olasphere

TW // physical fights, arguments, confrontations

Gurat halimun menghiasi langit yang mulai terihat padam tatkala lampu temaram pada tiap lorong gedung mulai dinyalakan. Sepasang kaki jenjang berbalut celana panjang berwarna hitam pekat dilangkahkan dengan sedikit tergesa, menyusuri tiap lorong dengan ruangan pada sisi kanan dan kirinya yang dipenuhi sekumpulan mahasiswa sesuai minat dan bakatnya.

Degup jantung Oza semakin memburu ketika netranya menangkap plang kecil yang terbuat dari kayu bertuliskan ruang teater, tergantung di atas pintu. Kakinya seketika terasa berat, lidahnya kelu, serta kerongkongannya kering saat kedua manik matanya menangkap sosok yang menjadi penyebab di balik segala perasaan aneh dan tak aman yang melingkupi hatinya.

“Za!” seru lelaki tersebut, tengah menyisir surainya ke belakang. Lesung pipinya timbul, melempar senyum kepada Oza yang mau tak mau menghentikan langkah kakinya.

“Kak Jay.” timpal Oza, kepalanya mengangguk untuk membalas sapaan yang lebih tua.

Lelaki dengan nama Jayden yang tersemat pada dirinya pun menghentikan langkahnya tepat di hadapan Oza. “Mau ke mana, Za?”

“Ke ruang band, Kak.”

“Nyamperin Dean?” tanya Jayden, kepalanya menoleh ke belakang sekilas. Menilik ruang band yang terdapat banyak pasang sepatu berserakan di display ruangan.

“Iya.”

“Masih rame tuh kayaknya. Di sini aja nungguinnya, Za.” ucap Jayden, tangan kanannya meraih pergelangan tangan kanan Oza yang menggantung bebas dan menariknya untuk duduk di bangku kayu yang sengaja diletakkan di lorong.

“Dulu mah nyamperinnya aku.” lanjut Jayden, mencoba membuka obrolan berikutnya.

“Iya.”

“Kalau diajak ngobrol orang tuh lihat orangnya, Za. Jangan gak sopan begitu.” ucap Jayden, tangan kanannya mencengkeram rahang Oza untuk membuat wajah Oza berhadapan dengannya.

“Maaf.”

“Mau aku anterin pulang?”

“Udah janji sama Dean.”

“Yaudah aku temenin sampai Dean selesai.”

“Iya.”

“Kamu enggak kangen aku?” tanya Jayden, kini tangannya telah mengusap surai Oza dengan irama yang lambat dan diberi sedikit tekanan. Oza memilih untuk tak memberikan jawaban, giginya memberikan gigitan kecil pada bibir bagian dalamnya.

“Jawab, Za.” titah Jayden dengan penuh penekanan pada tiap suku katanya.

“Maaf, Kak.”

“Gini nih banyak bergaul sama Dean, jadi ikutan enggak bener. Gak punya sopan santun ke kakak tingkat.” cibir Jayden, tangan kirinya kini telah mencengkeram bahu kanan Oza dengan erat. Bahkan, kuku-kuku panjangnya pun terasa menusuk meskipun badan Oza dilingkupi jaket jeans.

Jemari kaki Oza di dalam sepatu pun menekuk, serta jemari tangannya berusaha menggenggam erat jahitan pada celananya. Menyalurkan seluruh rasa takut yang memenuhi rongga dadanya.

“Lo pasti sering dipake sama Dean.” bisik Jayden diakhiri dengan senyum remehnya, memindai Oza dari ujung kepala hingga kaki.

Oza dengan kesadaran penuh melayangkan sebuah pukulan pada pipi Jayden. Amarahnya memuncak, darahnya bak mendidih. “Jaga mulut lo, setan!” umpat Oza dengan suaranya yang tinggi, cukup memekakkan telinga dan memenuhi lorong yang lengang.

Detik setelahnya Jayden hanya berdecih, suara gaduh akan banyak pasang kaki pun memenuhi lorong dan menyaksikan Oza yang masih diam mematung di atas kursi sedang Jayden memegangi pipinya yang dihinggapi rasa panas dan nyeri.

Ibu jarinya diangkat, memberi tanda bahwa ia dan Oza baik-baik saja. “Emang suka jadi pusat perhatian ya lo?” ucap Jayden terlewat lirih, hanya mampu didengar oleh Oza.

Tepat setelah Jayden menutup mulutnya, ia kini kembali mendapatkan pukulan keduanya untuk hari ini namun bukan berasal dari lelaki di hadapannya. Tubuh Jayden telah tersungkur di lantai, membuat semua pasang mata yang menyaksikan telah membuka mata serta mulutnya lebar-lebar lantaran terkejut atas serangan impulsif yang dilayangkan ke Jayden baru saja.

“Dean!” pekik Oza yang sama terkejutnya dengan orang-orang di kerumunan.

“Berdiri lo!” seru Dean dengan napasnya yang memburu, dadanya pun naik turun tak beraturan.

Oza mendekat ke arah Dean, tangannya memberikan usapan pada lengan Dean yang terlihat menegang sebab tangannya terus mengepal. “Udah, De.”

“Minggir ya, Oza.” ucap Dean dengan intonasinya yang memelan, matanya menatap Oza lembut.

Alih-alih menyingkir dari pandangan Dean seperti pintanya, Oza lebih memilih untuk menarik tangan Dean dan menembus kerumunan guna mencegah hal-hal yang tak diinginkan lebih lanjut. Semua pasang mata, termasuk manik mata yang nyalang dengan pancaran ketidaksukaan mengikuti langkah Oza dan juga Dean yang mulai menjauh.

“Harusnya tadi enggak perlu sampai begitu, Dean.” Dean tak menjawab, mempersilahkan Oza untuk merutukinya sepanjang jalan hingga berhenti di indekos. “Malah jadi banyak yang nonton, kan! Sumpah gue tuh males banget tau De, pasti besok bakal jadi bahan omongan sekampus.”

“Lo tau sendiri kan Kak Jayden orangnya gimana?” tanya Oza, langkahnya mulai melambat dari sebelumnya. “Jawab, Dean! Lo mah gitu sukanya kalau diomelin diem aja.”

Dean tertawa bersamaan dengan tangan kanannya ia letakkan pada pundak Oza guna bertukar posisi keduanya, membuat ia kini berjalan di sisi kanan. “Gue jawab kalau lo udah capek ngomel.”

“Kenapa?”

Dean mengacak surai Oza dengan pelan, membuat bibir Oza mencebik. “Kalau gue jawabnya pas lo ngomel, yang ada lo malah enggak mau nangkep apa yang mau gue sampaiin.”

Oza kalah telak.

“Langsung balik aja ya, De. Udah capek gini gue nya.”

“Enggak jadi pengen es podeng?”

“Enggak.”

“Pengennya apa?”

“Cepet-cepet sampai kos.”

Oza menengadahkan wajahnya, matanya menangkap kerlip dari lampu-lampu gedung yang menjulang tinggi bak pencakar langit.

“Lo gapapa, Za?”

“Menurut lo?” Oza melempar pertanyaan balik ke arah Dean, pandangannya menatap ke arah trotoar sibuk menyaksikan bagaimana langkahnya dengan Dean yang berjalan sinkron.

Hamparan bintang yang tampak malu untuk menjadi lebih kontras dari langit serta kabut malam ini pun dapat diibaratkan bak rasa ketakutan yang menggerogoti Oza akan potongan-potongan adegan baru saja yang telah terjadi di lorong, serta adegan-adegan lain di hari jauh sebelumnya akan cerita menyakitkan tentang ia juga Jayden.

Sapaan angin sepoi serta sorot remang dari lampu-lampu jalanan yang menggantung menjadi teman akan langkah keduanya.

Partha Dirgantara

Radhika Abimanyu.

Kepada Dirgantara yang ini dan Dirgantara yang itu, di tempat.

Bersama tulisan ini dikirim setumpuk rasa ingin bertemu dan sekarung rindu yang sudah dipastikan tiba dengan selamat di teras rumah barumu.

Mungkin Rinjani kepalang naksir dengan kamu, sampai-sampai dengan serakahnya dia meminta aku untuk menyerahkanmu saat itu juga. Aku jadi bingung mau ke siapa aku menaruh rasa cemburu? Sedang hanya Rinjani yang mampu mendapatkanmu.

Aku rasa ucapan Luna waktu itu adalah suatu betul, ketika ia ingin menjadikan Rinjani sebagai Dirgantara. Kini aku setuju.

Awalnya aku pikir Rinjani enggan berbagi denganku perkara kamu, namun aku rasa dugaanku salah waktu itu.

Ia menyisakanmu, sebab kini Dirgantara ku berbentuk langit dengan hamparan mega putih bercorak abstraknya yang melengkapi hari-hariku.

Dirgantara, aku selalu mendongak dan mendapati indah yang sama dengan eksistensimu. Memberiku rengkuh pada sukma dalam peluk paling nyaman sejagat raya, bak memberi bisik serta tepukan aku akan baik-baik saja.

Rinjani dan rengkuhannya adalah dua hal yang tidak mampu aku tandingi kekuatannya, pula tidak mampu aku salahkan atas egonya.

Rinjani dan Rengkuhannya.

TW // Major Character Death

Di bawah langit abu-abu yang bercampur guratan mega putih, hembusan angin kencang yang menandakan hujan lebat akan datang pun menggesek-gesek rerimbunan daun. Dirga menyandarkan tubuhnya pada sebatang pohon besar yang mampu menelan habis tubuhnya, matanya terasa berat untuk terbuka karena sibuk menikmati nyanyian udara yang bergerak dengan kedua matanya yang memejam.

“Yuk, udah.” ucap Luna, satu-satunya perempuan dalam catatan pendakian Rinjani yang dilaksanakan Dirga. Mendengar ucapan Luna membuat Dirga dengan berat hati membuka netranya dan meregangkan otot punggungnya sekilas, sebelum akhirnya mulai melanjutkan perjalanan di depan yang masih berat dan panjang.

“Jas hujannya beneran pada enggak lupa, kan?” tanya Bima yang berada di paling belakang, sekali lagi memastikan. Kepalanya sekilas menengadah melihat langit yang mulai gelap kendati angka pada arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya masih menunjuk angka delapan.

“Aman!” seru Daffa yang memimpin jalan sembari mengacungkan ibu jarinya di udara.

“Lo enggak lupa kan, Dir?” tanya Bima yang kini langkahnya mulai berusaha menyambangi Dirga.

“Enggak, Bima.” ucap Dirga dan berdecak sebal. “Jalannya satu-satu, Bim. Sempit ini.”

Bima hanya terkekeh dan menghentikan langkahnya, mempersilahkan Dirga untuk berjalan terlebih dahulu di depannya.

Senandung-senandung kecil keluar dari mulut Daffa, membuat lainnya sesekali menimpali sehingga perjalanan tak terasa sunyi dan melelahkan. Sesekali Dirga dan Daffa saling melempar lelucon, membuat semuanya tertawa dan menciptakan warna di tengah gulita.

“Awas, di bagian ini batunya bentar lagi remuk.” ucap Daffa yang sudah berhasil turun terlebih dahulu, ujung sepatunya ia arahkan ke pijakan yang dimaksud.

“Lo pada tau gak kenapa gunung ini namanya gunung Rinjani?” tanya Daffa memecah keheningan setelah semuanya berhasil turun dari loncatan besar sebelumnya.

“Kenapa, Daf?” tanya Ravi menimpali.

Daffa tertawa. “Mana tau, kan gue nanya.” ucapnya, membuat semua orang tertawa kecuali Luna yang mencibir dan menyoraki kakaknya.

“Katanya, diambil dari nama putri kerajaan.” celetuk Dirga tepat setelah Luna dan Daffa berhenti bergaduh.

“Dirgapedia.” ujar Bima yang membuat Dirga terkekeh.

“Terus apa hubungannya, Kak?” tanya Luna yang berada di barisan kedua.

“Putri Rinjani sering ikut semedi bareng Raja di gunung ini, terus ketemu laki-laki miskin dan jatuh cinta. Tapi karena perbedaan status sosial keduanya, jadi perasaan dia harus dijustifikasi.” terang Dirga, membuat Luna mengangguk dengan mulutnya yang membentuk huruf O.

“Akhirnya putri Rinjani putus asa, yaudah dia akhirnya terus-terusan bersemedi di gunung dan akhirnya gunung ini dinamain gunung Rinjani.” celetuk Bima yang sedari tadi hanya diam mendengarkan.

“Emangnya iya, Kak Dir?” tanya Luna bak membutuhkan penjelasan dari Dirga.

Dirga terkekeh. “Iya, Luna.”

“Kasihan ya. Kak Dirga pernah enggak jatuh cinta ke orang tapi ada yang jadi penghalang kayak putri Rinjani?”

Dirga menggumam panjang. “Coba Luna yang tebak.”

“Pernah?”

“Pernah.”

“Nanti kita bikin gunung ini jadi gunung Dirgantara.” ucap Luna membuat Dirga menggeleng keheranan.

Trek sudah mulai lebar dan mudah, membuat Bima sedikit mempercepat langkahnya untuk lagi-lagi berusaha menyambangi Dirga.

“Ke siapa, Dir?”

“Apa?”

“Jatuh cinta tadi, yang ditanya Luna.” jelasnya lirih, takut terdengar hingga barisan depan. Dirga hanya mengedikkan bahunya, membuat Bima berdecak dan melayangkan pukulan pelan pada lengan Dirga.

Seiring dengan langkah yang mulai mendapat lelah, kini awan pun turut lelah untuk membendung airnya lebih lama. Membuat langit Rinjani kala itu mulai terguyur hujan lebat, menerobos celah-celah dedaunan rimbun hingga mampu menyapa mereka berlima secara tiba-tiba.

“Berhenti dulu, Daf. Dipakai jas hujannya.” seru Bima hingga membuat langkah Daffa terhenti.

Dengan sigap kelimanya mulai merangkapi tubuh masing-masing dengan jas hujan yang telah disiapkan.

“Gimana, Bim, mau lanjut apa berhenti dulu?” tanya Daffa meminta pendapat, sedang Bima tengah mengambil langkah ke depan dan dengan matanya ia menelisik jalanan di depan yang terlihat amat licin untuk dipijak.

“Jangan deh, Daf. Licin banget itu, lumpur soalnya. Mana trekingnya berat, noh, kayak orang manjat kalau mau lewatin itu.” ujar Bima dengan jarinya yang menunjuk trek di depan, terdapat sebuah gundukan besar yang mengharuskan untuk dipanjat.

Daffa mengangguk dan mengedarkan pandangannya, mencari tempat untuk duduk dan beristirahat.

“Duduk situ deh, situ.” ujar Daffa dan menunjuk sebuah batang pohon besar yang tergeletak di bawah pohon besar.

Terhitung setengah jam lebih mereka habiskan untuk terduduk di atas dedahanan yang berserakan di atas tanah, dengan kedua telapak tangannya yang sesekali mereka gosok untuk memunculkan rasa hangat yang menjalar.

Kini tak ada lagi rintik hujan yang menembus rerimbunan daun, tinggal menyisakan hembusan angin pasca hujan yang dinginnya menusuk hingga ke tulang belulang.

Dirga sedari tadi diam. Lututnya ia rapatkan ke dada, kedua tangannya melingkar dan merengkuh kakinya dengan erat. Tubuhnya menggigil dengan bibirnya yang mulai pucat membiru.

Bima yang sedari tadi tak melepas pandang ke arah Dirga pun bergegas merengkuh tubuh Dirga ke dalam dekapannya.

“Dingin banget, Bim.” ucap Dirga lirih dan bergetar. Bima sadar akan suhu tubuhnya yang dingin, namun tatkala ia menyentuh punggung tangan Dirga ia bergegas membopong Dirga untuk sedikit bergeser, berpindah mencari tempat yang lebih kering. Setelahnya ia melucuti jas hujannya dan membongkar tas carrier yang tergeletak di sampingnya.

“Daf! Rav!” seru Bima, membuat Daffa dan Ravi yang namanya diserukan pun menoleh ke arah Bima yang penuh ketergesa-gesaan melepas jas hujan dan sepatu serta kaus kaki yang masih melekat pada tubuh Dirga.

Baik Daffa, Ravi, juga Luna, bergegas mendekat dan membantu Bima dengan mengeluarkan pakaian-pakaian dari dalam tas carrier nya masing-masing.

Dirga hanya dapat diam tak bergeming dengan tubuhnya yang semakin menggigil, bibirnya semakin membiru dari sebelumnya.

Luna menuntun botol minum berbahan aluminium berisikan teh panas ke mulut Dirga, membantunya menegak sedikit demi sedikit.

Setelahnya Dirga mempersilahkan teman-temannya untuk membungkus badannya dengan banyak pakaian, tubuhnya berasa direngkuh erat oleh Bima disusul oleh Ravi dan Luna. Sedangkan Daffa berusaha mencari ranting-ranting yang tidak begitu basah, sekiranya mampu untuk membuat nyala api.

Dirga terus menerus menggumam, sukar untuk Bima pun yang lainnya menangkap maksud dari gumamannya.

“Daf! Sini, Daf!” seru Ravi, menitah Daffa untuk turut memberikan pelukan kepada Dirga. Daffa yang kepalang frustasi karena tak menemukan satupun ranting yang setidaknya tak basah hanya dingin, pun bergegas mendekat dan turut melingkarkan tangannya untuk menyalurkan hangat.

“Dir, masih dingin?” Dirga hanya mampu menggumam untuk menimpali pertanyaan Daffa.

Luna menitikkan air matanya saat merasakan genggaman tangan Dirga pada jemarinya mulai melemah.

“Digenggam yang erat, Luna.” titah Bima, suaranya sedikit bergetar sebab sukmanya digerogoti rasa takut namun ia berusaha untuk menepis ketakutannya.

“Dirga, dengerin gue. Bisa kan?” tanya Bima, tangannya terus mendekap erat tubuh Dirga, enggan memberi jeda. Dirga hanya menggumam sebagai jawab, entah apapun itu jawabannya yang terpenting bagi Bima adalah Dirga masih mampu untuk mendengarkan suaranya.

“Dirga, kita belum pakai toga bareng-bareng, nih.” ucap Ravi di sela-sela tangisnya. “Lo udah janji ya mau fotoin gue sama Ibun pas wisuda nanti.” lanjutnya.

“Dir, besok gue masakin mie deh. Gantian kita, gue janji bakal masakin lo mie terus-terusan dan enggak akan nyuruh lo lagi.” ucap Daffa yang kini tengah menggosok kedua telapak tangannya dan menempelkan pada wajah Dirga.

“Kak Dirga, Luna enggak bakal banyak tanya deh habis ini. Enggak bakal gangguin Kak Dirga tengah malem buat nanya hal-hal random, jadi enggak akan ganggu jam tidur Kak Dirga. Janji!” lirih Luna dan semakin merapatkan tubuhnya ke Dirga, memberikan genggaman tererat yang ia bisa pada tangan Dirga yang semakin memutih pucat dengan dingin suhunya yang menusuk telapak tangan Luna.

Dirga berusaha dengan sepenuhnya untuk menoreh senyum simpul. Netranya tergerak, menangkap manik mata Bima yang tak lepas barang sedetikpun dari dirinya.

Kedua netra Bima mengerjap, merasa Dirga tengah menunggu lontaran dari mulutnya. “Dir.” Dirga lagi-lagi hanya mampu menggumam seiring dengan denyut nadinya yang mulai melemah.

“Dirga.”

Hening panjang, Bima merasa lidahnya terlalu kelu.

“Dirga, gue sayang sama lo. Sayang beneran bukan cuma sebagai temen.”

Dirga mempertahankan senyumnya dengan bibirnya yang bergetar.

“Tapi lo rese! Cuma nganggep gue temen doang, tiap dibilang gue sayang beneran, lo bilangnya gue bercanda. Padahal gue beneran, Dirga.” lanjutnya.

“Lo sayang sama gue gak, Dir?” Dirga mengangguk kecil, terlewat lirih. “Sebagai seorang temen, ya.” lanjut Bima yang ditujukan kepada dirinya sendiri sebagai pengingat.

Dengan memanfaatkan sisa-sisa kekuatan serta kesadarannya, Dirga menggeleng sebagai jawab.

Isakan Luna yang tadinya telah terhenti kini memecah tatkala tangan Dirga tak lagi berusaha membalas genggamannya. Bima yang melihat dan menyadari itu bergegas menyentuh nadi yang terdapat pada leher Dirga, hanya detakan samar dan jarang yang ia dapat.

“Dir jangan tidur di sini dong, Dir. Nanti malem katanya mau foto-foto di danau sambil kita main tebak-tebakan? Katanya juga ada cerita lucu yang mau lo ceritain?” ucap Ravi dan menepuk pelan pipi Dirga.

Bima malfungsi saat Dirga memejamkan matanya dan lemas tak berdaya, punggung yang sedari tadi berusaha ia kokohkan pun kini sudah jatuh dengan sembarang. Sontak Daffa berusaha untuk melepaskan dan menjauhkan teman-temannya dari tubuh Dirga, membutuhkan ruang untuk memberikan pertolongan darurat seperti apa yang sudah ia pelajari.

Tubuh Dirga tergeletak dengan denyut nadinya yang sudah mulai nihil untuk ditemukan, Daffa memposisikan kedua telapak tangannya secara bertumpukan di atas dada Dirga. Memberinya tekanan berulang kali dan terus merapalkan nama Dirga dengan keras.

Luna hanya mampu menangis sesenggukan, sedangkan Ravi sigap berdiri dan berteriak untuk meminta pertolongan. Harap ada yang mendengar dan menghampiri untuk mengulurkan tangan. Bima terduduk kaku di atas tanah, tidak menangis juga tidak menampilkan ekspresi apapun selain menatap nanar dengan rahangnya yang mengeras.

“Bim, gantian!” seru Daffa dengan napasnya yang tersenggal, menitah Bima untuk menggantikannya. “Bim!” kini satu tamparan keras mendarat di pipi Bima, membuat Bima menggeleng dengan irama tak beraturan.

“Bisa, Bim, bisa.” ujar Daffa lirih, dalam hatinya ia ragu akan ucapannya sendiri.

Bima dengan langkah yang bergetar mulai mendekat ke tubuh Dirga yang sama sekali tak berdaya, tidak memberikan reaksi apapun atas segala tindakan di sekitarnya.

Bima memposisikan dirinya di samping tubuh Dirga, dengan tangannya yang bergetar kini ia memberikan pertolongan dengan rapalan doa dari dalam relungnya. Daffa memberikan pijatan-pijatan pada jemari kaki Dirga, berusaha membantu melancarkan oksigen dalam tubuhnya.

Sudah lebih dari lima menit Bima terus mencoba, bukan mendapati Dirga yang kembali sadar kini suhu tubuh Dirga semakin dingin dan sekujur tubuhnya pun terlihat pucat pasi.

“Dirga!” teriak Bima dalam sesak yang memenuhi dadanya.

“Ayo kita tidur di sini, yang bangun paling akhir dapet hadiah digendong sampai danau.” ucap Bima lirih, tangannya kini menggenggam dengan erat bahkan kuku-kukunya pun menancap pada telapak tangannya. Bima berikan pukulan-pukulan pelan pada dada Dirga.

Daffa, Ravi, dan juga Luna pun kini hanya mampu terduduk lemas dan terisak dalam tangisnya masing-masing.

Sedang Bima hanya mampu terduduk sembari memeluk erat kakinya yang ia tekuk ke dada, ia gigit kuku-kuku jemarinya dan memberikan tatapan kosong ke arah Dirga yang kini telah berkalang tanah. Rengkuhan Rinjani lebih erat dari apapun, Rinjani terlampau menaruh hati kepada Dirgantara nya.

Ugahari Padangbai-Lembar.

Radhika Abimanyu.

Dari langit dengan gelap yang menyergap, gua mampu belajar akan tak selamanya mendung berarti hujan. Teori tersebut terus mengepul dan memenuhi isi kepala gua, bak kepulan asap yang menyembur dari cerobong kereta api yang gua tunggangi seharian penuh dari Jakarta ke Banyuwangi kemarin hari. Kalau boleh jujur, perjalanan kali ini terasa sangat lama dan melelahkan. Bahkan, pantat gua sampai detik ini masih terasa pegal dan kebas akibat duduk di dalam kereta api selama dua puluh dua jam lebih perjalanan. Tapi, jika diperkenankan untuk bersuara, ada juga bagian menyenangkan dalam dua puluh dua jam terlama di hidup gua.

Partha Dirgantara, Dirga, begitu cara gua merapalkan namanya. Bagi gua, dari puluhan nyawa yang bersemayam di dalam gerbong yang sama, hanya penyandang nama tersebut yang mampu meluruhkan rasa sumpek atas perjalanan yang terasa tak bertemu ujungnya.

Dirga yang ini dan juga Dirga yang itu. Dirga yang akan menjadi sorak-sorai saat semuanya menemukan lunglai. Dirga yang akan menjadi observan, saat semuanya berebut giliran dengan masing-masing dongeng yang akan dilontarkan.

Kembali lagi kepada kalimat bahwa tak selamanya mendung menoreh hujan. Gua rasa rangkaian-rangkaian aksara tersebut cukup mampu membuat gua mendapat ruang lega dalam sukma, barangkali Dirga yang selalu menganggap rasa gua sebagai canda lekas mengubahnya menjadi untaian cerita akan harsa. Namun siapa yang akan menyangka bahwa di dalam hidupnya akan menaruh rasa pada seseorang yang tak paham akan makna? Sedang gua telah berusaha untuk mengirimkan rasa kepada empunya dengan kalimat yang sederhana.

Dirga, dengan segala sarat makna yang tak dapat ditangkapnya.

Kedua tangan gua mencengkeram erat besi-besi berlapis cat putih, perut gua tertekan saat gua berusaha menilik air yang menghasilkan ciprat akibat laju kapal.

“Dir, lihat, banyak banget sampahnya.” ujar gua dan menyenggol pelan siku Dirga sebelum akhirnya menunjuk sampah-sampah yang bertaburan di atas air laut.

Dirga mengangguk, turut membuang pandang ke berbagai arah bak memindai dari ujung ke ujungnya. “Gua pernah baca, ilmuwan memperkirakan ada sekitar delapan juta ton sampah yang ada di lautan. Maka dari itu, air laut mengandung banyak bakteri-bakteri buruk.”

“Oh, ya? Contohnya ada bakteri apa, tuh?”

Dirga terlihat berdeham panjang, bak tengah berpikir akan jawaban atas pertanyaan yang gua ajukan. “Vibrio, salah satu bakteri yang bisa menyebabkan kolera.” Entah benar atau salah, gua hanya mengangguk sebagai respons.

“Menurut lo, sampah sebanyak delapan juta ton itu banyak enggak, Bim?” lanjutnya, membuat gua yang tengah meregangkan otot-otot tangan terinterupsi dan menautkan kedua alis kebingungan.

“Ya banyak, lah, Dir!”

Dirga tertawa dan mengangguk-angguk secara konstan. “Tapi ada yang lebih banyak dari sampah delapan juta ton di lautan.”

“Apa?” tanya gua dengan mengangkat kedua alis.

“Sampah di darat, banyak banget tuh sampah masyarakat jalan-jalan enggak tau arah.” kini giliran gua yang tertawa, paham akan makna sampah masyarakat yang diucapkannya.

“Kulit lo merah-merah tuh, Bim. Siniin!” ujar Dirga dan merogoh tas selempang kecil yang tergantung di lehernya, mengeluarkan sebotol tabir surya dan menuangkannya pada telapak tangan kirinya. Gua hanya menyodorkan kedua tangan gua ke hadapannya, bak anak kecil yang tengah dituntut untuk menurut. “Lo tuh ya, kebiasaan males.”

Lihat, bagaimana bisa untuk gua mengurungkan rasa jika Dirga dengan segala bentuk perlakuan nyatanya yang selalu berhasil membuat hati gua tak tertata?

“Dih, kok Kak Bima doang yang diperhatiin?” tanya Luna yang baru saja menginjakkan kakinya di tengah-tengah gua dan Dirga, disusul dengan Daffa dan Ravi di belakangnya.

“Ini mah rasanya kayak lagi nemenin lo berdua bulan madu.” cibir Daffa di sela-sela kunyahan kacang telurnya.

“Itu barangnya aman ditinggal di dalem?” tanya Dirga dengan cepat, terdengar seperti tengah mengalihkan topik pembicaraan yang sudah terbangun sebelumnya.

Ravi mengangkat kakinya, memberikan tendangan pada betis Daffa dengan pelan. “Tau tuh Daffa main ditinggal aja.”

“Kok jadi gua?”

“Ya kan harusnya lo yang jagain!”

“Ribut mulu lo berdua.” timpal Dirga yang tengah menyimpan botol tabir surya kembali ke dalam tas selempangnya. “Tumben ya panas banget, perasaan dari kemarin gua baca-baca BMKG di Lombok lagi sering hujan.” lanjut Dirga dan menengadahkan kepalanya, melihat hamparan langit biru yang cerah dengan aksesoris awan yang berbentuk abstrak bak potongan-potongan gambar di dalam kartun yang kerap gua tonton. Perlahan matanya mulai terpejam karena silau, membuat lentik bulu matanya terlihat sangat jelas dari samping.

“Bagus, deh. Jangan sampai hujan apalagi waktu naik nanti, biar enggak lama di jalan.” ujar Ravi dan menaruh telapak tangannya pada ujung dahi, menutupi sinar mentari dari netranya. Gua hanya mengangguk kecil sebagai setuju.

Setelah presensi tiga manusia yang mulai lenyap termakan jarak setelah secara tidak sopannya turut menjejalkan diri ke tengah-tengah gua dan Dirga, kini menyisakan gua dan Dirga yang tengah mendudukkan diri pada suatu sudut di atap kapal. Sejujurnya gua sudah merasa kepanasan akan cuaca hari ini, namun Dirga tak bosan-bosannya menilik buih-buih di atas laut dan juga hamparan langit biru secara bergantian. Membuat gua enggan untuk beranjak meninggalkan dia seorang diri. Kalau kata Daffa, ’Emang kayaknya buat lo tuh gravitasi Bumi kalah besarnya daripada gravitasi Dirga.’ gua setuju akan itu sebab gua yang lebih senang menjejakkan diri di mana pun Dirga berada dan menyandang gelar sebagai kompanyon terbaiknya.

“Dir.”

“Iya?”

“Lo seneng banget, ya?”

“Kelihatan banget ya, Bim?”

“Iya.”

Dirga tertawa dan mengangguk dengan penuh semangat. “Habis sumpek banget sih dari kemarin!”

“Pikirannya?” tanya gua dan mendapat anggukan dari Dirga yang masih terlihat dengan sisa-sisa tawanya. “Sekarang udah selesai skripsian, masih sumpek, gak?” tanya gua sekali lagi.

Dirga menggeleng. “Enggak. Lo gimana?”

“Sama kayak lo.”

Alih-alih jawaban verbal, Dirga lebih memilih untuk memberi anggukan. Tangannya sibuk memasangkan fon telinga ke lubang telinga kanannya, sebelum akhirnya mendaratkan sebelahnya ke dalam telinga kiri gua.

Dirgantara, angin laut, bising burung-burung yang berterbangan, berbagi fon telinga dengan suara Bruno Major di dalamnya, serta degupan jantung gua yang mulai memburu. Lima hal yang mampu menjadi rangkuman atas kebahagiaan dan ketenangan yang gua maksud juga gua pinta.

Kantin fakultas teknik setelah jam makan siang terlihat lengang dan sepi. Beberapa menu sudah habis, sisanya tak begitu menggairahkan lagi. Dari banyaknya meja yang berjejer, segerombolan lelaki dengan sebatang cerutu yang terselip di jarinya masing-masing dan rambut yang terlihat acak memilih untuk mendudukkan diri secara lesehan di lorong sebelah gang kecil pada ujung kantin. Buku tebal bergaris serta penggaris dan pulpen bertinta hitam yang berserakan menjadi pelengkapnya.

Sepasang kaki Jasean yang dibalut sepatu dengan sedikit motif pada sisinya terhenti dan turut melesak ke dalam lingkaran, membuat beberapa lelaki yang sedari tadi ricuh kini mengunci mulutnya.

“Selamat pagi, saudara Sean!” seru salah satu lelaki dengan kaus hijau lumutnya.

“Udah siang, Der.” timpal Jasean dan menggeleng kepalanya kecil merasa terheran.

“Kalau lihat lo rasanya pagi terus, cerah banget masih belum kucel.”

“Pacar gue, bangsat!” seru lelaki yang tengah mematikan nyala cerutunya dan menepuk sisi kanannya dengan pelan, bermaksud mempersilahkan Jasean untuk duduk di sana.

Lelaki yang menyandang nama Derian tersebut terkekeh. “Diumumin ke seluruh dunia dong kalau pacaran, nanti ada yang ambil galau setengah mampus.”

Jasean hanya berjalan menunju lelaki yang sempat menepuk sepetak lantai di sampingnya guna menitah Jasean untuk duduk di sana, sengaja mengabaikan atau berusaha tak memberi atensi pada guyonan Derian yang diloloskan begitu saja.

“Kok sendirian?” tanya Dabio, kekasih Jasean, tangannya merogoh sebuah ransel yang memuat banyak barang di dalamnya. “Mau lanjut ngerjain di mana, Se?”

“Risang udah pulang, kurang enak badan katanya.” tangan Jasean menerima uluran laptop yang sudah disodorkan kepadanya. “Kamu masih lama di sini?”

“Lo kalau mau ikut nugas di sini ya kerjain aja, Se. Gue masih lama di sini.” celetuk Gio, lelaki dengan balutan kaus putih yang tengah melepaskan kacamata baca yang sebelumnya bertengger pada batang hidungnya.

“Gio mah emang juru kunci sini, Se.” timpal Derian, membuahkan lemparan pulpen dari Gio ke arahnya.

“Aku sebentar lagi ada kumpul himpunan.” ucap Dabio dan melirik arloji yang melilit pada pergelangan tangan kirinya. “Kamu kalau mau ngerjain di sini enggak apa-apa, masih ada mereka.”

“Gapapa?”

“Gapapa.” jawab Dabio, tangannya sempat mengusak puncak kepala Jasean sebelum memasukkan barang bawaannya ke dalam ransel. “Ayo, Dam, Cak. Keburu dimulai rapatnya.”

Kedua lelaki yang sedari tadi diam dan menaruh fokus penuh pada bukunya pun kini hanya membuang napas dengan berat, tangannya mengukuti barang bawaannya masing-masing.

“Dikit-dikit rapat dah.” keluh Sadam, seorang lelaki dengan kemeja flanel yang lengannya sengaja dilinting hingga ke siku.

Selepas presensi Dabio, Sadam, dan Cakra yang termakan oleh jarak, kini menyisakan Jasean dengan laptop pada pangkuannya, Gio dengan lututnya yang menekuk sebagai tumpuannya dalam menulis, serta Derian yang lebih memilih menelantarkan buku tebalnya dan memainkan ponselnya dalam hening.

“Tugas apa, Se?”

“Tugas broadcasting gitu, Gio.” jawab Jasean sekenanya, tak mengalihkan pandangan sedikitpun dari layar laptopnya. Gio hanya mengangguk, netranya turut mengamati langkah demi langkah yang Jasean lakukan pada tugasnya. “Lo udah selesai?”

“Tinggal sedikit.” ucap Gio, tangannya secara otomatis memiringkan bukunya dan membuat Jasean mau tak mau mengintip laporan praktikum yang tengah Gio garap.

“Buruan diselesaiin.”

“Santai, dia aja malah tidur.” ujar Gio, dagunya mengarah kepada Derian yang sejak tadi tengkurap di lantai dengan ponselnya yang masih menyala membuat Jasean terkekeh. Entah sejak kapan Derian mulai terpejam dengan napasnya yang tenang bak tidak memiliki tugas yang ia pikul pada punggungnya.

“Lo bawa motor?” tanya Gio, tangannya meraih sebuah cangkir besar yang dibubuhi dengan embun atas es di dalamnya yang sudah mulai mencair.

“Enggak, gue kira bakal pulang bareng Bio. Semalem dia bilang mau ngajakin jalan, tapi kayaknya dia lupa. Toh dia ada kumpul himpunan, gue juga masih harus nyelesaiin ini.”

Gio hanya mengangguk dan menyodorkan cangkir yang sebelumnya telah ia minum ke arah Jasean. “Minum dulu, sejak lo duduk belum minum.” Jasean tersenyum simpul dan menerima sodoran Gio, sempat mengucap terima kasih sebelum mulai meneguk isinya.

“Bareng gue aja pulangnya.” ucap Gio lirih, terdengar ragu akan respons Jasean. Entah ia merasa bersalah karena menawarkan diri untuk mengantar pulang kekasih temannya atau entah ia merasa takut akan tolakan yang sudah berlari-lari dalam bayangannya.

“Gapapa?”

“Gapapa.”

“Boleh, sekalian mampir ke toko alat tulis bisa gak? Ada yang mau gue beli.” ujar Jasean dan menampilkan deretan giginya.

“Ya.”

Dengan segera Gio menundukkan wajahnya, memandangi bukunya yang dipenuhi oleh garis demi garis yang sebetulnya tidak semenarik itu untuk dipandang ketika di sampingnya ada Jasean yang tengah tersenyum lebar dengan mata berbinar menatapnya, gambaran tersebut jelas-jelas sangat menarik bagi netranya. Namun ia tetap memilih memandang apa pun itu yang ada di dalam bukunya, bermaksud menyembunyikan degupan jantungnya serta sorak-sorai dalam relungnya.

Mencintai dan Menerima.

Sophie.

Mencintai dan menerima, merupakan dua kata yang seharusnya memang berjalan beriringan. Seperti kata Arel, anakku, beberapa waktu lalu. Aku terlampau lupa bahwa dua kata sakral tersebut memang seharusnya menjadi sepasang tanpa dipisah juga tanpa tapi di tengahnya.

Seperti halnya apa yang dikatakan Arel, suamiku dengan seluruh hidupnya ia gunakan untuk mencintai juga menerima. Mencintaiku juga menerima segala hal tentang aku di dalamnya.

Sepulang dari day care aku sengaja membawa langkahku untuk ke makam mendiang suamiku, membawa setangkai bunga tulip kuning kesukaanku. Kata suamiku dulu, kalau dia mati, dia hanya ingin segalanya tentang aku yang menyelimutinya. Sebegitu besar rasa cinta juga terimanya atas diriku yang masih banyak kurangnya.

Aku curahkan segalanya tentang aku juga Arel beberapa waktu terakhir.

Arel ku yang beberapa hari lalu berlari kepadaku, bersimpuh dengan penuh peluh, memohon maaf dan terus berjanji akan patuh. Aku saat itu diselimuti rasa kemenangan atas segala egoku. Namun aku menutup telinga serta mataku, bahwa anakku perlahan hancur dan mati karena ku.

Derap langkah kaki menginterupsi tangisku yang mulai tak terbendung, sepasang kaki dibaluti dengan sepatu yang ia gunakan sekenanya— dipijak bagian belakang tanpa ia gunakan dengan semestinya, menyambangi simpuhku. Setangkai bunga tulip kuning yang ia bawa, disandingkan dengan kepunyaanku yang telah ku lingkupkan terlebih dahulu.

“Udah lama, Mi?”

Aku menggeleng, tanganku terulur untuk memberikan elusan guna menyalurkan rasa cintaku. “Belum, Arel. Baru aja. Gimana di kampus?”

“Biasa aja, enggak ada yang menarik.”

Aku hanya mengangguk sayu, tanganku kini berpindah untuk mengusap nisan suamiku. Membungkam diri dan membiarkan Arel memiliki waktunya.

“Papi.” lirik anakku, Arel. Suaranya kali ini bergetar, sama bergetarnya dengan kali pertama ia memanggilku Mami di acara makan malam bersama Bara tempo lalu.

“Maaf, karena Arel belum bisa jadi manusia yang layak seutuhnya.”

Bak disambar petir di siang bolong, hatiku yang sebelumnya merasa sangat kosong kini digerogoti nestapa dengan rakusnya.

“Arel pikir, Arel bisa mencintai siapa aja yang pengen Arel cintai. Ternyata Arel salah ya, Pi?” aku hanya mampu menggeleng pelan mendengarnya, lidahku teramat kelu untuk memotong semua untaian kalimat yang lolos begitu saja dari bibir anakku.

“Maafin Arel ya, Pi. Karena udah bikin malu.”

Hati seorang ibu mana yang tak akan hancur ketika mendengar anaknya melontarkan kalimat yang sebegitu dahsyatnya? Ku rengkuh tubuh Arel, memberikannya tepukan di punggung. Aku merasakan punggungnya mulai bergetar, disusul dengan isakan yang lirih namun masih bisa aku dengar.

“Maafin Mami, Arel.” Arel menggeleng pelan, masih dengan punggungnya yang terus bergetar.

“Arel maafin Mami karena Mami lupa mengajarkan ke Arel kalau mencintai itu juga perkara menerima.”

Hening panjang, aku meraup oksigen dengan rakus dan terus memberikan tepukan pada punggung Arel yang kini mulai tenang. “Mami menerima Arel sepenuhnya, sekarang Arel boleh lari dan buat dunia sendiri bareng Bara. Tanpa ada orang-orang yang menghakimi dan memaksakan standarnya.”

Arel masih tetap menggeleng dengan kepalanya yang berada di dalam pangkuanku. “Maafin Arel, Mami.”

“Arel, kalau memang dunia ini bukan buat Arel dan Bara, jangan ikuti aturan di dalamnya.”

Arel mendongak, memandang wajahku lamat-lamat. “Arel takut.”

“Ada Mami, kalau semua orang di depan nanti akan jahat dan jadi penghalang untuk kalian berdua atau enggak ada tempat untuk kalian di dunia, seenggaknya rumah Mami akan menjadi semesta paling nyaman yang bisa kalian singgahi. Tanpa takut untuk diusik dan tanpa takut untuk dihakimi.”

Aku terus merengkuh tubuh Arel yang kini semakin bergetar hebat lantaran isakannya yang sempat terhenti mulai memecah lagi. Semestaku sempat hancur sebelumnya, namun hartaku satu-satunya di dalam semesta ini lebih hancur rupanya.

Biar aku yang kini mempersilahkan dia membangun kembali semestanya yang sempat ku hentikan orbitnya, juga ku tegapkan bahunya yang sempat merunduk menyatu dengan Bumi hingga dasarnya.

Secarik Kertas di Dalam Nakas.

Farrel Gibran.

Tanpa sengaja dan tanpa rencana, gue yang tadinya berniat mengambil obat Mami pun teralihkan oleh selembar kertas dengan lecakan di setiap sudutnya yang tak terlihat familier dan amat mengganjal. Membuat gue dengan lancangnya menarik dan mengabsen tiap kata yang tersusun padat dan merayap di atasnya.

Mata gue memanas, kantung mata gue terlampau lelah dan ringkih untuk menahan hujaman air mata yang hendak bersorak-sorai menoreh bekas di secarik kertas yang gue pandangi lamat-lamat dan beri atensi pada setiap aksaranya.

Secarik kertas di dalam nakas, dengan untaian kalimat yang membuat sukma gue tersayat.

Entah harus bersimpuh di mana lagi aku. Tak mampu menopang juga tak mampu menuntun anakmu. Entah harus mengadu ke mana lagi aku. Sebab dia yang menjadi tempatku mengadu kini telah pergi meninggalkan luka yang tak terbendung. Entah harus berlari ke mana lagi aku. Sedang dia yang akan menuntunku telah berlari jauh meninggalkanku.

Gue hancur.

Gue dan Bara bak boneka lakon yang membutuhkan jalan untuk menjadi pemenang dalam pertunjukkan dunia yang tak seharusnya menjadi tempat gue bersamanya bersatu, benak gue terus menyeru untuk minta dituntun.

Entah berapa kali rasanya gue ingin mencongkel memori ini dari otak gue, memberikan ketenangan dan membawa kembali apa yang telah gue hancurkan. Detik itu juga gue proklamasikan kepada dunia bahwa pendekarnya telah gugur satu. Gue dengan segala janji yang telah gue tawarkan kepada Bara, meninggalkan dia di medan perang tanpa sempat memberi lencana.

Farrel Gibran.

Hidangan yang sudah Mami siapkan dari sore tadi tertata dengan sopan dan melambai-lambai untuk disentuh, namun tak ada satupun dari penghuni ruang makan yang berinisiatif untuk memulai.

Gue yang sudah kepalang frustasi hanya menghembuskan napas dengan kasar, mengambil piring untuk gue taruh di hadapan Mami dan Bara secara bergantian.

Selama dua puluh tahun gue hidup, ini adalah makan malam teraneh yang pernah ada. Hanya ada suara dentingan antara piring dan sendok yang beradu, Mami yang terlewat dingin dan terlihat tak menaruh atensi sedikitpun kepada kehadiran Bara sedikit banyak membuat hati gue terluka.

Tidak ada yang bergeming dari meja makan setelah masing-masing baik Mami dan juga Bara menghabiskan makannya. Perut gue terasa penuh dan sesak, tak mampu lagi untuk dimasuki karena alih-alih memakan masakan Mami, gue sudah dibuat kenyang oleh atmosfer yang memuakkan.

Di bawah meja makan, gue merasakan jemari Bara yang mulai bertaut dengan jemari gue secara luwes. Memberikan usapan pada punggung tangan gue berniat meredakan dan membuat gue sedikit aman.

“Mami.” gue sedikit melirik ke arah Bara, dapat gue lihat bagaimana Bara dengan susah payah menelan ludahnya dari gerakan jakunnya. Kini gue memberikan elusan pada punggung tangannya, persis seperti apa yang Bara lakukan sebelumnya.

“Apa?”

“Kenalin, ini Bara.”

“Udah kenal, kan.” ujar Mami, tangan serta pandangannya tak terlepas dari ponselnya. “Kenapa?”

“Pacar Arel.”

Bara tersedak ketika mendengar kalimat yang baru saja gue lontarkan, sedangkan reaksi Mami hanya menaruh ponselnya secara tengkurap di atas meja. Manik matanya sedikit bergetar menatap gue dan juga Bara secara bergantian.

“Katanya kemarin Mami mau dikenalin ke pacar Arel. Ini, sekarang udah Arel bawa ke rumah dan kenalin ke Mami.” lanjut gue, napas gue kini tercekat dan jantung gue berdegup bak tengah di atas wahana roler coaster dan tiba-tiba pengamannya terputus sehingga membuat gue terpental dan terjatuh langsung menembus inti bumi.

“Jangan bercanda.”

Gue melirik Bara yang tengah membuka mulutnya untuk menjawab, namun dengan cepat gue serukan apa yang ada di dalam diri gue. “Enggak bercanda. Kenapa? Ada yang salah?”

“Salah, Gibran!” suara Mami kini mengisi seluruh ruangan, bahkan sangat memekakkan telingan juga menorehkan luka. Gibran, begitu cara Mami mengucap nama gue tatkala melakukan hal yang di luar batasan Mami.

Berulang kali Bara ingin menyuarakan suaranya namun dengan cepat gue sela, gue enggan membuat Bara lebih terluka dari yang seharusnya.

“Apanya yang salah dari cinta, Mi? Bukannya Mami yang pernah bilang ke Arel kalau cinta itu adalah apa yang membuat kita merasa hangat dan selalu mendapat validasi atas semuanya?”

“Mami enggak pernah mendidik kamu untuk begini ya, Gibran.”

“Karena memang Mami hanya mendidik Arel sebagaimana Mami mau jadi seperti apa Arel nantinya.”

“Karena Mami cinta sama kamu!”

“Sampai Mami lupa kalau mencintai itu juga berarti menerima segala kondisi orang yang dicintai?”

Hening panjang. Bahkan gue bisa mendengar decakan cicak yang baru saja melintas dan sempat tertangkap indra penglihatan gue.

“Tante, Maaf. Tapi saya-“

Bara belum menyelesaikan kalimatnya namun Mami sudah berjalan menjauh, tentu dengan perasaan kesal dan kecewanya yang tergambar jelas pada raut wajahnya. Sedang Bara hanya tersenyum simpul, tangannya terulur untuk memberi usakan pada surai gue.

“Enggak apa-apa, masih ada hari besok untuk coba lagi. Pelan-pelan, Arel. Ini hal baru buat Mami kamu, juga buat kita.” ucapnya dengan teduh, masih dengan matanya yang tenggelam di balik kelopaknya karena senyumnya yang terus mengembang.

“Bara, maaf kalau mencintai aku akan semenyakitkan ini.”

Bara menggeleng pelan. “Jangan minta maaf, karena enggak ada yang salah dan enggak ada yang perlu minta maaf.”

“Arel, kamu tadi keren banget. Pelan-pelan ya, jangan dipaksa untuk bisa langsung nerima.” imbuhnya. Gue terlampau bingung. Apa yang ada di dalam pikiran Bara sekarang? Dia bertingkah seperti orang yang sama sekali tidak terluka padahal gue yakin, dia sama terlukanya atau lebih dari gue dan juga Mami.

Malam ini di antara gue, Bara, dan juga Mami, terlalu banyak dari kami yang saling menyakiti dan tersakiti. Disaksikan oleh meja makan dan sisa hidangan yang Mami buat, yang sudah mengendapkan isian beserta rempahnya karena terlalu muak untuk mendengar juga ikut campur atas kisah cinta dua anak adam yang dianggap salah, dianggap tabu dan tak seharusnya tercipta.

Elvano Bara.

Gue selipkan rambut Arel yang mulai panjang ke belakang telinga si pemilik leher jenjang dengan balutan warna kulit yang cerah dan dingin seperti pualam. Sudah terhitung dua jam lamanya sejak kedatangan gue di rumah Arel, mengisi sepetak ruang pada lantai kayu di dalam bilik kamar lelaki yang terduduk anteng di sisi kiri gue.

Kaki Arel yang berbalut celana training sedari tadi ia peluk erat-erat, dijadikannya sebagai topangan untuk dagunya. Pandangannya menatap lurus ke arah layar laptop yang tidak berhenti menampilkan acara kesukaan Arel. Entah Arel benar-benar menontonnya atau malah ia yang kini sedang ditonton.

Tak berniat mengganggu dan lebih memilih untuk memejamkan kedua netra gue, kini gue bersandar pada kasur Arel yang dibaluti sprei berwarna putih tulang. Kedua tangan gue pun bersedekap, berusaha mengistirahatkan pikiran dan tubuh gue secara bersamaan.

Farrel Gibran atau yang biasa menyandang nama Arel, seorang laki-laki yang dengan ajaibnya dapat masuk ke dalam cerita hidup gue dan menjadi serangkai dengan diri gue selama dua bulan ke belakang ini. Bahkan pada benak gue ketika nama Arel diucap, gue tak akan mampu menyandingkan dengan kata ‘kehilangan’ sebab semuanya akan berbuah ketidaksiapan.

“Bara.” gue hanya berdeham ketika mendengar Arel menyerukan nama gue lirih, terlampau nyaman dengan pejaman dan sandaran tubuh gue. “Kata kamu, Mami aku tau enggak ya kita pacaran?”

Kali ini mata gue dengan cepat menyalang, pertanyaan yang sama telah gue pendam dan serukan sendirian selama dua bulan terakhir. Mengingat bagaimana perlakuan aneh yang gue dapatkan serta perlakuan dingin yang gue sanding ketika menampakkan diri di hadapan Mami Arel. “Tau kali, Rel?”

“Aku takut Mami enggak setuju.”

Sama, Arel, sama. Hal yang sama pun gue takutkan sejak kali pertama gue menjatuhkan diri dan menggali lubang lebih lama untuk bersarang bersama nama lo, mengubur diri kita dalam-dalam.

“Emang kelihatannya akan begitu, Rel?”

“Iya. Mami sering juga ngenalin aku ke anak temen-temennya, perempuan.”

“Mau sampai kapan kamu tutupin?” tanya gue dengan tangan kiri yang sudah terulur dan mengusap kepala hingga punggung Arel yang tampak lesu sore ini. Punggung itu, memikul banyak beban yang hanya gue tahu sebagian kecilnya.

“Aku enggak mau nutupin, tapi aku juga bingung untuk bilangnya.” jawab Arel, tangannya tergerak untuk mematikan nyala laptop. “Kamu dulu gimana ceritanya kok bisa Mbak Ira terima?”

“Mbak Ira mah cuma mau aku seneng.”

Arel mengangguk kecil, tubuhnya bergeser sedikit lebih ke belakang dan menyandarkan tubuhnya pada sisi sebelah gue dengan lengan kiri gue dijadikan bantalan. “Seneng deh, kamu punya Mbak Ira.”

“Punya kamu juga, Rel.” ujarku dan memberikan kecupan singkat pada puncak kepalanya. “Arel.”

“Iya?”

“Kalau kamu udah siap bilang ke Mami, gimanapun nanti reaksi Mami, aku enggak akan ke mana-mana.” Arel hanya mengangguk dan melingkarkan tangannya pada pinggang gue, semakin menyembunyikan dirinya di dalam tubuh gue. “Kita lewatinnya bareng-bareng, Arel. Kamu enggak perlu takut.”

“Aku jauh lebih takut kehilangan kamu, Bar, daripada nantangin dunia.”

Gue hanya terkekeh dan mengiyakan ucapan Arel. Entah nanti ke depannya ucapan itu memang benar sungguh-sungguh adanya dan mampu ia buktikan, atau sekadar menjadi penenang diri untuk saat ini.

Origami Merah.

Kedua kaki mungil itu menggantung, tak hinggap pada lantai guna berpijak. Empunya mengerucutkan bibir, sesekali menyerocos karena kebingungan akan langkah lipatan-lipatan pada kertas origami di tangannya.

“Kak Ael, ini gimana? Ale bingung.” adu gadis kecil itu kepada seseorang yang lebih tua di sebelah kanannya. Kedua tangan mungilnya menyodorkan kertas origami yang sudah memiliki bekas tekukan pada setiap incinya, membuat sedikit lecak.

“Coba Ale sambil lihat Kak Arel.” ucap Farrel dan kembali membuka lipatan kertas origami di tangannya, memulainya dari awal. Aleena hanya mengangguk kecil dengan tangannya yang terus berusaha mengikuti instruksi Farrel.

Lebih dari setengah jam yang lalu day care sudah steril, menyisakan Farrel, Aleena, serta Pak Kadir selaku satpam yang tengah berjaga. Seharusnya setelah Farrel menaruh alat gambar titipan Mami di ruang kreasi, ia dapat bergegas pulang dan membaringkan tubuhnya di kasur. Namun kala itu semesta memintanya untuk tetap tinggal, menemani Aleena yang selalu mendapatkan jemputan terakhirnya.

Aleena memekik girang dan menggerakkan kedua kakinya dengan cepat, membuat Farrel menghentikan lipatan-lipatan kertas origaminya dan melemparkan tatapan ke arah mata Aleena memandang. “Om Baya!”

Lelaki itu tersenyum sama lebarnya dengan Aleena. Lelaki yang juga Farrel jumpai kemarin sore, lelaki dengan postur tubuhnya yang tegap berbalutkan jaket kulit berwarna hitam dengan kacamata baca yang bertengger di hidungnya. Lelaki itu melambaikan tangan ke arah Aleena, membuat Aleena semakin berseru semangat dan mengayunkan kedua tangannya sebagai tanda untuk lelaki itu mendekat ke arahnya.

Semerbak wangi aroma maskulin yang sedikit manis menyeruak masuk ke indra penciuman Farrel tatkala lelaki itu bersimpuh di hadapan Aleena dengan satu kakinya yang bertumpu di lantai.

“Om Baya, lihat! Ale bisa bikin buung.” ujar Aleena dan memamerkan kertas origaminya yang telah terlipat berantakan, membentuk seekor burung kecil. “Tapi bagusan punya Kak Ael.” imbuhnya dan menunjuk tangan Farrel yang memegang origaminya.

“Punya Ale juga udah bagus.”

Aleena menggeleng, memberikan bantahan. Gadis kecil itu menarik secarik origami dari dalam plastik bening pada pangkuan Farrel dan menyodorkannya ke arah lelaki di hadapannya, Bara.

“Om Baya buat juga!” seru Aleena.

“Om enggak bisa, Le. Sama kakaknya aja.” ujar Bara menimpali, tangannya enggan menerima sodoran kertas berwarna merah tersebut dan dagunya yang ia arahkan ke Farrel.

“Kata Kak Ael enggak boleh bilang gak bisa. Hayus cobain dulu!” ujar Aleena, tangannya masih bersikukuh menyodorkan selembar origami tersebut kepada Bara. Bara hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan menerima uluran kertas tersebut.

“Coba sini Kak Ael contohin, Ale juga coba lagi dong sambil diajarin Om nya.” ujar Farrel yang sedari tadi diam menyaksikan interaksi menggemaskan antara om dan keponakan di hadapannya.

Tangan Farrel menarik dua lembar kertas origami dari wadahnya, satu berwarna merah dan satunya lagi berwarna biru.

“Ale mau yang warna apa?” tanya Farrel, tangannya menggoyang-goyangkan dua lembar kertas tersebut di hadapan Aleena.

“Biu!”

Bara terkekeh dan menggoyangkan kepala Aleena pelan karena gemas hingga dua buah kucirnya menimbulkan gerakan kecil yang terlihat lucu.

“Jadi gimana, Kak Ael?” tanya Bara dengan kedua tangannya yang telah bersiap mengikuti langkah demi langkah yang akan Farrel ajarkan. Farrel mengulum senyumnya, kedua tangannya mulai bergerak untuk memimpin dan diikuti oleh Bara juga Aleena.

“Gue Bara, Om nya Aleena.” ujar Bara di sela-sela kegiatannya melipat origami, matanya yang sedari tadi tak terlepas dari tangan dan kertas Farrel pun kini berani untuk berjalan ke atas dan menatap mata Farrel dan menyusuri lentik bulunya.

“Gue Farrel, dipanggilnya Arel. Sebenernya terserah sih mau manggil apa.” timpal Farrel.

“Lo kerja di sini?”

Farrel menggeleng pelan. “Nyokap gue yang punya. Cuma gue sering disuruh ke sini kalau ada anak yang belum dijemput, suruh nungguin. Atau sesekali ikut ngajar kalau kebetulan lowong.” terang Farrel panjang lebar, ia memang tipikal orang yang tak akan menjawab setengah-setengah.

“Kita satu almamater.” ucap Bara.

Farrel mengangkat kedua alisnya. “Oh ya? Lo jurusan apa? Kok lo tau kita satu almamater?”

Bara tersenyum, merasa diberi atensi oleh lawan bicaranya sebab terus menimpali ucapannya dengan antusias. “Gue jurusan ilmu politik.”

Farrel menghentikan jemarinya, pandangannya yang sedari tadi menunduk ke arah origaminya pun ia angkat untuk menatap ke arah Bara. “Gue ilmu komunikasi. Kok enggak pernah ketemu, sih? Padahal satu fakultas.”

Bara terkekeh dan mengedikkan bahunya.

“Berarti lo kenal sama Marco, dong?” tanya Farrel.

Kini giliran Bara yang mengangkat kedua alisnya. “Kok lo bisa tau Marco?”

Everyone’s crush alias temen deket gue dua-duanya naksir Marco.” jawaban Farrel membuat Bara terkekeh.

“Ale udah selesai!” ucap Ale dan mengangkat kedua tangannya riang, memegang dua buah burung origami yang telah berhasil dibuatnya. “Kak Ael, mau Ale kasih nama.” lanjut Aleena, telunjuk kanannya menunjuk sebuah pulpen yang menggantung di saku kemeja Farrel sebagai kode untuk meminjam.

Farrel yang paham akan itu bergegas menyodorkan pulpennya kepada Aleena, mengamati lamat-lamat bagaimana gadis itu menuliskan namanya di atas sana. “Pinternya.”

“Sini, gantian punya Om dikasih nama.” ujar Bara ketika melihat pulpen di tangan Aleena sudah tak digunakan, ia menarik pulpen itu dengan pelan dan sedikit memundurkan tubuhnya dan menutupi origaminya.