Ugahari Padangbai-Lembar.

Radhika Abimanyu.

Dari langit dengan gelap yang menyergap, gua mampu belajar akan tak selamanya mendung berarti hujan. Teori tersebut terus mengepul dan memenuhi isi kepala gua, bak kepulan asap yang menyembur dari cerobong kereta api yang gua tunggangi seharian penuh dari Jakarta ke Banyuwangi kemarin hari. Kalau boleh jujur, perjalanan kali ini terasa sangat lama dan melelahkan. Bahkan, pantat gua sampai detik ini masih terasa pegal dan kebas akibat duduk di dalam kereta api selama dua puluh dua jam lebih perjalanan. Tapi, jika diperkenankan untuk bersuara, ada juga bagian menyenangkan dalam dua puluh dua jam terlama di hidup gua.

Partha Dirgantara, Dirga, begitu cara gua merapalkan namanya. Bagi gua, dari puluhan nyawa yang bersemayam di dalam gerbong yang sama, hanya penyandang nama tersebut yang mampu meluruhkan rasa sumpek atas perjalanan yang terasa tak bertemu ujungnya.

Dirga yang ini dan juga Dirga yang itu. Dirga yang akan menjadi sorak-sorai saat semuanya menemukan lunglai. Dirga yang akan menjadi observan, saat semuanya berebut giliran dengan masing-masing dongeng yang akan dilontarkan.

Kembali lagi kepada kalimat bahwa tak selamanya mendung menoreh hujan. Gua rasa rangkaian-rangkaian aksara tersebut cukup mampu membuat gua mendapat ruang lega dalam sukma, barangkali Dirga yang selalu menganggap rasa gua sebagai canda lekas mengubahnya menjadi untaian cerita akan harsa. Namun siapa yang akan menyangka bahwa di dalam hidupnya akan menaruh rasa pada seseorang yang tak paham akan makna? Sedang gua telah berusaha untuk mengirimkan rasa kepada empunya dengan kalimat yang sederhana.

Dirga, dengan segala sarat makna yang tak dapat ditangkapnya.

Kedua tangan gua mencengkeram erat besi-besi berlapis cat putih, perut gua tertekan saat gua berusaha menilik air yang menghasilkan ciprat akibat laju kapal.

“Dir, lihat, banyak banget sampahnya.” ujar gua dan menyenggol pelan siku Dirga sebelum akhirnya menunjuk sampah-sampah yang bertaburan di atas air laut.

Dirga mengangguk, turut membuang pandang ke berbagai arah bak memindai dari ujung ke ujungnya. “Gua pernah baca, ilmuwan memperkirakan ada sekitar delapan juta ton sampah yang ada di lautan. Maka dari itu, air laut mengandung banyak bakteri-bakteri buruk.”

“Oh, ya? Contohnya ada bakteri apa, tuh?”

Dirga terlihat berdeham panjang, bak tengah berpikir akan jawaban atas pertanyaan yang gua ajukan. “Vibrio, salah satu bakteri yang bisa menyebabkan kolera.” Entah benar atau salah, gua hanya mengangguk sebagai respons.

“Menurut lo, sampah sebanyak delapan juta ton itu banyak enggak, Bim?” lanjutnya, membuat gua yang tengah meregangkan otot-otot tangan terinterupsi dan menautkan kedua alis kebingungan.

“Ya banyak, lah, Dir!”

Dirga tertawa dan mengangguk-angguk secara konstan. “Tapi ada yang lebih banyak dari sampah delapan juta ton di lautan.”

“Apa?” tanya gua dengan mengangkat kedua alis.

“Sampah di darat, banyak banget tuh sampah masyarakat jalan-jalan enggak tau arah.” kini giliran gua yang tertawa, paham akan makna sampah masyarakat yang diucapkannya.

“Kulit lo merah-merah tuh, Bim. Siniin!” ujar Dirga dan merogoh tas selempang kecil yang tergantung di lehernya, mengeluarkan sebotol tabir surya dan menuangkannya pada telapak tangan kirinya. Gua hanya menyodorkan kedua tangan gua ke hadapannya, bak anak kecil yang tengah dituntut untuk menurut. “Lo tuh ya, kebiasaan males.”

Lihat, bagaimana bisa untuk gua mengurungkan rasa jika Dirga dengan segala bentuk perlakuan nyatanya yang selalu berhasil membuat hati gua tak tertata?

“Dih, kok Kak Bima doang yang diperhatiin?” tanya Luna yang baru saja menginjakkan kakinya di tengah-tengah gua dan Dirga, disusul dengan Daffa dan Ravi di belakangnya.

“Ini mah rasanya kayak lagi nemenin lo berdua bulan madu.” cibir Daffa di sela-sela kunyahan kacang telurnya.

“Itu barangnya aman ditinggal di dalem?” tanya Dirga dengan cepat, terdengar seperti tengah mengalihkan topik pembicaraan yang sudah terbangun sebelumnya.

Ravi mengangkat kakinya, memberikan tendangan pada betis Daffa dengan pelan. “Tau tuh Daffa main ditinggal aja.”

“Kok jadi gua?”

“Ya kan harusnya lo yang jagain!”

“Ribut mulu lo berdua.” timpal Dirga yang tengah menyimpan botol tabir surya kembali ke dalam tas selempangnya. “Tumben ya panas banget, perasaan dari kemarin gua baca-baca BMKG di Lombok lagi sering hujan.” lanjut Dirga dan menengadahkan kepalanya, melihat hamparan langit biru yang cerah dengan aksesoris awan yang berbentuk abstrak bak potongan-potongan gambar di dalam kartun yang kerap gua tonton. Perlahan matanya mulai terpejam karena silau, membuat lentik bulu matanya terlihat sangat jelas dari samping.

“Bagus, deh. Jangan sampai hujan apalagi waktu naik nanti, biar enggak lama di jalan.” ujar Ravi dan menaruh telapak tangannya pada ujung dahi, menutupi sinar mentari dari netranya. Gua hanya mengangguk kecil sebagai setuju.

Setelah presensi tiga manusia yang mulai lenyap termakan jarak setelah secara tidak sopannya turut menjejalkan diri ke tengah-tengah gua dan Dirga, kini menyisakan gua dan Dirga yang tengah mendudukkan diri pada suatu sudut di atap kapal. Sejujurnya gua sudah merasa kepanasan akan cuaca hari ini, namun Dirga tak bosan-bosannya menilik buih-buih di atas laut dan juga hamparan langit biru secara bergantian. Membuat gua enggan untuk beranjak meninggalkan dia seorang diri. Kalau kata Daffa, ’Emang kayaknya buat lo tuh gravitasi Bumi kalah besarnya daripada gravitasi Dirga.’ gua setuju akan itu sebab gua yang lebih senang menjejakkan diri di mana pun Dirga berada dan menyandang gelar sebagai kompanyon terbaiknya.

“Dir.”

“Iya?”

“Lo seneng banget, ya?”

“Kelihatan banget ya, Bim?”

“Iya.”

Dirga tertawa dan mengangguk dengan penuh semangat. “Habis sumpek banget sih dari kemarin!”

“Pikirannya?” tanya gua dan mendapat anggukan dari Dirga yang masih terlihat dengan sisa-sisa tawanya. “Sekarang udah selesai skripsian, masih sumpek, gak?” tanya gua sekali lagi.

Dirga menggeleng. “Enggak. Lo gimana?”

“Sama kayak lo.”

Alih-alih jawaban verbal, Dirga lebih memilih untuk memberi anggukan. Tangannya sibuk memasangkan fon telinga ke lubang telinga kanannya, sebelum akhirnya mendaratkan sebelahnya ke dalam telinga kiri gua.

Dirgantara, angin laut, bising burung-burung yang berterbangan, berbagi fon telinga dengan suara Bruno Major di dalamnya, serta degupan jantung gua yang mulai memburu. Lima hal yang mampu menjadi rangkuman atas kebahagiaan dan ketenangan yang gua maksud juga gua pinta.