TW // physical fights, arguments, confrontations

Gurat halimun menghiasi langit yang mulai terihat padam tatkala lampu temaram pada tiap lorong gedung mulai dinyalakan. Sepasang kaki jenjang berbalut celana panjang berwarna hitam pekat dilangkahkan dengan sedikit tergesa, menyusuri tiap lorong dengan ruangan pada sisi kanan dan kirinya yang dipenuhi sekumpulan mahasiswa sesuai minat dan bakatnya.

Degup jantung Oza semakin memburu ketika netranya menangkap plang kecil yang terbuat dari kayu bertuliskan ruang teater, tergantung di atas pintu. Kakinya seketika terasa berat, lidahnya kelu, serta kerongkongannya kering saat kedua manik matanya menangkap sosok yang menjadi penyebab di balik segala perasaan aneh dan tak aman yang melingkupi hatinya.

“Za!” seru lelaki tersebut, tengah menyisir surainya ke belakang. Lesung pipinya timbul, melempar senyum kepada Oza yang mau tak mau menghentikan langkah kakinya.

“Kak Jay.” timpal Oza, kepalanya mengangguk untuk membalas sapaan yang lebih tua.

Lelaki dengan nama Jayden yang tersemat pada dirinya pun menghentikan langkahnya tepat di hadapan Oza. “Mau ke mana, Za?”

“Ke ruang band, Kak.”

“Nyamperin Dean?” tanya Jayden, kepalanya menoleh ke belakang sekilas. Menilik ruang band yang terdapat banyak pasang sepatu berserakan di display ruangan.

“Iya.”

“Masih rame tuh kayaknya. Di sini aja nungguinnya, Za.” ucap Jayden, tangan kanannya meraih pergelangan tangan kanan Oza yang menggantung bebas dan menariknya untuk duduk di bangku kayu yang sengaja diletakkan di lorong.

“Dulu mah nyamperinnya aku.” lanjut Jayden, mencoba membuka obrolan berikutnya.

“Iya.”

“Kalau diajak ngobrol orang tuh lihat orangnya, Za. Jangan gak sopan begitu.” ucap Jayden, tangan kanannya mencengkeram rahang Oza untuk membuat wajah Oza berhadapan dengannya.

“Maaf.”

“Mau aku anterin pulang?”

“Udah janji sama Dean.”

“Yaudah aku temenin sampai Dean selesai.”

“Iya.”

“Kamu enggak kangen aku?” tanya Jayden, kini tangannya telah mengusap surai Oza dengan irama yang lambat dan diberi sedikit tekanan. Oza memilih untuk tak memberikan jawaban, giginya memberikan gigitan kecil pada bibir bagian dalamnya.

“Jawab, Za.” titah Jayden dengan penuh penekanan pada tiap suku katanya.

“Maaf, Kak.”

“Gini nih banyak bergaul sama Dean, jadi ikutan enggak bener. Gak punya sopan santun ke kakak tingkat.” cibir Jayden, tangan kirinya kini telah mencengkeram bahu kanan Oza dengan erat. Bahkan, kuku-kuku panjangnya pun terasa menusuk meskipun badan Oza dilingkupi jaket jeans.

Jemari kaki Oza di dalam sepatu pun menekuk, serta jemari tangannya berusaha menggenggam erat jahitan pada celananya. Menyalurkan seluruh rasa takut yang memenuhi rongga dadanya.

“Lo pasti sering dipake sama Dean.” bisik Jayden diakhiri dengan senyum remehnya, memindai Oza dari ujung kepala hingga kaki.

Oza dengan kesadaran penuh melayangkan sebuah pukulan pada pipi Jayden. Amarahnya memuncak, darahnya bak mendidih. “Jaga mulut lo, setan!” umpat Oza dengan suaranya yang tinggi, cukup memekakkan telinga dan memenuhi lorong yang lengang.

Detik setelahnya Jayden hanya berdecih, suara gaduh akan banyak pasang kaki pun memenuhi lorong dan menyaksikan Oza yang masih diam mematung di atas kursi sedang Jayden memegangi pipinya yang dihinggapi rasa panas dan nyeri.

Ibu jarinya diangkat, memberi tanda bahwa ia dan Oza baik-baik saja. “Emang suka jadi pusat perhatian ya lo?” ucap Jayden terlewat lirih, hanya mampu didengar oleh Oza.

Tepat setelah Jayden menutup mulutnya, ia kini kembali mendapatkan pukulan keduanya untuk hari ini namun bukan berasal dari lelaki di hadapannya. Tubuh Jayden telah tersungkur di lantai, membuat semua pasang mata yang menyaksikan telah membuka mata serta mulutnya lebar-lebar lantaran terkejut atas serangan impulsif yang dilayangkan ke Jayden baru saja.

“Dean!” pekik Oza yang sama terkejutnya dengan orang-orang di kerumunan.

“Berdiri lo!” seru Dean dengan napasnya yang memburu, dadanya pun naik turun tak beraturan.

Oza mendekat ke arah Dean, tangannya memberikan usapan pada lengan Dean yang terlihat menegang sebab tangannya terus mengepal. “Udah, De.”

“Minggir ya, Oza.” ucap Dean dengan intonasinya yang memelan, matanya menatap Oza lembut.

Alih-alih menyingkir dari pandangan Dean seperti pintanya, Oza lebih memilih untuk menarik tangan Dean dan menembus kerumunan guna mencegah hal-hal yang tak diinginkan lebih lanjut. Semua pasang mata, termasuk manik mata yang nyalang dengan pancaran ketidaksukaan mengikuti langkah Oza dan juga Dean yang mulai menjauh.

“Harusnya tadi enggak perlu sampai begitu, Dean.” Dean tak menjawab, mempersilahkan Oza untuk merutukinya sepanjang jalan hingga berhenti di indekos. “Malah jadi banyak yang nonton, kan! Sumpah gue tuh males banget tau De, pasti besok bakal jadi bahan omongan sekampus.”

“Lo tau sendiri kan Kak Jayden orangnya gimana?” tanya Oza, langkahnya mulai melambat dari sebelumnya. “Jawab, Dean! Lo mah gitu sukanya kalau diomelin diem aja.”

Dean tertawa bersamaan dengan tangan kanannya ia letakkan pada pundak Oza guna bertukar posisi keduanya, membuat ia kini berjalan di sisi kanan. “Gue jawab kalau lo udah capek ngomel.”

“Kenapa?”

Dean mengacak surai Oza dengan pelan, membuat bibir Oza mencebik. “Kalau gue jawabnya pas lo ngomel, yang ada lo malah enggak mau nangkep apa yang mau gue sampaiin.”

Oza kalah telak.

“Langsung balik aja ya, De. Udah capek gini gue nya.”

“Enggak jadi pengen es podeng?”

“Enggak.”

“Pengennya apa?”

“Cepet-cepet sampai kos.”

Oza menengadahkan wajahnya, matanya menangkap kerlip dari lampu-lampu gedung yang menjulang tinggi bak pencakar langit.

“Lo gapapa, Za?”

“Menurut lo?” Oza melempar pertanyaan balik ke arah Dean, pandangannya menatap ke arah trotoar sibuk menyaksikan bagaimana langkahnya dengan Dean yang berjalan sinkron.

Hamparan bintang yang tampak malu untuk menjadi lebih kontras dari langit serta kabut malam ini pun dapat diibaratkan bak rasa ketakutan yang menggerogoti Oza akan potongan-potongan adegan baru saja yang telah terjadi di lorong, serta adegan-adegan lain di hari jauh sebelumnya akan cerita menyakitkan tentang ia juga Jayden.

Sapaan angin sepoi serta sorot remang dari lampu-lampu jalanan yang menggantung menjadi teman akan langkah keduanya.