Tujuh Hari

Radhika Abimanyu.

Rasa kehilangan itu masih terus menetap dan semakin beranak-pinak, banyak rasa kalut yang membalut. Terhitung tujuh hari selepas ragamu tak berdaya, ditimbun tanah hingga tak lagi terpatri.

Hari pertama, saya habiskan jalan-jalan ke toko buku. Sesekali mengendus buku yang sudah telanjang bulat, seperti apa yang kerap kamu lakukan dulu sebab katamu buku-buku itu tak kalah wangi dari saya. Dirga, wangi buku-buku itu tak sehangat wangimu.

Hari kedua, saya yang sama sekali tak memiliki edukasi akan fotografi, dengan impulsifnya membeli kamera dan roll film remjet seharga empat puluh ribu. Menyusuri jalanan entah ke mana kedua kaki saya akan terayun, meminta izin bapak tukang becak untuk mengabadikan beliau yang tengah asik menghisap cerutu. Dengan colongan, saya menceritakan kepada beliau perihal kamu. Lumayan, selain mendapat momen saya juga mendapat pelajaran hidup akan dunia yang mulai redup.

Hari ketiga, saya habiskan seharian penuh di rumah barumu. Saya tersenyum kala itu, banyak taburan kelopak bunga di atas kuburmu. Kan sudah saya bilang, seluruh dunia pun senang akan kamu. Sukar untuk menerima fakta bahwa tak ada lagi kamu. Kala itu saya rindu, biasanya kamu akan menjawab segala pertanyaan saya akan hal-hal yang tak perlu diburu jawabnya. Dirgapedia, kata saya. Ternyata Google dan segala jajarannya tak semenarik kamu saat memberikan terang akan kepulan pertanyaan yang tiba-tiba mengudara.

Hari keempat, salah satu sudut kamar saya meraung meminta untuk ditempati. Saya mendudukkan diri dengan secarik kertas pula sebuah pena bertinta hitam yang siap menuliskan kamu. Dirga, kamu tidak keberatan kan jika saya jadikan kamu sebagai pemeran utama melulu?

Hari kelima, saya putuskan untuk menonton serial Netflix kesukaanmu. Ternyata ini toh, tokoh yang selalu kamu elu-elukan eksistensinya? Saya baru tahu, sebab dulu saat kamu meminta saya menyambangi kamu di atas ranjangmu dan menjadi kawan dalam belukarnya kehaluanmu, saya lebih memilih untuk menonton kamu alih-alih turut melesakkan diri ke dalam layar laptopmu.

Hari keenam, saya mulai berani menarik diri dari lubang bernama kepedihan atas hilangnya kamu. Selepas kepergianmu, kemarin adalah pertama kalinya saya kembali menjejakkan diri di ruang keluarga. Disambut hangat dan juga tawa, bermula dari rencana saya mengenai studi S2 dan berakhir dengan sesaknya ruang keluarga sore itu yang dipenuhi akan namamu.

Hari ketujuh, hari ini saya duduk termangu. Kembali melamunkan kamu dan sejajaran rencana-rencana indah akan kamu. Biar saya nikamti rasa nestapa yang terus berkelana dalam relung tanpa tahu kapan akan menemukan ujung.

Kebun saya layu tak bersisa, rapuh rikuh tak bertenaga. Biar saya lenyap ditelam muram durja, hingga kembali menemukan titik baru bak laksana surga.

Dirgantara, selamat beristirahat dengan tenang. Mohon izinkan saya untuk terus mengenang.