming, netranya menangkap Noel yang masih berada di ujung tawanya.

“Gue enggak pernah diajarkan untuk menyelesaikan masalah harus selalu dengan kekerasan, Jun. Selagi masih bisa kita obrolin, gue jauh lebih pengen ngobrol baik-baik sama lo daripada harus buang-buang tenaga untuk mampusin lo. Ya walaupun gue mampu sih pasti.” ujar Noel, tangannya merogoh saku celana bahannya dan mengeluarkan sekotak sigaret beserta pemantiknya.

“Gue jauh lebih pengen lo tonjokkin.” ucap Junio, tangannya sigap menerima sodoran sebatang sigaret yang Noel ulurkan.

“Kenapa?”

“Gue merasa bersalah banget kalau lo baik gini.”

“Berarti kalau gue tonjokin, lo enggak merasa bersalah?” tanya Noel, tangan kanannya menyelipkan sebatang sigaret pada celah bibirnya.

“Tetep merasa bersalah, tapi seenggaknya gue lebih bisa nerima itu.”

Noel tersenyum remeh, tangan kanannya menyalakan pemantik untuk mulai membakar dan menggerogoti tiap inci sigaret yang akan ia sesap.

“Lo sejak kapan suka sama cowok gue?” tanya Noel sebelum akhirnya menarik kuat sigaret pada bibirnya, membuat rongga dadanya kempis untuk memenuhi seluruh ruang pernapasannya dilekati oleh nikotin.

“Enggak tau pastinya, tiba-tiba aja suka.”

Noel mengangguk dan menghembuskan napasnya perlahan, membuat asap putih menyeruak keluar dengan rapi dari mulutnya.

“El.”

“Apa?”

“Lo marah?”

“Pertanyaan lo enggak mencerminkan remaja bangsa, kayak enggak berbobot.” ucap Noel mengundang kekehan dari Junio.

“Tapi gue paham karena Iyon emang sehebat dan sekeren itu. Dia lebih dari kata pantes untuk disukain dan disayang sama banyak orang.” imbuh Noel, tangannya mengetuk kecil sigaret yang terselip pada jemarinya untuk meruntuhkan abu nya ke dalam asbak.

“Lo enggak takut?”

“Apa yang harus gue takutin?”

Junio mengedikkan bahunya singkat. “Karena banyak yang suka sama dia, mungkin?”

“Enggak. Gimana juga kalau lo anggep ini kompetisi, gue udah menang telak sejak lama, Jun.” Junio turut terkekeh melihat Noel yang tengah tertawa dalam balutan kepulan asap di hadapan wajahnya.

“El, soal yang kemarin.”

“Apa?”

“Boleh gue jelasin ini?”

“Iya.”

“Kayak apa yang udah gue bilang ke lo. Gue murni cuma mau kompres Orion, tapi waktu itu tangan gue langsung dipegang. Lo tau? Yang dia panggil nama lo.”

Noel diam tak bergeming, memberikan waktu serta atensi sepenuhnya pada runtutan penjelasan yang akan Junio tuturkan.

“Setelah itu dia peluk gue, itu pertama kalinya gue dipeluk sama Orion. Gue pernah bertanya-tanya, kapan gue akan dapet peluk dari seseorang yang gue suka. Jadi ketika itu kejadian, gue merasa gue butuh akan itu. Maaf.”

Noel hanya mengangguk.

“Setelah pelukan, Orion tanpa sadar cium gue. Gue tau banget itu salah, bahkan udah jauh dari runtutan pikiran gue soal Orion. Gue kaget, jelas, tapi waktu itu gue merasa egois dan hilang waras untuk terima ciuman Orion.”

Junio menarik napasnya dengan kuat, memenuhi dan mengisi seluruh rongga pernapasannya. Tangan kirinya ia kepal dengan erat di bawah meja, menancapkan kuku-kukunya pada telapak tangannya untuk mencari kekuatan dalam penyampaian kalimat final dari penjelasannya.

“El, dari semua yang Orion lakuin waktu itu, cuma nama lo yang terus-terusan disebut.”

Jantung Junio mencelus, menimbulkan rintih kesakitan di dalamnya. Malam itu ia merasa dilucuti sebelum akhirnya dunia memproklamasikan akan kegagalan dalam perjalanan jatuh cintanya.

Rangkaian aksara pada kalimat final yang lolos terucap dari bibir Junio membuat ia ditelan oleh realita, dihadapkan oleh hamparan sirkuit perlombaan yang di mana dirinya tak akan pernah menjadi pemenangnya.

Sebab, seseorang di samping kanannya, seseorang yang dengan lapangnya menorehkan senyum serta tawa untuk membalut luka dan dukanya, lebih berhak dan dinyatakan sudah telak untuk selalu menjadi juara.