Televisi itu menyala di ruang gelap, menghantarkan radiasi lebih kuat dari biasanya. Menayangkan potongan gambar demi gambar, dan iklan demi iklan kepada seorang penonton. Seoorang penonton yang pikirannya sedang berkelana jauh di dalam dunianya. Orion sedari tadi terduduk di lantai dengan kedua matanya yang nyalang dan menyandarkan kepalanya di atas kasur, sesekali tangannya memberikan lintiran kecil dan usapan penuh tekanan pada rambutnya yang mulai panjang.

Tangan kanan Orion meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja tak jauh dari tubuhnya, terdapat helaan napas yang cukup panjang ketika netranya melihat tampilan jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan kurang. Dengan digerogoti penuh rasa ragu, Orion membuka dan menyalakan laptop pada pangkuannya. Jarinya tergerak dan menari di atas laptop untuk menuliskan tautan yang telah dikirim oleh Kak Isa tempo hari.

Orion menghirup oksigen dengan serakah, mengisi ruang pada rongga udara dalam tubuhnya dengan penuh dan menghembuskannya secara gusar. “Coba aja, Orion. Nggak apa-apa, pertama dan terakhir, nggak ada lagi begini-beginian.” ucapnya kepada dirinya sendiri sebagai semangat.

Matanya terbelalak ketika melihat tampilan nama peserta lain pada layar laptopnya. Nama yang sedari kemarin terus mencuri sebagian atensi dalam dirinya. Namun batinnya terus berseru untuk sekedar mengingatkan bahwa nama Noel di dunia ini tidak hanya satu.

“Halo. Isa, ya?” hanya dengan tiga kata yang menyeruak dari pengeras suara pada laptopnya, Orion sangat yakin bahwa lawan bicaranya saat ini adalah Noel yang ia kenal dan Noel yang ia semogakan untuk menjadi pasangannya malam itu.

Terdapat kebingungan yang menjalar di dalam tubuh Orion, jemarinya menggaruk alis sebelah kirinya yang sebetulnya tidak gatal. “Sa?” suara Noel di seberang sana berintonasi bak tengah memastikan bahwa lawan bicaranya benar-benar ada di seberang.

Orion menelan salivanya dengan susah payah sebelum akhirnya mulai menyalakan mikrofonnya. “Halo, El.”

“Eh?” Noel di seberang sana mengangkat kedua alisnya dengan penuh rasa kejut sebab bukan suara perempuan yang ia dengar. Bukan berbagai macam suara perempuan seperti yang telah ia susun dalam benaknya.

“Eh sorry kalau gue ngecewain ekspektasi lo. Nggak apa-apa kok kalau lo mau leave sekarang dan protes ke pihak VBD.” ucap Orion terkesan terburu kepada Noel di seberang sana, sedang Noel hanya menggigit bibir bagian dalamnya sebagai reaksi dengan penuh pertimbangan sebab suara di seberang sana terdengar familier bagi indra pengengarannya.

“Orion?” merasa namanya disebut oleh Noel yang berada di seberang sana, Orion sedikit menyunggingkan senyumannya.

“Iya, El?”

“Oh jadi ini beneran Orion? Orion nya Tabi sama Tobi?” tanya Noel memastikan dengan intonasinya yang penuh interes. Senyum yang sebelumnya terpatri pada bibir Orion dengan penuh keraguan kini berubah bersamaan dengan perubahan intonasi pada suara Noel.

Orion mengulum bibirnya dengan sekilas untuk meredakan senyum penuh dengan rekahan yang tidak ia rencanakan sebelumnya. “Iya, ini Orion nya Tabi sama Tobi. Halo, Noel!” seru Orion menimpali Noel di seberang sana.

“Kok bisa lo sih? Ini kok namanya Isabelle? Ih lo sering jadi penyusup ya?” cecar Noel dengan intonasi menggoda, diakhiri dengan kekehan yang disengaja.

Orion ikut terkekeh mendengar runtutan pertanyaan dari Noel, semua rasa berat dan tentunya kekesalan terhadap Kak Isa seketika lenyap ketika lawan bicaranya saat ini adalah Noel.

“Gantiin Kakak gue, jadi harusnya sekarang yang ngobrol sama lo mah Kakak gue. Long story short, orangnya baru aja jadian, yaudah katanya biar nggak sayang duitnya akhirnya gue disuruh gantiin. Lo nggak apa-apa kan? Tapi kalau lo mau lapor juga nggak apa-apa El, asli.” terang Orion guna menjawab runtutan pertanyaan dari Noel yang saat ini terdengar ber-oh-ria sebagai tanggapan dari jelasnya.

“Nggak apa-apa sih gue, malah seneng.”

“Seneng?”

Noel meremas rambutnya dengan gusar atas ketidak hati-hatiannya dalam berucap, jemarinya mengetuk-ngetuk laptop dengan irama yang konstan sebab bingung mencari alasan untuk jawaban pertanyaan Orion yang penuh selidik.

“Eh iya seneng kan jadi nggak kikuk karena udah kenal? Lagian gue juga enggak minat ikut ini, tapi keburu didaftarin temen gue. Dijadiin tumbal gitu deh.” jelas Noel pada akhirnya.

“Terus sekarang masih nggak minat?” Noel menggeleng dengan pelan yang jelas hal tersebut tidak dapat dilihat oleh Orion.

“Udah.”

“Udah apa, Noel?”

“Iyon, lo ngeselin ya ternyata!” Orion tidak mampu menahan gelak tawanya saat mendengar Noel dengan dengusannya di seberang sana.

“Kan gue cuma nanya.” ucap Orion di sela-sela tawanya.

“Iya, udah minat.” ucap Noel dengan intonasi ketusnya, membuat Orion memberikan pijatan kecil pada pipinya yang terasa pegal sebab sejak awal tadi hanya senyuman dan tawa yang bersemayam di wajahnya.

“Udah minat setelah tau gue partner lo?” tanya Orion sekali lagi dengan penuh goda, sengaja membuat kesal lawan bicaranya. Orion membayangkan bagaimana wajah Noel di seberang sana, apakah bibir itu akan mengerucut acap kali ia menggodanya.

“Iya, emang kenapa kalau gue suka ngobrol sama lo?” tanya Noel dengan lantang yang berhasil membalik keadaan sebab setelahnya kini Orion yang masih terduduk di lantai kamarnya itu sibuk meremas lututnya. Menyalurkan segala rasa gugup atas pertanyaan dari Noel, juga rasa gemas akan intonasi lawan bicaranya.

“Ya enggak apa-apa. Gue juga suka.”

Banyak informasi yang baik Orion maupun Noel dapatkan dari percakapan keduanya malam itu.

Bagaimana cerita mengenai Orion yang menjadi salah satu pemain dari tim basket perwakilan sekolahnya di ajang DBL dan kebetulan Noel yang turut menjadi perwakilan sekolahnya dalam ajang tersebut di bidang fotografi.

Bagaimana Orion yang dengan semangat menggebu mengenalkan Noel ke akun miliknya pada platform internet yang menjadi tempatnya mengunggah permainan bass dan juga gitarnya; sedang Noel yang dengan semangatnya mengenalkan Orion ke akun fotografinya di Instagram.

Tanggapan keduanya atas minat dan bakat masing-masing kini meninggalkan bekas bagi satu sama lain, bagaimana merasa dihargai dan divalidasi.

Memang semesta kadang terlewat suka menciptakan sketsa-sketsa indah yang mampu memorakporandakan jiwa-jiwa yang hidup. Salah dua dari jiwa-jiwa tersebut adalah Orion dan Noel, yang bahkan setelah sambungan keduanya terputus pun menyisakan banyak kesan yang sukar untuk ditangkap dan digambarkan. Ratusan kata ratusan aksara yang telah terucap tak juga mampu tuk menyampaikan maksud dari empunya, meninggalkan tanda tanya besar yang memerlukan jumpa untuk kali berikutnya agar mampu mendapat jawab.

Keduanya merapalkan harap kepada semesta untuk kembali murah hati dan menciptakan jumpa berikutnya. Jumpa yang tak terbatas waktunya, juga jumpa yang mempertemukan keduanya lebih nyata dalam labirin semesta.