Unsaid Words

cw // kiss

Guntingan kertas, pensil warna, dan beberapa alat tulis lainnya terhampar bebas tak beraturan di atas karpet bak dedaunan yang berguguran.

Noel berbaring menelungkup, tangannya sibuk membentuk benteng untuk menutup. Di atas ranjang yang tak jauh darinya terdapat Orion yang tengah duduk bersila, tangannya menggenggam beberapa kertas warna yang sudah ia penuhi dengan rangkaian aksara sebelumnya.

“Jangan ngintipin!” ujar Noel, ekor matanya melirik ke arah Orion yang sesekali melempar pandang ke arahnya seperti tengah celingukan.

“Enggak, orang aku aja udah.” timpal Orion dengan mengangkat beberapa potong kertas di udara, lidahnya menjulur sebagai cibir.

Noel mendengus. “Kok cepet banget, sih?”

Orion mengedikkan bahunya dan menelisik tiap bait yang tertulis di atas kertas pada genggamannya. “Lancar aku mah perkara nulis buat kamu.”

“Iya deh tuan yang ahli dalam pacaran.”

“Apa? Aku cuma punya mantan satu.”

“Aku malah enggak punya!” seru Noel dan melemparkan pensil warna ke arah Orion yang tengah tertawa dan terbaring meringkuk memeluk lututnya. Matanya tenggelam, hilang ditelan oleh kelopak dan menyisakan garis lurus sedang hidungnya menimbulkan kerutan kecil.

“Udah belum, El? Penasaran pengen buru-buru baca.” ucap Orion dengan suaranya yang parau.

“Sebentar lagi, sayang.” jawab Noel, tangannya terulur untuk mengusap puncak kepala Orion. “Ayo dedek belajar jadi orang yang lebih sabar.”

Orion mendengus dan memberikan tepisan pelan pada tangan Noel. “Tuaan aku.”

Noel terkekeh dan memberikan gestur hormat. “Siap, pak tua!”

Kini tempat tidur itu tampak menjorok ke bawah tatkala menopang dua tubuh orang dewasa yang tengah merebahkan diri di atasnya, saling berbagi spasial yang membuat keduanya semakin teriak erat. Pundak keduanya saling bersinggungan dengan masing-masing kedua tangan yang saling menggenggam kertas dengan runtutan frasa yang ditorehkan di atasnya.

“Boleh dibuka, belum?” tanya Orion, dagunya ia topangkan pada pundak kanan Noel dan terus mengusak untuk hinggap pada ceruk leher Noel.

“Ngantuk ya?” Orion hanya berdeham sebagai jawab.

Noel mengulum senyumnya, dengan tangan kirinya ia memberikan tepukan pelan pada kepala Orion. “Lucu banget kayak dedek bayi, siang-siang ngantuk.”

“Enggak ada korelasinya antara aku sama bayi. Aku kan habis minum obat.” protes Orion, tangan kirinya kini ia lingkarkan pada tubuh Noel melewati punggung yang lebih muda. Tubuhnya sedikit ia geser menepis sentimeter jarak yang menghadang.

Noel terkekeh, manik matanya memindahi sepetak ruangan kamar indekos Orion. “Nanti madingnya kita tempel di sana, ya?” tanya Noel, jarinya menunjuk pada salah satu noktah pada dinding.

Orion mengangguk, memberikan kecupan sekilas pada pipi kanan Noel. “Boleh, sayang.”

“Yaudah ayo baca, tapi dalam hati aja.”

“Kenapa enggak boleh sambil bersuara?”

“Lo baca surat cinta apa teks proklamasi kemerdekaan Indonesia, sih?”

“Surat cinta sama proklamasi kemerdekaan Indonesia sama aja, sama-sama memerdekakan.” ucap Orion dan melepaskan lingkaran tangannya dari tubuh Noel dan kembali ke posisi awal menyambangi Noel yang tengah berdecih.

“Bacanya dalam hati aja, Iyon.”

“Kenapa?”

“Malu.”

“Sama siapa? Di sini cuma ada aku, kamu, Kenzie sama Ucrit.” ujar Orion, dagunya mengarah ke botol kaca berisikan air dengan ikan cupang di dalamnya yang sengaja Noel bawa dari rumah serta satu pot kecil yang memuat pohon mawar. “Lagian kenapa, sih, segala bawa Kenzie ke sini? Tuh, mabok perjalanan darat.”

“Kasihan dia kalau ditinggalin, nanti dia minder ngira kita enggak masukin dia ke circle kita lagi.”

“Orang aneh.” cibir Orion tangan kirinya mengacak surai hitam Noel, sedang yang diacak kini lantas mengaduh.

“Baca sekarang.” ucap Noel, tangannya membuka kertas yang berada pada tangannya tak luput senyum yang terus mengembang ia tempa pada wajahnya. Sama halnya dengan Noel, Orion pun turut mengembangkan senyumannya. Tanpa merasa ragu serta malu pada dunia.

Dear, Iyon. You’re not only a 'boyfriend' to me, you're way beyond that. Thank you for existing, coming to my life, and made things better. Thank you for always being all ears, understanding, and lovely. Though you always said that you’re not the good one, but you’re trully the good one that I’ve ever have. There are too many things I’m grateful about. Please know that I love you for what you were, what you are and what you’ll be. I love every single thing about you, I really do.

Dear, Noel Thank you for being my person, the person that I can rely on. There will never be a day that goes by that I will not be grateful for you. Thank you for being okay with who I am and for loving every single part of me. Thank you for texting me, asking how my day is, not just to make conversation but because you actually care. Thank you for always believing in me, even when I do not believe in myself. Thank you for letting me see all the different sides of you, even the not so good ones. Thank you for always being honest with me, and telling me if something bothers you instead of keeping it bottled up inside. I’ll never be able to thank you enough.

“Udah?” tanya Orion, lengan kanannya ia lesakkan pada tubuh Noel dan membaringkan tubuhnya untuk menghadap ke langit-langit sepetak kamar yang ia tinggali. Noel turut membaringkan tubuhnya, kepalanya ia letakkan pada lengan kanan Orion.

Noel tersenyum lebar, menampilkan deretan giginya. “Udah! Aku seneng banget hari ini. Terima kasih banyak!” ucap Noel, tangan kanannya ia lingkarkan pada perut Orion.

“Biasanya enggak seneng?”

“Seneng juga, setelah sama kamu banyak senengnya.”

“Emang sebelum sama aku enggak seneng?”

Noel berdeham panjang bak mengawang. “Seneng sih, tapi setelah sama kamu jauh lebih seneng.” ucapnya dan semakin melesakkan diri pada dekapan Orion.

“Kamu nanti ketularan sakit kalau ndusel terus.” ucap Orion diakhiri dengan kekehannya, tangan kirinya ia gunakan untuk memberikan usapan pada pelipis Noel.

Noel mendongakkan wajahnya, matanya menelisik mimik wajah Orion. “Enggak, aku mah kuat. Kemarin ciuman juga sekarang enggak sakit.”

“Kamu lebih virus daripada virus.” timpal Orion yang segera mendapatkan cubitan pada perutnya, membuat ia mengaduh kesakitan.

Tawa keduanya memenuhi ruangan, hingga membuat setiap inci penduduk kamar Orion lenyap harga dirinya. Hilang tertelan oleh keduanya yang sibuk mengukir cerita, bak tengah menjadi pemeran utama tak menghiraukan apapun selain eksistensi masing-masing di antaranya.

“Noel.”

“Iya?”

“Mau cium lagi, boleh?”

Noel mengangguk, kepalanya mendongak untuk membalas tatapan yang manik mata Orion lempar. “Aku nungguin daritadi.”

Keduanya tersenyum dengan manik mata yang saling menarik. Deru napas Orion menerpa wajah Noel yang berada di bawahnya, menyalurkan hangat yang membuat hati Noel ingin loncat.

Tangan kiri Orion mengusap pipi Noel penuh kehati-hatian, turun hingga ke bibir ranum yang terus ia puja dalam keheningan. Bibir ranum itu kembali Orion gapai seiring dengan terkikisnya jarak di antara keduanya.

Orion tersenyum di sela-sela ciumannya, sebelum akhirnya mulai memperdalam dan menyalurkan seluruh aksara yang masih belum sempat terucap juga masih belum sempat ia semat dalam carik kertas sebelumnya.

Orion memberikan gigitan kecil pada bibir Noel, membuat empunya sedikit mengerang dan memberikan akses untuk Orion melesakkan lidahnya, mengabsen rongga mulutnya dan berakhir dengan mereka yang bertukar saliva.

Noel yang merasa sudah kehabisan oksigen dalam rongga dadanya pun memutuskan tautan keduanya secara sepihak, kini dadanya tergerak cepat naik turun secara konstan berusaha meraup oksigen sebanyak-banyaknya.

Orion mengulum senyumnya, ibu jarinya ia gunakan untuk mengusap bibir Noel yang menorehkan basah akibat ulahnya. “Terima kasih, Noel sayang.”

Noel hanya mengangguk kecil sebagai jawab, terlampau malu untuk memberikan jawaban verbal. Tangannya ia lingkarkan pada tubuh Orion, dengan cepat Noel melesakkan wajahnya pada dada Orion. Menyembunyikan semburat merah sebab kini pipinya terasa panas seiringan dengan deburan ombak yang bermunculan pada dadanya.

“Kenapa?” tanya Orion diakhiri dengan kekehannya.

“Malu.”

“Yaudah di sini aja, ngumpet.” ujar Orion, tangannya dengan cepat membungkus tubuh Noel untuk semakin melesak ke dalam rengkuhannya.

Jika Noel sempat berpikir bahwa jatuh cinta merupakan hal yang sulit dan merepotkan, kini semuanya telah terpatahkan oleh kehadiran Orion ke dalam garis takdirnya.

Ternyata jatuh cinta mudah, asal Orion pelaku atas diorama indah akan kisah dalam hidupnya.