olasphere

Dipta Gulzar

Segalanya tentang dulu yang pernah ada dan tertulis bersama Kaivan, kini rasanya sudah luruh menyeluruh tak menyisakan tempat setitik untuk dapat lagi berlabuh.

Dulu ketika nama Kaivan menyambangi indra pendengaran gue, dapat dipastikan banyak deburan ombak yang riuh dalam dada. Senyum juga mengembang tanpa upaya, dengan bangga gue akan menyerukan bahwa dia adalah satu-satunya makhluk yang akan selalu gue pinta.

Sekarang, siapa yang akan menyangka kalau segalanya tentang Kaivan merupakan sebingkai cerita yang menorehkan luka juga kecewa? Tidak ada lagi rasa, meredupkan segala asa.

“Kak Dipta, ada Kak Kai di depan.” ujar Lily di ambang pintu, satu tangannya meremas erat apron yang membungkus sebagian banyak tubuh bagian depannya. “Aku harus bilang apa?”

Gue hanya terkekeh, menimbulkan tanya pada otak gue akan kecemasan Lily yang tak seharusnya naik ke permukaan. “Kenapa malah lo yang kelihatan panik gitu, Ly? Tolong bilang ke Kaivan suruh ke sini aja ya, Ly.”

Lily mengangguk dan melenyapkan presensinya dari ambang pintu, bersamaan dengan itu, kini benak gue menayangkan serangkaian gambar akan hubungan gue dan juga Kaivan enam bulan ke belakang.

Gue bukan orang yang gemar menuntut, juga bukan orang yang gemar mengeluh hingga menimbulkan gaduh ketika pasangan gue akan lebih memprioritaskan segala mimpi-mimpinya, menempatkan karirnya di atas gue sebab gue juga akan melakukan hal yang sama.

Tapi, Kaivan dan segala tingkah lakunya enam bulan ke belakang membuat gue harus meminta. Sebab Kaivan kini berlari terlalu cepat hingga tak mampu gue jaga dengan lekat.

“Dip?” suara bariton yang sangat gue hapal betul siapa empunya kini menyeruak, mengambil seluruh atensi gue dari berkas-berkas yang berserakan di atas meja.

Harum yang menyerbak dari tubuhnya masih sama, sekonyong-konyong melekat pada indra penciuman gue saat tubuhnya ia rapatkan serta tangannya ia lingkarkan.

Gue berusaha melepas diri dari pelukannya, alih-alih membuat gue lolos, ia semakin mengeratkan tangannya yang melingkar pada tubuh gue. “Jangan, sebentar aja.”

“Kaivan.”

Kaivan berdeham, gue menarik wajah gue dari pundaknya. Dengan jarak pandang yang sedekat ini, membuat gue mampu merasakan deru napasnya yang memberat dan menerpa wajah gue dengan hangat.

Gue telisik lamat-lamat setiap senti wajahnya, sama sekali tidak ada yang berubah selain kantung matanya yang kini semakin muncul dengan bubuhan warna gelap yang menyergap.

“Kenapa?”

“Apa?”

“Lihatin aku.”

“Lihatin kantung mata lo.” timpal gue dan melepaskan diri dari rengkuhannya yang sudah merenggang.

“Maaf.”

“Apa?”

“Tiba-tiba dateng tanpa bilang dulu.” ucap Kaivan, punggungnya kini ia sandarkan pada sofa dengan kepalanya yang menengadah. Netranya terus memindahi dari tiap sisi ruang kerja gue. “Ternyata aku kangen banget ke sini.”

Gue memilih untuk diam.

“Dan ternyata aku lebih kangen ke yang punya ruangan ini.”

“Kai, udah gue bilang. Gue sama sekali udah enggak bisa kalau lo ngajakin gue untuk balik lagi.”

Kaivan mengangguk lemah sebelum akhirnya kedua telapak tangannya mengusap wajahnya dengan kasar. “Sekali ini, Dipta. Terakhir kalinya.”

“Enggak bisa, Kaivan.”

“Aku mohon.”

“Gimana rasanya mohon-mohon?” tanya gue tanpa berniat menatap manik matanya, hanya berani melirik ekspresinya dengan sudut mata.

“Dip, sesusah itu ya?”

“Kai, sesusah itu ya ngabarin gue untuk bilang lo batalin janji kita? Sesusah itu ya luangin waktu sebentar aja untuk nepatin janji lo ke gue? Bahkan enam bulan kemarin bener-bener kita enggak pernah ketemu, Kai.”

Hening panjang, gue meraup oksigen dengan rakus untuk mencari kekuatan akan melanjutkan rangkaian frasa yang telah gue simpan rapat-rapat seorang diri.

“Bahkan gue kalau mau tau kabar lo harus cek sosial media, lihatin postingan orang-orang.”

“Dipta, maaf.”

Gue tertawa. “Ini maaf ke berapa ya? Gue sampai enggak bisa ngehitung karena lo sesering itu minta maaf.”

“Dipta…”

“Kaivan, maaf gue buat lo enggak akan pernah habis. Tapi kalau lo minta untuk gue kembali jadi Dipta yang sebelumnya, Dipta yang akan ada buat lo, gue udah enggak bisa.”

Kaivan masih dalam heningnya memperhatikan wajah gue dan setiap gerakan kecil yang gue buat. “Kaivan, I really cherish myself so much and I hope it’s more than I cherish you. Gue enggak mau kehilangan diri gue dan nyakitin diri sendiri, gue merasa sekarang saatnya gue harus menolong diri sendiri sebelum gue mendahulukan orang lain.”

Kaivan meraih kedua tangan gue, menyentuhkannya ke pipinya sendiri dan memberikan elusan dengan kedua ibu jarinya. “You deserve someone else better.

Gue mengulum senyum. Banyak atas diri gue yang berseru lega setelah menyuarakan segalanya akan Kaivan yang selalu gue pendam sendirian.

Pada halaman ini akhirnya gue menutup dan merampungkan segala cerita akan kisah cinta pertama gue.

Cinta pertama yang sama sekali tak gue sesali hadirnya, cinta pertama yang menorehkan luka paling luar biasa namun juga menghadirkan kedewasaan walau diiringi dengan tangisan. Cinta pertama yang hendak gue jadikan kamus akan pencarian cinta berikutnya, dengan bermaksud tidak akan mengulangi kerumpangan yang sama.

Kaivan Loka.

Dipta Gulzar,

Kepadamu, aku menyimpan cemburu dalam harapan yang tertumpuk oleh sesak dipenuhi ragu. Kini teramat banyak ruang yang tak bisa aku buka juga tak bisa aku raba.

Mungkin memang jalan kita yang tak lagi bersimpangan. Sehingga pada paragraf ini, aku merelakan kamu. Memproklamasikan hubungan kita sebagai rampung meninggalkan aku yang rumpang.

Bibir itu menyesap cerutunya kuat-kuat, mengisi kerongkongan serta sebagian rongga dadanya penuh akan zat nikotin. Kemudian menghembuskan napas panjang, menampilkan kepulan asap tepat pada wajahnya hingga menghadang penglihatannya akan sosok yang sedari tadi enggan untuk menengok.

“Jauh-jauh nyusulin sampai Jogja, tapi gue nya didiemin aja.” celetuk Kaivan, tangan kanannya sibuk mematikan nyala cerutu yang kini tersisa pendek.

Ada banyak hal pada alam semesta ini yang tak mampu disebutkan satu persatu namanya. Namun bagi Kaivan, Dipta adalah satu-satunya makhluk yang mampu menjadi alasannya merasa kelabakan.

Pasalnya, beberapa pesan singkat dari Dipta yang menyampaikan kabar bahwa ia tengah menjejakkan diri di depan hotel tempat Kaivan bermalam pun mampu menimbulkan efek besar bagi seorang Kaivan. Meninggalkan pesta makan malam atas selesainya pengerjaan proyek untuk lagu barunya dengan tergesa, membuat segala kru nya menoleh bingung hingga bersorak khawatir.

“Gue sampai habis dua batang karena nungguin lo ngomong.” ujar Kaivan, dagunya tergerak bak menunjuk ke arah gelas plastik yang ia jadikan sebagai asbak.

Dipta tertawa. “Nungguin gue ngomong atau sekalian ngebakar rasa gugup lo?”

“Dua-duanya.” timpal Kaivan dan menyusul Dipta pada sisa-sisa tawanya.

Hening menyergap, melingkupi ruang pada keduanya.

“Ada yang mau gue kasih ke lo.” ucap Dipta, tangan kanannya merogoh isi tas selempang yang tergeletak di atas pahanya.

Jika hanya dengan beberapa pesan singkat yang Dipta kirimkan beberapa waktu lalu mampu membuat Kaivan bersorak kegirangan dan merasa kelabakan, kini rangkaian aksara menjadi satu kesatuan kalimat utuh serta sodoran kertas tebal dibalut plastik bening dari Dipta lah yang mampu membuat hatinya mencelos ingin lolos.

Sebelum Kaivan kehilangan segalanya tentang Dipta, ia pernah memasukkan kertas tebal dengan guratan nama keduanya bak asma pemeran utama yang disorot pada salah satu rencana masa depannya. Namun kali ini ia dicabik oleh kenyataan, bahwa segala rencana masa depannya akan Dipta telah dihadang tembok besar yang bernama pernikahan.

“Enggak yakin sih lo bisa dateng atau enggak, yang penting undangannya udah sampai ke lo.” ucap Dipta menepis keheningan yang membuat Kaivan dihinggapi rasa kedinginan.

“Selamat ya, Dip!”

“Terima kasih, Kai.”

“Gue sampai bingung mau ngomong apa lagi.” tutur Kaivan, tangan kirinya meremas erat jahitan pada samping celananya sebagai penyaluran emosionalnya. “Semoga lancar semuanya ya, Dip.” 
Dipta mengangguk dalam diam dengan deretan giginya yang menggigit lidahnya, berusaha menahan derai air mata yang sudah siap meloloskan diri dari pelupuk matanya.

“Dulu gue kira, kita bakal nikah barengan. Dalam artian lo nikahnya sama gue.” ucap Kaivan dengan suaranya yang mulai berat serta menunjukkan getar, netranya menyapu tiap frasa yang tertulis pada kertas yang tengah ia genggam.

“Dulu gue kira, di sini bakal ada nama gue sama lo, Dip.” sambung Kaivan dengan menunjuk nama Dipta yang bersanding dengan nama seseorang, bukan dirinya.

“Dulu juga, gue kira…” lidah Kaivan terasa amat kelu, tak mampu menumpahkan segala pilu.

Deru napas Kaivan yang terburu-buru mampu menyambangi indra pendengaran Dipta. “Gue boleh peluk lo, gak?”

Kaivan menyeka matanya menggunakan buku-buku jarinya sekilas sebelum akhirnya merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. “Kalau lo enggak minta, gue yang bakal minta.”

Tidak banyak lantunan kalimat yang menyusul setelahnya, baik Kaivan pun juga Dipta tengah sibuk untuk menata apa yang telah berceceran pada spasi yang ada.

Pundak kiri Dipta merasakan getar, seirama dengan punggung Kaivan yang terus bergerak dalam isak. “Maaf karena selama ini gue kurang maksimal untuk mengupayakan rencana-rencana soal kita.” ucap Kaivan dengan suaranya yang lirih menorehkan perih.

Dipta menggeleng dengan cepat dan terus memberikan usapan pada punggung Kaivan.

Selama ini bagi Dipta ia akan mengibaratkan dirinya bak Bulan, tatkala Kaivan akan ia umpamakan sebagai Bumi nya. Bagai Bulan yang akan selalu menerima Bumi, berusaha untuk mengiringi tiada henti. Menerima apa yang kurang, serta mempersilahkannya untuk berporos pada Matahari demi mengejar terang.

Maherrumi Arsena.

Lenyapnya suara mesin mobil membuat Iyel yang sedari tadi tak bergeming dari pejaman matanya pun mulai menggeliat dan mengeluarkan erangan kecil, meregangkan ototnya yang mungkin terasa kaku dalam lingkup ruang gerak yang mengharuskan ia mematung dalam tiap-tiap meter laju.

Gue berushaa melepaskan sabuk pengaman yang sedari tadi melilit pada tubuhnya, membuat Iyel dalam ketidaksadarannya mulai semakin terusik. Setelah berhasil melepaskan sabuk pengaman pada tubuhnya, gue lekas menarik diri dari tubuhnya.

Belum sempat gue mendudukkan diri dengan tepat, Iyel sudah terlebih dulu menegakkan tubuhnya, membuat gue mau tak mau dihadang oleh wajahnya. Iyel memalingkan wajahnya menghadap gue dengan memamerkan deretan gigi rapinya, membuat aroma alkohol menyeruak ke dalam indra penciuman gue yang hanya terpaut jarak beberapa sentimeter dari wajahnya.

“Rumi, ada air minum enggak?” napas gue tercekat sebab jarak wajah gue dengan Iyel yang terlalu dekat.

“Ada.” jawab gue singkat sebelum akhirnya mengambil kantong plastik berisikan air mineral pada jok belakang, membuat posisi wajah Iyel kini tenggelam dalam perut gue.

Iyel terkekeh dengan matanya yang terpejam. “Kenapa tahan napas?”

Gue memilih untuk diam tak menjawab pertanyaannya dan lekas menyodorkan sebotol air mineral yang sebelumnya sudah gue bukakan.

“Lo suka ya sama gue?”

Satu pertanyaan yang lolos begitu saja dari mulut Iyel tanpa pernah gue sangka sebelumnya membuat gue berdeham sebab tenggorokan gue seketika diselimuti serak.

“Kenapa mikir gitu?”

Iyel menatap nanar ke arah botol air mineral yang kini tengah ia mainkan, mengalirkan airnya dari ujung ke ujung membuat terombang-ambing isinya. Tak jauh beda dengan seluruh perasaan di dalam relung gue, yang entah apa jawabnya kini ikut merasa diombang-ambingkan isinya. “Kelihatan. Biar jomblo gini, gue juga ngerti kali mana orang yang naksir dan enggak ke gue.”

“Terus?”

“Apanya?”

“Terus kalau gue naksir sama lo, gimana?”

Iyel tersenyum.

Entah sekon ke berapa, ranum merah muda yang sedari tadi gue curi pandangnya kini telah menempel tak menyisakan jarak sedikitpun dari bibir gue. Napas gue tercekat dengan kedua tangan gue yang mengepal erat, hingga akhirnya Iyel mulai menjauhkan wajahnya dari gue dan memutus aliran rasa hangat.

Thank you udah nemenin gue hari ini.”

“Iya.”

“Gue masuk sekarang, ya? Kepala gue pening banget.” ujar Iyel dan gue hanya mampu mengangguk sebagai persetujuan atas pamitnya.

Ternyata, kecupan serta pamitnya menjadi konfirmasi bagi gue atas segala ranjau perasaan yang siap meledak saat mendapatkan usik.

Sepanjang hidup Arsena, ini kali pertama ia menginjakkan kaki di bar. Tempat di mana saat ia melesakkan presensinya akan disambut oleh isi klub yang dipenuhi ingar-bingar lagu, sarat pengunjung yang mengalunkan tubuhnya mengikuti tempo, dibubuhi dengan lampu warna-warni yang berpendar.

Arsena benci kerumunan, akan segalanya yang ada pada ruang tempatnya berpijak. Kecuali satu nyawa yang dengan eloknya bergerak tanpa merasa diusik, tertawa dan berseru di tengah lautan manusia yang dikejar oleh rasa kebutuhan duniawi yang tak bersangkar.

Matanya terus membidik presensi Gabriel, seorang lelaki yang menjadi satu-satunya alasan ia mendobrak dan menyingkirkan seluruh rasa ketidakmampuannya di tengah bisingnya suasana.

Relungnya bergemuruh, pikirannya menjadi keruh. Lelaki yang sedari tadi ia amati lamat-lamat kini tengah berada dalam rengkuh seseorang yang ia tak kenali juga tak pedulikan identitasnya.

Netra Arsena bertumbukan, saling menarik dengan manik mata Gabriel yang kini hanya mengangkat kedua alis dan melayangkan tatapan arogansinya sebagai sarat tanya.

“Temen doang.” timpal Deo yang baru saja mendudukkan diri di samping Arsena, menarik kembali sadarnya.

“Apa?”

“Yang barusan sama Iyel, cuma temen.”

Arsena menukikkan alisnya. “Hubungannya sama gue?”

Deo tertawa renyah, tangannya meneguk gelas berisikan minuman beralkohol yang sedari tadi ia genggam. “Lo naksir, gue tau.”

“Sotoy.”

“Yaudah biasa aja dong lihatinnya!” timpal Deo dan menyodorkan botol yang baru saja ia buka ke hadapan Arsena.

Arsena menggeleng dengan cepat. “Gue nyetir, harus nganterin Iyel dulu.” anggukan serta tawa Deo lontarkan sebagai sahutan.

Dalam diamnya, Arsena tak melepaskan pandangnya dari lelaki penyandang asma Gabriel Eknath. Lelaki yang mulai ia kenal baik selama satu bulan ke belakang, lelaki yang satu persatu rahasianya mulai ia bawa ke daratan.

Segalanya tentang Gabriel menjadi satu kesatuan utuh yang ia bingung menamainya. Ada kalanya ia menjumpai Gabriel di atas rooftop dengan cerutu yang terselip pada jemarinya. Ada kalanya ia menjumpai Gabriel yang dengan mudahnya melesakkan diri ke dalam lingkaran yang baru ia sambangi, melontarkan senda guraunya juga akan kerendahan hatinya. Ada kalanya ia menjumpai Gabriel yang tengah berderma dengan uluran tangan lembutnya. Juga ada kalanya ia menjumpai Gabriel dengan pancaran mata penuh kesepian dalam ramainya dunia malam.

Seolah tak ingin kehilangan, membuat Arsena sadar akan masa remajanya kali ini. Bagaimana ia mulai melesakkan diri ke dalam gudang kelana dengan kehendak mematut kisah kasih soal romansa.

“Atas nama teman-teman panitia, kita ucapkan terima kasih banyak untuk antusiasnya di acara PRAKARSA tahun ini. Semoga kita dipertemukan lagi ya di acara-acara lainnya! Kalau gitu, aku Lalita.”

“Dan aku Gabriel.”

“Kita pamit undur diri!”

“Terima kasih teman-teman! Jangan lupa isi kesan dan pesannya lewat link yang tertera di QR code pada notebook yang sudah dibagikan panitia tadi ya!”

“Kita tunggu nih masukan dan kontribusi kalian untuk fakultas kita, iya enggak, Gabriel?”

“Betul banget, Lita. Yang langsung pulang hati-hati di jalan ya!”

“Kalau yang belum pengen pulang gimana, Gabriel?”

“Bisa di sini aja bantuin panitianya angkat-angkat sampah.”

“Kirain yang belum pengen pulang mau diajakin mampir-mampir dulu sama Gabriel.”

“Wah Lita mah, bongkar dapur orang. Dilirik sama Bu Sarah tuh! Ampun Bu.”

“Hahaha ampun Bu Sarah, bercanda.”

“Yuk langsung aja daripada habis ini kita diomelin habis-habisan sama timekeeper nya tuh udah angkat-angkat papan daritadi.” ucap Gabriel, sorot mata dan tangan kanannya pun mengarah ke seorang perempuan yang sedari tadi mengangkat papan di belakang barisan peserta. Kini ruangan tersebut dipenuhi dengan gelak tawa dari para peserta, juga dari para panitia dan dosen yang menjadi tamu undangan.

“Terakhir nih, PRAKARSA 2021?”

“Dari mahasiswa, untuk bangun bangsa!”

Thank you semuanya!”

Acara yang diketuai oleh Arsena pun dapat dideskripsikan dengan dua kata, meriah dan juga berjalan dengan lancar. Tatkala Gabriel dan Lalita berjalan ke salah satu sudut ruangan yang menjadi tempat para panitia berkumpul, sebagian peserta masih memilih untuk duduk tatkala menunggu jalan keluar senggang, sebagian lagi masih sibuk berfoto dan mengabadikan kegiatan hari ini bersama teman-teman barunya.

Thank you banget ya, Yel. Gue enggak tau bakal gimana tadi kalau disuruh sendirian.” ucap Lalita, tangannya meraih botol air mineral dengan tersegel rapat yang disodorkan Gabriel.

Gabriel tersenyum dan mengangguk, tangannya sibuk membuka botol air mineral pada genggamannya. “MC kondang gini loh padahal?”

“Gini-gini juga gugup masih ada, tau!” seru Lalita setelah meneguk air mineralnya. “Gue malah baru tau deh kalau lo bisa nge-MC juga, kirain cuma pro dugem doang.”

Gabriel tertawa renyah. “Ayo deh, gantian kapan-kapan lo yang ikut gue dugem.”

“Yel.” suara bariton yang bersumber dari seseorang di belakang Gabriel pun menginterupsi konfersasinya bersama Lalita.

Gabriel membalikkan tubuhnya, mendapati sosok lelaki yang menjadi alasan dalam kesanggupannya pada acara dadakan hari ini. “Iya, Rumi?”

“Sena.”

“Rumi.” ucap Gabriel dan menjulurkan lidah, kekeuh akan pendiriannya.

Arsena hanya menghembuskan napasnya gusar. “Iya, deh, terserah lo.”

“Apa?”

“Mau bilang makasih.”

“Yaudah, buruan. Gue cuma punya waktu satu menit.”

Arsena menukikkan alisnya. “Ini masih balas dendam ke gue?”

Gabriel merogoh saku celana hitamnya, mengambil benda kecil berbentuk persegi panjang yang terus bergetar dan menampilkan nama Mark pada layarnya.

“Gue mau pergi habis ini, udah ditungguin.” ujar Gabriel sebelum akhirnya menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku celana. “Buruan kalau mau ngomong.”

Thank you ya udah gantiin Haris. Gue berhutang banget ke lo, berkat lo acara gue jadi sukses. You did great padahal tadi persiapannya super dadakan dan briefing pun cepet banget.” ucap Arsena, dalam balutan sepatu berwarna hitam jari-jari kakinya menekuk ke dalam sebagai distraksi atas rasa gugupnya.

“Udah?”

“Udah.”

“Kalau merasa punya hutang sama gue, ayo kapan-kapan temenin gue makan bakso.”

“Iya, tadinya gue mau ngajakin lo tapi katanya lo ada urusan kan? Besok-besok deh, lo yang atur mau kapan tinggal kabarin aja.”

Gabriel tersenyum dan meraih tas kecilnya yang tergeletak di atas kursi. “Atau lo mau ikut gue sekarang?”

“Enggak bisa, gue kan ketua nya. Harus beresin ini dulu.” ujar Arsena, dagunya tergerak menuding isi ruangan yang masih meninggalkan euforia akan acara yang ia pimpin.

“Yaudah, nanti berkabar aja lo kosong kapan.”

“Oke.”

“Jangan ghosting gue!”

“Iya.”

“Yaudah gue cabut duluan ya, Rumi. Titip salam buat temen-temen lainnya, maaf enggak bisa ikut eval dulu.” ucap Gabriel, tangannya menepuk pundak Arsena sebelum akhirnya mulai melangkahkan kakinya.

“Eh ini enggak mau bawa?” tanya Arsena dengan suaranya yang sedikit lantang, menyambangi Gabriel yang sudah berada beberapa langkah jauh di depannya.

Gabriel membalikkan tubuhnya saat mendengar suara Arsena memasuki indra pendengarannya, dahinya mengernyit melihat Arsena tengah menunjuk tumpukan kotak kardus yang diduga berisi konsumsi untuk panitia.

“Gue mau dugem masa bawa nasi kotak!” timpal Gabriel, membuat siapapun yang mendengar percakapan keduanya pun terkekeh. Arsena hanya mengangguk, tak berkutik dalam pijakan kakinya. Matanya terus mengikuti Gabriel yang dengan terlihat ringan semakin lama semakin hilang ditelan jarak.

Pada detik yang sama pula sekon perputaran waktu terasa ingin Arsena perlambat, enggan mengalihkan pandangannya yang lamat, akan presensi seseorang yang menjadi alasan sekonyong-konyong atas degup jantungnya yang sudah tak terselamat.

Payung Hitam

Jamariel Orion.

Ada banyak hal di dunia yang sepertinya memang harus dibiarkan menguap hingga akhirnya mereka punya rumah sendiri untuk bersemayam, bak mengucap selesai dan tak perlu lagi menaruh banyak bingung yang mengudara.

Pertanyaan atas berubahnya tingkah laku Junio yang signifikan, salah satunya.

Angka-angka yang tercetak pada papan tulis enggan untuk menetap, kalah kuatnya oleh rekam kejadian malam tadi di bawah payung hitam yang tudungnya tidak selebar itu untuk menyembunyikan tubuh gue dan Junio dari derai tangis cakrawala.

“Jadi, kemungkinan lo enggak akan balik lagi ke rumah?” tanya Junio, punggungnya berhimpitan dengan dada kiri gue. Sesekali tangan kiri gue tergerak untuk mengarahkan laju tubuhnya, supaya tak menginjak genangan air yang menjadi aksesori jalanan.

“Iya.”

“Lo segitu sayangnya ke Noel ya?”

Gue tertawa menimpali pertanyaannya. “Kelihatannya?”

“Buktinya lo sampai rela keluar dari rumah, berarti iya.” ucap Junio, tubuhnya bergerak semakin masuk di depan dada gue.

“Rumah gue kan sekarang emang cuma Noel.” timpal gue sebelum akhirnya sedikit menjauhkan wajah dari kepala Junio, berniat menghisap nikotin dari cerutu yang terhimpit pada jari.

“Jangan jadiin orang sebagai rumah, Yon.” ucap Junio, gue hanya mengangguk. “Nanti lo jadi ketergantungan.”

“Gue kira lo masih marah ke gue.” ujar gue, berusaha mengalihkan topik pembicaraan akan rumah secara harfiah.

“Gue enggak pernah marah ke lo.”

“Terus kenapa waktu itu mukulin gue?”

Junio mengedikkan bahunya.

“Lo nyuruh gue pakai jaket, tapi lo sendiri kausan gini.” cibir Junio dengan langkahnya yang semakin menjauh, menyisakan gue yang masih terpaku menggenggam erat gagang payung dengan tudungnya yang telah sepenuhnya meneduhi tubuh.

Gue mengamati langkahnya yang telah terlebih dahulu berjalan di depan mata, membuat gue menjatuhkan puntung rokok yang tak lagi panjang dan mematikannya dengan injakan.

“Orang payung lo, nih.” seru gue setelah berhasil menyambangi langkah Junio, menyodorkan gagang payung tersebut ke arahnya.

“Ogah, gue mah pakai jaket.” ujar Junio, tangannya bersedekap merengkuh badannya.

Gue berdecak dan menutup mekar payung, menemani Junio yang menantang guyuran hujan tengah malam. Membiarkan deraian air hujan menerobos sela-sela kaus, menembus serat-serat kain yang melekat hingga membuat tubuh kuyup.

“Awas lo sampai besok masuk angin.” timpal gue dan mendorong tubuh Junio pelan, membuatnya menggerutu tatkala menginjak kubangan air yang menghasilkan ciprat.

Kakinya menendang air yang tergenang ke arah gue. “Lo kali yang bakal masuk angin! Awas aja tiba-tiba tengah malem minta tolong gue jalan ke kos cuma buat kerokin.”

Gue terkekeh. “Gue mah ada Noel.”

“Noel mulu.” timpal Junio dan membuat langkah gue terhenti, tak sadar jika langkah kaki gue telah mampu menyambangi pagar rumah Junio.

“Sini.” ucap Junio dan meraih payung hitam yang masih gue genggam.

Lihat, satu pertanyaan mengenai Junio dan segala sikapnya yang selalu menunjukkan perubahan signifikan masih terus mengudara dan belum menemukan tempatnya.

Ketakutan Terbesar

TW // homophobic

Telusur jemari penuh kehati-hatian atas gambaran rasa khawatir yang membuncah itu terus berpusat pada sudut bibir penuh luka. Dipandanginya pipi memar penuh semburat ungu tua, bahkan lebam pada pelupuk mata.

Noel terus menyelami samudera pikirnya, menyusun tiap buih cerita yang telah ia lewati beberapa bulan ke belakang. Bagaimana jantungnya akan terpompa dengan cepat tatkala nama Orion muncul dalam benaknya, pula bagaimana jantungnya akan mencelos sewaktu nama Orion bersanding dengan kericuhan yang tak direncanakan.

“Kalau cuma diusap-usap sembuhnya lama, El.” ucap Orion, tangan kirinya menahan pergelangan tangan Noel. “Harus dicium.” sambungnya dengan wajah yang menengadah, mencari temu akan manik mata Noel.

“Yang sakit mana aja?” tanya Noel dengan matanya yang menelisik sembari memberi pertanyaan usil.

“Semuanya, gue sakit.”

Noel sedikit membungkukkan tegap badannya, wajahnya perlahan mendekat dan memangkas jarak di antara keduanya. Jemarinya yang sedari tadi tak tinggal diam untuk terus memberikan usapan kini telah terhenti, memilih untuk sedikit mendongakkan wajah Orion untuk mempermudah.

Ia tanggalkan kecupan tak terlalu singkat namun juga tak terlalu lama pada bibir Orion, menimbulkan tarikan pada kedua sudut bibirnya.

“Masih sakit?”

“Masih, mau lagi.”

Alih-alih memberikan ciuman, Noel memilih untuk menyentil bibir Orion. Tidak sekeras itu hingga mampu menimbulkan gaduh, namun Orion tetap mengaduh dengan bibirnya yang mencebik membuat perut Noel merasa tergelitik.

“Jadi cerita?” tanya Noel, memposisikan dirinya untuk turut berbaring di sebelah Orion. Kepalanya kini mengusak di atas ketiak Orion, mencari posisi ternyamannya dengan lengan Orion sebagai bantalan.

Orion melingkarkan tangan kanannya pada perut Noel, melayangkan kecupan-kecupan singkat pada puncak kepala Noel. “Jadi.”

“Waktu dan tempat dipersilahkan.”

“Tadi aku istirahatnya duluan, karena bisa jawab pertanyaan guru aku.”

“Pacar aku pinter.”

Orion tersenyum. “Tapi bukan itu yang mau aku ceritain. Tadi niatnya aku mau makan bekel dari kamu di kantin karena aku sekalian beli minum, kan. Terus tiba-tiba Jordan dateng, biasa.” Noel mengangguk, belum memberi respons apapun sebab menunggu Orion untuk melanjutkan ceritanya.

“Dia bawa-bawa kamu.” Noel mengernyit, kepalanya menengadah. Belum sempat ia mengajukan tanya, Orion sudah terlebih dulu melanjutkan ceritanya. “Katanya, orang kayak kamu dan aku enggak seharusnya ada di sini.”

“Orang kayak aku dan kamu gimana? Ho-“

“Iya. Gara-gara berantem jadi kesenggol bekelnya, tumpah deh.”

“Terus nangis karena apa? Kata Moren kamu nangis?”

“Anjrit! Lo bayar berapa sih ke Mauren? Apa-apa dilaporin begitu, malu-maluin. Kayaknya gue harus kasih sogokan lebih gede.”

Noel enggan menahan tawanya. “Padahal gue pernah lihat lo nangis. Jadi nangis karena apa, Iyon?”

“Nasi gorengnya tumpah.”

Noel terbelalak atas alasan yang dilontarkan Orion, lagi-lagi ia belum sempat mengajukan tanya namun tubuhnya sudah dibungkus rapat-rapat oleh badan Orion yang membawanya semakin erat ke dalam pelukan.

“Jangan diledekin, beneran sedih.” lanjut Orion.

“Barusan udah dimasakin lagi, masih sedih?” tanya Noel dengan suaranya yang teredam di dalam dada Orion.

“Masih.”

“Masih mau cerita?”

“Masih.” jawab Orion dan melonggarkan rengkuhannya pada tubuh Noel. “Ayah tau kita pacaran.”

“Ini yang bikin kamu berantem sama Ayah sampai kabur kemarin dan harus ngekos?”

Orion berdeham sebagai jawab. “Jordan yang ngasih tau.”

“Kalau enggak dikasih tau Jordan, emangnya kamu enggak ada rencana untuk ngasih tau?”

“Bukan maksudnya aku mau nutupin kamu, El. Kamu tau sendiri aku enggak akan ngobrol apapun sama Ayah, kan?”

Noel menggeleng, tubuhnya ia angkat. Noel terduduk dengan manik matanya yang enggan berpaling barang sedetik, terus mengawasi gerak-gerik lawan bicaranya. “Bukan, aku enggak ada pikiran begitu, Iyon.”

“Iya aku mau jelasin aja, takut kamu salah tangkap. Aku sama sekali enggak nutupin dari Ayah, kalau misal kemarin-kemarin Ayah tanya ya aku jawab. Emang aku yang males aja untuk ngobrol sama Ayah.”

“Kata Ayah apa?”

“Jelas responsnya negatif, El. Buktinya sekarang aku ngekos.” ujar Orion. Tangannya tak tinggal diam, terus memainkan jemari Noel pada genggamannya.

“Kamu enggak apa-apa?”

Orion terkekeh. “Kenapa harus kenapa-kenapa, sayang?”

“Berarti enggak apa-apa?”

“Enggak apa-apa.”

“Terus kenapa kemarin kabur kalau kamu enggak apa-apa?” tanya Noel, alisnya menukik berniat menyelidik. “Kamu mah gitu, sukanya bohongin aku.”

Orion hanya mampu menjawabnya dengan tawa.

“Iyon, kalau kita putu-“

“Enggak.”

“Apa? Aku belum selesai ngomong.” dengus Noel, melayangkan sebuah pukulan lirih pada pinggang Orion.

“Putus kan?” Noel mengangguk, mengamini pertanyaan Orion. “Enggak, aku enggak mau.”

“Kenapa? Cuma karena aku kamu kehilangan rumah kamu, kehilangan Ayah kamu.”

Orion berdecak, tubuhnya kini turut ia dudukkan menyambangi Noel. Dalam waktu keheningan panjang, Orion memilih untuk memberikan usapan pada punggung tangan Noel.

“Perlu berapa kali aku bilang kalau kamu itu bukan cuma?” tanya Orion dengan suaranya yang semakin berat dari sebelumnya, membuat relung Noel kini dibaluti penuh rasa kalut.

Orion meraup oksigen dengan serakah, mencari kekuatan dari apapun yang mampu ia semat dalam sanubari. “Noel, aku udah kehilangan tempat tinggal yang aku sebut rumah dan sosok yang aku sebut Ayah sejak lama. Jauh sebelum aku kenal kamu.”

Noel meneguk ludahnya dengan susah payah, kerongkongannya yang teramat kering pun tak mampu dialiri. Lidahnya kelewat kelu untuk menimpali.

“Aku sama sekali enggak takut kehilangan mereka untuk kedua kalinya, Noel.” ucap Orion menggantung, buku-buku jarinya menyeka tetes air mata yang tak terbendung dari pelupuk mata Noel.

“Aku cuma punya kamu, Noel. Ketakutan terbesarku cuma kehilangan kamu.”

“Aku enggak akan ninggalin kamu.”

“Aku kelihatan menyedihkan ya, El?”

Noel menggeleng dengan cepat, tangannya ia rentangkan sebagai tanda untuk Orion masuk ke dalamnya. “Aku enggak mengasihani kamu karena kamu yang begini dan kamu yang begitu. Aku beneran sayang kamu sebagai Orion, tanpa embel-embel cerita apapun di baliknya.”

“Jangan gampang kasih saran putus kayak tadi, El. Aku beneran takut banget.” ucap Orion pada rengkuhan Noel, membuat Noel merapalkan kata maaf dan memberikan tepukan pada punggung Orion.

Dalam rengkuhannya, Noel ingin meluluhlantakkan segala beban yang tengah tumbuh pada punggung Orion. Punggung yang ditimpali beban paling berat, menggantikannya dengan harsa yang tak akan musnah jua.

Oza Rahandika.

Semerbak wangi maskulin dengan sedikit manis yang gue hapal betul siapa empu aroma tersebut membuat gue sukses mendelik. Mata gue berulang kali mengerjap, sesekali memindahi setiap sudut ruangan dengan cat berwarna putih tulang. Susunan dan barang yang ada di sana bukan milik gue, namun gue lagi-lagi hapal betul siapa empunya.

Terbangun di pagi hari dalam dekapan Dean sama sekali tak pernah sekalipun melintas dalam benak gue. Dengan cepat gue memindahkan tangannya yang melingkar pada tubuh gue. Sinar mentari yang menerobos fentilasi udara kamar Dean pun cukup menusuk mata gue, membuat gue segera meraih ponsel yang tergeletak tak jauh dari tempat gue tertidur.

Netra gue lagi-lagi harus dipaksa untuk bekerja dengan ekstra sebab kini adalah dua kalinya gue harus terbelalak, menatap layar ponsel Dean yang tengah menampilkan jadwal harian gue dengan kalimat yang cukup membuat gue bingung serta terus-menerus menanamkan kalimat tersebut saban hari.

Gue rasa, sekalipun gue baru saja terbangun namun gue cukup sadar untuk memahami untaian aksara yang ada.

Satu hari penuh ini akan gue deklarasikan menjadi hari Deanka Pramoedya.

Deankan Pramoedya, satu-satunya orang yang berani serta mampu menyeruakkan presensinya ke dalam hubungan gue dengan Kak Jayden. Berkat Dean, kini gue terlepas dari hubungan tidak sehat yang sempat gue dapatkan dari pasangan gue.

Segalanya tentang Dean cukup mengejutkan. Bukan karena dia yang begini dan begitu dan tak selaras dengan apa yang ada dalam benak gue, namun Dean adalah deskripsi akan semua yang asing juga tak gue dapatkan dari Kak Jayden.

Dean yang lembut tuturnya. Tak pernah sekalipun gue mendapatkan bentakan, ucapan dengan nada tinggi serta penuh penekanan dari Dean.

Dean yang meneduhkan. Tak pernah sekalipun gue mendapatkan tatapan tak enak serta meremehkan yang ia lemparkan.

Dean yang memberi rasa aman. Ia selalu memposisikan dirinya di samping kanan gue ketika berjalan menyusuri jalanan, ia yang selalu tanggap ketika gue dengan segala bentuk kecerobohan yang ada.

Dean membuat gue direngkuhi rasa perhatian. Dean selalu mengantar gue hingga kantin fakultas, memperhatikan bagaimana langkah gue menjauh sebelum akhirnya ia bergegas pergi ke fakultasnya atau Dean yang selalu terduduk di salah satu bangku kantin dan mengobrol bersama petugas kantin sembari menunggu gue datang setelah tuntas dengan segala kegiatan hari itu.

Dean dan segala eksistensinya membuat gue lupa akan segala jejeran takut yang ada.

Ini bukan kali pertama gue mempertanyakan kepada diri gue sendiri mengenai arti dari eksistensi Deanka Pramoedya. Gue selalu berpikir, apa mungkin gue menjatuhkan diri sejatuh-jatuhkan dan membiarkan Dean menangkapnya?

Semua penjabaran akan Dean membuat gue sadar mengenai satu hal pasti: jika hidup gue bagaikan sebuah film layar lebar, pasti Dean akan menjadi lakon utamanya sebab ia adalah salah satu bagian terbaik dalam cuplikan hidup yang telah gue terima serta gue jalani hingga di mana gue mampu berpijak saat ini.

Deanka Pramoedya.

Titik-titik embun yang lolos begitu saja dari gelas kaca yang sengaja gue taruh di atas meja pun menjadi satu fokus gue malam ini. Dapat gue gambarkan bahwa bagaimana cara gue mengekspresikan diri gue adalah bak gelas yang berisi air es tersebut, dengan mudahnya meloloskan apa yang membuat gue penat juga yang membuat gue merasa berat.

Sedang Oza adalah sebaliknya.

Oza Rahandika, ia menjaga segala sakit juga bebannya rapat-rapat. Jika karena bukan gue dengan tak sengaja beberapa bulan lalu memergoki bagaimana ia diperlakukan dengan tidak baik serta tidak pantas oleh Jayden, mantan kekasihnya, gue rasa ia akan terus berada pada lubang hitam yang Jayden suguhkan.

Jam dinding yang tergantung tepat di atas pintu kamar kos gue pun kini jarum pendeknya sedang singgah pada angka dua. Kendati hari sudah berganti, dunia bak sedang terhenti, namun sistem kerja otak gue terus menerus berputar. Sibuk menayangkan kejadian di lorong pertang tadi, ketika bagaimana Oza menjadi objek yang diamati lamat-lamat oleh banyak pasang mata dengan sarat akan tuntutan penjelasan.

Jemari gue terus menari di atas senar-senar gitar dalam pelukan, entah kunci apa yang tengah gue mainkan sebab gue hanya menjadikan ia sebagai distraksi akan keharusan-keharusan yang gue lakukan petang tadi saat berhadapan dengan Jayden namun tak sempat sebab Oza dengan lantangnya menarik gue begitu saja sebelum memberi apa yang seharusnya Jayden terima.

Pintu kamar gue berderak seiring dengan munculnya sosok yang sedari tadi menjadi tokoh utama dalam cerita yang terus gue ulang. Oza dengan kaus putih polosnya tengah berdiri dan menyandarkan tubuhnya pada ambang pintu.

“Apa?” tanya gue, heran akan hadirnya yang tanpa diundang.

“Kenapa belum tidur?”

“Belum ngantuk.” jawab gue sekenanya, membuat Oza mengangguk dan melesakkan dirinya begitu saja dan mendudukkan diri di atas ranjang. “Lo kenapa belum tidur?”

“Karena masih melek.”

Gue hanya mendengus dan meletakkan gitar yang sedari tadi gue peluk di samping meja, kini gue turut mendudukkan diri di samping Oza. “Mikirin tadi?”

“Enggak.”

Tangan gue terulur untuk memberikan sentilan cukup kencang pada dahinya, membuat Oza mengaduh kesakitan. “Gue tau banget, Oza. Tiap ada masalah tentang Jayden lo pasti jadi begini.”

Oza hanya tertawa. Kalau boleh dibilang, tawa Oza sangat candu. Gue berani bertaruh bahwa tawa Oza adalah pemenang dari segala keindahan yang ada, silahkan sebut gue sebagai seorang penyair yang memanfaatkan majas hiperbola. Tapi memang menurut gue begitu dan akan terus begitu.

“Gue takut, De.”

Gue paham bak mengerti, mencoba memposisikan diri sebagai Oza yang selalu mendapat perlakuan kasar juga perkataan penuh merendahkan dari seseorang yang sempat kita sayang juga banggakan.

“Maaf ya, tadi gue telat.”

Oza menggeleng. “Enggak, Dean. Gue jadi bisa nonjok dia sekali tadi.” gue kini mengangguk dan tertawa sebab Oza juga tertawa. Entah mengapa, setiap hal yang Oza lakukan dapat menjadi hal paling menarik yang pernah netra gue tangkap dan otak gue proses.

“Yaudah, buru tidur gih.” ucapnya dan berdiri dari ranjang. Tangan gue meraih pergelangan tangan Oza, membuat ia yang tadinya ingin mengosongkan sebagian ruang petak dalam bilik gue pun menoleh. “Apa?”

“Di sini aja.”

“Apa?”

“Di sini aja tidurnya, gue temenin.” ucap gue dengan spontan, cukup membuat diri gue sendiri pun terkejut dan lekas membungkam mulut rapat-rapat.

Tangan gue mulai perlahan renggang dari pergelangan tangan Oza, berniat mempersilahkan Oza keluar jika ia memang ingin. Namun alih-alih melenyapkan presensinya dari kamar gue, kini Oza kembali terduduk di sebelah gue.

Entah sarat makna apa yang tengah Oza kirimkan, kini gue beranjak untuk mematikan nyala lampu kamar sebelum akhirnya menyentuh pundak Oza dan membaringkannya di ranjang.

Tidak terlalu luas atau bahkan cukup sempit, membuat Oza harus berbantalkan tangan gue dengan badan kita yang berhimpitan berbagi ruang. Ini kali pertama bagi gue menjadi amat dekat dengan Oza. Memandang serta bersinggungan dengan Oza sedekat ini, membuat jantung gue berdegup dengan sangat cepat. Bahkan jantung gue rasanya hendak lolos begitu saja ketika manik mata kita bertemu, dapat gue lihat dengan jelas bagaimana Oza dengan segala rasa takutnya di dalam sana.

“Tidur, Oza.” ucap gue lirih, tangan kanan gue pun tergerak. Ibu jari gue kini telah bersemayam di alis Oza, memberikan usapan pelan untuk membuatnya merasa sedikit lebih baik dari sebelumnya. Sebab gue ada di sini, untuk dia.

Tangan kanan gue kini melingkar pada tubuh Oza, memberikan usapan serta tepukan pelan pada punggungnya. Oza sedari tadi hanya diam, terus melayangkan tatapannya secara lamat ke arah gue dan sukses membuat gue rasanya ingin luruh.

Tubuh Oza sedikit bergerak mendekat, membuat tubuh kita semakin berhimpitan. Kepalanya ia tenggelamkan pada dada gue, seakan ia tengah bersembunyi dari apapun dan siapapun yang tengah mengejarnya dan membuatnya merasa tak aman.

Semerbak wangi cokelat bercampur efek segar menyeruak ke dalam indra penciuman gue tatkala rambutnya menyapa. Membuat gue semakin tersadar bahwa segalanya mengenai Oza adalah candu.

Entah sudah berapa lama Oza menyembunyikan dirinya pada dekapan gue, yang gue tau kini adalah bagaimana tenangnya Oza di dalam sini. Hembusan napasnya tidak seberat tadi, punggungnya tak lagi bergerak dengan tempo yang tak beraturan.

“Dean.” gue yang sudah berada pada ambang kesadaran masih mampu menangkap suara Oza.

“Iya?”

Tidak ada balasan, gue sedikit menaikkan kepala gue berusaha menelisik wajah Oza yang menempati dada gue. Matanya menutup dengan tenang.

Satu kata yang Oza lontarkan di tengah lelapnya mampu membuat gue sadar. Bahwa Oza dalam dekapan gue merasa butuh, membuat gue tersenyum dalam pejaman mata gue karena hari itu gue benar-benar merasa utuh.