olasphere

Detak jarum jam dinding yang terpasang pada salah satu sisi tembok kamar Orion pun terdengar nyaring, menemani serta memenuhi belukar pikir dua anak adam yang saling diam tak bergeming. Sesekali suara mesin sepeda motor yang berlalu lalang serta derap langkah mengiringi, semakin mempekeruh benak yang diam-diam tengah menciptakan gaduh.

Orion menghembuskan napasnya dengan gusar, kedua telapak tangannya ia gunakan untuk mengusap wajahnya secara kasar. “Terus sekarang kita gimana?”

“Apanya yang gimana?” tanya Noel, tangan kanannya memainkan sebuah pemantik api yang sedari tadi ia genggam.

“Kamu jangan kayak orang enggak habis kenapa-kenapa, El.”

Noel terkekeh, nyala api yang sebelumnya terus ia pandangi lamat-lamat pun bergoyang hingga redup tatkala terkena hembusan napasnya.

“Aku bingung, Iyon.”

“Aku ngerasa bersalah, Noel.”

“Kamu enggak sadar.”

“Dan kamu cukup sadar untuk nyadarin aku waktu itu.”

Noel menegak ludahnya dengan susah payah dan Orion tau akan hal itu saat melihat pergerakan jakun Noel yang terlihat lambat dan bersarat. Noel lekas membetulkan duduknya, menekuk kedua kakinya dan membawanya ke dalam rengkuhan. Jemari kakinya menciptakan gerak yang tak konstan, menarik seluruh atensinya lebih dari tatapan yang Orion lemparkan ke arahnya.

“Orion, aku bener-bener enggak tau harus bereaksi apa waktu itu. Bisa aku cuma diem karena tujuan aku untuk jenguk dan temenin kamu, bukan untuk bikin drama di saat kamu sakit.” ucap Noel, tangannya menggenggam erat sebuah pemantik yang enggan ia lepaskan. Seakan-akan jika ia melepaskan pemantik itu, akan lepas pula seluruh kekuatan yang telah ia bangun.

Noel menghentikan kalimatnya, ekor matanya melirik ke arah Orion yang masih terus melempar pandang ke arahnya. “Terusin, go on.

“Tapi kalau boleh bilang, sumpah, it hurts me so much to the extent that I can’t feel anymore pain. I’ve been laughing at myself for the whole day karena hal itu.”

“Tiap liat wajah kamu rasanya aku inget lagi kejadian hari itu, aku benci banget.” ucap Noel dengan nanar.

Orion memijat batang hidungnya sekilas, berpikir keras akan jawaban dan tindakan yang akan ia lontarkan. “Noel.”

Noel berdeham sebagai jawab.

“Maaf.”

“Kamu udah berapa kali minta maaf sejak tadi? Kalau bisa diuangin bisa buat beli cupang seempang.” jawab Noel dengan kekehan kecilnya.

Orion menekuk kakinya dan ia rengkuh erat-erat. Kepalanya ia tenggelakan di atas lututnya, bersembunyi dalam lipatan tangannya. “Aku yang tadinya ngerasa enggak pantas buat sama kamu, semakin ngerasa enggak pantas buat kamu.” ucap Orion dengan suaranya yang redam.

“Ngomong apa sih lo? Gak jelas.”

Bagi Orion, menaruh hati pada manusia yang menebar hati baiknya ke siapa saja merupakan petaka berbalut senyum sebesar dunia.

Orion mengangkat wajahnya, memandang tiap inci profil wajah Noel yang terkesan tegas setelah ucapannya barusan. “El, setelah aku pikir-pikir kayaknya we shouldn’t be together ya? Your happiness is what matters the most to me and at this point of my life, aku merasa enggak bisa ngasih itu.”

“Orang sinting.” pekik Noel, tangannya melempar pemantik yang sedari tadi ia genggam ke sembarang arah hingga menimbulkan suara dentingan yang keras. “Gini nih yang gue takutin kalau cerita ke lo.”

“Gue cerita ke lo karena gue pengen lo tau, karena gue udah enggak kuat nyimpen sendirian. Niat gue ngomongin ini sama lo karena gue pengen kita baik-baik aja tanpa ada gue yang ngerahasiain hal ini dari lo. Gue..”

Noel menggantung kalimatnya, ia mengacak surainya dengan kasar. “Kesalahan lo yang enggak bisa disebut sebagai kesalahan, enggak nutupin semua rasa seneng gue waktu bareng sama lo, Orion.”

Keduanya memilih untuk menciptakan hening panjang, mempersilahkan suara orang-orang yang tengah berbincang diiringi dengan tawa di luar kamar yang menjadi pengisinya.

“El.” panggil Orion dengan lirih, tangan kanannya berusaha meraih tangan kiri Noel yang mengepal erat di atas lututnya. “Is it okay if we end up walk in a separate way?

Noel memilih diam tak menjawab, kepalan tangannya semakin erat sedang Orion meraup oksigen dengan rakus, mengisi rongga dadanya yang terasa hampa. “It wouldn’t at first, but trust me, it’s okay.

“Lo egois.”

“Terus lo apa? Maksa gue untuk mau ada sama lo ketika gue sendiri terus ngerasa bersalah dan mempertanyakan diri gue yang enggak pantes buat lo itu bukan egois?” ucap Orion dengan nada yang lebih tinggi dari runtutan kalimat yang sempat ia lontarkan sebelumnya.

Orion memberikan usapan-usapan pelan, berusaha untuk lebih meredakan Noel di saat dirinya sedang merasa di pucak gemuruh yang keduanya bangun.

“El, I started to realize that I loose myself when I’m around you. Tapi itu bukan karena kamu, karena aku sendiri. Aku tau, kamu gak pernah menyuruh aku untuk selalu positif atau apapun itu. Tapi aku, Noel. Aku sendiri yang memerintah diri aku untuk selalu berdiri tegap karena sekarang ada nama kamu yang beriringan sama langkah aku. Ofcourse I did cry once or twice, bahkan kamu adalah orang pertama yang aku cari ketika aku pengen nangis. Tapi ketika aku begitu, selepasnya aku merasa jadi beban buat kamu. Sedangkan aku gak mau jadi beban lagi bagi siapapun.”

And on that time I realize that when I tried not to be a burden for someone, I became a burden for myself. And I guess, taking a separate way like this is currently the best thing. It might sound egoistic, but I am aware that this bring much benefit for me than for yourself. But I feel like I need to fix my relationship with myself first before I workout any relationship with other.” ucap Orion dengan volume suaranya yang kian lirih dan terdengar bergetar, tak ada kekuatan dari setiap untaian frasanya.

Setitik air mata lolos dari pelupuk Orion, mata yang menjadi favorit Noel untuk selalu ia tatap kini memancarkan redup yang berbalut kabut penuh rasa kalut juga takut.

Noel menepis tangan Orion yang memberikan usapan pada punggung tangannya dan meraih tas ranselnya dengan gusar, menggantungnya pada bahu kirinya dengan perasaan kecewa serta marahnya akan dunia juga akan Orion yang kini hanya diam tanpa berniat meliriknya presensinya yang perlahan menghilang ditelan pintu kamar.

Dan dengan begitu, lembaran kisah akan Orion dan Noel menemui akhir.

Agustus, 2019

TW: body shamming

Udara siang begitu kering, tiap semilir angin pun menerbangkan debu yang dengan rela hati hinggap pada kulit-kulit yang lengket karena keringat. Hembusan angin yang ditumpangi debu pun tak segan untuk menyentuh wajah seorang lelaki dengan tanda pengenal berukuran besar yang menggantung bebas di lehernya.

Gabriel Eknath, sekiranya begitulah susunan aksara pada tanda pengenal yang terlihat ala kadarnya.

Gabriel, sapa akrab teruna yang kini tengah mengetukkan jari telunjuknya pada pundak seorang lelaki yang tengah berdiri di depannya dengan ketukan yang konstan. “Rumi, ini yakin aman?”

Alih-alih mendapatkan jawaban verbal, membuat Gabriel mendengus tatkala lelaki yang berdiri tepat di depannya hanya mengedikkan bahu sebagai jawab.

“Rumi.” panggil lirih Gabriel dengan badannya yang sedikit ia condongkan ke depan.

“Sena, bukan Rumi.” ucap seorang lelaki dengan wajah pula netranya yang lurus ke depan, tak mengindahkan Gabriel yang tengah terkekeh pelan di pundak kanannya.

“Yang namanya Sena di sini enggak cuma lo doang, kali! Biar beda!” timpal Gabriel bersamaan dengan tubuhnya yang kembali ia tegapkan.

Enggan menjawab, Arsena memilih untuk tetap melemparkan pandang lurus ke depan dengan tiap inci wajahnya yang terlihat tegas. Memperhatikan untaian kalimat yang dilontarkan oleh salah seorang panitia orientasi studi dan pengenalan kampus (OSPEK) fakultas.

“Sumpah, tangan gue linu banget karena maba yang pingsan tadi! Gak mikir kali ya dia, kalau jadi gendut bener-bener nyusahin.” celetuk salah seorang lelaki dengan tanda pengenal panitia yang tersemat pada jas almamaternya yang baru saja menyambangi barisan di mana Gabriel dan Arsena berpijak.

“Asli, gue juga. Angkat tandu sampai butuh enam orang kayak lagi megangin sapi kurban.”

Arsena memicingkan matanya, kepalanya ia tolehkan ke sumber suara dan netranya membidik tepat pada dua orang lelaki yang tengah menahan kekehannya.

“Lo berdua yang letoy kali?” ucap Arsena dengan remeh. Gabriel yang turut mendengar ucapan Arsena pun mengangkat kedua alisnya, netranya sempat berkedip memastikan sebelum akhirnya membulat.

“Apa? Ulangin sekali lagi!” ujar salah seorang lelaki yang kini tengah menarik lengan kemeja Arsena dengan kasar, terlihat guratan amarah dan rasa tak suka tengah bersemayam pada telapak tangannya yang mengepal erat untuk meremas lengan kemeja Arsena.

“Udah letoy, budek lagi.” cibir Arsena dengan suara yang lebih lantang dari sebelumnya, semakin melesakkan dirinya ke dalam suasana tegang yang ia bangun. Para peserta OSPEK yang berdiri di sekitar mereka pun hanya berani diam tak bergeming, termasuk Gabriel yang hanya melempar pandang ke arah Arsena dan salah seorang panitia yang semakin mencengkeram lengan Arsena.

“Apa? Masih enggak denger?” tanya Arsena.

“Barisan pojok kiri, ada ribut-ribut apa? Kalau mau ngomong sini maju ke depan gantiin gue, jangan malah bikin acara di dalam acara!” suara keras dari megafon pun menengahi keributan yang baru saja tercipta di antara Arsena dan dua orang panitia yang tengah menelisik Arsena dari tiap sentimeternya.

Seluruh pasang mata pada yang ada di lapangan pun dilemparkan ke arah mereka, membuat gaduh dengan bisikan-bisikan yang kini tengah mengudara.

“Lo, maju!” ucap seorang lelaki yang membawa megafon pada tangan kanannya, telunjuknya pun menunjuk ke arah Arsena yang kini melepaskan dirinya dengan gusar dari cengkeraman panitia yang membuat gurat kusut pada lengan kemejanya.

“Belakang lo juga suruh maju!” sambung seorang lelaki tersebut dengan matanya yang memicing, menelisik papan identitas yang menggantung pada leher Gabriel.

“Lah gue ngapain?” tanya Gabriel dan mengerjapkan kedua matanya, telunjuknya pun ia arahkan ke tubuhnya sendiri. Kaki jenjangnya turut berjalan membuntuti Arsena dengan benaknya yang terus dikepuli pertanyaan-pertanyaan.

“Heh, Rumi, kata lo name tag gue aman!” ucap Gabriel saat sesampainya keluar dari barisan dan menyambangi langkah Arsena.

Arsena mengedikkan bahunya. “Gue gak bilang gitu.”

Baik Arsena dan Gabriel kini telah menghentikan langkahnya tatkala presensi mereka berhasil menyambangi panggung kecil yang terbuat dari susunan balok kayu. Arsena dengan tampang tak acuhnya hanya berdiri tak bergeming, sedangkan Gabriel terus menampilkan deretan giginya yang tersusun dengan rapi dan menyapa satu persatu panitia yang tengah melempar pandang ke arahnya.

“Halo, Kak Janu!” sapa Gabriel dengan ramah, siku kirinya pun menyinggung perut Arsena. “Bilang halo ke kakaknya, Rumi.” bisik Gabriel ke arah Arsena yang lebih memilih diam dan tak menghiraukan Gabriel.

“Gabriel Eknath? Siapa yang suruh name tag lo beda dari temen-temen lo?” tanya seorang lelaki dengan asma Janu yang terukir pada sebuah kertas kecil yang disemat pada jas almamaternya.

“Beda di mananya?” tanya Gabriel, ia pun melepas papan identitas yang menggantung di lehernya. Tangan kanannya memegang papan tersebut dan mengarahkan ke hadapan Janu, ketua pelaksana OSPEK fakultas yang tengah menginterogasinya. “Sama aja kan?”

“Temen-temen lo buat dari kardus Indomie?”

Gabriel terkekeh. “Kak, enggak ada tuh di ketentuan kemarin harus pakai karton. Kan katanya yang penting kuat dan enggak gampang sobek? Ini nih kardus Indomie lo pakai kipas-kipas juga enggak langsung lemes.”

Janu mendecih, tangannya merebut papan nama yang masih Gabriel genggam. “Ini baru lo bikin di sini? Lo lupa bawa name tag?”

“Gue yang bikin.” ucap Arsena, netranya menatap Janu yang kini tengah melempar pandang tepat ke arahnya. “Name tag dia ketumpahan soto, tadi bantuin ibu kantin yang hampir jatuh waktu mau nganterin makan siang buat temen-temen panitia lo.”

“Gue nanya ke dia.” ucap Janu, telunjuknya menunjuk Gabriel.

“Maaf ya, Kak. Dia emang suka tiba-tiba jadi juru bicara, belum aja jadi juru kunci.”

Enggan menjawab ucapan Gabriel yang terdengar melantur, Janu kini berkacak pinggang dan menatap Arsena tajam. “Maherrumi Arsena? Lo tadi ngapain ribut-ribut sama panitia?”

“Lo kalau mau tau ceritanya, jangan cuma dengerin dari satu sisi aja.” ucap Arsena dan melesakkan kedua tangannya pada saku celana bahannya. “Suruh lah temen lo ke sini juga, gue belum selesai ributnya.”

“Lo bisa lebih sopan?” tanya Janu, ia menuding tubuh Arsena dengan menggunakan papan nama Gabriel.

Arsena berdecih. “Lo kalau mau orang lain sopan ke lo, harusnya lo jadi sopan juga untuk orang lain. Main nunjuk pakai telunjuk, main teriak di depan muka, main nuding-nuding pakai name tag kayak sekarang gini. Sopan?”

“Lain kali coba untuk lebih bener dalam memilih panitia. Temen lo tadi, yang ribut sama gue, dengan entengnya dia ngatain salah satu temen angkatan gue. Coba lo pertanyakan ini ke diri lo sendiri, apakah sopan dan pantas untuk seseorang yang berilmu ngatain orang gendut itu menyusahkan dan kayak sapi kurban?”

Arsena memberi jeda pada ucapannya.

“Bahkan gue aja enggak yakin mereka bener-bener berilmu. Karena orang yang berilmu itu yang bisa menjaga ucapannya.” ucap Arsena, rahangnya sedikit mengeras membuat profil wajahnya terlihat lebih tajam.

“Lo paham? Masih banyak di lingkungan kita ini akan orang-orang yang berjuang mati-matian ngehadapin mereka dengan perkataan sampahnya akan orang lain.” sambung Arsena dengan menekankan kata sampah, kedua tangannya mengepal erat di dalam sakunya. Menyalurkan seluruh rasa amarahnya dengan menancapkan kuku-kukunya pada telapak tangan.

Baik seluruh peserta OSPEK dan juga panitia yang tengah bertugas enggan ada yang bersuara. Penuh dengan rasa malu juga dibalut api emosi yang terus berkobar, kini Janu dengan langkahnya yang terkesan terburu pun berlalu melewati Arsena dan Gabriel, kedua tangannya menyeret dua orang lelaki yang menjadi penyebab akan kericuhan yang sempat terjadi.

Dengan ekor matanya, Gabriel menatap Arsena yang kini telah berjalan kembali ke barisan. Dalam diamnya, Gabriel memilih untuk terus menyematkan pandangannya pada punggung Arsena. Pada punggung kuat seorang lelaki yang baru beberapa hari ia kenal, pada punggung kuat seorang lelaki yang berani menjadi tameng untuk melawan ketidak adilan serta terjalnya jalanan yang dipersembahkan oleh semesta.

Gabriel dengan kesadaran penuhnya kini mulai memasuki permulaan-permulaan.

Akan kesangsian dan keyakinan, akan warna yang mulai dipendarkan, akan harapan dan keputusasaan yang nantinya akan turut serta sebagai pintu dengan engselnya yang bertautan.

Sebuah wajan yang bersarang di atas gerobak kayu terus mengepulkan asapnya, menyeruakkan aroma sedap dari makanan di dalamnya. Bara api yang berada di dalam tungku menarik penuh atensi Junio, percikan api-api kecilnya bak debaran jantung yang terus memercikkan pertumpahan rasa akan ketakutan, ketidaksiapan, serta kemarahan penuh akan dirinya.

Lidah Junio kelu serta napasnya terus menderu penuh gemuruh tatkala seorang lelaki yang menjadi alasannya terduduk di salah satu kursi plastik tengah menyembulkan eksistensinya, melempar pandang ke arah Junio dengan mimik wajahnya yang bersarat penuh akan letih.

“Lo udah pesen?” tanya lelaki tersebut ketika berhasil menyambangi Junio, tangannya ia simpan pada saku hoodie nya.

Junio menggeleng kecil sebagai jawab.

“Mau pedes?”

“Gue enggak usah, El.”

“Makan. Gue ajakin lo ketemu di sini karena emang mau makan bareng sama lo, bukan mau lo lihatin doang.” ujar lelaki tersebut dengan wajahnya yang tak menampilkan ekspresi datar, semakin sukar untuk Junio menebak belukar pikirnya.

“Mau pedes, gak, Jun?”

“Boleh.”

Lelaki itu hanya mengangguk singkat dan melenggangkan kakinya untuk memesan makan bagi keduanya, Junio dengan gesit menarik sebuah kursi plastik yang tak jauh darinya untuk ia sandingkan pada sisi kanannya.

“Gimana, El?” tanya Junio ketika lelaki tersebut sudah mendudukkan diri di sampingnya.

Noel, lelaki itu menukikkan kedua alisnya. “Apanya yang gimana?”

“Mau ngobrolin apa?”

“Mau makan.”

“Enggak mungkin lo ngajakin gue makan doang tanpa ada yang mau lo obrolin soal kemarin.”

Noel terkekeh. “Beneran, gue selaper itu terus tiba-tiba inget pernah diceritain Iyon katanya mi goreng di sini enak. Enggak mungkin gue ngajakin Iyon karena dia masih sakit, jadi ngajakin lo aja.”

“Lo sengaja ngasih gue makan biar kuat nahan ya?” selidik Junio, jemari kakinya terus ia tekuk berharap akan mendapatkan keberanian dari bawah sana.

“Nahan apa?”

“Nahan sakit waktu lo tonjokin nanti.”

Noel tertawa dengan lepas bak mendengar lelucon paling menggelitik, menimbulkan beberapa pasang mata tertuju kepadanya. “Lo kira gue bakal nonjokkin lo?”

Junio diam tak bergeming, netranya menangkap Noel yang masih berada di ujung tawanya.

“Gue enggak pernah diajarkan untuk menyelesaikan masalah harus selalu dengan kekerasan, Jun. Selagi masih bisa kita obrolin, gue jauh lebih pengen ngobrol baik-baik sama lo daripada harus buang-buang tenaga untuk mampusin lo. Ya walaupun gue mampu sih pasti.” ujar Noel, tangannya merogoh saku celana bahannya dan mengeluarkan sekotak sigaret beserta pemantiknya.

“Gue jauh lebih pengen lo tonjokkin.” ucap Junio, tangannya sigap menerima sodoran sebatang sigaret yang Noel ulurkan.

“Kenapa?”

“Gue merasa bersalah banget kalau lo baik gini.”

“Berarti kalau gue tonjokin, lo enggak merasa bersalah?” tanya Noel, tangan kanannya menyelipkan sebatang sigaret pada celah bibirnya.

“Tetep merasa bersalah, tapi seenggaknya gue lebih bisa nerima itu.”

Noel tersenyum remeh, tangan kanannya menyalakan pemantik untuk mulai membakar dan menggerogoti tiap inci sigaret yang akan ia sesap.

“Lo sejak kapan suka sama cowok gue?” tanya Noel sebelum akhirnya menarik kuat sigaret pada bibirnya, membuat rongga dadanya kempis untuk memenuhi seluruh ruang pernapasannya dilekati oleh nikotin.

“Enggak tau pastinya, tiba-tiba aja suka.”

Noel mengangguk dan menghembuskan napasnya perlahan, membuat asap putih menyeruak keluar dengan rapi dari mulutnya.

“El.”

“Apa?”

“Lo marah?”

“Pertanyaan lo enggak mencerminkan remaja bangsa, kayak enggak berbobot.” ucap Noel mengundang kekehan dari Junio.

“Tapi gue paham karena Iyon emang sehebat dan sekeren itu. Dia lebih dari kata pantes untuk disukain dan disayang sama banyak orang.” imbuh Noel, tangannya mengetuk kecil sigaret yang terselip pada jemarinya untuk meruntuhkan abu nya ke dalam asbak.

“Lo enggak takut?”

“Apa yang harus gue takutin?”

Junio mengedikkan bahunya singkat. “Karena banyak yang suka sama dia, mungkin?”

“Enggak. Gimana juga kalau lo anggep ini kompetisi, gue udah menang telak sejak lama, Jun.” Junio turut terkekeh melihat Noel yang tengah tertawa dalam balutan kepulan asap di hadapan wajahnya.

“El, soal yang kemarin.”

“Apa?”

“Boleh gue jelasin ini?”

“Iya.”

“Kayak apa yang udah gue bilang ke lo. Gue murni cuma mau kompres Orion, tapi waktu itu tangan gue langsung dipegang. Lo tau? Yang dia panggil nama lo.”

Noel diam tak bergeming, memberikan waktu serta atensi sepenuhnya pada runtutan penjelasan yang akan Junio tuturkan.

“Setelah itu dia peluk gue, itu pertama kalinya gue dipeluk sama Orion. Gue pernah bertanya-tanya, kapan gue akan dapet peluk dari seseorang yang gue suka. Jadi ketika itu kejadian, gue merasa gue butuh akan itu. Maaf.”

Noel hanya mengangguk.

“Setelah pelukan, Orion tanpa sadar cium gue. Gue tau banget itu salah, bahkan udah jauh dari runtutan pikiran gue soal Orion. Gue kaget, jelas, tapi waktu itu gue merasa egois dan hilang waras untuk terima ciuman Orion.”

Junio menarik napasnya dengan kuat, memenuhi dan mengisi seluruh rongga pernapasannya. Tangan kirinya ia kepal dengan erat di bawah meja, menancapkan kuku-kukunya pada telapak tangannya untuk mencari kekuatan dalam penyampaian kalimat final dari penjelasannya.

“El, dari semua yang Orion lakuin waktu itu, cuma nama lo yang terus-terusan disebut.”

Jantung Junio mencelus, menimbulkan rintih kesakitan di dalamnya. Malam itu ia merasa dilucuti sebelum akhirnya dunia memproklamasikan akan kegagalan dalam perjalanan jatuh cintanya.

Rangkaian aksara pada kalimat final yang lolos terucap dari bibir Junio membuat ia ditelan oleh realita, dihadapkan oleh hamparan sirkuit perlombaan yang di mana dirinya tak akan pernah menjadi pemenangnya.

Sebab, seseorang di samping kanannya, seseorang yang dengan lapangnya menorehkan senyum serta tawa untuk membalut luka dan dukanya, lebih berhak dan dinyatakan sudah telak untuk selalu menjadi juara.

Sinar matahari yang tak begitu terang menerobos kaca jendela dan menimpa seluruh isi ruangan, termasuk seorang lelaki yang tengah menelungkup pada atas meja di sebuah perpustakaan kota. Kepalanya ia tenggelamkan ke dalam tangannya yang ia tekuk sebagai bantalan, matanya memicing tatkala sinar tersebut mulai menyambangi dan mengusik damainya.

“Kamu semalem tidur jam berapa, Ra?” tanya seorang lelaki yang berada di seberangnya, tangan kirinya ia sejajarkan dengan wajah yang masih mengernyit serta buku-buku jari yang mengucek matanya.

Yang ditanya hanya mendongak dan menampilkan deretan giginya, surainya sedikit acak. “Lupa, semalem nonton dulu.”

“Udah kelas dua belas, kan, kurang-kurangin begadangnya Ra.” tegur lelaki yang tengah mengulurkan tangan kanannya untuk menyisir surai acak lawan bicaranya.

“Kak Bi.” lelaki itu berdeham sebagai jawab tatkala namanya disebut lirih. “Aku laper masa.”

Biru, lelaki yang dikeluhi itu lantas mendengus pelan bersamaan dengan suara gaduh dari salah satu lorong rak buku yang tersusun rapi. Baik Biru dan juga lelaki yang duduk di hadapannya, Azra, menaruh atensi mereka sepenuhnya kepada sumber suara.

“Maaf, maaf.” rapal dua orang lelaki yang tengah berulang kali membungkukkan tubuhnya ke segala arah.

“Lo sih! Segala ngajakin cepet-cepetan sampai bangku.” ujar salah satunya dengan volume suara yang memelan, langkahnya terlebih dulu berjalan menyambangi meja tempat Biru dan Azra terduduk.

“Lah? Kak bakso?!” pekik seorang lelaki yang masih berdiri di samping kursi kayu yang telah ia tarik guna ditempati.

“Noel! Diem, anjrit.” ucap seorang lelaki yang sudah terlebih dahulu mendudukkan dirinya, tangannya ia angkat ke atas menyambangi mulut yang sekenanya memekik dan kembali mendapati banyak pasang mata yang melirik.

Masih dengan mulutnya yang didekap, lelaki itu mendudukkan dirinya di samping lelaki yang membungkamnya.

“Jangan berisik, kalau mau rame bukan di sini tempatnya.” celetuk Biru, netranya menelisik dua orang lelaki dengan balutan seragam putih abu-abunya yang baru saja menjadi pusat perhatian.

“Lo kan si mie ayam itu?” tanya Azra setelah mengamati lamat-lamat seseorang yang kini terduduk di sampingnya.

“Lama banget lo nyadarnya!” cibir lelaki yang tengah merogoh ranselnya.

“Siapa, Ra?” tanya Biru lirih, netranya turut tak lepas dari dua orang lelaki yang lebih muda dari dirinya.

“Noel siapa, nama lo Noel kan? Gak tau Kak Bi, orang aneh.” timpal Azra dan mengedikkan bahunya.

Seorang lelaki yang terduduk di samping kiri Noel pun terkekeh kecil. “Emang aneh sih, Kak.”

“Iyon monyet!” ucap Noel dan mendorong tubuh Orion, seorang lelaki yang turut mengiyakan ucapan Azra. “Enak aja gue aneh. Lo kali, aneh!” lanjut Noel, memandang remeh ke arah Azra yang tengah mengangkat kedua alisnya.

“Ngaca lo!”

“Lo!”

“Lo!”

“Kenapa sih, Ra?” tanya Biru, punggungnya yang sedari tadi ia sandarkan pada penyandar kursi pun sudah ia tegapkan.

“Tuh, kemarin dia ngatain mie ayam gue!” ucap Noel, mulutnya kini kembali dibungkam erat dengan telapak tangan Orion.

“Gak usah rame, bisa?” tanya Biru dan melayangkan tatapan tajamnya ke arah Orion dan Noel yang tengah gaduh.

“Siap, bisa, Kak!” ujar Orion dan melepaskan telapak tangannya dari mulut Noel.

Azra tidak terima dengan ucapan Noel, Ia langsung melipat kedua tangannya sambil menatapnya sengit.

“Lah apaan? Kan lo duluan yang ngatain bakso gue.” jawab Azra tak mau kalah.

“Tapi bakso lo emang aneh sih, kak. Gak ada rasanya.” ucap Noel membalas perkataan Azra.

“Sok tau. Enakan bakso, mie ayam kebanyakan variasinya.”

“Nah kan, kok lo ngatain lagi sih?”

“Yang mulai duluan siapa gue tanya?”

Biru sudah tidak tahan melihat pertengkaran mereka pun meletekkan jemarinya di bahu Azra. “Ra, udah. Mending sekarang kamu selesaiin belajarnya, habis ini kita cari makan” ucapnya dengan lembut.

Yang diajak bicara akhirnya mengalah. Ia kembali menaruh atensinya pada buku ekonomi yang ada di hadapannya.

“Lo juga udah, El. Ayo belajar aja.” ucap Orion sambil menenangkan Noel yang kelihatannya masih belum mau kalah.

Kini Biru kembali fokus mengajarkan Azra mengenai materi-materi yang belum Ia pahami, sementara Orion dan Noel mulai mengerjakan tugas-tugas yang harus mereka selesaikan. “Iyon, gara-gara ngomongin makanan aku jadi laper deh” ucap Noel sambil memegang perutnya yang tiba-tiba berbunyi.

Orion tertawa kecil saat mendengar suara perut Noel, Ia mengusap perut orang di sampingnya itu dengan lembut. “Emangnya kamu mau makan apa?” tanya Orion yang sudah duduk menghadap Noel.

“Mie ayam.” jawab Noel diakhiri dengan kekehannya.

Azra yang sedari tadi sedang sibuk menghapal rumus pun menoleh, netranya menatap Noel. “Kak Bi, aku abis ini mau makan bakso.” ucap Azra tak luput menekankan kata bakso pada akhir kalimatnya.

“Iya, Ra. Ini satu nomor lagi” jawab Biru.

“Yon, aku mau makan mie ayam.” ujar Noel tidak mau kalah, ia tekankan kata mie ayam dengan ekor matanya yang melirik ke arah Azra.

“Kak, ayo makan bakso!”

“Iyon, kamu mau makan mie ayam kan?”

“Kak, kamu mau mak-”

“Azra. Iya, Biru mau makan bakso. Tapi sekarang tolong fokus dulu, ya?” Azra langsung terbungkam mendengar perkataan Biru, matanya sekilas ia lempar ke arah Noel sebelum kembali belajar.

Orion yang melihat perkelahian mereka hanya bisa menggelengkan kepala, tak berniat untuk ikut campur permasalahan bakso-mie ayam. Menurutnya, mau bakso ataupun mie ayam, semuanya sama saja. Sama-sama enak.

“Kak, tapi Azra laper.” celetuk Azra di sela-sela aktivitas belajarnya..

“Iyon, Noel laper.” ucap Noel setelah mendengar perkataan orang yang ada di samping kanannya.

Azra bersungut dan kembali melipat tangannya. “Heh, Noel! Lo kenapa ngikutin mulu sih?”

“Maksud lo gimana, Kak? Gue emang laper beneran” timpal Noel dengan memicingkan matanya, dagunya sedikit bergerak sebab giginya yang bergertakkan.

“Ya lo kira gue laper bohongan?”

“Lah yaudah.”

“Udah, tolong semua diem.” ucap Biru yang tiba-tiba berdiri dari kursinya.

“Nama lo Noel kan? Geser, lebih deketan sama pacar gue.” tuding Biru ke arah Noel menggunakan pensil pada tangannya.

“Hah? Kenapa Kak?” tanya Noel dengan sarat wajah kebingungan.

“Kalian gak boleh pergi dari sini sebelum baikan.” ucap Biru dengan tegas, sedang Orion hanya mengulum bibirnya untuk menahan tawa.

“Tuh, dengerin Kakak nya, ayo baikan dulu.” timpal Orion menambahkan, tangannya mendorong bahu Noel supaya bergeser lebih dekat dengan Azra, membuat Noel bergegas berdiri dan menuju kursi kosong di sebelah Azra.

Noel yang memang sudah sangat lapar, langsung membuka suara. “Kak, maafin gue deh ya. Gak lagi-lagi gue ngatain bakso lo.”

Awalnya Azra ingin menjahili Noel, tetapi saat Ia melihat ekspresi orang yang ada di seberangnya hingga akhirnya Ia urungkan niatnya. Azra meraup napasnya dengan rakus sebelum akhirnya menghembuskan napasnya dan menjawab. “Iya, maafin gue juga deh.”

“Nah, gini kan enak. Lagian apa bedanya sih mie ayam sama bakso? Sama-sama makanan dan sama-sama enak, kan?” ucap Orion yang tengah memperhatikan mereka berdua. Biru yang mendengarkan perkataan Orion pun mengangguk setuju.

“Eh tapi gue belom tau nama lo sama nama pacar lo, Kak. Bener kan, pacar?” ujar Noel menghadap Azra sambil mengerjapkan matanya, jemarinya sibuk memainkan pensil. Gemas, pikir Azra.

“Oh iya, lupa kenalan. Nama gue Azra, kalau pacar gue namanya Biru. Kalau kalian siapa?” tanya Azra sambil bergantian melihat Noel dan Orion.

“Nama gue Noel, Kak. Kalau yang ini namanya Orion, pacar gue.” jawab Noel sembari mengarahkan dagunya ke arah Orion saat menyebutkan namanya.

Azra mengangguk dengan bibirnya yang membentuk bulat, ber-oh-ria.

Netranya kini menatap Biru yang masih bersedekap dada. “Udah baikan, Kak Bi, ayo makan!”

“Yaudah kalau gitu, gue sama Azra pamit duluan ya.” ujar Biru yang hendak beranjak dari kursinya.

“Sebentar, Kakak.” ucap Azra menghentikan langkah Biru.

“Kenapa, Ra?”

Alih-alih menjawab pertanyaan Biru, Azra malah duduk menyamping untuk menghadap ke arah Noel. “Tukeran sosmed, dong. Sekalian sama sosmed pacar lo juga kalau boleh.” ucapnya dengan tangan yang sudah menyodorkan ponselnya.

“Oh iya, boleh Kak.” jawab Noel sembari menerima sodoran dari Azra dan dengan bergegas menuliskan username sosmednya sebelum akhirnya ia kembalikan si empunya.

“Oke, sip. Gue balik duluan ya!” ucap Azra yang tengah membereskan buku-bukunya.

“Iya Kak, hati-hati. Kapan-kapan cobain mie ayam ya!”

“Nanti gue pikirin deh, makasih ya gemes.” jawab Azra seraya mengusak surai Noel.

“MAKSUD LO?” pekik Noel yang terkejut akibat perlakuan penuh ketiba-tibaan Azra yang sama sekali tak pernah terlintas dalam benaknya.

“Noel, diem anjir! Masih aja lo teriak-teriak, hobi banget nyari ribut sama orang.” mulutnya kembali dibungkam oleh Orion yang kini sudah berdiri di sampingnya.

Azra terkekeh.

“Maaf, Noel, udah ah dadah!” Azra membalikkan badan dan langsung menggandeng Biru yang tengah tersenyum karena melihat pasangan yang sedari tadi ribut.

“Noel.” ucap Orion yang sudah melepaskan bungkaman tangannya dari mulut Noel.

“Apa?”

“Kak Azra gak salah sih.”

“Maksudnya?”

“Kamu emang gemes, El.” timpal Orion sembari mengusak surai Noel dengan lembut.

Noel menyikut pinggang Orion dengan kencang, matanya menyipit serta hembusan napasnya kasar. “Lo, ya, enggak ada permisi-permisinya dulu!” Orion terkekeh dan semakin sengaja untuk mengusak surai Noel dan merapalkan kata gemas tepat di depan wajahnya.

cw // kiss

Guntingan kertas, pensil warna, dan beberapa alat tulis lainnya terhampar bebas tak beraturan di atas karpet bak dedaunan yang berguguran.

Noel berbaring menelungkup, tangannya sibuk membentuk benteng untuk menutup. Di atas ranjang yang tak jauh darinya terdapat Orion yang tengah duduk bersila, tangannya menggenggam beberapa kertas warna yang sudah ia penuhi dengan rangkaian aksara sebelumnya.

“Jangan ngintipin!” ujar Noel, ekor matanya melirik ke arah Orion yang sesekali melempar pandang ke arahnya seperti tengah celingukan.

“Enggak, orang aku aja udah.” timpal Orion dengan mengangkat beberapa potong kertas di udara, lidahnya menjulur sebagai cibir.

Noel mendengus. “Kok cepet banget, sih?”

Orion mengedikkan bahunya dan menelisik tiap bait yang tertulis di atas kertas pada genggamannya. “Lancar aku mah perkara nulis buat kamu.”

“Iya deh tuan yang ahli dalam pacaran.”

“Apa? Aku cuma punya mantan satu.”

“Aku malah enggak punya!” seru Noel dan melemparkan pensil warna ke arah Orion yang tengah tertawa dan terbaring meringkuk memeluk lututnya. Matanya tenggelam, hilang ditelan oleh kelopak dan menyisakan garis lurus sedang hidungnya menimbulkan kerutan kecil.

“Udah belum, El? Penasaran pengen buru-buru baca.” ucap Orion dengan suaranya yang parau.

“Sebentar lagi, sayang.” jawab Noel, tangannya terulur untuk mengusap puncak kepala Orion. “Ayo dedek belajar jadi orang yang lebih sabar.”

Orion mendengus dan memberikan tepisan pelan pada tangan Noel. “Tuaan aku.”

Noel terkekeh dan memberikan gestur hormat. “Siap, pak tua!”

Kini tempat tidur itu tampak menjorok ke bawah tatkala menopang dua tubuh orang dewasa yang tengah merebahkan diri di atasnya, saling berbagi spasial yang membuat keduanya semakin teriak erat. Pundak keduanya saling bersinggungan dengan masing-masing kedua tangan yang saling menggenggam kertas dengan runtutan frasa yang ditorehkan di atasnya.

“Boleh dibuka, belum?” tanya Orion, dagunya ia topangkan pada pundak kanan Noel dan terus mengusak untuk hinggap pada ceruk leher Noel.

“Ngantuk ya?” Orion hanya berdeham sebagai jawab.

Noel mengulum senyumnya, dengan tangan kirinya ia memberikan tepukan pelan pada kepala Orion. “Lucu banget kayak dedek bayi, siang-siang ngantuk.”

“Enggak ada korelasinya antara aku sama bayi. Aku kan habis minum obat.” protes Orion, tangan kirinya kini ia lingkarkan pada tubuh Noel melewati punggung yang lebih muda. Tubuhnya sedikit ia geser menepis sentimeter jarak yang menghadang.

Noel terkekeh, manik matanya memindahi sepetak ruangan kamar indekos Orion. “Nanti madingnya kita tempel di sana, ya?” tanya Noel, jarinya menunjuk pada salah satu noktah pada dinding.

Orion mengangguk, memberikan kecupan sekilas pada pipi kanan Noel. “Boleh, sayang.”

“Yaudah ayo baca, tapi dalam hati aja.”

“Kenapa enggak boleh sambil bersuara?”

“Lo baca surat cinta apa teks proklamasi kemerdekaan Indonesia, sih?”

“Surat cinta sama proklamasi kemerdekaan Indonesia sama aja, sama-sama memerdekakan.” ucap Orion dan melepaskan lingkaran tangannya dari tubuh Noel dan kembali ke posisi awal menyambangi Noel yang tengah berdecih.

“Bacanya dalam hati aja, Iyon.”

“Kenapa?”

“Malu.”

“Sama siapa? Di sini cuma ada aku, kamu, Kenzie sama Ucrit.” ujar Orion, dagunya mengarah ke botol kaca berisikan air dengan ikan cupang di dalamnya yang sengaja Noel bawa dari rumah serta satu pot kecil yang memuat pohon mawar. “Lagian kenapa, sih, segala bawa Kenzie ke sini? Tuh, mabok perjalanan darat.”

“Kasihan dia kalau ditinggalin, nanti dia minder ngira kita enggak masukin dia ke circle kita lagi.”

“Orang aneh.” cibir Orion tangan kirinya mengacak surai hitam Noel, sedang yang diacak kini lantas mengaduh.

“Baca sekarang.” ucap Noel, tangannya membuka kertas yang berada pada tangannya tak luput senyum yang terus mengembang ia tempa pada wajahnya. Sama halnya dengan Noel, Orion pun turut mengembangkan senyumannya. Tanpa merasa ragu serta malu pada dunia.

Dear, Iyon. You’re not only a 'boyfriend' to me, you're way beyond that. Thank you for existing, coming to my life, and made things better. Thank you for always being all ears, understanding, and lovely. Though you always said that you’re not the good one, but you’re trully the good one that I’ve ever have. There are too many things I’m grateful about. Please know that I love you for what you were, what you are and what you’ll be. I love every single thing about you, I really do.

Dear, Noel Thank you for being my person, the person that I can rely on. There will never be a day that goes by that I will not be grateful for you. Thank you for being okay with who I am and for loving every single part of me. Thank you for texting me, asking how my day is, not just to make conversation but because you actually care. Thank you for always believing in me, even when I do not believe in myself. Thank you for letting me see all the different sides of you, even the not so good ones. Thank you for always being honest with me, and telling me if something bothers you instead of keeping it bottled up inside. I’ll never be able to thank you enough.

“Udah?” tanya Orion, lengan kanannya ia lesakkan pada tubuh Noel dan membaringkan tubuhnya untuk menghadap ke langit-langit sepetak kamar yang ia tinggali. Noel turut membaringkan tubuhnya, kepalanya ia letakkan pada lengan kanan Orion.

Noel tersenyum lebar, menampilkan deretan giginya. “Udah! Aku seneng banget hari ini. Terima kasih banyak!” ucap Noel, tangan kanannya ia lingkarkan pada perut Orion.

“Biasanya enggak seneng?”

“Seneng juga, setelah sama kamu banyak senengnya.”

“Emang sebelum sama aku enggak seneng?”

Noel berdeham panjang bak mengawang. “Seneng sih, tapi setelah sama kamu jauh lebih seneng.” ucapnya dan semakin melesakkan diri pada dekapan Orion.

“Kamu nanti ketularan sakit kalau ndusel terus.” ucap Orion diakhiri dengan kekehannya, tangan kirinya ia gunakan untuk memberikan usapan pada pelipis Noel.

Noel mendongakkan wajahnya, matanya menelisik mimik wajah Orion. “Enggak, aku mah kuat. Kemarin ciuman juga sekarang enggak sakit.”

“Kamu lebih virus daripada virus.” timpal Orion yang segera mendapatkan cubitan pada perutnya, membuat ia mengaduh kesakitan.

Tawa keduanya memenuhi ruangan, hingga membuat setiap inci penduduk kamar Orion lenyap harga dirinya. Hilang tertelan oleh keduanya yang sibuk mengukir cerita, bak tengah menjadi pemeran utama tak menghiraukan apapun selain eksistensi masing-masing di antaranya.

“Noel.”

“Iya?”

“Mau cium lagi, boleh?”

Noel mengangguk, kepalanya mendongak untuk membalas tatapan yang manik mata Orion lempar. “Aku nungguin daritadi.”

Keduanya tersenyum dengan manik mata yang saling menarik. Deru napas Orion menerpa wajah Noel yang berada di bawahnya, menyalurkan hangat yang membuat hati Noel ingin loncat.

Tangan kiri Orion mengusap pipi Noel penuh kehati-hatian, turun hingga ke bibir ranum yang terus ia puja dalam keheningan. Bibir ranum itu kembali Orion gapai seiring dengan terkikisnya jarak di antara keduanya.

Orion tersenyum di sela-sela ciumannya, sebelum akhirnya mulai memperdalam dan menyalurkan seluruh aksara yang masih belum sempat terucap juga masih belum sempat ia semat dalam carik kertas sebelumnya.

Orion memberikan gigitan kecil pada bibir Noel, membuat empunya sedikit mengerang dan memberikan akses untuk Orion melesakkan lidahnya, mengabsen rongga mulutnya dan berakhir dengan mereka yang bertukar saliva.

Noel yang merasa sudah kehabisan oksigen dalam rongga dadanya pun memutuskan tautan keduanya secara sepihak, kini dadanya tergerak cepat naik turun secara konstan berusaha meraup oksigen sebanyak-banyaknya.

Orion mengulum senyumnya, ibu jarinya ia gunakan untuk mengusap bibir Noel yang menorehkan basah akibat ulahnya. “Terima kasih, Noel sayang.”

Noel hanya mengangguk kecil sebagai jawab, terlampau malu untuk memberikan jawaban verbal. Tangannya ia lingkarkan pada tubuh Orion, dengan cepat Noel melesakkan wajahnya pada dada Orion. Menyembunyikan semburat merah sebab kini pipinya terasa panas seiringan dengan deburan ombak yang bermunculan pada dadanya.

“Kenapa?” tanya Orion diakhiri dengan kekehannya.

“Malu.”

“Yaudah di sini aja, ngumpet.” ujar Orion, tangannya dengan cepat membungkus tubuh Noel untuk semakin melesak ke dalam rengkuhannya.

Jika Noel sempat berpikir bahwa jatuh cinta merupakan hal yang sulit dan merepotkan, kini semuanya telah terpatahkan oleh kehadiran Orion ke dalam garis takdirnya.

Ternyata jatuh cinta mudah, asal Orion pelaku atas diorama indah akan kisah dalam hidupnya.

Elakshi Jelita

Namaku Elakshi Jelita, dan hanya itu satu-satunya peninggalan kedua orang tuaku yang masih tersemat utuh pada diriku. Enggan untuk aku lepas juga aku tebas.

Menjadi remaja perempuan yang tumbuh tanpa sosok orang tua sedarah membuat pondasiku kini terbangun lebih kokoh, tidak mudah roboh. Dan pada halaman ini, aku ingin bercerita mengenai salah satu upaya dunia untuk membuat pondasiku rumpang dari sekian banyak kepingan yang bercecer sebab tangan serta raga yang tak mampu lebih lama menopang.

Seperti kebiasaan ku sejak dulu, jendela menjadi satu-satunya titik favorit untuk disambangi ketika langkahku dalam berproses menjadi orang dewasa dihadang oleh masalah. Alih-alih menyantap hidangan yang saat ini seharusnya aku nikmati, netraku memilih untuk melemparkan pandangnya ke keadaan di luar. Kepada oang-orang yang berlalu-lalang dalam penglihatan.

Aku paham betul akan fakta bahwa mereka sama halnya dengan ku, memiliki masalahnya masing-masing yang bersarang dan tumbuh dengan liar. Dari sorot lampu yang terkadang menyapu wajah mereka, dapat aku lihat bahwa sebagian orang membawa masalahnya dengan enteng, sebagian lainnya membawa dengan wajah kuyu. Dan aku termasuk ke dalam golongan kedua.

Hanya beberapa menit pertama yang aku berikan untuk mengobservasi mereka yang tengah berlalu-lalang melalui jendela. Selebihnya pandangan ku hanyalah pandangan kosong sebab aku telah tertarik sepenuhnya, larut tenggelam ke dalam salah satu keping cerita akan sayunya asmara.

“Kenapa enggak dimakan, Ta?” tanya Ayah di sela-sela makannya, membuatku menarik utuh lamunanku dari jalanan yang sarat akan orang-orang dan kembali ke atas meja.

“Ita mau makan yang lain?” tanya Papa, tangannya menaruh garpu dengan tenang untuk memberikan atensinya kepadaku seutuhnya. Tangannya bersedekap di atas meja, punggungnya sedikit merunduk dan menatapku penuh akan afeksi untuk terus disalurkan.

Aku menggeleng pelan sebagai jawab. “Enggak kok, Pa. Ini mau dimakan.” timpalku diakhiri dengan menunjukkan senyum yang menampilkan deretan gigiku.

“Yaudah dimakan, Ita. Makan yang banyak.”

Papa tersenyum dan menyelipkan anak rambutku yang panjang ke belakang telinga sebelum akhirnya kembali meraih garpunya dan memastikan aku memasukkan suapan pertama pada mulutku.

Padahal jika benangnya diluruskan untuk menjumpai tiap noktah yang urut, aku bukan bagian dari mereka juga bukan apa yang diharapkan untuk ada. Namun Ayah dan Papa, sosok yang memberikan aku ruang penuh cinta. Memberikan paham akan sarat makna keluarga, menjaga aku bak harta paling berharga.

Mungkin aku memang handal untuk mematri paham akan aku baik-baik saja dan akan terus begitu dalam benakku, namun raut wajah serta laku ku kurang ahli untuk tak menumpahkan sarat makna di atasnya.

“Ita tumben diem mulu? Kayak lagi sariawan.” ucap Ayah dari balik kemudi, netranya melirikku yang terduduk di jok penumpang belakang dari kaca spion.

“Ita capek?” tanya Papa, kepalanya ia tolehkan ke arahku. “Atau sakit? Udah mulai bulanan?”

“Belum, di aku belum ada notifikasinya. Nih masih jauh juga.” timpal Ayah dan menyodorkan ponselnya, menampilkan aplikasi untuk menstruasi yang sengaja ia pasang sejak kali pertama aku mendapati fitrahku sebagai perempuan.

Aku terkekeh dan menggeleng. “Belum, Papa.”

“Terus kenapa?” tanya Ayah dan mulai melajukan kembali laju mobil tatkala lampu hijau telah memancarkan nyala.

“Ita kalau capek karena kebanyakan ikut les, enggak apa-apa kalau mau minta berhenti. Nanti Papa yang urusin.”

“Bukan, lagian kan Ita sendiri yang minta. Tapi emang bukan itu alasannya, Pa.”

Papa mengangguk dan kembali menatap lurus. “Nanti kalau ada apa-apa yang ganggu pikiran Ita dan pengen cerita, cerita aja. Tapi kalau Ita emang bisa sendiri atau belum bisa cerita juga enggak apa-apa, Papa sama Ayah enggak maksa. Yang penting Ita nya paham kalau ada Papa sama Ayah.”

Dulu sewaktu di panti, kendati diperhatikan, eksistensiku dianggap pun jarang. Aku tertegun dan meneguk ludahku dengan susah payah, bertemu dengan Ayah dan Papa adalah salah satu keajaiban yang aku percaya sebagai permintaan maaf semesta akan orang tuaku yang entah ada di mana.

“Pa..”

Papa berdeham, fokus yang sebelumnya ia lempar pada ponsel pun dialihkan begitu saja saat aku memanggilnya. Papa dengan segala perhatian serta lakunya yang memberikan aku contoh untuk menghargai lawan bicara. “Apa, Ita?”

“Papa pernah patah hati, enggak?”

Papa bergumam panjang, kepalanya kini kembali ia tolehkan ke arahku. Menatap manik mataku dengan telisik. “Ya pernah, Ta.”

“Ita lagi suka sama orang?” tanya Ayah yang sedari tadi tak memasukkan dirinya ke dalam obrolan. Intinasi suaranya terdengar lebih tegas dan berat, membuatku menggigit kecil bibir bawahku supaya gugup dapat dipangkas.

“Iya.”

“Siapa, Ta?” tanya Ayah dan memelankan volume radio yang sedari tadi menyeruak penuh.

“Temen sekolah Ita. Sama-sama anak OSIS, Haidar yang waktu itu ke rumah.” timpalku, Papa mengulum senyumnya saat melihatku terlihat gugup. “Tapi enggak pacaran kok, Ayah.”

“Pacaran juga enggak apa-apa, Ita. Asal orangnya bener.” timpal Ayah, sekilas menengok ke arahku yang tengah mencebikkan bibir dan mengguncang kecil kakiku sembarang tanpa tempo konstan.

“Tapi orangnya enggak suka sama Ita.”

If he doesn’t like you back it’s his loss, don’t waste your time and energy on him.” ucap Ayah dengan menatapku melalui kaca spion.

“Betul tuh kata Ayah.” ucap Papa menimpali.

Aku menghela napas dengan pelan, menyandarkan tubuhku ke penyandar. “Tapi ternyata cinta-cintaan tuh sakit ya, Pa. Besok-besok enggak lagi deh.”

Papa terkekeh. “Ita, dengerin kata Papa.”

Aku mengangguk kecil dan menatap Papa. “Ada kalanya apa yang kita mau dan kita suka enggak seharusnya buat kita, Ita. Mungkin untuk sekarang Ita sengaja dipatahkan dulu hatinya, biar nanti lebih siap untuk ada di hubungan yang lebih baik sama orang yang lebih tepat.”

“Ketika Ita udah mulai menjatuhkan diri ke seseorang, Ita harus siap nerima segala konsekuensinya. Ini salah satunya. Penolakan, dipatahkan, itu juga bagian dari proses Ita jadi perempuan dewasa yang lebih kuat.” sambung Papa, aku masih diam termangu mendengarkan sedang Ayah dengan damai mengendarai laju mobil dengan kecepatan sedang yang konstan.

“Ita, kamu ini masih kelas sembilan. Bukan maksudnya cinta-cintaan itu harus ada ketika kamu udah gede, bukan loh ya. Maksud Papa, jalan Ita masih panjang banget untuk ketemu sama banyak orang-orang baru. Just because he was your first love, doesn’t mean he’s your only love.

Aku mengangguk kecil dan tanpa dititah, aku kini menorehkan senyum. “Sebenernya tadi Ita mikir, Ita enggak selayak itu untuk disayang. Dulu tempat yang seharusnya jadi ruang cinta pertama Ita, malah pergi gitu aja. Sekarang, lagi-lagi Ita harus ngerasain gimana jadi seseorang yang enggak diinginkan.”

Ayah menoleh. “Terus Ayah sama Papa apa?”

Aku terkekeh. “Iya, setelah ngobrol sama Ayah sama Papa ternyata Ita sadar. There are too many things I’m grateful about. Please know that I love you, Ayah, Papa juga. Thank you for showing me that love still exists.

“Anak kamu tuh udah gede.” ucap Ayah kepada Papa, dagunya ia gunakan untuk mengarah kepadaku.

“Iya emang anak aku.”

“Anak aku juga.”

“Tadi katanya anak aku?”

“Aku juga.”

“Ita anak siapa?” tanya Papa kepadaku yang sedari tadi mengulum senyum dan melempar pandang secara bergantian ke Ayah dan Papa.

“Anak Papa, orang tadi Ayah bilangnya gitu.” suara penyiar radio pun tertutup oleh sorakan Papa setelah mendengar jawabanku.

Lagi-lagi, Ayah dan Papa adalah sosok yang menyembuhkan aku dari luka yang ditorehkan semesta. Segala runtutan petuah dari Ayah juga Papa kini tertanam pada belukar pikirku, akan aku siram juga aku pupuk sebagai pegangan juga bekal di jatuh cinta selanjutnya.

Jatuh dan patah kini adalah hal yang lumrah. Lewat semesta, ia menyampaikan akan apa yang sebenarnya. Tak perlu disesali apa yang telah terjadi, dan bersiaplah untuk merasakan bahagia di jatuh cinta yang selanjutnya.

cw // kisses

Pintu pagar yang berkarat menghasilkan bunyi derit ketika dibuka, Noel melangkahkan kakinya masuk ke pekarangan indekos tempat Orion menetap. Saat itu pukul lima sore dengan mega mendung yang menutup semburat jingga dari sang surya, tak terlihat satu nyawa pun, bahkan tidak pula seekor kucing.

Noel terus melangkah, kakinya dengan otomatis bergerak mendekat ke arah salah satu pintu yang terletak di paling ujung. Jika saat ini terdapat presensi lain selain dirinya, jelas jawabannya adalah debaran jantungnya yang sangat keras. Takut dan khawatir, dua kata yang cukup menggambarkan perasaannya saat ini.

Noel menghirup napasnya dengan rakus, mengumpulkan banyak oksigen dan menghembuskannya. Tangan Noel terulur untuk memberikan ketukan kecil pada pintu kayu di hadapannya, sebelum akhirnya memegang gagang pintu dan membukanya.

Presensi Junio di dalam sana bukan suatu hal asing sebab ia yang meminta, namun matanya kini terus membulat tatkala mendapati Junio dengan kaus oblongnya tengah berada dalam rengkuhan Orion bersamaan dengan bibir keduanya yang saling berpaut.

Dengan sisa-sisa kewarasannya Noel menelan ludahnya susah payah, membuat pergerakan lamban pada jakunnya. Lidahnya terlewat kelu untuk sekadar memanggil salah satu asma dari dua insan yang masih terus berpagutan untuk menginterupsi keduanya.

Tangan Noel menggenggam erat plastik yang memuat makanan serta obat-obatan, menampilkan buku-buku putih pada kukunya sebagai pelampiasan atas gambaran yang tengah ia rekam dalam memori di kepalanya.

Noel berdeham, membuat Junio terperanjat dan menjauhkan wajahnya dari Orion. Tangannya sibuk melepaskan lingkaran tangan Orion yang terlihat masih enggan untuk lepas.

“Noel...” lirih Orion dengan matanya yang masih terpejam erat, tangan kirinya memberikan remasan kecil pada kaus Junio merasa enggan ditinggalkan.

“Jun, ini tadi dititipin Bunda buat lo.” ucap Noel, tangannya mengulurkan plastik putih dengan stoples bening berisikan kue kering yang tersusun padat dan rapi.

Junio menggaruk tengkuknya, ia merasa marah serta malu atas dirinya sendiri bak ditelanjangi dan siap dimangsa hidup-hidup. Tangannya meraih sodoran plastik yang diberikan Noel, napasnya tercekat sukar untuk memasukkan oksigen ke dalam rongga dadanya. “Makasih ya, El.”

Noel tersenyum dan mengangguk kecil.

“El.”

“Enggak apa-apa.”

“Gue tadi—“

“Gak apa-apa.” selak Noel dengan punggung tangannya yang sengaja ia letakkan pada kening Orion, suhu panas menjalar dengan cepat pada tangannya yang dingin terkena terpaan angin sore serta lingkupan rasa gugup dan amarah.

“Gimana kliniknya?”

“Tutup. Lo pulang aja, Iyon udah sama gue.”

Sebagian besar dalam benak Junio bersorak dan terus merapalkan syukur sebab sejak detik pertama ia menyadari kehadiran Noel serta kesalahannya, ia ingin lekas melenyapkan presensi atas dirinya dari ruangan berpetak bercat putih tulang.

Thanks ya Jun, udah ditemenin.” sambung Noel dan berdiri di ambang pintu, siap menutupnya dengan rapat selepas Junio benar-benar tertelan oleh jarak.

Selepas presensi Junio yang sudah tak lagi menempati ruangan tersebut, meninggalkan satu noktah pada dada Noel terasa menyalurkan rasa pedih yang dengan singkat mampu menjalar ke seluruh tubuhnya, tangan serta kakinya pun terasa lemas tak memiliki sisa tenaga untuk berdiri lebih lama.

“Iyon, minum obatnya dulu.” ucap Noel dengan tangannya yang sibuk mengeluarkan obat-obatan dari kantung plastik kecil yang ia bawa.

Tangan kiri Noel menepuk serta mengusap pelan pipi Orion, membisikkan rangkaian aksara demi aksara pada telinga Orion. “Minum obat dulu, Iyon. Nanti tidur lagi.”

“El?” rintih Orion dengan matanya yang masih terpejam erat, kepalanya sengaja ia iringkan untuk menahan telapak tangan Noel supaya tak lekang dari pipinya.

Noel tersenyum dan berdeham kecil. “Iya? Aku di sini.”

“Aku sakit.”

“Pusing?” alih-alih memberikan jawaban verbal, Orion memilih untuk mengangguk lemah. “Iya makanya diminum dulu obatnya.”

“Aku tadi mimpi kamu ke sini.” ucap Orion dengan pelafalan katanya yang tak terlalu jelas, bak diseret dan dibubuhi gumam.

“Iya?”

Orion mengangguk. “Aku kira cuma mimpi, taunya kamu beneran di sini. Aku mau peluk.”

“Iya, minum obat dulu nanti baru peluk.” ujar Noel dengan penuh kehati-hatian, ibu jarinya terus mengusap alis Orion guna menghilangkan guratan pada dahinya dan menyalurkan tenang.

Orion menggeleng dengan netranya yang terus terpejam. “Obatnya cuma peluk dari kamu.” dengan sisa-sisa tenaganya, Orion menarik pergelangan tangan Noel hingga membuat Noel menjatuhkan badannya pada dada Orion.

Sepersekon setelahnya Noel dengan sigap memposisikan tubuhnya pada sisi Orion, menenggelamkan kepalanya pada ceruk leher Orion dengan tangan kirinya yang terus melingkar pada tubuh Orion. “Iyon, ini cuma tempat aku.”

Orion mengajukan tanya dengan berdeham.

“Ini, yang boleh gini cuma aku.”

Orion tersenyum dan berdeham mengiyakan, melayangkan banyak kecupan pada surai Noel. “Wangi kamu, aku suka.”

“Iyon.”

Hanya dehaman yang Noel dapatkan. “Iyon, aku mau cium.”

“Udah kan barusan? Nih lagi.” timpal Orion dan kembali mengecup surai Noel dan semakin mengeratkan rengkuhannya.

Noel menggeleng.

Put your lips next to mine.

Noel cukup sadar untuk meminta, sedang Orion cukup sadar untuk memberi. Noel yang sedari tadi menyembunyikan wajahnya pada ceruk leher Orion pun kini telah mengangkat wajahnya, menyambangi dengan wajah pucat pasi Orion.

Orion membuka matanya secara perlahan, remang cahaya dari lampu kamarnya pun lantas menyeruak. Sudut bibirnya perlahan saling menarik, membentuk senyuman tipis saat mendapati wajah Noel yang bersinggungan dengannya.

Tangan kanan Orion menarik dagu Noel untuk mendekat sebelum akhirnya melingkupi pipi kekasihnya. Netra keduanya saling terpaku, beriringan dengan bibirnya mengikis tiap senti yang membentang.

Hangat bibir Orion pun menyambangi bibir Noel yang terasa dingin, memberikan kecupan dalam dan saling bertautan dengan nyaman tanpa penuh tuntutan.

Seiring bertambahnya sepersekon detik, Noel kini merasa diburu oleh dirinya sendiri juga oleh potongan gambar yang menyitas benaknya bak benalu. Matanya memanas, pelupuknya tak lagi kokoh untuk menahan bendungan air mata yang tak diundang.

Orion yang menyadari akan air mata Noel yang mulai menetes dan berkenaan dengan kulit wajahnya pun berusaha untuk menjauhkan wajahnya.

“Jangan dilepasin sebelum aku yang lepasin, Iyon.” ucap Noel lirih sebelum akhirnya menarik tengkuk Orion untuk kembali ia taut bak mempertemukan dua keping puzzle untuk menjadi satu kesatuan utuh saat bersama.

Baik Orion maupun Noel kini saling mengembalikan segala pagutan yang saling ia lempar, dengan napasnya yang terus memburu serta degup jantung bak harmoni paling indah yang pernah keduanya dengar.

Noel tersenyum tipis dalam sela pagutannya. Seakan kini dunia tengah berteriak ke arahnya, lihatlah dia yang masih tersenyum padahal tengah mengemban luka serta duka.

Immanoel Maldione

Hujan menepati janjinya dengan datang di malam hari, membasahi tanah kering yang berasap saat tersentuh air dan membawa angin yang memberi rasa dingin.

Runtutan pernyataan akan hujan di atas sama sekali tak mengikis semangat serta rasa suka cita atas kemenangan tim basket sekolah Iyon, membuat gue turut serta merasakan euforia yang sama di dalamnya.

Satu per satu toko yang mulai tutup menjadi saksi bisu atas sorak sorai yang bergurat jelas pada raut wajah Iyon dan teman-teman sekolahnya, menyusuri jalanan yang lengang dengan motor yang berbaris rapi di malam yang kian larut.

“Lo mau pakai jas hujan?” seru Iyon yang samar tertangkap indra pendengaran gue, manik matanya sesekali melirik ke pantulan kaca spion yang terpasang pada motor.

Gue menggeleng. “Enggak mau, enggak ada yang pakai jas hujan.” jawab gue tak kalah kencang, membuat Iyon terkekeh dengan kedua matanya yang membentuk garis lurus bak enggan mempersilahkan air hujan yang menerpa wajahnya untuk menyambangi netranya.

“Nanti lo sakit!” seru Iyon dengan memperlambat laju motor, tangan kirinya meraih pergelangan tangan kiri gue untuk ia lingkarkan pada perutnya. Diam-diam gue mengulum senyum sembari memberikan rematan pada jaketnya sebagai penyaluran akan rasa gugup.

“Enggak, kan ketutupan lo!” celetuk gue sekenanya, membuat Iyon tertawa dan memberikan usapan singkat pada lutut kiri gue sebelum akhirnya mulai sedikit mempercepat laju motor.

“El, gue udah kepikiran mau minta apa.” ujar Iyon, tangan kirinya ia letakkan pada samping kaki kiri gue yang bertengger pada pijakan kaki.

“Apa?”

“Jalan-jalan.”

“Ke mana?”

“Surabaya, ketemu sama Ibu sama Kak Isa.”

Kedua alis gue seketika berkerut, mencoba memproses permintaan Iyon yang tak pernah gue duga sebelumnya. “Jauh banget!”

Iyon terkekeh. “Itu kalau lo mau.”

“Kalau enggak mau?”

“Belum ada rencana lain karena pasti mau.”

“Tapi waktu libur, ya?” tanya gue dan semakin mengeratkan kedua tangan gue yang melingkar di perut Iyon, mencoba mencari rasa hangat. Iyon dalam diamnya hanya mengangguk.

“Hari ini lo keren banget.” ucap gue dengan menaruh dagu pada pundak kanannya, sedikit memiringkan kepala.

Iyon tersenyum, ekor matanya melirik ke arah gue. “Cuma hari ini aja?”

“Setiap hari keren! Pacar gue keren satu dunia!” timpal gue atas pertanyaan Iyon, meninggikan volume suara gue dan membuat beberapa teman Iyon menolehkan pandang ke arah gue. “Tadi ada yang nanyain gak?”

“Nanya apa?”

“Kapten basket udah punya pacar belum?”

“Satu dunia juga tau kalau Iyon pacarnya Noel.”

Gue mengulum senyum yang kian lama mengembang seiringan dengan senyum milik Iyon yang dapat gue tangkap dari pantulan kaca spion.

“Siap-siap, sayang. Pegangan yang kenceng!” ujar Iyon dan gue mulai merasakan laju motor semakin cepat dengan tangan gue yang semakin mencari rapat, menyalip beberapa motor yang terlebih dahulu berjejer di depan gue dan Iyon sebelumnya.

Kata Iyon, dia bukan orang yang mampu.

Bukan orang yang mampu untuk membuat gue merasa cukup dengan banyak rumpang dalam dirinya. Namun ketika jemari kita bertautan, tak lagi ada rasa takut serta keresahan. Ketika gue melesak dalam rengkuhan, tak lagi ada rasa kekosongan.

Bukan menjadi suatu penghalang bagi gue dan Iyon atas mega malam yang tak lagi kuat membendung airnya dan kini semakin bertumpah ruah mengguyur Bumi, sebab bagi gue hujan bersama Iyon adalah hujan paling teduh.

Kini segala perasaan yang tertanam dalam diri gue dengan Iyon sebagai empunya terasa amat sederhana, tanpa perlu frasa yang rumit untuk dicerna, namun tetap menyiratkan penuh harsa.

Menjelang mentari di batas cakrawala, dengan petikan gitar yang sembarang dan sigaret yang kian terkikis oleh nyala bara yang menggerogoti awaknya, Junio lebih memilih untuk diam dan termangu alih-alih menanggapi runtutan aksara yang Rios rapalkan.

“Lo dengerin gue gak sih?” sungut Rios kesal, mulutnya telah bersiap untuk dibuka dan meloloskan berbagai umpatan setelahnya.

“Denger.”

“Apa?”

Dengan penuh tatapan kosong Junio menyesap sigaret yang terselip pada jemarinya kuat-kuat, merasakan pelekatan nikotin pada setiap rongga dalam tubuhnya.

“Lo sendiri gimana?”

Rios memutar kedua bola matanya gusar sebelum akhirnya mengacak surainya dengan frustasi. “Gue juga usaha. Lo nih yang bahaya, makin ke sini ngelunjak.”

Junio terkekeh atas serang Rios.

“Jun, enggak semua orang baik sama lo itu didasari niat flirting ke lo. Karena memang dia diajarkan dan dituntun untuk tumbuh jadi seseorang yang baik dan memanusiakan manusia seutuhnya.”

Hening panjang. Junio menatap lamat-lamat sigaretnya yang kian memendek, sesekali ia mainkan dengan jemarinya.

“Orion salah satunya.” lanjut Rios, tangan kanannya menyalakan pemantik api yang siap menyulut bara pada sigaret ketiga yang telah terselip pada belah bibirnya dan siap untuk ia sesap.

“Gue paham, tapi susah. Lo sendiri gimana? Emang bisa?” runtutan pertanyaan dari Junio membuat Rios tersenyum kecut.

“Enggak, sama susahnya. Buktinya gue malah dari SMP, kan, naksir dianya? Sampai hari ini enggak ada kemajuan apa-apa karena emang gue ngerti kalau gue enggak akan pernah punya kesempatan itu.” terang Rios, tangan kanannya tergerak untuk meruntuhkan abu pada sigaretnya.

“Gimana cara dia memperlakukan kita sama orang yang bener-bener menarik perhatian dia tuh beda, Jun. Tatapan apa yang dia kasih ke Noel enggak akan pernah ada buat gue juga buat lo.” sambung Rios.

Junio terkekeh dan mengangguk kecil, sebagian perasaan ikhlas yang ia tuai sebelumnya pun telah lenyap dan coba untuk ia tanam kembali.

Rios melempar pemantiknya ke arah Junio, membuat manik mata keduanya saling menangkap temu dan memecah tawa dalam hangatnya jingga di penghujung hari.

“Sinting, sinting.” ucap Rios yang ditujukan kepada dirinya dan juga Junio, dengan tangan kiri menyentuh perutnya yang terasa pegal setelah mengakhiri tawa yang sedari tadi bak tak ingin dipenggal.

“Lo sinting.”

“Lo lebih sinting, anjir! Bisa-bisanya lo semalem ngomong begitu ke Orion. Beli percaya diri di mana tuh bawa-bawa Noel?”

Juni mendengus dan melempar kembali pemantik yang sebelumnya Rios lempar ke arahnya. “Lo sinting, naksirnya dari SMP sampai sekarang masih belum bisa lupa.”

“Anjing!” umpat Rios yang dibarengi kekehannya.

“Lo pernah ada niat ngasih tau ke dia, gak?”

Rios mengedikkan bahunya dengan sekenanya, kepulan asap yang menyeruak keluar dari mulutnya menenggelamkan wajahnya. “Enggak pernah kepikiran, takut malah kehilangan dia sebagai temen.”

“Bisa jadi itu salah satu faktor lo susah lepas dari dia karena sejak awal belum pernah lo keluarin.” celetuk Junio, tangannya mematikan sigaret yang sudah teramat pendek.

“Kalau mau sinting jangan bawa-bawa gue.” timpal Rios, netranya nyalang memindahi tiap ujung langit-langit teras rumahnya.

Berbanding terbalik dengan kalimat yang baru saja ia lontarkan, kini sedikit banyak dari perkataan Junio terpatri pada sebagian ruang dalam benak Rios. Menyusun skenario-skenario yang kemungkinan terjadi dan mengesampingkan banyak fakta yang membentengi dirinya dengan Orion.

Dan kini pada penghujung hari, ia menceloskan dirinya untuk berlari dan mencoba menyambangi. Setidaknya sekali, sebelum akhirnya ia benar-benar angkat kaki.

Radhika Abimanyu.

Rasa kehilangan itu masih terus menetap dan semakin beranak-pinak, banyak rasa kalut yang membalut. Terhitung tujuh hari selepas ragamu tak berdaya, ditimbun tanah hingga tak lagi terpatri.

Hari pertama, saya habiskan jalan-jalan ke toko buku. Sesekali mengendus buku yang sudah telanjang bulat, seperti apa yang kerap kamu lakukan dulu sebab katamu buku-buku itu tak kalah wangi dari saya. Dirga, wangi buku-buku itu tak sehangat wangimu.

Hari kedua, saya yang sama sekali tak memiliki edukasi akan fotografi, dengan impulsifnya membeli kamera dan roll film remjet seharga empat puluh ribu. Menyusuri jalanan entah ke mana kedua kaki saya akan terayun, meminta izin bapak tukang becak untuk mengabadikan beliau yang tengah asik menghisap cerutu. Dengan colongan, saya menceritakan kepada beliau perihal kamu. Lumayan, selain mendapat momen saya juga mendapat pelajaran hidup akan dunia yang mulai redup.

Hari ketiga, saya habiskan seharian penuh di rumah barumu. Saya tersenyum kala itu, banyak taburan kelopak bunga di atas kuburmu. Kan sudah saya bilang, seluruh dunia pun senang akan kamu. Sukar untuk menerima fakta bahwa tak ada lagi kamu. Kala itu saya rindu, biasanya kamu akan menjawab segala pertanyaan saya akan hal-hal yang tak perlu diburu jawabnya. Dirgapedia, kata saya. Ternyata Google dan segala jajarannya tak semenarik kamu saat memberikan terang akan kepulan pertanyaan yang tiba-tiba mengudara.

Hari keempat, salah satu sudut kamar saya meraung meminta untuk ditempati. Saya mendudukkan diri dengan secarik kertas pula sebuah pena bertinta hitam yang siap menuliskan kamu. Dirga, kamu tidak keberatan kan jika saya jadikan kamu sebagai pemeran utama melulu?

Hari kelima, saya putuskan untuk menonton serial Netflix kesukaanmu. Ternyata ini toh, tokoh yang selalu kamu elu-elukan eksistensinya? Saya baru tahu, sebab dulu saat kamu meminta saya menyambangi kamu di atas ranjangmu dan menjadi kawan dalam belukarnya kehaluanmu, saya lebih memilih untuk menonton kamu alih-alih turut melesakkan diri ke dalam layar laptopmu.

Hari keenam, saya mulai berani menarik diri dari lubang bernama kepedihan atas hilangnya kamu. Selepas kepergianmu, kemarin adalah pertama kalinya saya kembali menjejakkan diri di ruang keluarga. Disambut hangat dan juga tawa, bermula dari rencana saya mengenai studi S2 dan berakhir dengan sesaknya ruang keluarga sore itu yang dipenuhi akan namamu.

Hari ketujuh, hari ini saya duduk termangu. Kembali melamunkan kamu dan sejajaran rencana-rencana indah akan kamu. Biar saya nikamti rasa nestapa yang terus berkelana dalam relung tanpa tahu kapan akan menemukan ujung.

Kebun saya layu tak bersisa, rapuh rikuh tak bertenaga. Biar saya lenyap ditelam muram durja, hingga kembali menemukan titik baru bak laksana surga.

Dirgantara, selamat beristirahat dengan tenang. Mohon izinkan saya untuk terus mengenang.