olasphere

Junio.

Hujan dan Kekalahan Milik Junio.

Sepiring nasi goreng yang baru saja diangkat dari wajan bertengger di atas telapak tangan kiri gua dengan panasnya sehingga memunculkan kepulan asap akibat perbedaan suhu yang kontras dengan atmosfer malam ini.

Gua mengendus-endus kecil, kegirangan akan wanginya yang semakin membuat perut gua terasa kosong melompong. Orion yang terduduk di sebelah kiri gua sudah terlebih dahulu memasukkan suap demi suap nasi goreng ke dalam mulutnya, seakan tak menaruh atensi akan aromanya.

“Dimakan, jangan cuma dicium-cium. Mana ada kenyang kalau begitu.” ujar Orion dan membuat gua terkekeh, bak sedang diperintah tangan gua mulai menyendok butir-butir nasi pada piring dan memakannya.

“Lu berarti pindahannya besok?”

“Iya, enggak mungkin langsung sekarang. Barang-barang gua masih di rumah, toh udah malem juga.”

“Asik jadi bisa nebeng kalau ke sekolah.”

Orion tertawa. “Kalau enggak kebetulan bareng Noel, sabi sih.”

Hanya dentingan antara sendok yang bertubrukan dengan sisi piring yang menjadi pengisi celah antara gua dan Orion saat ini. Sesekali mata gua melirik, melihat bagaimana Orion yang akan meringis ketika permukaan sendoknya menyentuh lapisan kulit pada sudut bibirnya yang terluka akibat pukulan yang gua layangkan sepulang sekolah tadi.

“Harusnya tadi lu tonjok gua balik, Yon.” ujar gua dengan suara yang terseret, merasa sedikit menyesal karena meluapkan emosi yang segitunya.

“Kan gua udah bilang, enggak akan nonjok lu balik karena memang gua salah.” jawab Orion dengan sedikit membungkukkan badannya, menaruh piring bekas nasi gorengnya di bawah bangku plastik berwarna hijau yang ia duduki.

“Keren kan lu jadinya, bisa ngalahin gua padahal Jordan aja enggak.” lanjutnya sebelum akhirnya menegak teh panas yang sesekali ia tiup-tiup kecil guna meredakan panasnya.

“Keren apanya? Orang akhirnya gua kena tonjok cowok lu langsung K.O.” Orion tertawa sebagai balasan atas ucapan gua yang terdengar sedikit mengeluh.

“Kecil-kecil gitu tenaganya gede.” gua hanya bisa mengangguk setuju dan ikut tertawa bersama Orion. Betul apa katanya, Noel memang terlihat lebih kecil dibandingkan gua pun juga Orion.

Setelah selesai pada suapan terakhir nasi goreng yang ada di piring, gua menunduk dan menaruh piring bekas nasi goreng tersebut di bawah bangku plastik yang gua duduki. Sama seperti apa yang Orion lakukan sebelumnya.

Orion, seutas nama yang membuat gua dengan senang hati akan menceritakan ketangguhan serta kebaikannya. Kalau ditanya, apakah gua pernah menaruh rasa pada sosok Orion yang gua sebutkan sebelumnya? Gua akan menjawab ya dengan lantang, namun memang tidak ada yang pernah bertanya juga tak akan ada yang pernah tahu akan rasa yang gua pendam rapat-rapat.

Sejak kali pertama gua bertemu dengan Orion, menjadi satu tim basket bersamanya, enggak pernah terlintas dalam benak gua untuk menaruh rasa serta harap kepadanya.

Meskipun gua merupakan anggota OSIS pada saat itu, gua bukan orang yang populer di sekolah layaknya Luke dan Marvel. Bukan juga orang yang dielu-elukan parasnya seperti Rios, juga bukan orang yang dikenal membawa banyak ceria seperti Svarga. Gua terlampau bawah dan tak terlihat, tak pantas untuk Orion yang masuk ke dalam ketiga kategori yang ada.

Sampai akhirnya hal tersebut benar-benar terjadi, gua enggak paham kapan pastinya tapi yang gua tau jauh dalam diri gua merasa patah ketika mengetahui Orion memiliki Noel yang kini dia sebut rumah.

Bagaimana Orion menurunkan Rios di gang depan untuk segera memastikan Noel yang ia lihat sebelumnya tengah terduduk sendirian di trotoar lekas mendapat pertolongan. Bagaimana Orion yang sigap dan penuh kekhawatirannya ketika Noel kehujanan untuk sampai ke warung belakang, atau bagaimana pancaran senyum yang Orion tunjukkan selama lesakkan pertama Noel di warung belakang kala itu.

Pancaran sendu pada kedua manik matanya pun sudah tak ada lagi, Orion yang sekarang jauh lebih hangat dan hidup dari Orion sebelumnya. Gua senang akan hal itu, akan fakta di mana Orion menjadi manja kepada orang-orang tertentu dan menjadi sangat perhatian kepada orang terkasihnya. Gua akhirnya mengenali Orion yang sesungguhnya.

Semua telah menjadi deskripsi atas kekalahan telak yang gua dapatkan.

Sebut gua sebagai hujan yang ingin hidup berdampingan bersama pelangi, tetapi semesta tak merestui. Kata semesta, pelangi terlalu indah untuk hujan yang terlampau menyedihkan.

TW // physical fights, arguments, confrontations

Bel pulang sekolah telah dibunyikan dengan lantang dan berkumandang pada setiap koridor panjang dengan deretan pintu di kanan dan kiri tampak agak gelap kendati hari masih siang. Semua orang bersemangat memasukkan barang-barang ke dalam tas untuk segera meninggalkan sumpeknya ruangan berpetak yang dipenuhi oleh tumpukan buku serta suara terang dari guru yang memuakkan.

Orion memicingkan kedua matanya dilanjutkan dengan meloncati dua anak tangga sekaligus untuk mempercepat geraknya menuju suatu sudut yang sudah terdapat Junio dengan teman-teman lainnya, dihiasi oleh kepulan asap rokok di wajahnya.

Junio adalah satu-satunya orang yang tak pernah lepas dari penglihatan Orion, ia amati bagaimana Junio dengan bibirnya mengapit rokok yang tinggal separuh dan tangannya mulai sibuk melepaskan satu persatu kancing seragam putihnya, menyisakan kaus hitam polos.

Orion menghirup udara yang tercemari kepulan asap rokok dengan kuat-kuat, memasukkan oksigen yang cukup untuk mengisi seluruh rongga pernapasannya dan menghembuskannya dengan gusar.

“Ayo, tonjok gue sekarang. Sepuas lo, gak akan gue bales.” ucap Orion final, tanpa ada penggalan dan penuh dengan keyakinan. Tidak ada yang berkutik, suasana sejak awal Orion menjejakkan dirinya pun sudah terasa mencekam.

Junio bangkit dari duduknya dan berjalan keluar dari warung menuju lahan kosong di sebelah warung yang sudah ia iyakan tadi malam, diikuti dengan langkah Orion dan beberapa teman lainnya di belakang.

Keduanya saling diam, Orion menyiapkan dirinya sendiri dengan mengambil napas panjang-panjang. Seperti yang sudah Orion gambarkan di dalam kepalanya, begitu sampai di lahan kosong itu Junio dengan penuh amarah dan tanpa aba-aba dalam menghentikan langkahnya. Sepersekon detik setelah berbalik menghadap Orion, tangan kanannya mengepal dengan erat dan berhasil melayangkan pukulan ke wajah Orion.

Orion tersungkur, disusul dengan Junio yang segera berjalan mendekat dan meremas kerah baju Orion dengan kuat-kuat karena ia sudah siap melayangkan pukulan berikutnya. Orion memejamkan matanya, seperti yang sudah ia katakan terakhir kali bahwa ia akan menerima pukulan Junio sebanyak apapun itu dan sekeras apapun itu tanpa akan menghindar pun juga membalas.

Ricuh.

Banyak pasang tangan dan kaki yang mendekat, berusaha untuk memisahkan namun segera Junio dorong untuk tak menginterupsinya yang tengah menghujami wajah dan juga badan Orion dengan pukulan serta tendangan.

“Jun, lo sinting!” ucap Luke yang baru saja melesakkan dirinya melewati kerumunan yang memutari keduanya. Badannya jauh lebih besar dari Junio dengan kekuatan yang jauh lebih besar pula lekas menyeret Junio untuk menghentikan aksinya.

“Lepasin gue, anjing!” Junio meronta dan memberikan serangan pada perut bagian kanan Luke, membuat Luke meringis dan tak sadar melepaskan Junio darinya.

“Jangan, Luke. Biar dia puas dulu.” ucap Orion dengan matanya yang menyipit menahan perih pada ujungnya. Junio terus menerus mengumpat di sela-sela pukulannya.

Rintik hujan mulai berjatuhan, membuat semua orang selain Orion, Junio, Luke, dan juga Marvel menyingkir dan mencari teduhnya masing-masing. Meninggalkan keempatnya yang dihujami air hujan yang semakin besar volumenya.

“Jun, udahan jing!” ucap Marvel dan mendekat, tangannya sempat mengusap wajahnya kasar guna menepis hujan yang bersemayam di kulitnya.

“Lo diem di sana, Mar.” ujar Orion.

Junio mencengkram kerah kemeja Orion menggunakan tangan kirinya, membuat Orion sedikit merasa sesak dan kerongkongannya seperti terhimpit. Membuat oksigen semakin susah untuk masuk. “Lo orang paling cupu yang pernah gue kenal. Lo gak inget kita siapin semuanya udah berapa lama? Gimana kita latihan tiap hari? Dan lo ninggalin kita di hari H?”

Junio memberikan jeda pada kalimatnya. “Lo kalau memang punya masalah di rumah jangan dibawa ke hal lainnya. Apa yang musti lo urusin di rumah, biar lo tinggal di sana.”

Dengan tangan kanannya yang sudah mengepal di udara dan siap untuk memberikan pukulan terakhirnya, Junio seketika tersungkur sebelum sempat mendaratkan pukulannya pada wajah Orion tatkala kausnya ditarik dan disusul dengan pukulan yang teramat kencang pada rahang kanannya.

Noel dengan matanya yang menyalang, tak memberikan kedip barang sedetik. Dadanya naik turun tak beraturan, dipenuhi akan gemuruh yang ingin ia ledakkan. Kedua tangannya masih mengepal dengan kencang hingga kuku-kukunya menancap pada telapak tangannya.

“El.”

“Lo manusia paling bejat! Gimana bisa orang yang gue kira sepinter lo memperlakukan orang lain bahkan temen lo sendiri dengan begitu. Gila, ketua OSIS kok enggak bisa memanusiakan manusia. Najis!” cerca Noel dengan suara tingginya yang tak kalah menggelegar dari hujan, setelahnya ia membuang ludah ke arah Junio. Semua pasang mata di sana terbelalak akan kalimatnya, tindakannya, juga akan presensinya.

Berada di tengah-tengah pusat tontonan dengan tanda pengenal sekolahnya yang menjadi pembeda, memberanikan dirinya menyelamatkan Orion yang sudah diwarnai darah pada pelipis, ujung mata, hidung, dan juga sudut bibirnya. Hal tersebut membuat Noel menjadi pusat perhatian. Dapat dipastikan ia akan menjadi topik pembicaraan hangat di seluruh penjuru sekolah untuk beberapa hari ke depan.

Noel memang punya jiwa pemberani dan selalu membela orang yang disayangnya kapanpun ia bisa, semuanya akan ia upayakan untuk tetap berdiri di samping orang terkasihnya dan menghadang kejamnya dunia.

Ganesh Putra Bentala.

Gama beserta dengan keimpulsifannya menyeretku ke dalam keadaan di mana aku harus menutup klinik untuk hari ini. Sungguh tidak terpaksa, dengan suka cita aku mengiyakan ajakan Gama untuk langsung menuju ke Waduk Sermo setelah petang mulai menyelimuti Bukit Paralayang tadi malam. Berada di dalam rengkuhan Gama semalaman, dalam tenda kecil yang membuat kita berhimpitan.

Beberapa tahun lalu, hal tersebut telah kita rencanakan sebelum akhirnya memilih untuk memutus komitmen yang menjembatani hubungan kita dan membatalkan rangkaian rencana-rencana yang sudah tersusun dengan penuh bayangan sorak sorai akan harsa.

Sisa-sisa embun semalam masih terasa, waduk dan sekitar tenda masih terselimuti kabut. Begitu pula pucuk-pucuk rumput yang tengah aku pijak dengan ujungnya yang digelayuti bulatan-bulatan air yang dengan cepat menjalarkan dingin ke seluruh tubuhku. Kakiku terus melangkah, semakin menjauhi tenda yang aku tempati semalam bersama Gama. Menggerayangi tanah yang tak tertutup rumput, terasa masih basah dan bergeronjal.

Aku dengan serakah menghirup udara pagi yang terasa sangat menyegarkan, membiarkan rongga dadaku memenuhi kebutuhannya. Menukarnya dengan segala yang melekat dari kota.

Perlahan kini permukaan air waduk mulai dimandikan oleh cahaya mentari yang dipancarkan dari atas bumi khatulistiwa, mengganti dinginnya kabut yang menusuk dengan hangat yang merengkuh erat. Aku bergegas kembali ke dalam tenda, membangunkan Gama yang masih diam dalam lelapnya sebab semalam ia enggan memejamkan matanya terlebih dahulu jika aku belum mendahului.

Berada di tepi waduk dengan arunika Jogja yang dipantulkan air dan Gama sebagai pelengkapnya, atau malah Gama yang menjadi tokoh utama sedang arunika itu yang menjadi pelengkapnya?

Mungkin jawabannya adalah opsi kedua, Gama sebagai tokoh utama dan terus akan menjadi tokoh utama.

Aku dan segala diagnosa mandiriku, menciptakan keyakinan dan sugesti bahwa lima tahun ke belakang aku baik-baik saja tanpa adanya Gama. Memang betul, aku baik-baik saja dan cukup baik-baik saja.

Namun ternyata diagnosaku dipatahkan oleh kehadiran Gama yang menyeruak kembali tanpa permisi. Penjabaran yang aku tuliskan di atas benar adanya, namun kini aku sadar bahwa jika bersama Gama aku merasa lebih dari sekedar baik-baik saja. Aku yang pengecut memang sengaja menutup indra perihal badai hujan dan topan yang kapan saja bisa menerpa, sebab aku hanya ingin hidup tanpa lara. Aku hanya ingin hidup dan berderma.

Hadirnya Gama sore itu bak berkah tak terduga, membuatku digerogoti rasa tak percaya apakah itu nyata atau halusinasi belaka. Namun malamnya aku tersadar, akan bahunya yang lebar membawaku pada dunia laksana surga yang ku elu-elukan kehadirannya.

“Ganesh, kamu seneng enggak?”

Pertanyaan singkat namun cukup membuatku berpikir dengan susah payah. Sebetulnya lima tahun ke belakang ini aku betulang senang, atau hanya sebuah paksaan yang sengaja aku tanamkan.

“Sekarang?”

“Iya.”

“Seneng.”

“Kalau kemarin-kemarin? Setelah pisah sama aku dan sebelum ketemu lagi.”

“Kemarin-kemarin yang kamu maksud tuh lima tahun ini, Gam?”

Gama berdeham, aku tak menjawab dan lebih memilih mengulurkan tanganku untuk mengusap dan menata surai Gama yang terlihat acak karena baru saja bangun dari lelapnya.

“Kalau kamu sendiri gimana?” tanyaku yang mengembalikan pertanyaan Gama.

“Seneng tapi beda.”

Aku mengernyit keheranan. “Apanya yang beda?”

“Senengku ketika sama kamu dan enggak, beda.”

“Bedanya apa?”

“Kalau sama kamu rasanya utuh.”

Aku mengangguk dan tersenyum, aku paham apa yang Gama maksud sebab perasaan tersebut juga bersarang dalam sukmaku.

Kembali teringat akan potongan-potongan kisahku bersama Gama, sejujurnya aku sempat bingung apa yang mengharuskan kami berpisah kala itu karena segalanya baik-baik saja. Namun seiring berjalannya waktu aku sadar bahwa banyak hal di dunia yang sepertinya memang harus dibiarkan menguap sampai akhirnya mereka punya rumah sendiri. Sampai akhirnya mereka selesai dan tidak perlu menaruh banyak bingung lagi.

“Ganesh, kalau kamu kasih izin, aku mau kita coba untuk lanjutin apa yang sempet ditutup.” ucap Gama dengan tiba-tiba. Bisa ku sebutkan bahwa Gama memiliki sepasang mata bulat yang paling indah di dunia, apalagi ketika ia sedang menyalurkan rasanya pagi ini. Aku bahkan tidak keberatan untuk menatap mata cokelat miliknya meski tanpa berkedip sekalipun.

“Kenapa?”

“Karena selama lima tahun ke belakang ini, aku punya banyak rencana yang enggak terlaksana. Ribuan kali aku secara impulsif pengen pulang ke Jogja tapi baru berani merealisasikan sekarang.”

“Pulangnya kamu ke Jakarta, Gama.”

Gama menggeleng untuk membantah. “Jogja.”

Aku cukup pintar untuk mengartikan untaian aksara demi aksara yang tersusun dengan sembarang, menjadikan potongan-potongan kata yang saling berhubungan menyiratkan penuh makna.

“Ganesh.”

Aku tenggelam dalam perseteruan dalam diriku. Bagaimana semua lagu jatuh cinta yang sering berkumandang di kepalaku selalu mampu menampilkan Gama di setiap untaian liriknya, menjadi penguatnya.

Aku pikir dan aku rasa, aku bersama Gama merupakan dua individu yang tengah menemukan dan mengupayakan pasangan jiwanya untuk kembali ke kediaman satu sama lain yang disebut rumah.

Lazuardi Gautama.

Kalau memang benar setiap manusia mengalami dua kali masa pubernya, gue pikir saat ini adalah masa puber kedua yang gue alami. Ternyata apa yang selama ini gue pikirkan salah besar, bagaimana gue yang beberapa tahun ke belakang diselimuti asumsi atas diri sendiri yang menganggap sudah mampu. Mampu melupakan Jogja juga orang beserta kisah istimewa di dalamnya. Semua itu hilang dan luruh ketika gue melihat Ganesh kemarin sore, berdiri di dalam kliniknya dengan senyum yang begitu ramah ia lemparkan ke siapa pun yang ada di sana.

Beberapa bukti penguat akan deklarasi gue yang sedang mengalami pubertas kedua akan gue sebutkan dengan penjelasan ini. Penjelasan akan tingkah-tingkah aneh gue, yang bahkan gue sendiri pun merasa asing atas perasaan gue saat ini. Bak orang jatuh cinta, tapi gue rasa memang benar adanya.

Bagaimana semalam gue berjingkrak kegirangan setelah membaca balasan dari surel yang Ganesh kirimkan. Bagaimana mata gue yang enggan menutup namun mendobrak untuk terus nyalang karena tak sabar menunggu hari esok. Bagaimana gue yang sudah bersiap sejak jam sembilan pagi ketika Ganesh sendiri menitah untuk dijemput jam dua siang, juga bagaimana gue mondar-mandir di depan kaca dan menyemprotkan parfum tanpa satu senti pun terlewatkan.

Jika kata orang-orang setiap sudut kota Jogja terasa istimewa, gue akan memberikan beratus-ratus setuju. Sebab gue sendiri merupakan salah satu korban dari istimewanya akan cerita-cerita yang tertulis di tiap sudutnya. Padahal kalau dipikir-pikir, kenangan gue akan Jogja enggak melulu soal suka dan cita. Banyak juga duka serta sendu yang tercipta.

Jogja.

Mendengarnya saja mampu membuat gue tersenyum secara cuma-cuma, tanpa ada yang menitah juga tanpa ada resah.

Enggak cukup sekali atau dua kali gue mendengar dan membaca pertanyaan akan kebenaran yang diselipkan. Bagaimana bisa gue dan khalayak ramai menganggap Jogja adalah tempat untuk berpulang, sedangkan gue sendiri pun enggak punya ikatan dengan Jogja selain amanah untuk menimba ilmu di salah satu perguruan tingginya.

Gue juga sering bertanya-tanya, mengapa Jogja bisa terasa hangat dan bersahabat? Ketika gue pribadi bukan orang yang punya banyak kerabat. Dan hari ini gue mendapatkan jawaban terbaik versi gue, atas pertanyaan klasik yang selalu dilemparkan oleh kebanyakan orang yang memiliki pendapat yang sama.

Karena bagi gue, Jogja adalah Ganesh.

Kembali lagi ke Ganesh.

Ganesh bersama dengan surelnya membuat gue kehilangan akal juga kewarasan. Gak henti-hentinya gue menyusun skenario-skenario yang akan terjadi nanti saat menghadiri tawaran spesial yang Ganes ajukan. Bahkan hanya dengan memikirkannya semalaman pun membuat gue bahagia tak tertahankan. Lagi-lagi Ganesh, dengan segala impresinya.

***

Ganesh dengan segala impresinya mengalahkan hamparan laut selatan yang memantulkan cahaya Matahari senja dari atas bukit Paralayang. Kalau diperbolehkan, gue iri dengan hembusan angin yang terasa lebih kencang sebab ia dengan lantangnya menerpa wajah Ganesh, sedang gue tak mampu.

Tangan gue sedari tadi hanya bersedekap, sesekali memainkan gelas yang berisi kopi dan sebungkus rokok. Ingin rasanya tangan gue terulur untuk menyentuh wajah Ganesh seperti apa yang terpaan angin itu lakukan, tapi gue terlampau cupu.

“Jadi kalau weekend cuma buka setengah hari, Nesh?”

Ganesh mengangguk, tangan kirinya tergerak untuk menghantarkan sebatang rokok dengan nyala api di ujungnya. Dapat gue tangkap profil Ganesh dari samping kanannya, mencarak rokoknya dengan dalam sebelum akhirnya ia hembuskan perlahan. “Gini-gini aku butuh liburan juga, Gam.”

“Biasanya ngapain?”

“Tidur.” timpal Ganesh dilanjutkan dengan tawanya. “Kenapa kamu mintanya ke sini?”

“Enggak apa-apa, pengen aja.” jawab gue sekenanya. “Dulu setiap Jumat sore kita ke sini ya, Nesh.”

“Oh, jadi ceritanya kangen sama kita yang dulu?” tanya Ganesh setelah membuang kepulan asap ke sisi kirinya. “Kamu udah punya pacar lagi belum setelah sama aku?”

“Belum.”

“Kenapa?”

“Enggak mau aja.” Ganesh mengangguk dan mematikan nyala rokoknya di atas asbak yang tersedia, tangannya merogoh tas jinjing yang ia bawa. Ganesh dengan kebiasaan lamanya, menyapu permukaan tangannya menggunakan tisu basah setiap selesai merokok. “Udah boleh pegangan?”

Ganesh tertawa, membuat mata indahnya tertelan begitu saja dan memunculkan kerutan lucu pada batang hidungnya. “Masih inget aja! Boleh, mau pegangan?” tanya Ganesh dan menyodorkan kedua tangannya.

Tidak perlu memikirkannya berulang kali, gue dengan sigap mengaitkan jemari gue dengan milik Ganesh. Selalu seperti itu, kebiasaan lama kita yang sederhana namun terasa sangat menggembirakan.

“Kalau kamu gimana, Nesh?”

“Apa?”

“Pacar.”

Ganesh menyipitkan kedua matanya, berdeham panjang bak sedang berpikir. “Menurut kamu?”

“Udah pernah?”

“Pernah sekali tapi cuma berapa bulan. Dulu sebelum aku buka klinik sendiri kan sempet kerja di Happy Land, terus ketemu di sana deh.”

“Dokter juga?”

“Dokter.”

“Cowok?”

“Cewek.” gue dan Ganesh pun tertawa, entah di mana bagian lucunya.

Gue setuju dengan Adhitia Sofyan yang berseru dengan lantunannya akan sesuatu di dalam Jogja. Gue sebagai orang yang pernah singgah di Jogja, menemukan sesuatu yang sukar untuk dijelaskan menggunakan susunan aksara karena hanya mampu diucapkan dengan satu diksi yang hangat dan memiliki pikat. Ganesh.

Sebuah mobil pikap hitam dengan dempul di sana-sini yang sebenarnya sudah layak untuk dipensiunkan serta dimasukkan ke dalam museum sejarah pun dengan rodanya yang berderak, menyusuri jalan bergelombang yang runtut akan tanjakkan serta turunan.

Banyak potongan-potongan gambar akan kenangan masa lampau yang melintas pada kepala lelaki di belakang kemudi pikap tersebut tatkala melewati jalanan yang tengah ia susuri, seiring dengan perputaran roda pikap dengan laju yang konstan. Sesekali kepalanya menoleh ke kanan dan kiri secara bergantian, mengamati tiap-tiap bangunan dengan plang di depannya. Menjelang mentari di batas cakrawala, membuat Gama masih belum menjumpai keputusasaannya.

Impulsif, mungkin satu kata tersebut sukses disebut sebagai label atas diri Lazuardi Gautama atau yang kerap disapa Gama oleh orang-orang terdekatnya. Dengan penuh sadar, setelah mendapatkan pesan masuk dari Renjana atas secuil informasi akan Ganesh, laki-laki yang menjadi alasan keimpulsifannya hari itu, Gama bergegas meminjam pikap milik kontraktor yang bekerjasama dengannya dalam pembangunan proyeknya kali ini.

Berbagai macam rasa lelah dan keputusasaan yang sebelumnya menyergap menyelimuti benak Gama kini mulai meluruh tatkala Gama menjumpai klinik dengan plang bertuliskan nama lengkap Ganesh pada displainya, perlahan Gama melirihkan laju pikapnya dan membuat henti di sisi jalan. Dari balik kemudinya, Gama menelisik ke dalam klinik dengan beberapa orang yang tengah terduduk pada ruangan yang Gama yakini mereka adalah pasien yang tengah menunggu gilirannya.

Dua jam? Bahkan lebih. Setelah lebih dari dua jam mendudukkan diri, diam tak bergeming di balik kemudi, kini jantung milik Gama bak sebuah bom yang siap meledak ketika netranya akhirnya mampu menangkap sosok yang ia tuju. Sosok yang ingin membuatnya mendobrak gerbang klinik dan menjejakkan diri agar mampu untuk segera menemui dan memberi sapa dengan hangat.

Gama segera turun dari pikap dan berakhir untuk berdiri dengan tegap di depan gerbang berjeruji. Sebanyak apapun aksara yang telah ia siapkan beberapa jam ke belakang pun menguap tak tersisa. Lidahnya kelu, tenggorokannya kepalang kering untuk segera ia aliri dengan air liurnya yang susah untuk ia tegak. Milyar-milyar, juta-juta, ratus-ratus sekian kemungkinan pasang mata di dunia, sepasang manik mata milik Ganesh lah satu-satunya yang menangkap temunya dan menjadi pusat dunia Gama malam itu.

Kaki Gama bak dipaku untuk menyatu dengan Bumi, sukar baginya tuk menggerakkan kedua kakinya tatkala Ganesh di beberapa langkah yang memisahkan kini tengah mengerjap dan menelisik hadirnya terus menerus. Gama hanya mampu melempar senyum dan terus merutuki dirinya dalam diam, menyaksikan Ganesh yang mendekatkan dirinya dengan perlahan.

“Gama?” ucap Ganesh berusaha memastikan, masih dengan banyak kejut yang menyergapi relung hatinya.

“Dokter Ganesh?” balas Gama dengan konfeti yang terus diletup-letupkan dalam dadanya. Gama memindai Ganesh dari ujung hingga ujung, tak ada yang berubah dengan lelaki yang sudah teramat lama tidak ia miliki presensinya.

Ganesh mengulum senyumnya, merasa tersipu akan panggilan yang dilontarkan Gama. “Kok bisa sampai sini, Gam? Sini masuk dulu!”

“Kamu selesai jam berapa, Nesh?” tanya Gama yang masih terpaku di atas pijakan kakinya, mengabaikan Ganesh yang membuka pagar dengan lebar-lebar.

“Ini udah selesai, Gama. Lagi beres-beres aja terus mau pulang. Kamu sendirian?” tanya Ganesh dan menelisik ke arah jalanan serta belakang punggung Gama, mencari-cari andai ada orang lain yang akan ia kenali muncul di sana.

“Enggak sendiri.”

“Sama siapa?”

“Sama kamu. Nanti pulangnya aku anter, boleh?” tanya Gama meminta persetujuan kepada Ganesh yang tengah berdeham dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Gimana, Nesh?”

“Sebenernya aku bawa motor, tapi enggak apa-apa deh nanti aku tinggal aja di sini.” timpal Ganesh, matanya masih terus menelisik kebingungan karena tak ada kendaraan yang terparkir di depan kliniknya. “Naik apa?”

Tangan kanan Gama terangkat dan menunjuk mobil pikap yang terparkir di seberang jalan. “Naik itu, pikap kontraktor aku. Serius deh bukan sembarang ambil di pinggir jalan! Enggak apa-apa kan, Nesh?”

Ganesh mengernyit sebelum akhirnya tertawa. Gama masih tetaplah Gama, di hadapannya masih tetap Gama yang ia kenal. Gama yang dengan bermacam hal tak terduga dalam dirinya. “Enggak apa-apa, Gama. Ini aku beres-beres dulu ya, sini nunggu di dalem.”

“Aku bantuin beres-beres, Nesh!”

Jika tempat bisa bercerita, jika benda bisa bersuara. Mungkin tempat parkir McD Sudirman beserta seluruh atmosfernya tak kenal henti untuk mendongeng akan kisah cinta Gama dan Ganesh. Kisah cinta sederhana dua anak adam yang tak banyak ditunggangi huru-hara, namun bertemu ujung dengan sendu juga nestapa.

“Jadi kamu di sini sampai kapan, Gama?” tanya Ganesh di sela-sela kunyahan kentang gorengnya. Manik matanya sedari klinik tadi enggan untuk berpaling barang sedetik pun dari Gama, berusaha merekam profil Gama dengan segala kemampuannya.

Gama menggumam dan menimang-nimang akan jawabannya. “Gak tau, Nesh. Sepengen aku aja karena setelah proyek ini selesai, mau ambil napas dulu. Hitung-hitung liburan sambil kangen-kangenan sama Jogja.”

“Sama Jogja aja?”

“Sama temen-temen kuliah juga.” Ganesh hanya ber-oh-ria dan memilih untuk melanjutkan acara mengunyah kentang-kentang lainnya, enggan memberikan reaksi apapun atau mungkin terlewat kecewa sebab namanya tak disebutkan sebagai alasan Gama untuk menetap.

“Sama kamu juga, Ganesh. Buat aku, semuanya tentang Jogja kan kamu.” lanjut Gama, Ganesh hanya mengangguk kecil dan berusaha dengan sisa kewarasannya untuk menyembunyikan senyum penuh sorak-sorainya. “Kalau kamu, kangen aku gak, Nesh?”

“Kelihatannya gimana?”

“Enggak, habis aku enggak dipeluk.” keluh Gama, tangannya turut mencomot kentang goreng milik Ganesh sebab miliknya sudah habis terlebih dulu, membuat Ganesh memberikan dengusan kasarnya.

“Ngapain pelukan sama mantan?”

“Emang kalau udah jadi mantan enggak boleh pelukan?” tanya Gama, ia serius akan pertanyaannya sebab jika diperbolehkan untuk teriak dan memberi pengumuman kepada alam semesta, ia sangat ingin merengkuh tubuh Ganesh sejak detik pertama Gama menangkap kehadiran Ganesh dengan netranya.

“Aku enggak bilang enggak boleh loh, Gam.”

Sepersekon detik kemudian Ganesh mampu menyelami kembali aroma tubuh Gama yang beberapa tahun terakhir ini tak menyapa indra penciumannya. Bisa berada kembali di dalam pelukan Gama sama sekali tak pernah terlintas pada benaknya.

Ganesh diam tak bergeming sebab tangannya masih dibebani oleh sewadah kentang goreng yang menyisakan beberapa potong di dalamnya. Pun kalau ia tidak memegang wadah tersebut, pasti ia tetap memilih untuk diam dan mempersilahkan Gama dengan segala rasa emosionalnya kala itu untuk terus merengkuh sembari mengusap kepalanya lembut.

Setelah hening panjang dengan tubuh yang saling berusaha mengikat rindu, Gama melepaskan lingkaran tangannya pada tubuh Ganesh. Membuatnya seketika merasak sepi juga kekosongan yang teramat.

“Parkirannya sekarang jadi lebar banget deh, beda sama dulu.” ucap Gama dan mengetuk-ngetukkan jemarinya secara konstan pada setir yang ia genggam, jakunnya bergerak lambat sebab susah untuk menegak air liurnya sendiri.

“Ya ampun, Gam! Kita di sini udah lebih dari setengah jam yang lalu dan kamu baru ngomongin ini sekarang? Gugupmu masih jelek banget!” ledek Ganesh berusaha menyingkirkan jauh-jauh atas atmosfer canggung yang Gama bangun.

“Lama enggak meluk.” jawab Gama diakhiri dengan kekehannya. “Terakhir kita pelukan kapan, Nesh?”

“Waktu kita putus, kan, lima tahun lalu? Di sini juga, bedanya dulu naik mobil Renjana.”

“Kok masih inget?”

“Masih, lah! Orang sakit hatinya aja betah.”

“Kirain waktu itu aku doang yang sakit hati.”

“Aku juga, Gama.”

Baik Gama dan Ganesh, keduanya kini saling melempar tawa. Menampilkan kembali semua potongan-potongan memori akan cerita keduanya yang telah usai dan menjadikannya bahan candaan seperti sekarang ini bukan ide yang buruk.

“Besok aku anter ke klinik ya, Nesh.”

Hangat dan menenangkan, setidaknya dua kata tersebut mampu untuk mendeskripsikan dekapan yang sedari tadi tak terlepas dari tubuh Orion.

Orion sadar bahwa kini tubuh yang tengah mendekapnya dengan erat, juga tangan yang tengah mengusap punggungnya dengan irama yang terstruktur, telah memiliki jiwa serta raganya dengan utuh.

Entah dimulai sejak pertama kali ia melihat Noel yang tengah menunggu Mauren saat menjemput Mauren di sekolah, terduduk di atas motornya dan bersenda gurau dengan hangatnya bersama penjual cilok di depan sekolahnya. Sejak konversasi pertama keduanya dimulai saat bertemu Tabi dan Tobi, atau setelah obrolan panjang keduanya via Blind Date yang hingga saat ini masih mampu membuat geleng kepala keheranan akan kebetulan yang tak direncanakan namun sedikit ia rapalkan.

Setiap jiwa memiliki alasannya masing-masing akan tindakannya, termasuk Noel saat ini yang masih terus bergelayut manja pada tubuh Orion di balik kemudinya.

“Aku bau banget, El.” ucap Orion dan berusaha melepaskan Noel dari tubuhnya, membuat Noel menggeleng dan semakin mengeratkan pelukannya. Mengaitkan jemarinya, membuatnya terkunci. “Kata kamu tadi jorok, keringet orang abis basketan.”

Noel terkekeh, membuat bahu kiri Orion sedikit bergetar. “Masih wangi. Sebentar lagi deh! Sebentar lagi ya, begini dulu.” Orion hanya menggeleng dan melingkarkan tangan kirinya pada pinggang Noel, tangan kanannya tidak absen dari surai Noel yang akan selalu menjadi bagian favoritnya untuk diusap juga disisir.

“Kenapa? Capek ya? Sedih? Khawatir sama Bunda?” tanya Orion dengan runtut, Noel meloloskan dirinya dari pelukan Orion. Menyandarkan tubuhnya pada bangku penumpang.

“Lebih ke sedih, sih. Ayah aku weekend yang diurusin juga tetep kerjaan. Di rumah sakit aja nungguin Bunda nya sambil nyicil kerjaan.”

Orion mengangguk kecil, menyisipkan rambut Noel yang sudah mulai panjang sehingga tak menutupi kedua mata binarnya. “Kata kamu tadi Bunda lagi tidur? Ya enggak apa-apa, dong? Yang penting Ayah ada di sana kan, jadi kalau Bunda butuh apa-apa pasti Ayah langsung berhenti ngerjain kerjaannya. Toh, kerja juga buat kamu, El.”

Noel menggembungkan pipinya sebelum akhirnya menghembuskan napasnya dengan berat. Menurutnya, apa yang dikatakan Orion ada betulnya. Orion hanya terkekeh dan mengacak puncak kepala Noel, membuat Noel mendengus. “Lo tuh, suka banget cari kerjaan buat diri sendiri ya? Diberantakin, dibenerin, diberantakin, dibenerin.”

“Emangnya lo nggak suka, gue elus-elus begini?” tanya Orion dan mengusap surai Noel yang semula berantakan.

“Suka! Elus-elus terus, dong.” timpal Noel dan menyodorkan kepalanya semakin mendekat ke badan Orion, membuat Orion menggerutu dan mendorong kepala Noel menjauh. Noel dengan tawanya yang pecah, membuat matanya menutup dengan rapat dan hidungnya mengkerut lucu.

“El.” panggil Orion ketika tawa Noel mereda. Merasa namanya dipanggil, Noel hanya berdeham dan menatap Orion yang tengah menatapnya lekat.

Dari pancaran mata Orion tersirat banyak makna yang Noel pahami terlampau beda dari tatapan biasanya. Malam ini tatapan itu tersirat keraguan, ketakutan, kesedihan, kekosongan, kesepian, kehancuran, dan segala hal buruk lainnya. Tak ada gembira, juga tak ada ketenangan.

“Sebenernya, ada hal yang aku pikirin akhir-akhir ini.”

Noel tersenyum, tangan kirinya terulur untuk memberi sapuan pelan pada pelipis Orion. Membuat ketegangan pada wajah Orion sedikit mereda.

“Aku tau, sayang. Tapi aku enggak mau nanya karena pasti jawaban kamu akan selalu ”Aku enggak apa-apa, El. Gak ada apa-apa.” yaudah jadi aku diem sambil nunggu kamu cerita aja. Sekarang kamu bilang begini, udah siap cerita ke aku?”

Hening. Orion dengan segala takjubnya akan Noel. Noel nya yang tidak akan pernah mendesak untuk bercerita, Noel nya yang memahaminya, serta Noel nya yang memberinya kesempatan untuk merasa aman dan nyaman.

“Kak Isa lagi ada masalah, tau kan kamu kalau Kak Isa mau coba untuk bisnis? Nah, ternyata ditipu sama temennya. Masih diurus sih sekarang.”

Noel mengangguk paham. “Kena berapa?”

“Gak tau pastinya karena tiap aku tanya gak mau jawab, tapi jelas gede sih. Karena dari semua cerita Kak Isa selama ini tentang progres bisnisnya, aku denger itu bisnis yang gak kecil. Aku mau bantuin tapi nggak tau harus ngapain. Kemarin waktu aku sering bangun kesiangan karena malemnya nemenin Kak Isa. Makin kurusan deh dia.”

Kalau diperbolehkan untuk jujur, Noel pun sama bingungnya dan kurang paham akan masalah ini. Satu-satunya yang bisa ia berikan saat ini atas cerita Orion adalah tepukan pelan pada kepala Orion serta senyuman penuh rasa hangat yang dengan penuh harap mampu hinggap menyelimuti Orion.

“Dengan kamu temenin begitu juga Kak Isa udah merasa dibantu, sayang. Kalau kamu merasa Kak Isa kurusan, bisa tuh kamu sesekali ngirimin makan. Pasti Kak Isa bakal seneng banget!”

“Gitu?”

“Gitu.”

“El.”

Lagi-lagi Noel berdeham panjang sebagai jawaban, ibu jarinya mengusap alis kanan Orion yang tengah memejamkan matanya dengan tenang.

“El.” panggilnya sekali lagi sembari membuka matanya, pertama kali yang dapat Orion tangkap adalah senyuman Noel yang tak luntur saat menatapnya. Senyuman paling hangat dan paling candu, senyuman favorit yang selalu ia elu-elukan.

“Yon.”

“Noel.”

“Iyon.”

“Noel!”

“Siap, saya!” jawab Noel dengan tegas dan tubuhnya yang tegap, tangan kanannya pun telah berlagak memberi hormat.

Keduanya tertawa dan Orion rasa sebagian hal yang mengganjal di dalam benaknya telah luruh saat itu juga, bersamaan dengan tawa Noel yang terus menyeruak masuk ke dalam telinganya dan berusaha ia rekam dengan apik dalam ingatannya.

Orion melirik ponselnya sekilas. “El, ayo cepet-cepetan sampai rumah.”

“Gue yang menang, lah! Orang tinggal turun dari mobil lo terus masuk ke gerbang.”

Orion tersenyum. “Enggak, gue yang menang.”

Noel mendengus dan mengerucutkan bibirnya. “Nggak lucu kalau lo gas mobilnya sekarang terus culik gue ke rumah lo, mentang-mentang nggak ada Ayah sama Bunda gue.”

Alih-alih menjawab, Orion menggunakan telunjuknya, ia arahkan pada Noel yang tengah mengangkat kedua alisnya dan menggantungkan tanda tanya besar pada guratan dahinya.

“Lo.”

“Apa?”

“Rumah gue.”

Tak tahu harus bereaksi apa atas pernyataan mutlak yang Orion berikan, Noel hanya memainkan bibirnya dan melemparkan tatapannya ke arah manapun. Selain manik mata Orion.

“Lo beneran gak mau mampir dulu?” tanya Noel setelah memangkas seluruh rasa salah tingkah yang menggerogoti rongga dadanya.

Orion menggeleng. “Udah malem banget, bisa-bisa nggak mau pulang gue.”

“Yon, sebelum lo pulang ada yang mau gue kasih tau ke lo.”

“Apa, Noel sayang?” tanya Orion dengan tatapannya yang menatap Noel lamat, tangan kirinya memberikan sapuan pada pipi kanan Noel.

Ini bukan kali pertama Orion menyerukan namanya dan disandingkan dengan embel-embel sayang setelahnya, namun Noel tetap merasa gugup. Ia menelan ludahnya dengan susah payah, menggigit bibir bagian dalamnya sesekali guna menyembunyikan rasa gugupnya.

“Emang wajar untuk kamu ngerasa sedih atau bingung sama masalah Kak Isa, kamu ngerasa khawatir juga wajar banget. Tapi aku harap kamu lebih bisa memisahkan mana yang menjadi urusan kamu dan yang bukan. Ini di luar kendali dan tanggung jawab kamu, Iyon. Aku rasa Kak Isa pun maunya kamu fokus aja sama sekolah kamu, sama basket kamu, sama hal-hal yang jadi kewajiban kamu.”

“Iya, Noel.”

“Belajar untuk lebih saring emosi kamu, sayang. Mana yang memang jadi masalah dan harus kamu urus dan mana yang bukan. Ibarat kamu cuma mampu menanggung dua luka, tapi kamu memaksa diri kamu sendiri untuk menanggung empat. Ya mana bisa? Jangan jahat-jahat sama diri sendiri.”

“Iya, sayang.”

“Iya iya doang kamu mah, tapi nggak paham.”

“Siap, paham!” lantang Orion dan memberikan hormat ke arah Noel yang tengah tertawa kecil atas respons yang ia berikan.

“Kamu suka gak kalau aku cerita ke kamu?” tanya Noel, kedua tangannya ia gunakan untuk membetulkan tali sepatunya yang terasa longgar.

“Suka, suka banget. Aku ngerasa dipercaya dan dianggap.”

“Iya, aku juga ngerasa begitu setiap kamu cerita.” ucap Noel tepat setelah talinya terikat dengan kencang.

Noel bubuhkan kecupan singkat pada pipi kiri Orion sebelum akhirnya membuka pintu mobil dan berlari masuk ke dalam rumah, meninggalkan Orion yang diam tak bergeming dengan matanya yang terus mengikuti setiap langkah Noel yang semakin menjauh dan presensinya dilahap oleh jarak.

Ketika semua orang ingin bercerita mengenai suatu keindahan dan kebahagiaan, mereka akan memiliki serta memilah diksi yang indah sehingga akan mampu mereka tuangkan membentuk kalimat yang tersusun padat dan merayap, namun bagi Orion, hanya nama Noel lah diksi nyata yang lebih cukup dari segalanya.

Ardani Prianata.

Semua orang punya preferensinya masing-masing akan aliran lagu yang menjadi favoritnya.

Dan kini gue cukup terkejut sebab alih-alih dari semua musik di dalam playlist gue yang cukup keras dan berisik yang biasa menemani setiap pagi gue, justru kini gue berakhir dengan semua lantunan pelan dan lembut dari playlist milik Reja.

Reagan Janendra atau lelaki yang kerap disapa Reja, lelaki yang selalu menjadi topik pembicaraan Maul setiap harinya. Kata Maul, seorang teman mana yang bersedia menemani temannya lembur menyelesaikan pekerjaan hingga jam tiga pagi? Seorang teman mana yang bersedia ngemper di workspace sampai lumutan? Cuma Reja.

Terhitung sudah tiga bulan ke belakang, sosok Reja tidak pernah absen dari hadirnya setiap jam makan siang gue di kantor.

Reja yang akan selalu menemani gue makan sebab selera makanan gue yang berbeda dengan Maul dan Reksa, Reja yang akan selalu setuju akan semua opini gue saat berdebat dengan Maul dan Reksa mengenai tiap menu yang pernah kita berempat santap tiap istirahat makan siang, dan juga Reja yang selalu sigap untuk membayar makanan gue acap kali gue kehabisan uang cash di dalam dompet.

Dan Reja yang kini tengah memainkan rambut gue, dengan kepala gue yang bersemayam di atas lengan kanannya.

Mohon persilahkan gue untuk menarik garis lurus, apa saja yang telah terjadi sebelumnya.

Seperti yang sudah direncanakan. Dimulai dengan siang kemarin Reja yang menampakkan dirinya di depan pintu apartemen gue, kemudian memijakkan kaki kita ke tempat cuci film kamera yang menjadi langganan gue, dilanjutkan dengan kita yang bermain ria di Timezone seperti permintaan gue, ke Miniso untuk mencari kado ulangtahun keponakan Reja yang akan mengadakan pesta ulangtahun nanti siang, juga mampir makan malam di pinggir jalan.

Semuanya berjalan sesuai dengan rencana dan seperti janji yang telah kita buat. Kecuali potongan-potongan kejadian setelahnya, gue dan Reja entah siapa yang memulai. Bak saling membutuhkan afeksi untuk direngkuh lebih lama, untuk disentuh lebih dalam, juga untuk saling memberi dan menerima.

Malam tadi, baik gue pun juga Reja sama sadarnya. Bahkan gue masih ingat lontaran kalimat-kalimat pujian yang Reja berikan saat gue terus merapalkan namanya di setiap pergerakkan yang kita buat.

”Ard, lo indah banget.”

”Lo sempit banget, Ard. Gue suka.”

”Ard, lo bener-bener cantik banget.”

”Ard, bibir lo manis banget.”

”Ard, gue nggak tau lo sejago ini.”

”Ard, lo adalah orang paling sempurna yang pernah gue lihat.”

”Ard, coba lihat, bahkan bekas cakaran di lengan gue pun kelihatan indah karena lo yang kasih.”

”Gue pikir gue sayang sama lo, Ard.”

Gue masih ingat betapa lembutnya Reja dalam permainannya. Reja yang mengecup setiap inci tubuh gue, tanpa ada yang terlewat. Reja yang mengusap pelipis gue hingga pipi, memberikan pagutannya saat gue merasa kesakitan karena dia yang mencoba masuk dengan permisinya. Bagaimana Reja memperlakukan gue dengan lembut dan penuh kehati-hatian, bagaimana Reja dengan segala gerakan yang membuat gue mabuk dan hanya mampu merem-melek serta melenguh tak karuan.

Setelah mampu menyambungkan titik demi titik dan memahami situasi saat ini, gue menjauhkan diri dari rengkuhan Reja. Membuat Reja terlihat sedikit terperanjat diakhiri dengan senyumnya yang mengembang pagi itu.

“Selamat pagi, yang mulia Ard.”

Gue tersenyum, buku-buku tangan gue mengucek sudut mata gue yang terasa masih melekat erat. “Selamat pagi, Reja.”

Hening panjang setelahnya.

Gue terbaring dengan mata nyalang menatap langit-langit apartemen gue, mencoba memerangi benak dalam diri gue atas banyaknya serangan yang terjadi di dalam benak gue sendiri. Sedang Reja masih dengan posisi sebelumnya, memiringkan badan dan menatap gue tanpa berkedip dengan tangan kanannya yang kini sesekali terasa menggerayangi surai gue.

“Nanti acaranya jam berapa, Ja?”

Reja berdeham. “Jam satu, masih ada tiga jam lagi kalau mau siap-siap dulu. Lo mau mandi? Atau mau makan? Biar gue pesenin sekarang kalau lo udah laper.”

Gue menggeleng sebagai jawab.

“Terus lo mau apa, Ard? Kalau gue peluk, mau?” kata Reja dengan kekehannya sebagai pelengkap. Gue yang tadinya tak berminat menatap ke arahnya pun kini memalingkan wajah gue, membuat manik mata kita bertemu.

Gue melihat rasa hangat yang memang Reja pancarkan dari netranya, melihat adanya ketulusan dan penyerahan diri seutuhnya kepada gue.

“Lo naksir sama gue, Ja?”

Melihat pergerakkan pelan pada jakunnya, gue tebak Reja kini tengah menelan ludahnya dengan perlahan dan mencoba mengusir gugupnya.

“Jangan.” sambung gue setelahnya.

Reja mengangkat kedua alisnya, gue paham dia kebingungan atas imbuhan atas kalimat gue barusan. “Jangan apa?”

“Jangan naksir sama gue.”

“Kenapa?” suara Reja yang sebelumnya terdengar amat lembut pun kini berubah menjadi lebih tegas dan juga berat. Gue bahkan bisa mendengar napasnya yang kini terlihat lebih memburu.

“Gue nggak bisa balesnya.”

“Kenapa, Ard? Gue kurang di bagian mana, biar coba gue benahi. Sumpah gue akan coba ubah apapun itu asalkan lo bisa nerima gue. Gue bakal coba jadi yang terbaik buat lo, Ard.” terangnya dengan panjang lebar, gue bahkan melihat manik matanya tak sehangat tadi. Kini tatapannya telah sedikit menjadi nanar, postur wajahnya pun terlihat menegang.

“Gue non-committal, Ja.” ucap gue sengaja memberi jeda untuk kalimat selanjutnya.

“Lo adalah orang paling baik dan paling keren. Bahkan kalau boleh mendeskripsikan begini, menurut gue, lo sempurna dan lebih dari cukup dari apa yang lo pikir. Tapi memang gue yang nggak bisa, Ja. Gue nggak akan pernah punya hubungan romantically karena memang gue nggak minat, gue juga punya banyak ketakutan untuk ke arah komitmen dalam sebuah hubungan yang pasti lo tau maksud gue hubungan seperti apa.”

Reja diam tak bergeming, hening setelahnya.

Jangan kira gue sama sekali nggak merasa sedih dan tak bersalah atas penolakan gue yang telak. Gue, dalam diri gue yang paling jauh di sini, gue merasa bersalah dan sedih. Tapi bukankah kesiapan seseorang dalam merajut hubungan juga hal yang penting? Untuk saat ini gue memang belum siap, atau mungkin tidak akan pernah siap. Banyak kepedihan dan kehancuran yang gue terima dari kedua orang tua gue, juga dengan hubungan terakhir gue yang berjalan selaras seperti yang kedua orang tua gue lalui, membuat gue memang benar-benar tidak mampu untuk menjalin hubungan ke arah sana. Gue dengan segala ketakutan dan ketidak siapan.

Jujur, gue memang enggak memendam rasa apapun untuk Reja. Hanya menganggap dia sebagai rekan kantor, teman makan siang, sahabat yang kepalang baik karena banyak membantu dan menemani gue selama tiga bulan ke belakang ini. Tapi melihat Reja dengan raut wajahnya yang gue nggak mengerti, yang benar-benar baru kali ini gue melihatnya, cukup membuat hati gue tercabik-cabik.

Lagi-lagi, gue harus mematahkan seseorang.

“Ja, maaf.”

Reja menggeleng dengan irama konstan, tangan kanannya memberikan elusan pada surai gue. Senyum itu, masih sama dengan senyum sebelumnya. Senyum Reja yang begitu tulus dan tak pernah terganti. Namun sekali lagi, garis bawahi atas bagaimana tatapan nanar yang terpencar dari netranya. Membuat gue sama sekali tak bisa dibohongi atas keadaan hatinya saat ini.

“Jangan minta maaf, Ard. Perasaan gue bukan tanggung jawab lo. Enggak apa-apa kalau memang lo begitu, tapi jangan minta maaf atas apa yang bukan menjadi keharusan lo. Perasaan gue biar jadi urusan gue, Ard.”

Baik gue dan juga Reja, setelahnya hanya terdiam dimakan waktu. Larut dalam emosi masing-masing, saling menatap kosong ke langit-langit apartemen dan mengingat kegundahan yang melanda di pagi itu.

Reagan Janendra.

Sekali? Dua kali? Bahkan sukar untuk gue hitung seberapa banyak kali yang gue coba, berusaha menelusuri tiap laman yang muncul untuk dapat jawaban atas kebingungan yang bersarang di benak gue, cukup membuat pikiran.

Gue bingung makna apa yang terbesit atas suara-suara yang timbul dari dalam hati gue acap kali presensi laki-laki yang ada di samping gue saat ini mulai memenuhi hari-hari gue. Ardani Prianata, laki-laki aneh yang gue kenal baik tiga bulan ke belakang.

Saat orang-orang anggap soto seberang kantor rasanya hambar, Ard adalah satu-satunya orang yang akan membela Pak Pendek si pemilik warung karena menurutnya soto Pak Pendek lolos kualifikasi. Saat orang-orang anggap kedai es krim sebelah gedung kantor rasanya terlalu manis, Ard adalah satu-satunya orang yang akan memberikan pembelaan dan opininya kalau memang sepantasnya es krim rasanya akan begitu.

Kembali lagi ke suara-suara yang gue maksud, ini kali pertama dalam hidup gue mendapatkan sorakan-sorakan kebahagiaan layaknya orang tengah berpesta pora ketika berhadapan dengan seseorang.

Dari semua hal yang bisa gue dapat dari Google, katanya gue sedang berada dalam fase jatuh cinta. Gue rasa memang begitu adanya, dan Ard, orang pertama yang mampu membuat gue jatuh sejatuh-jatuhnya. Tanpa takut terluka, tanpa ragu dalam sukma.

“Jak, pakai playlist lo, dong? Gue bosen dengerin playlist sendiri.” keluh Ard yang terlihat tengah mengadu sembari tangannya terus menyentuh layar ponselnya. Gue hanya berdecak pelan dan merogoh saku celana, berusaha mengambil ponsel untuk menyerahkannya ke Ard.

Ard tersenyum dalam sorakan kecilnya saat menerima uluran ponsel yang barusan gue sodorkan. Jujur, enggak terhitung berapa banyak senyuman yang udah gue lihat selama dua puluh tiga tahun gue hidup. Tapi senyuman milik Ard adalah satu-satunya senyuman termanis dan seduktif yang pernah gue lihat.

“Gue nggak tau lagu-lagu di playlist lo, tapi selera musik lo bagus banget, sumpah!”

Kata orang, pujian dari yang terkasih adalah pujian paling menyenangkan dan gue setuju itu. “Tapi berbanding terbalik sama isi playlist lo, Ard.”

“Iya, sih, Jak. Tapi enak banget deh kalau lagi pulang kerja dengerin yang slow begini.”

Demi Tuhan, gue bahkan bingung aksara apa yang pantas untuk memuji Ard. Setiap pahatan wajahnya atau seberapa lentik bulu matanya, bahkan hembusan napasnya barusan terdengar cukup indah.

Banyak dalam diri gue meminta untuk memberikan usapan pada puncak kepala Ard yang kelihatan kelewat lelah, tapi gue cupu untuk itu. Gue cuma mampu sesekali melirik, memastikan Ard dalam posisi ternyamannya untuk mengistirahatkan diri.

Rasanya gue rela setiap hari bangun pagi buta demi bawa mobil kalau imbalannya adalah di sepanjang macetnya jalanan kota Jakarta waktu petang, dengan rasa capek atas kerjaan seharian penuh yang bikin gue suntuk, ada Ard yang mengisi bangku penumpang sembari memejamkan matanya dan bersenandung kecil.

“Lihat ke jalan, Jak. Jangan lihatin gue mulu, nanti nabrak.”

Gue mengerjap dan menelan ludah dengan susah payah, otak gue malfungsi untuk mencari elakan atas serang Ard yang tanpa aba-aba.

“Lo kalau mau tidur, tidur aja Ard. Masih jauh, mana macet banget ini.”

Ard terkekeh. “Enggak sopan, Jak. Udah ditebengin masa iya gue tinggal tidur juga.”

Gue mengangguk tanpa memalingkan wajah dari jalanan, berlagak sok cool padahal rasanya gue mati kutu karena ditatap Ard sedekat dan selama ini.

“Jak, besok jadi jalan?”

“Jadi!” gue merutuki diri sendiri atas seruan yang terlewat antusias.

Gue berani bersumpah, pasti Ard dengan tawanya saat ini tengah menganggap gue terlampau ngebet untuk sekadar jalan dan menghabiskan waktu akhir pekan bareng dia dibandingkan rebahan di rumah.

“Lo laper nggak, Ard?” tanya gue yang dengan penuh usaha menyamarkan rasa gugup, mengalihkan topik pembicaraan seputar janji jalan esok hari.

“Lumayan. Lo keberatan nggak kalau kita mampir ke Gultik dulu?”

Ard memamerkan deretan giginya selepas bertanya akan pendapat gue. Gue terkekeh sambil memalingkan wajah, gila, sudah berapa kali coba gue merasa debaran sekencang ini kala sedang bersama Ard?

“Boleh, apa sih yang enggak buat yang mulia Ard?”

Ard tertawa.

Terlihat dia tengah berusaha untuk tampak normal dan tidak terpengaruh atas gombalan secara tidak langsung yang gue lontarkan. Saat tertawa renyah, hal favorit yang gue tangkap dari Ard adalah kedua mata kecilnya yang akan selalu menutup. Memang betul gue enggak mampu melihat kedua mata yang menjadi kesukaan gue kala ini, tapi gue tahu bahwa kedua manik mata Ard akan tetap bersinar sekalipun Ard menutup matanya kala tertawa.

Sisa-sisa embun masih terasa, ujung jalan raya masih sedikit terselimut kabut. Begitu pula pucuk-pucuk dedaunan nan jauh belum jelas terlihat nyata.

Noel bersedekap dalam balutan hoodie nya, rambut ari di sekujur tangan dan kakinya bergidik saat mentari belum terbit dengan benar. Dingin, hujan yang mengguyur Bumi semalam pun bak meninggalkan cinderamata.

Orion menghirup dalam-dalam hawa pagi pertama Jakarta, sesekali kakinya menyenggol rerumputan yang diselimuti sisa embun dan membentuk bulatan pada ujungnya.

“Lo beneran gila jemput gue jam segini.” ucap Noel, meraih pergelangan tangan Orion dan melihat arloji yang melingkarinya. “Kok tangan lo anget banget?”

Orion mengedikkan bahunya sekilas. “Tandanya harus pegangan.” ucapnya sebelum menautkan jemarinya dengan milik Noel, mengeratkan genggamannya. “Masih kedinginan nggak?”

Noel mengangguk sebagai jawab. Orion tersenyum dan menghentikan langkahnya, membuat Noel pun turut berhenti dan berdiri berhadapan dengan Orion. Orion meraih kedua tangan Noel, menangkupnya menggunakan kedua tangannya dan sesekali menciptakan gesekan-gesekan pelan sebagai penyaluran rasa hangat. Kepala Orion sedikit menunduk menyambangi tangan mereka yang masih menyatu, memberikan beberapa tiupan pada kedua tangan Noel dalam genggamannya.

“Udah anget sekarang.” ucap Orion dan kembali mengaitkan jemari tangan kirinya pada tangan kanan Noel, membawanya masuk ke dalam saku celananya dan kembali melanjutkan jalan-jalan pagi mereka.

“Jadi gimana tadi?”

“Apanya, sayang?” tanya Orion dan sedikit memalingkan wajahnya, membalas Noel yang tengah menatapnya dengan berbinar.

“Ayah.”

Orion ber-oh-ria singkat, mulutnya menggembung dan menerawang ke depan. “Enggak seserem yang gue kira, sih. Tadi waktu nungguin lo gosok gigi, sempet ngobrol soal basket sama sepeda.”

Noel menghela napasnya dengan kasar, menarik perhatian Orion yang menaikkan kedua alisnya dan segera memalingkan wajahnya menatap Noel. “Yah, alamat deh habis ini Ayah kena pelet juga!” Orion tertawa kecil dan semakin mempererat genggamannya pada tangan Noel, sesekali memberi usapan menggunakan ibu jarinya.

“El, ayo taruhan!”

“Apa?”

“Kata lo, Tabi sama Tobi bakal ada di sana nggak? Yang salah bayarin bubur ayam.” ucap Orion saat langkah keduanya semakin mendekat ke sebuah ruko kosong yang terasnya akan menjadi tempat Tabi dan Tobi berteduh. “Kata gue sih enggak ada.”

“Menurut gue juga enggak ada.”

“Nggak boleh sama dong jawabannya!”

Noel menendang pelan kaki kiri Orion menggunakan lututnya. “Lo curang! Harusnya dihitungin dulu, baru jawab.” Orion hanya terkekeh dan menjulurkan lidahnya.

Orion tidak berbohong jika presensi Noel merupakan hal yang sangat ia sukai dan syukuri, satu-satunya kebahagiaannya yang tersisa dan amat ingin ia lindungi dari usikan Ayah nya. Sudah lebih dari satu jam keduanya berbagi bilik yang tak begitu luas, berdesakan dan saling berebut mouse, sesekali Noel memekik gaduh tatkala kakinya didesak oleh kaki Orion sehingga tak sengaja mengenai papan pelindung CPU komputer dalam bilik.

Satu lagi hal di dalam catatan yang harus mereka coret hari ini. Mendudukkan diri keduanya di dalam bilik yang sama, sekadar saling menertawai status Facebook pada masa lampau yang kini terasa menggelitik, memesan dua gelas kopi yang menampilkan kepulan asapnya pada ruangan ber-AC serta satu bungkus camilan yang akhirnya hanya dibuka dan tergeletak begitu saja.

“Hidup bagaikan sungai yang mengalir, ada aja tai yang lewat.” ucap Noel tatkala membaca status yang terpasang pada akun milik Orion. Membuat ia mati-matian menahan gelak tawanya agar tak mengganggu pengunjung lainnya.

“Udah? Puas?”

Noel mengusak surai Orion yang kini tengah menatapnya sinis. “Belum!”

“Udah ah, El! Curang banget tadi gue cuma baca dua, lo udah baca lima.” ucap Orion, tangan kanannya melewati tubuh Noel dan segera menutup profil akunnya. Membuat Noel yang berada di belakang punggungnya pun semakin tertawa melihat Orion yang berlaga kesal.

Orion yang telah selesai menutup tampilan pada layar komputer pun memalingkan wajahnya, tanan kanannya yang semula memegang mouse kini ia tarik dan taruh di belakang kepala Noel, memberikan usapan dan sesekali memilin surainya. Tangan kirinya kini ia letakkan pada dinding penyekat bilik guna menumpu badannya supaya tak jatuh begitu saja dan menghimpit Noel.

Noel yang sedari tadi tertawa pun sekejap terdiam, dengan bibirnya yang terkunci sesekali ia membetulkan tubuhnya untuk duduk semakin ke belakang menjauhi wajah Orion yang malah semakin mengikis jarak bak mengejarnya.

“Apa?” tanya Noel yang berusaha menyembunyikan gugupnya. Noel yang sedari tadi memberikan gigitan pada bibirnya pun lekas menyudahinya tatkala kedua matanya menangkap ke arah mana mata Orion menatap.

Tangan Orion yang sebelumnya masih terletak pada kepala bagian belakangnya pun kini telah berpindah. Memberikan elusan pada kelopak matanya, berpindah ke pelipisnya, hingga turun dan mengusap pipinya, dan bersemayam pada bibirnya.

Noel paham betul apa yang kekasihnya inginkan.

Orion tampak memainkan lidahnya pada sudut bibirnya, memberikan gigitan kecil pada bagian dalam dan sapuan singkat pada tepi bibirnya. “Noel, aku mau cium. Boleh?”

Napas Noel semakin berderu serta tenggorokannya kini dengan susah payah menelan liurnya. Ia kepalang gugup. Tidak ada jawaban lain yang mampu Noel berikan selain anggukan kecil dan matanya yang perlahan memejam tatkala Orion semakin memangkas jarak yang menghalangi keduanya.

Noel merasa lemas yang teramat pada lulutnya, membebaskan sukmanya keluar dan menolak gravitasi. Melambung jauh ke tempat antah berantah. Deburan pada dadanya tak tertahan, mengacak-acak relungnya saat itu juga. Saat bibir itu, bibir milik Orion menyatu dengan bibirnya.

Noel tak berani membuka matanya, tak berani bergerak bagai ia akan mati saat itu juga jika melakukan pergerakan sedikitpun. Dengan napasnya yang masih terus memburu, Noel merasa Orion memulai pergerakannya.

Orion membawa ciumannya lebih dalam, menekan bibirnya sebelum akhirnya memberikan gigitan kecil pada bibirnya. Membuat Noel terperanjat dan membuka bibirnya, mempersilahkan Orion untuk memperdalam ciumannya dan mengobrak-abrik relungnya lebih lama.

Noel mendapat keberanian yang menjalar dalam benaknya setelah tangan kanan Orion melingkar pada pinggangnya, kini ia mengalungkan tangannya pada tengkuk Orion, mengusak dan sesekali memberikan remasan kecil pada surai kekasihnya.

Setelah merasa Noel mampu menemukan keberanian dan kenyamanannya, kini tangan kanan Orion memberikan rabaan kecil yang membuat Noel menggeliat dan semakin membuka bibirnya. Orion yang merasakan itu segera melesakkan lidahnya ke dalam mulut Noel, mengabsen rongga mulutnya dan berakhir dengan mereka yang bertukar saliva.

Noel yang sudah merasa kehabisan napasnya pun memutuskan tautan keduanya secara sepihak, dadanya tergerak cepat naik turun berusaha meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Kedua netra Noel masih belum berani menatap manik mata Orion dan ia merasakan rasa panas yang menjalar pada kedua pipinya. Bahkan ruangan ber-AC yang kini ia tempati pun terasa engap dan panas. Tangannya mengibas pelan tepat di depan wajahnya, sesekali ia menghembuskan napasnya kasar berusaha mengatur pernapasannya.

Orion yang melihatnya hanya terkekeh dan mengusak rambut Noel sebelum akhirnya mendekatkan wajahnya kembali tepat di hadapan wajah Noel. Diusapnya bibir Noel yang meninggalkan basah menggunakan ibu jarinya dengan penuh kehati-hatian, setelahnya ia membubuhi kecupan singkat. “Makasih, Noel.”

Hari itu keduanya saling belajar mengenai bagaimana ombaknya bergejolak, memahami tiap butir pasir yang ada agar mampu bergerak seirama.

Noel memicingkan kedua matanya dilanjutkan dengan meloncati dua anak tangga sekaligus untuk mempercepat geraknya menuju suatu sudut yang sudah terdapat segerombolan anak seusianya, matanya tertuju kepada seorang lelaki dengan kepulan asap rokok di wajahnya.

Noel menghirup udara dengan kuat-kuat, memasukkan oksigen yang cukup untuk mengisi seluruh rongga pernapasannya dan menghembuskannya dengan gusar. “Lo masih aja ya, beraninya sama cewek.” serang Noel ketika menjejakkan kakinya tepat di depan lelaki tersebut.

Habrizi, seorang lelaki yang secara tiba-tiba didatangi oleh Noel pun kini bangkit dari duduknya. Keduanya saling diam dan bertukar tatap, masing-masing menyiapkan diri dengan mengambil napas panjang-panjang.

“Tuh anak ngadu ke lo lagi ya, El?”

Seperti yang sudah Noel gambarkan di dalam kepalanya, dengan penuh amarah dan tanpa aba-aba kini tangan kanannya mengepal dengan erat untuk melayangkan pukulan ke wajah lelaki tersebut.

Habrizi tersungkur, disusul dengan Noel yang segera berjalan mendekat dan meremas kerah baju Habrizi dengan kuat-kuat karena ia sudah siap melayangkan pukulan berikutnya. Habrizi berdecih dan menyeka tulang hidungnya, seluruh pasang matapun tertuju ke keduanya dan tak ada satu orangpun yang berani menginterupsi.

Pukulan-pukulan berikutnya Noel layangkan, Habrizi yang tak terima dengan cepat menendang perut Noel dan berusaha meloloskan dirinya. Noel yang sudah terlebih dahulu mengeluarkan energinya pun terjatuh, belum sempat ia berdiri kini tubuhnya sudah ditimpa oleh Habrizi yang tengah mencengkram rahangnya. “Apa? Temen lo itu emang nggak tau diri, El. Lo jangan sok jadi jagoan.” ucap Habrizi, tangan kanannya ia gunakan untuk menyundutkan puntung rokoknya yang masih membara ke bahu Noel yang terekspose akibat perkelahiannya barusan.

Noel yang meringis menahan perih lekas mencengkram kerah belakang Habrizi, menariknya dengan kencang sehingga membuat Habrizi tercekik akan kerahnya dan melepaskan cengkraman serta sundutan rokoknya pada bahu Noel yang terekspose. Noel yang sebelumnya tergeletak pun kini telah berdiri, kakinya sengaja ia pijakkan pada telapak tangan Habrizi yang masih terduduk dan merintih kesakitan. “Yang salah bokap Mauren, bukan Mauren nya. Lo kalau mau marah dan ngusik, usik bokapnya jangan Mauren nya. Lo kalau goblok, jangan disimpen sendi-“

“Noel.” Noel hapal betul suara siapa yang dengan lantang menyerukan namanya. Dengan cepat ia menoleh ke arah sumber suara, terdapat Orion yang menatapnya dengan tajam dan mengintimidasi. Satu titik yang Orion tangkap setelahnya adalah bekas sundutan pada bahu Noel yang mengeluarkan darah dan menimbulkan bekas luka bakar.

Noel diam tak bergeming, ia sangat ingin menyembunyikan dirinya pada inti Bumi. Tangannya ditarik secara paksa oleh Orion, membawa Noel keluar dari lingkaran kerumunan menuju tempat di mana ia dan tim basketnya berkumpul.

“Jun, tolong panggilin tim medis dong.” ucap Orion setelah mendudukkan Noel pada salah satu bangku. Tangannya menahan baju yang Noel kenakan supaya tak menyentuh lukanya sehingga tak menimbulkan gesekan, sesekali tangannya mengibas pelan.

“Iyon, boleh minta tolong cek Mauren nggak di toilet sana?” tanya Noel dengan lirih, matanya masih tak berani membalas tatapan Orion. “Itu, di toilet deket tangga tadi.”

“Luke, tolong dong?” ucap Orion yang malah melemparkan pinta Noel kepada Luke yang tengah melakukan peregangan. Luke mengangkat kedua alisnya, telunjuknya pun turut menunjuk dirinya sendiri dengan sarat bingung.

“Eh, nggak usah deh. Udah hampir giliran masuk kan, gue aja abis ini selesai.” ucap Noel dan melirik pundaknya yang tengah diberikan penanganan. “Iyon, sorry ya.”

“Iya, habis ini langsung cek Mauren terus masuk aja. Jangan macem-macem lagi, El.” ucap Orion, sempat memberikan tepukan pada puncak kepala Noel sebelum akhirnya bergegas masuk bersama tim nya dan meninggalkannya di luar dengan seorang tenaga medis.