olasphere

Hujaman air hujan yang dikirim oleh langit membuat cacing-cacing di dalam perut berontak lebih ganas. Memaksa Orion dan Noel menembus curahan air dari langit yang masih rintik. Dua pasang kaki yang berbalut sepatu sekolah pun menghasilkan bunyi keciprak di atas trotoar yang sedikit menggenang.

Sebuah warung bakso kecil yang terletak di tepi jalan pun tak luput dari serangan hujan dan angin, dengan kepulan asap dari kuah bakso yang sangat panas membuat para pelanggannya tak memberi atensi sedikitpun kepada hujan dan angin yang terus-terusan menghantam, meminta untuk diperhatikan. Namun tidak dengan Noel, lelaki itu justru menaruh seluruh atensinya kepada dua buah plastik berisikan air dan ikan adu siam yang beberapa waktu lalu Orion belikan.

Berulang kali Orion menjentikkan jarinya di depan wajah Noel, membuat Noel sedikit terperanjat saat atensinya berhasil ditarik oleh lelaki dengan hoodie nya yang terlihat sedikit basah sebab keduanya sempat menerjang rintik hujan untuk dapat mendudukkan diri mereka di tempat saat ini keduanya berada. Orion mengulas senyumnya dengan sangat apik, kedua tangannya ia gunakan untuk menopang dagunya dan menatap lamat-lamat pahatan wajah Noel berniat menyalurkan rasa nyaman untuk Noel di seberangnya.

“Mau dinamain siapa, El?”

Noel berdeham panjang, jemarinya mengetuk meja dengan irama konstan. “Kenzo sama Kenzi.”

Orion mengernyit. “Ya jangan bagus-bagus, itu mah sama nama gue bagusan nama dia.” Noel mendengus sebal.

“Tadi mau gue namain Saipul sama Jamil lo malah nggak mau beliin!”

Pukulan kecil Orion daratkan pada puncak kepala Noel. “Ya jangan Saipul sama Jamil juga.”

“Ih ribet banget perkara nama aja.”

“Biarin orang belinya pakai duit gue.” ujar Orion dan menjulurkan lidahnya sekilas sebelum akhirnya memalingkan sedikit tubuhnya untuk menghadap ke pemilik warung bakso dan menerima uluran dua mangkuk berisikan bakso dengan kepulan asap dan dua gelas teh hangat yang telah keduanya pesan setibanya di sana. Noel hanya menampilkan deretan giginya kemudian bibirnya turut mengucapkan terima kasih kepada pemilik warung bakso yang segera menarik diri dari meja Orion dan juga Noel.

Tangan kanan Noel sibuk mengaduk teh hangat dengan asap yang sedikit mengepul, memperlihatkan perbedaan suhunya dengan suasanya saat itu. Baik Orion pun Noel, keduanya disibukkan dengan kegiatannya masing-masing. Noel yang sesekali mencuil pangsit goreng milik Orion, membuat Orion mendengus dan menampilkan wajah kesal yang sengaja ia buat hanya untuk membuat Noel nya terkekeh.

“Udah kenyang belum?” tanya Orion sebelum akhirnya menyeruput teh manis yang tidak lagi panas. Noel menggeleng pelan, tangan kanannya terulur menarik satu lembar tisu guna menyeka keringat yang muncul dan membuat kening Orion lebih lembab. “Gue pesenin lagi?”

Lagi-lagi Noel menggeleng. “Enggak mau juga, nunggunya lama pasti.”

“Ya nggak apa-apa kan masih hujan ini lagian, nggak bisa balik ke sekolah lo sekarang.” ujar Orion, dagunya mengarah ke arah luar warung yang menampilkan hujan kian deras.

“Lo gimana dong nanti basketnya?”

Orion mengedikkan bahunya singkat. “Biasa kalau hujan begini mah cuma lari doang di lorong-lorong sekolah. Jadi nggak ada latihan, cuma fisik doang. Lo gimana tuh kumpul OSIS? Bentar lagi udah jam tiga. Gue pesenin Grab Car ya?”

Noel menggeleng. “Nggak usah lah, kumpulnya juga cuma kumpul doang bahas mingguan ini. Enggak ada hal yang penting, tenang. Gue izin ke temen gue aja nelat.”

“Maaf ya.”

“Gapapa anjrit mana tau juga kan kalau bakal hujan.”

“Jadi mau dipesenin lagi nggak?” Noel hanya menggeleng tanpa memalingkan wajahnya barang sedetik dari kedua plastik berisikan dua ekor ikannya. “Besok gue mau ambil ID card ke GOR.”

“Gue juga, pulang sekolah langsung ke GOR bareng Jihan. Oh, Jihan ini temen gue, dia ikut jurnalis.”

Orion mengangguk singkat. “Mau bareng?”

“Enggak deh, gue udah janji sama Jihan nebengin dia. Eh, nggak apa-apa kan?”

“Ya nggak apa-apa, El.” Noel mengacungkan ibu jarinya dan menampilkan senyum sumringahnya. “Jangan dilihatin doang itu ikannya, nanti diurus yang bener. Awas aja besok pagi udah mati.”

“Jangan meragukan kemampuan gue bisa gak?” Orion terkekeh melihat kerucutan pada bibir Noel acap kali ia protes. “Berarti list nya dicoret lagi dong, Yon? Lama-lama habis deh.”

“Nanti lo pikir lagi mau nambah apa lagi. Semuanya yang mau lo lakuin bareng gue, ayo kita lakuin.” ucap Orion dan menepuk puncak kepala Noel sekilas sebelum akhirnya ia berdiri berniat untuk membayar bakso dan teh yang telah keduanya habiskan.

Orion yang tengah menunggu dua orang di depannya pun melempar pandang ke arah Noel yang menopang dagunya dan menatap ikan-ikannya, sesekali ia ajak bicara dengan berbisik. Orion menundukkan wajahnya dan menggeleng pelan, bermaksud menyembunyikan senyumannya karena tingkah Noel yang membuatnya merasa gemas setengah mampus.

Roda-roda troli bergerak terseok-seok mengikuti orang yang mendorongnya, menyusuri lorong demi lorong dan rak demi rak barang. Entah berapa banyak barang telah dibebankan kepadanya, membuat rodanya tak lagi mulus dan sesekali jalannya serat.

Setelah selesai mencari-cari barang pesanan Bunda dan juga bermain petak umpet bersama Orion dan saling bersembunyi juga mencari presensi lawan mainnya yang saling tertelan oleh rak-rak tinggi kini mereka berjalan, dengan Noel yang memimpin jalannya penelusuran. Dengan tangan kirinya yang menggenggam ponselnya, Noel mengabsen barang-barang yang telah ia masukkan ke dalam troli agar tak ada yang terlewat dari catatan yang Bunda nya berikan.

“Apa yang belum?” tanya Orion dengan tangan kirinya yang memegang troli dan tangan kanannya mengangkat beberapa barang di dalamnya, memudahkan Noel mengecek satu per satu.

“Jajan gue belum.” jawab Noel dengan cengengesnya, membuat Orion menggeleng pelan dan mendorong kembali trolinya mengikuti kemanapun Noel melangkah.

Kaki mereka terhenti secara otomatis ketika menyentuh depan deretan berbagai macam makanan ringan. Netra Noel memindai dari kanan ke kiri, atas hingga bawah. Sesekali berlari kecil untuk mengambil makanan yang tergeletak di ujung dan meletakkannya ke dalam troli.

“Buat Mauren jangan lupa.” ucap Orion dan hanya dibalas tangan Noel yang menunjuk beberapa makanan di dalam troli. “Kata Luke mereka nggak ada rencana jalan tuh, El.”

Noel yang telah selesai bergegas berjalan menjauh untuk menuju ke kasir dengan Orion yang mendorong troli di belakangnya. “Masa sih? Orang beneran kok Moren sendiri yang bilang.” jawab Noel yang berjalan mundur supaya mampu berhadapan dengan Orion.

“Awas, kardus.”

“Masa iya dia bilang begitu supaya aku bisa sama kamu? Jelek banget deh dia ngibulnya, Luke kan temen kamu ya.”

“Sayang, jalannya lihat ke depan. Banyak barang di bawah itu loh, nanti kamu kesandung.”

“Kok nggak pakai permisi, sih!” ucap Noel dengan ketus, kini ia sudah sepenuhnya membalikkan tubuhnya dan berjalan maju tanpa menoleh sedikitpun menghindari tatapan Orion yang tengah tertawa di belakangnya.

“Yaudah, permisi.”

“Telat!” ucap Noel dan menurunkan satu per satu barang dalam troli ketika sampai di depan kasir dibantu Orion yang diam-diam tersenyum menahan gemas.

Sekalipun tak pernah terbesit dalam benak Orion bahwa melakukan belanja bulanan akan menjadi semenyenangkan ini. Namun jauh dalam benaknya juga paham, satu-satunya alasan yang menjadikan kegiatan melelahkan ini menjadi menyenangkan adalah Noel.

Noel tak pernah berpikir bahwa mendudukkan dirinya di dalam mobil milik Bunda tepat pada kursi penumpang dengan Orion di balik kemudi akan menjadi hal paling nyaman sekaligus mendebarkan. Bagaimana tangan kiri Orion yang akan selalu menggenggam tangan kanannya erat-erat, sesekali menautkan empat jari keduanya dan menyisakan ibu jari untuk bermain di kala menunggu lampu merah menyentuh angka nol nya.

“Iyon, sorry ya karena Bunda minta tolong jadi batal kan jalan-jalannya.”

“Kan, mulai lagi.” timpal Orion dengan sedikit geram, tangannya menarik kepala Noel untuk dapat ia apit pada ketiak dan pinggangnya. Mengusak kepala Noel dan membuat surainya berantakan. “Mau drive thru McD nggak? Nanti kalau udah deket-deket McD gantian lo yang nyetir.”

Noel yang sebelumnya mendengus sebal karena surainya acak pun tersenyum menampilkan deretan giginya. “Beneran? Tapi gue masih takut banget nyetir di jalan gede.”

“Yaudah, waktu masuk drive thru nya deh lo nyetir.” Noel yang kelewat senang pun menepuk-nepuk pahanya dengan irama cepat yang konstan.

“Makasih banyak Oriooooon.”

“Iyon bukan Orion.” protes Orion yang mendapatkan tepukan pelan pada puncak kepalanya.

“Iya deh Iyon.”

***

Kasur Noel tidak sesempit itu sehingga mengharuskan Orion dan Noel untuk saling berdesakkan, bahkan masih terbilang cukup luas untuk keduanya mengambil jarak dengan meletakkan guling di tengahnya. Namun sudah jelas bahwa alasan Noel yang kini terbaring dalam dekapan Orion dengan kepalanya yang ia letakkan pada dada bidang kekasihnya sebab gravitasi keduanya yang bertarikan teramat kuat.

Salah satu kegiatan favorit Orion akhir-akhir ini adalah mengusap kepala dan pipi Noel secara bergantian. Bagaimana jemarinya dengan hati-hati menyisir surai halus Noel, hingga akhirnya sampai pada pelipis dan turun ke dagu. Sang empu juga hanya terdiam dan menikmati sentuhan-sentuhan kecil yang Orion berikan tanpa protes sedikitpun.

“Bunda udah tau belum kalau kita pacaran?” tanya Orion, dadanya merasakan gelengan dari kepala Noel.

“Gue belum bilang, tapi kayaknya mah tau.” Orion hanya berdeham dan turut menatap layar ponsel Noel yang menampilkan potongan-potongan gambar ikan adu siam dengan warna-warna yang menarik. “Gue tiba-tiba pengen ikan cupang. Yang ini nih, bagus ya warnanya?” tunjuk Noel dan memperbesar gambar pada layar ponselnya.

“Besok mau beli? Tapi tunggu gue selesai latihan.”

“Jam segitu masih ada yang buka emangnya?”

Orion memberikan kecupan singkat pada puncak kepala Noel. “Ada, sayang.”

Noel menarik tubuhnya untuk duduk, tangannya melayangkan pukulan yang cukup kencang pada lengan Orion. Membuat Orion sedikit meringis dan gaduh. “Ih kan udah gue bilang, sesuai perjanjian kita kan kalau mau manggil sayang harus permisi dulu.”

“Yaudah, permisi ya Noel.” ucap Orion di sela-sela gelak tawanya. Kedua tangan Orion menarik pergelangan tangan Noel untuk kembali berbaring. Noel yang sama sekali tidak memiliki persiapan pun seketika tergeletak, kedua tangannya tersilang di atas kepalanya dengan tangan kanan Noel yang mengunci dan Orion berada di atasnya.

“Mau ngapain?” Orion tersenyum jahil dan segera melesakkan dirinya pada tubuh Noel, menenggelamkan kepalanya pada ketiak Noel. “Iyon, ampun. Geli.”

Orion tak mengindahkan ucapan Noel, kepalanya terus mengusak ketiak Noel membuat Noel bergerak tak beraturan dan meronta. Kedua kakinya terus menendang apapun itu untuk melepaskan diri dari Orion, hingga akhirnya menendang paha Orion dengan cukup keras dan membuatnya lolos.

“Gue bilang geli, anjing! Sebel ah kalau mainan ketek.” Orion tertawa penuh kemenangan karena berhasil mencoret salah satu rencananya pada daftar yang telah ia buat. “Ih ketawa lo jelek banget, sumpah!” ucap Noel dengan kesal dan memberikan tendangan kepada Orion yang berbaring di depannya.

“Yaudah sini gantian.” ucap Orion dan merentangkan tangannya, tangan kirinya menepuk sisi kanannya bermaksud meminta Noel untuk berbaring di sana. Noel kembali membaringkan tubuhnya, berada tepat di sisi yang Orion tepuk.

“Jangan ndusel ke ketek lagi, geli banget gue gak bisa.” protes Noel dan mengerucutkan bibirnya.

“Iya enggak lagi ah.” ucap Orion dan menguncupkan tangan kirinya bak mematok, meletakkannya pada bibir Noel yang sebelumnya mengerucut. “Gimana sama hari ini, El?”

“Di sekolah tadi nggak ada hal seru apa-apa. Kecuali gue tadi metik mangga, orang-orang pada olahraga gue metik mangga bareng Pak Hadi.”

“Pak Hadi siapa?” tanya Orion dan membalas tatapan Noel yang tengah mendongak berada dalam dekapannya. “Oh inget, guru Biologi yang lo bilang asik itu ya?”

“Iya!” jawab Noel dengan sumringah, merasa selama ini ia benar-benar didengarkan oleh Orion. “Kalau lo gimana sama hari ini?”

Orion berdeham bak mengawang, matanya menatap langit-langit kamar Noel. “Tadi ada yang bikin kesel.”

“Kenapa, sayang?”

“Kok lo nggak pakai permisi?”

“Lo tadi kan juga nggak pakai, dua kali malah. Biar impas!” ucap Noel dan menjulurkan lidahnya sekilas membuat Orion berdecih dan menarik pelan hidung Noel.

“Jordan. Nggak ada habis-habisnya deh, asli. Masa tadi bilang gue, Kak Isa, sama Ayah seharusnya nyusul Ibu ke rumah sakit jiwa. Terus ya, El, tadi— Eh, El, gue nggak apa-apa kan cerita?”

Noel yang sebelumnya memandang lamat-lamat wajah Orion dan memperhatikan ceritanya pun kini memberikan sentilan kecil pada bibir kekasihnya. “Kenapa harus nanya sih? Gue nggak apa-apa banget, malah ngerasa dipercaya. Bukannya salah satu alasan gue jadi pacar lo untuk dengerin setiap cerita lo dan jadi tempat lo ngeluh, ya? Masa gue doang yang boleh ngeluh, giliran lo ngeluh dikit aja gue nggak mau dengerin.”

Orion menampilan deretan giginya dan memberikan elusan pada kepala Noel. “Iya, terus kan dia bilang pasti gue masih hidup dan punya apa-apa karena Kak Isa jadi lonte. Bangsat, harusnya tadi gue tonjok mulutnya tapi keburu pada lerai.”

“Yang namanya Jordan mana sih? Besok tunjukkin ke gue, biar gue tempeleng. Tuh orang yang sakit jiwa anjing.” ucap Noel menimpali, ia melepaskan diri dari pelukan Orion dan berbalik memberikan Orion rengkuhan. Menenggelamkan Orion ke ceruk lehernya sembari tangannya terus memberikan elusan dan tepukan pada punggung Orion yang sebelumnya menegang dan menyimpan penuh amarah. “Sayang, menurut aku ya, dia sebenernya ngerasa seneng dan menang ketika lihat kamu marah jadi dia terus-terusan begitu.”

“Terus aku harus diem aja, El? Aku nggak apa-apa beneran kalau dia mau ngatain Ayah atau aku. Tapi ini dia bawa Ibu sama Kakak aku.” adu Orion dengan deru napas yang memburu.

Noel mengusap kedua alis Orion ketika melihat dahi kekasihnya disarati penuh tegang, memberikan kecupan sekilas setelahnya. “Kalau kamu nggak bisa bikin dia diem, biar kamu bikin diri kamu nggak denger. Dengerin apa yang mau kamu denger, tutup telinga kamu kalau ada yang ngomong hal nggak bener dan nyakitin kamu. Aku cuma nggak mau kamu kena skors lagi atau malah berantem dan kamu kenapa-kenapa, bukannya dengan gitu malah bikin Kak Isa sedih ya?”

Orion menghela napasnya dengan kasar dan berat, membuang semua perasaan kesal yang sebelumnya bersarang pada ulu hatinya. Orion kembali menenggelamkan wajahnya ke ceruk leher Noel, menyembunyikan dirinya dari banyaknya kejam dunia yang tiada henti memburunya. Bagi Orion, Noel dan dekapannya merupakan satu-satunya tempat ternyaman dan teraman di seluruh dunia.

Milyar-milyar, juta-juta, ratus-ratus sekian kemungkinan pasang mata di dunia, sepasang manik mata milik Orion lah satu-satunya yang mampu menjadi pusat dunia Noel sejak kali pertama pertemuan keduanya. Noel berani bersumpah bahwa saat itu gravitasi Bumi pasti akan merasa malu dan tak ternilai besarannya sebab netra Orion, netra lelaki di hadapannya itu, memiliki daya tarik lebih kuat dari apapun yang ada di Bumi.

“Hai.” sapa Noel ketika langkahnya mencapai titik henti tepat di sebelah motor Orion.

Noel ingat betul sekencang apa degupan jantungnya tempo hari saat selesai berlari sebanyak seratus kali menemani Orion yang harus menyelesaikan hukumannya. Namun Noel yakin, degupan itu tak sebanding dengan degupan yang bersarang pagi ini. Ini kali pertama bagi keduanya bertemu, bertukar pandang dan mengikis jarak yang tadinya membentang ratusan kilo meter jauhnya.

Orion yang masih terduduk di atas motornya, dengan menggunakan tangan kirinya ia merangkul panggul Noel yang berdiri tak bergeming di sebelah motornya. Dengan memberikan dorongan yang tak terasa menuntut namun menuntun, Orion berhasil membuat lelakinya memijakkan kaki semakin dekat ke arahnya. Tangan kanan Orion tergerak mendekat ke puncak kepala Noel, menyusuri helai demi helai menggunakan jemarinya dengan penuh hati-hati.

“Lupa belum nyisir, lo sih tau-tau bilang udah sampai depan!” ketus Noel dengan kekehannya yang mengikuti, punggungnya sedikit menunduk untuk memudahkan Orion terus menyisir surainya. Orion tersenyum mendengar penuturan Noel, menampilkan matanya yang menyipit dan hidungnya yang mengkerut lucu.

“Noel, jadi pacar gue ya.” ucap Orion tanpa intonasi tanya. Noel mengerutkan dahinya begitu menangkap lima kata yang dirangkai menjadi satu kalimat, dilontarkan tanpa permisi sebelumnya.

“Kan udah?” timpal Noel dan menegakkan tubuhnya, membuat Orion dihentikan secara paksa atas kegiatannya dalam menyusuri tiap helai surai Noel.

“Lagi. Setiap hari kalau perlu, biar jadiannya setiap hari.” ujar Orion dengan enteng, tangannya meraih helm yang sedari tadi terus berada dalam pelukan Noel. Memasangkannya seperti hal yang biasa ia lakukan, memastikan sudah terkunci dengan benar. Jari telunjuk Orion tergerak dan menyibak rambut Noel yang tersisa supaya tak lagi menghalangi netra lelakinya.

Noel hanya mendengus dan melayangkan pukulan kecil pada lengan Orion. Kakinya melangkah untuk lekas mendudukkan diri di atas motor tatkala Orion mulai menyalakan mesin motornya. Tanpa perlu disuruh, tanpa perlu diminta, Noel memberikan genggaman erat pada pinggang Orion sebelum akhirnya Orion mulai melajukan motornya.

Matahari masih malu-malu menampakkan dirinya, udara pun masih belum terkontaminasi zat-zat beracun sepenuhnya. Dan Noel, masih dengan senyumnya yang tak kunjung luntur semakin mengeratkan genggamannya.

“Iyon, kenapa kemarin nggak bilang kalau udah pulang? Gue malah tau dari Kak Isa.” pertanyaan yang Noel simpan rapat-rapat sejak semalaman pun berhasil ia keluarkan.

Orion semakin memperlambat laju motornya, kepalanya sedikit ia mundurkan untuk menyambangi kepala Noel yang telah sedikit maju sebelumnya. Melawan suara-suara laju kendaraan lain, juga udara yang terdengar gaduh saat diterpa.

“Tadinya mau kasih surprise tapi kemarin lo bilang lagi main sama temen-temen lo, yaudah gue pakai istirahat dulu di rumah biar lo bisa main juga sama mereka.” Noel mengangguk paham, alisnya sedikit terangkat bersarat kejut tatkala punggung tangan kirinya tersengat dingin yang disalurkan dari genggaman tangan kiri Orion.

“El, nanti pulang sekolah tungguin gue bentar ya? Gue jemput biar sekalian jalan mumpung lo nggak ada kumpul jurnalistik.” ujar Orion dengan tangannya yang terus menggenggam tangan kiri Noel, menaruhnya di atas pahanya dan sesekali memainkan jemari Noel.

“Gue lupa!” pekik Noel, kedua matanya sekilas memejam erat dan memberikan gigitan pada bibir bawahnya.

“Lupa apa?”

“Gue udah bilang sama Mo, kemarin dia nagih traktiran gitu terus gue bilang besok pulang sekolah deh mumpung nggak ada kumpul jurnalistik.” jawab Noel dengan intonasinya yang dipenuhi rasa sesal.

“Besok aja kalau gitu, gue izin basket nggak apa.” timpal Orion dan memberikan tepukan pada punggung tangan Noel sebagai sirat ’Nggak apa-apa.’ sebelum akhirnya genggaman itu ia lepaskan.

“Kenapa dilepasin?” protes Noel dan mengerucutkan bibirnya, Orion terkekeh tatkala netranya menangkap pantulan wajah Noel dengan kerucutan bibirnya pada kaca spion dan meraih tangan Noel kembali dalam genggamannya. “Nanti gue bilang Moren dulu ya. Pokoknya hari ini gue sama lo, biar besok nggak perlu izin basket. Nanti lari seratus kali lagi, jangan deh! Bisa-bisa gue balik jomblo karena lo tinggal mati kecapekan.” tawa Orion yang tak bisa Noel lihat pun dengan waktu singkat mampu menghangatkan benaknya.

“Beneran nih nggak apa-apa Mauren nya?” tanya Orion memastikan. Jika boleh jujur, sebagian besar dalam dirinya berteriak memintanya bersikap egois, mengharap untuk menjadi peringkat satu bagi Noel kali ini.

“Nggak apa-apa, Moren mah luang terus jadi besok juga nggak apa-apa.”

“Bukan masalah luang atau enggaknya, Noel. Masalahnya kan lo udah janji dulu ke Mauren.” timpal Orion memastikan sekali lagi.

“Nggak apa-apa, Iyon. Kan waktu itu juga gue janjinya sama lo dulu, malah lo nya ngalah ke Moren. Gimanapun juga lo udah jadi pacar gue, masa gue nggak ada usaha untuk jadiin lo prioritas gue sekalipun? Lagian dari kemarin nggak ketemu kan kita. Gue kalau mau ketemu Moren mah tinggal buka jendela juga bisa nengok kamarnya.” cerocos Noel yang sesekali tak terdengar nyaring pada telinga Orion sebab kendaraan-kendaraan yang terus berlalu-lalang pun mendahului dan melontarkan klakson.

“Apa?”

“Dih rese banget anjing nih yang klakson-klakson, nggak tau apa orang lagi pacaran.” pekik Noel dan mendengus.

“Lagi apa, El?”

“Pacaran anjing lo jangan ikutan rese!”

Orion hanya tertawa, tangan kirinya yang masih menggenggam tangan Noel pun menyimpan tangan Noel pada saku hoodie nya. Meningkatkan laju motornya dan mengikis waktu serta jarak untuk segera sampai tujuan. Detik berikutnya hanya presensi satu sama lain lah yang menjadi teman di atas motor. Tanpa obrolan namun penuh dengan sorak-sorai yang terasa penuh kehangatan, bersarang dan merengkuh satu titik pada sukma masing-masing.

Hal lain yang ingin Noel jelajahi selain hutan Amazon adalah belukar pikir lelaki yang wajahnya terpampang jelas pada layar laptopnya. Benar, pembendaharaan kata yang Noel miliki masih terbilang miskin yang tentunya masih belum mampu mengurai sungai benak Orion yang beranak pinak. Sudah terhitung lebih dari lima menit keduanya hanya bertukar tatap melalui layar laptop, mengikis jarak sesungguhnya yang terpaut berkilo-kilo meter jauhnya untuk merasa tetap dekat dan didekap.

“Hai, Noel!” sapa Orion yang terdengar sedikit canggung, membuat Noel sedikit berdecih dan membalas sapaan Orion dengan intonasi mengejek. Orion terkekeh mendengar Noel yang mendengus, memberikan ejekan kepadanya. “Kenalin, nama gue Iyon.”

Noel seketika masuk dalam permainan Orion, menegakkan duduknya dan mengulurkan tangan kanannya ke arah kamera. “Kenalin, nama gue Noel.” Memang betul aneh namun tetap dilakukan, kini Orion mengulurkan tangan kanannya bermaksud menjabat tangan yang ada di balik layar laptopnya.

“Ini apa sih? Ceritanya kita reka ulang adegan virtual blind date kemarin, gitu?” tanya Noel akan makna yang ada di balik semua ketiba-tibaan yang Orion lakukan.

Orion mengedikkan bahunya singkat, tangannya bersedekap dan netranya menelisik pahatan demi pahatan profil wajah penuh sarat kebingungan Noel yang membuatnya kepalang gemas. Kaki Orion di bawah sana bahkan saling terbentur, menekuk buku-buku kakinya dan tergerak tak beraturan untuk mengurangi rasa aneh yang membuncah pada dadanya.

“Kita bahas dari topik pertama dulu ya, Noel.” ujar Orion dan menatap layar ponselnya, Noel yang tak tahu maksud apa yang Orion tuju hanya terdiam dan memandangi dengan penasaran. “Oke, jadi di sini telah disebutkan bahwa saudara Noel sudah melakukan rekonsiliasi dengan saudari Mauren. Itu gimana ceritanya?”

Noel menggigit bibir bawahnya berusaha menyembunyikan senyumannya yang seakan tak tahu malu terus mengembang. “Jadi setelah gue matiin telepon lo itu, tiba-tiba Mauren nge-chat gue, kan. Yaudah kita bahas panjang lebar. Lo tau nggak? Gue berani bilang apa yang gue nggak suka tentang Mauren tempo hari.” jelas Noel dengan intonasi yang terus berubah sehingga membuat satu-satunya audiensi itu terasa masuk ke dalam ceritanya. Orion memberikan tepuk tangan singkat sebagai bentuk apresiasi atas keberanian yang Noel ceritakan.

“Berarti udah nih, nggak marah-marahan lagi?” tanya Orion meyakinkan, membuat Noel mengangguk dengan semangat dan menampilkan deretan giginya. “Nah, emang harus begitu, Noel. Lo keren! Terus, topik kedua adalah sepeda. Gimana kaki lo sekarang?”

Noel sedikit memundurkan kursinya, mengangkat kakinya dan mendekatkan ke arah kamera sehingga menampilkan kakinya yang masih terlihat memar dan bengkak pada displai laptop. Membuat Orion di seberang sana meringis, takut jikalau Noel tiba-tiba merasa nyeri dan lain hal. “Enggak sesakit kemarin, tapi kalau kesentuh ya sakit.”

“Yaudah berarti sepedaannya kita masukin ke to do list bagian bawah-bawah aja, ya.” ucap Orion dan mendapat anggukan dari Noel. “Nah, gimana sama harta karun lo?”

Noel tampak sumringah, tangannya tampak memberi postur untuk meminta Orion menunggu di seberang sana. Noel sedikit membungkukkan tubuhnya untuk melewati laptop, berniat meraih stoples penuh dengan kelereng-kelereng kecil yang sudah ia cuci sore tadi. “Ini! Banyak kan, Yon?”

Orion tersenyum dan mengangguk. “Kapan-kapan kita adu kelereng, ya, El. Tunggu gue pulang. Pokoknya semua yang mau lo lakuin bareng, tunggu gue pulang. Gue bakal cepet pulang dan ngelakuin semua hal yang pengen lo lakuin. Nih, bahkan gue catet biar enggak lupa.” ujar Orion dan menunjukkan catatan pada layar ponselnya, membuat mata Noel terlihat semakin berbinar dan senyumnya yang terus merekah tidak lagi berusaha ia sembunyikan.

“Terus, apa lagi?” tanya Noel dengan penuh penasaran, menunggu pembahasan apa lagi yang akan Orion bawa ke dalam obrolan keduanya.

Orion menarik napasnya dengan serakah dan dalam tarikan yang panjang, mengisi rongga udara pada dadanya dengan penuh dan menghembuskannya. Melakukannya berulang kali dan membuat Noel tertawa renyah di seberang sana. “Ini jawaban dari pertanyaan lo tadi, gue masih bernapas. Makasih udah ngewakilin jawab tadi.” Noel semakin tertawa mengingat pesan-pesan aneh yang telah ia kirimkan sebelumnya ke Orion, dan Orion menjawabnya satu persatu secara runtut.

“Habis itu? Udah?”

Orion menggeleng dengan cepat sebelum akhirnya ia berdeham panjang dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Ada yang mau gue omongin.”

“Apa?” tanya Noel dan mengangkat kedua alisnya, senyumnya masih setia menemaninya membuat Orion semakin gugup dengan debaran jantungnya yang tak mampu dikontrol untuk lebih tenang.

“Ayo.”

“Ayo apa? Ke mana?” Noel menukikkan alisnya, membuat kerutan pada dahinya penuh sarat pertanyaan.

“Pacaran. Lo sama gue.”

Noel tersedak ludahnya sendiri, terbatuk-batuk setelahnya. Seluruh organnya terasa malfungsi, tak mampu mencerna apa yang ia dengar barusan. “El? Gapapa?”

“Lo gak lihat gue batuk?” tanya Noel ketus di sela-sela batuknya, Orion hanya tertawa dan menyuruhnya untuk segera minum.

“Jadi?”

“Kok mendadak? Nggak diskusi dulu ke gue?” tanya Noel yang kini sudah jauh lebih mampu mengendalikan dirinya. Giginya terus-terusan menggigit bibir bagian dalamnya, sesekali tangannya mengusap rambutnya dengan tak berpola, kedua matanya berusaha melihat manapun selain ke arah kamera dan sosok Orion pada layar laptopnya.

Orion mengangkat alisnya bingung. “Ya masa gue ngajakin lo diskusi dulu? Gue mau nembak lo, bukan ngajakin lo bisnis.”

“Beneran nggak sih?” badan Orion terlempar ke belakang, kedua tangannya menangkup wajahnya, menyembunyikan senyum dan tawanya di balik sana. “Lo mah bercanda!”

Orion menggeleng dengan cepat, kini matanya menatap lamat-lamat wajah Noel pada layar laptopnya. “Beneran, gue serius. Tapi emang gue gak tau gimana ngomongnya dan apa yang harus gue omongin ke lo selain kalimat tadi. Jadi itu, paket yang tadi, gue harap lo paham sama semua yang ada di sana.”

“Emang isinya apa?”

“Nanti dibuka.” ujar Orion dengan intonasi yang pelan dan menenangkan, tak melupakan senyumannya. “Lo mau jawab sekarang atau minta waktu dulu ke gue?”

“Iya, mau.” Noel meletakkan kedua tangannya pada meja, menenggelamkan wajahnya di sana dan menyembunyikan sepaket senyum dan degupan jantungnya yang terus memburu. Takut jika ada satu orangpun yang akan melihat dan mendengarnya. “Gue gak mau minta waktu buat mikir, maunya peluk aja, Iyon.” sambung Noel yang kini sudah berani mengeluarkan separuh wajahnya, terlihat mengintip.

Orion yang mendengar itu hanya tersenyum dan memajukan tubuhnya, mendekap laptopnya beberapa detik lamanya sebagai penyaluran rasa sorak-sorai atas kemenangannya. “Peluk benerannya tunggu ya, El.”

Bersama senyuman dan tawa yang keduanya kirim malam ini, kini telah menjadi bertumpuk rasa ingin bertemu dan sekarung rindu yang sudah dipastikan tiba dengan selamat di sepetak ruang dalam benak keduanya.

Baik Orion maupun Noel, dengan seluruh sisa kewarasannya saat itu mampu menyimpulkan bahwa sosok yang menjadi alasannya tersenyum saat ini merupakan wujud dari segala hal membahagiakan dan menenangkan di seluruh alam semesta dan isinya. Baik Orion maupun Noel, keduanya merasa cukup. Keduanya telah menemukan aksara masing-masing, untuk saling mengisi paragraf-paragraf yang rumpang dan menjadi pelengkap dari apa yang kurang.

Menjelang mentari di batas cakrawala, dengan punggungnya yang memikul beban penuh jauh-jauh dari Jakarta, Nahel menyibakkan poninya yang diterpa angin Ubud. Setelah seharian penuh kedua kakinya yang dibalut sepatu membawanya ke sana dan ke mari tak bertujuan, kini langkahnya dengan sengaja berhenti di depan sebuah studio tato dengan berbagai macam gambar unik yang terpampang pada displainya.

Nahel memindai dari ujung atas ke ujung bawah, ke ujung kiri hingga kanan, menyapu tiap inci bagunan di hadapannya. Pipinya sedikit menggembung, menandakan ia tengah berpikir keras kala itu. Hingga napasnya terhembus dengan sedikit tekanan, bertepatan dengan kakinya yang melangkah masuk melewati pintu kaca yang telah didorongnya.

“Sore, Bli! Ada yang bisa saya bantu?” sapa seorang lelaki dengan beberapa tato yang tercetak pada lengannya, senyumnya yang mengembang dalam pijakan kakinya di balik etalase menimbulkan kesan ramah.

“Ini tutup jam delapan ya? Kalau mau pasang tato sekarang, keburu nggak ya, Bli?” tanya Nahel, tangannya ia letakkan di atas etalase kaca yang menampilkan banyak contoh gambar. Netranya menelisik ke dalam etalase, mencari-cari jikalau ada yang tepat sesuai dengan inginnya.

Lelaki di seberangnya berdeham panjang, netranya mengikuti ke arah mana Nahel menelisik. “Bisa sih, asal enggak begitu ribet aja.” Nahel hanya mengangguk dan terus menyusur gambar-gambar yang terpampang di dalam etalase. “Atau mungkin Bli punya contoh dan desain sendiri?”

Nahel menggeleng pelan. “Enggak ada, sih. Karena emang impulsif aja tau-tau pengen pasang tato.” timpalnya diakhiri dengan kekehan.

Lelaki yang menjadi lawan bicara Nahel hanya ber-oh-ria sembari menukik alisnya. “Enggak akan nyesel tuh kalau tiba-tiba pasang tato?”

Harel memainkan lidahnya pada sudut bibirnya, memberikan gigitan kecil pada bagian dalam dan sapuan singkat pada tepi bibirnya. “Enggak?” ucap Nahel sebagai jawaban namun ia sendiri juga sedikit bertanya dan memastikan kepada dirinya sendiri. “Mau bikin kecil aja sih, Bli. Di bawah selangka kiri.” lanjut Nahel dengan tangan kanannya yang menepuk pelan daerah yang dimaksud.

“Sebentar ya, Bli.” ujar lelaki itu dan meninggalkan Nahel yang hanya mengacungkan jempolnya. Kakinya melangkah mendekati tiap-tiap gambar yang sengaja dipasang pada tembok.

“Je, tuh.” Nahel menoleh ketika kembali mendengar suara lelaki yang sebelumnya berdiri di balik etalase kaca, matanya nyalang dan lidahnya terasa kelu tatlaka menjumpai lelaki yang menjadi salah satu alasan dalam pikulan bebannya ketika menjejakkan diri di tanah Ubud.

“Na?”

“Je?”

Seorang lelaki yang sebelumnya berjaga itupun bergegas menyingkirkan dirinya dan memberikan ruang bagi keduanya ketika seseorang yang bernama ‘Je’ tersebut sedikit mendelik ke arahnya dengan bibirnya yang tergerak mengucap ‘mantan’ tanpa suara.

“Lucu banget, sumpah. Dari banyaknya studio tato dan dari luasnya Ubud, kenapa gue ketemunya sama lo?” ucap Nahel dengan intonasi remeh, ia menundukkan kepalanya dan membubuhi dengan gelengan.

Tanpa dipinta dan tanpa direncana, langkah kakinya yang dipenuhi dengan rasa impulsif membuatnya harus bersarang di sebuah studio tato kecil dengan Jericho di dalamnya; Jericho, lelaki yang sempat menempati ruang dalam hatinya sebelum akhirnya ia harus menerima perjodohan demi menyelamatkan perusahaan kedua orang tuanya serta karirnya. Bahkan kalau Nahel diperbolehkan untuk jujur kepada dunia dan seluruh isinya, ia ingin berteriak dengan lantang dan mengumumkan bahwa lelaki penyandang nama Jericho tersebut masih dan akan selalu memiliki ruang tersendiri di dalam benaknya.

Jericho hanya tertawa dan menyandarkan dirinya pada etalase, meletakkan kedua tangannya di atas etalase dan menjadikannya sebagai tumpuan kepalanya. “Jodoh mungkin, Na. Emang udah jalannya kali lo sama gue.” goda Jericho yang berhasil membuat Nahel berdecih. “Mau pasang tato? Kenapa? Dulu katanya nggak akan mau.”

Nahel mengedikkan bahunya. “Ya suka-suka gue, kan badan gue.”

“Nggak dimarahin sama calon istri lo?” tanya Jericho dengan penekanan pada kata ‘istri’ membuat Nahel memutar bola matanya malas. “Lo ke sini sama siapa? Sendiri atau sama Gista?”

“Sendiri.”

“Tumben bokap lo ngebolehin?”

Nahel turut meletakkan tangannya di atas etalase, membuatnya berhadapan dengan Jericho. “Nggak izin, langsung cabut.”

“Kenapa dulu nggak cabut juga? Waktu pacaran sama gue, kenapa lo nggak berani untuk kabur bareng gue ke sini?” Nahel hanya terdiam dan menggembungkan pipinya, matanya menelisik tiap inci tubuh lelaki di hadapannya yang sudah lama tidak ia jumpai. Rasanya, sebagian besar dalam dirinya ingin menembus etalase yang menjadi penghalang dan merengkuh Jericho ke dalam pelukannya. Mengusap tato yang masih bertengger di atas selangkanya dengan bertuliskan ‘Nahel’ dan mengecupnya sebelum akhirnya mempertemukan bibirnya dengan bibir milik Jericho yang terlampau ia rindukan.

“Gue waktu itu belum seberani sekarang, Je.”

“Sekarang udah berani kalau gue minta lo tinggal aja di sini sama gue?”

Nahel terkekeh mendengar pertanyaan tidak masuk akal yang dilontarkan oleh Jericho. “Nggak juga.”

Tangan kanan Jericho terulur untuk menyusuri profil wajah Nahel menggunakan jarinya. “Lo tuh emang dasarnya nggak mau ya perjuangin kita?” Nahel berdecih dan menepis tangan Jericho.

Tidak mengindahkan tepisan yang sebelumnya Nahel berikan, Jericho bergegas menarik pergelangan tangan Nahel dan menggenggamnya dengar erat hingga membuat Nahel sedikit meringis menahan panas pada pergelangan tangannya. “Gue sayang banget sama lo, Nahel.”

“Kalau lo sayang gue, lo nggak akan nyakitin gue gini, Je.” ucap Nahel sebagai jawab dengan mengangkat pergelangan tangannya yang masih digenggam terlampau erat oleh Jericho. Kini perlahan genggaman itu mulai melemah, berubah menjadi usapan-usapan dengan maksud salur akan perasaan.

Setelahnya tidak ada obrolan lain selain Jericho yang menanyakan beberapa hal sebelum akhirnya memulai proses pembuatan tato pada salah satu titik di tubuh Nahel, berusaha untuk tetap bersikap profesional atas pekerjaannya.

Setelah usai dengan tugasnya untuk menyemayamkan guratan tato di atas tubuh Nahel, Jericho dengan seluruh keberaniannya yang ia dapatkan dari alat-alat pada genggamannya memberanikan diri untuk menarik Nahel ke dalam pelukan terakhir keduanya. Tidak lama setelahnya, Jericho membisikan kalimat sebagai pengungkap rasa sayangnya untuk terakhir kalinya, yang sialnya membuat Nahel tercekat dan berakhir tidak membalas apa-apa kecuali sebuah anggukan kecil.

Kerikil di halaman rumah Noel berderak ketika langkah kaki Orion memijaknya, mengusak mereka untuk bergegas membetulkan beberapa pot bunga yang ambruk. Setelah pot-pot dengan bunga yang melambai di atasnya tersusun kembali dengan rapi, Orion berdiri dengan kedua tangan menenteng dan memindai dari ujung ke ujung memastikan tidak ada pot yang tergeletak tak berdaya.

Sapaan hangat dari Bunda Noel bergegas menyelimuti sukma Orion tatkala ia menginjakkan kakinya di ruang makan. Bunda dengan dasternya yang terlihat elegan dan rambut panjangnya yang sengaja diikat lekas menarik salah satu kursi yang tertata, menitah Orion untuk turut mendudukkan dirinya. Tidak ada yang bersuara baik Bunda, Noel, pun Orion. Hanya suara dentingan yang ditimbulkan piring dan sendok yang terus beradu, cukup menggambarkan betapa khusyunya mereka dengan hidangan yang telah Bunda siapkan.

Setelah rampung dengan acara makan malam, kini Orion kembali melesakkan dirinya ke dalam bilik kamar Noel. Ini baru kali keduanya menjejakkan kaki di ruangan ini namun sudah terasa familier, mengenai kebiasaan Noel yang selalu meletakkan tas sekolahnya dengan sembarang pada pojok meja belajar atau kunci motor yang akan selalu Noel gantungkan pada sudut wajah meja belajarnya.

Noel memungut buku-bukunya yang berserakan di kasur dan meletakkannya di atas nakas samping kasurnya.

“Udah selesai ngerjainnya?” Noel mengangguk dan membaringkan tubuhnya dengan kedua kakinya yang masih terjuntai di lantai, tangannya berulang kali menekuk jari-jarinya secara bergantian membuat bunyi. “Habis makan tuh jangan tiduran dulu, El.”

Noel hanya terkekeh dan menganggap teguran Orion sebagai angin lalu, sama sekali tak mengindahkannya. Orion hanya menggeleng pelan dan mendudukkan diri di antara kedua kaki Noel. Noel dengan perlahan mendudukkan dirinya, tangannya mengusap surai Orion dengan penuh kehati-hatian yang bersarat perhatian. Orion menyandarkan punggungnya pada bagian dalam kaki kiri Noel, kepalanya ia letakkan pada paha Noel.

Netra keduanya bertemu tatkala Orion mendongak sedang Noel menundukkan wajahnya masih dengan kegiatan baru yang menjadi favoritnya; mengusap rambut Orion dengan gerakan konstan. “Gimana sama hari ini, Iyon?”

Orion dengan susah payah menahan nyawanya agar tak keluar dari raganya saat itu juga, memandang wajah Noel yang kini tengah tersenyum dengan hangat dari bawah sini merupakan salah satu hal baru yang langsung dapat ia masukkan ke dalam daftar kesukaannya. “Nggak gimana-gimana, semuanya baik-baik aja.”

“Nggak ada yang bikin kesel, kan?”

“Sebenernya ada, tapi bukan hari ini.”

Noel mengangkat kedua alisnya melambangkan sarat pertanyaan. “Terus kapan?”

Orion memejamkan matanya, kepalanya masih merasakan usapan-usapan pelan dari tangan Noel. Ia pun berdeham panjang, seolah berusaha mengingat. “Semalem?”

Noel memasang wajah ibanya. “Kenapa?”

“Nggak jadi ke sini semalem. Terus gue cemburu, sama Mauren.” adunya diakhiri dengan kerucutan kecil pada bibirnya yang sebetulnya Orion pun tak menyadari akan hal itu. Satu lagi, satu lagi sifat Orion yang tak pernah Noel lihat sebelumnya kini berhasil ia jumpai.

Noel menggigit bibir bagian dalamnya, menyalurkan kegemasannya atas Orion. “Oh? Jadi semalem cemburu ke Mauren?”

Orion mengedikkan bahunya, kedua tangannya pun bersedekap di depan dadanya. “Nggak tau.”

Noel hanya membungkukkan badannya, kedua tangannya kini merengkuh tubuh Orion dan memeluknya dengan erat. Tangan kanannya ia gerakkan menyusur punggung Orion dengan gerakan yang konstan, sesekali memberikan tepukan pelan.

“Maaf ya, Iyon.” ujar Noel dan bergegas ingin melepaskan rengkuhannya namun tangannya merasa ditahan.

Orion menggeleng dengan singkat. “Nanti dulu dilepasnya. Masa cuma tiga kali peluk, sekalinya peluk sebentar banget.”

Noel memberikan pukulan yang terbilang cukup kencang pada pundak Orion, membuat yang dipukul gaduh. “Kok dipukul?”

“Pegel, anjing!” Orion pun hanya terkekeh bersamaan dengan Noel yang melepaskan pelukannya pada Orion. Kini Noel kembali terbaring di atas kasurnya, tangannya bersedekap di depan dada dengan matanya yang nyalang mengamati tiap inci dari langit-langit kamarnya.

“Kalau lo gimana sama hari ini?” tanya Orion, ia kini turut membaringkan tubuhnya pada kasur Noel dengan kedua kakinya yang sama menjuntai. Tangan kiri Orion ia lesakkan dengan paksa pada belakang leher Noel, menjadikannya bantalan.

Noel menghembuskan napasnya dengan berat, ia memposisikan tubuhnya dengan miring membuat wajah keduanya berhadapan dalam jarak yang teramat dekat. “Capek, hari ini super nguras tenaga.”

Orion berdeham dengan intonasi tanyanya, mempersilahkan Noel untuk bercerita mengenai hariny yang terasa cukup berat dan melelahkan. “Gue kan hari ini ada ulangan, ya. Udah belajar sih, tapi ini gurunya tuh rese banget, Iyon! Jadi harus belajar ulang karena kata kelas sebelah ujiannya sampai BAB yang bahkan belum pernah dipelajarin.”

Tangan kanan Orion tergerak untuk mengusap kepala Noel, jemarinya menata surai Noel dengan perlahan menyisirnya. “Tapi bisa, kan?” Noel hanya mengangguk sebagai jawab. “Itu pinter.” ucap Orion dan membubuhkan senyumnya yang mengembang, membuat Noel merasa satu bebannya hari ini lenyap begitu saja.

“Nah, terus nih, tiba-tiba tadi Mauren ngajakin gue cabut. Ya gue mau aja, Yon. Cuma karena emang lagi ada ujian masa gue cabut gitu aja? Sekolah gue keteteran dong kalau gue nya begitu.”

Orion diam menyimak, tangannya masih terus menyisir surai Noel. “Yaudah gue tolak aja. Keren kan gue, bisa nolak?” Orion memberikan anggukan sebagai jawaban, tangan kanannya juga memberikan tepukan pelan pada kepala Noel sebagai sirat atas setujunya.

“Nah, gue kira tuh dia bakal ngerti, Yon. Tapi ternyata enggak. Ya gimanapun dia hari ini pasti kacau banget, ya? Gue tau banget gimana dia selama ini bertahan mati-matian. Jadi tadi sempet ribut juga sama Moren, dia juga bilang ke gue kalau mau ngobrolin ini besok-besok aja setelah dia ngerasa baikan dan gue lebih bisa nata emosi gue.”

Orion berdeham panjang, mencari kalimat yang tepat sebagai respons atas segala hal yang Noel adukan. “Lo keren, tadi tetep bisa ngerjain ujian walau baru tau materinya mendadak.”

Noel menatap profil wajah Orion lamat-lamat sembari mendengarkan tiap tutur kata yang akan lelaki itu lontarkan. “Lo juga keren, udah berani bilang enggak dan mendahulukan diri lo sendiri. Emang harusnya begitu, Noel. Kayak yang udah gue bilang tadi, lo jangan sampai jahat ke diri lo sendiri demi jadi baik untuk orang lain. Setiap orang itu punya kehidupan masing-masing, El.”

Noel mengangguk kecil, tangan kirinya terulur untuk menyingkirkan poni Orion yang mulai panjang hingga mengenai matanya. “Terus, El, Kakak gue pernah bilang kalau setiap orang itu nggak boleh menggantungkan apapun ke orang lain. Sekalipun itu ke pasangan lo, jangan pernah lo bergantung sama orang. Apalagi lo menggantungkan kebahagiaan lo di dia.”

“Kenapa?”

“El, kebahagiaan itu lo sendiri yang buat dan lo yang ciptain. Bukan apa yang lo gantungkan ke kehidupan orang lain. Mereka gak punya tanggung jawab untuk bikin lo selalu bahagia. Begitu juga Mauren ke lo, Noel. Jadi lo jangan merasa seolah-olah lo gagal jadi temen yang baik buat Mauren karena lo gak bisa nemenin dia hari ini. Lo udah jauh dari kata cukup untuk Mauren, mestinya Mauren tau itu.”

“Tapi Moren tadi lagi kacau banget, Iyon.”

Orion menarik senyum simpulnya. “Bukan berarti dia bisa seenaknya sama kehidupan lo, kan?” Noel mengangguk dan menggembungkan pipinya sebagai jawaban.

“Noel, yang punya diri lo tuh ya lo sendiri bukan orang lain. Jadi jangan mengklaim diri lo sebagai Noel nya Mauren atau Noel nya siapapun, nanti bikin lo terbebani dan merasa seolah-olah lo nggak bisa memenuhi klaim atas diri lo sendiri itu ketika lo nggak bisa ada buat dia.”

Noel tak memberikan jawaban apapun, otaknya sibuk bekerja untuk mencerna tiap frasa yang Orion tuturkan untuk dirinya. Kini Noel melesakkan tubuhnya ke dalam dada Orion, menyembunyikan wajahnya di sana dengan tangan kirinya yang sudah melingkari tubuh Orion untuk mendekapnya erat-erat.

Sedang Orion melakukan hal yang sama, lengan kanannya kini telah membungkus tubuh Noel yang sudah berada penuh dalam rengkuhannya. Dagunya ia tumpangkan pada puncak kepala Noel, pipinya sesekali ia usapkan di sana.

“Iyon, wangi lo juga enak. Gue suka wangi lo.” ucap Noel yang masih menenggelamkan wajahnya pada tubuh Orion, menghasilkan efek getaran kecil bagi Orion yang terasa menggelikan.

“Kita tukeran baju aja apa, El? Gue suka wangi lo, lo suka wangi gue.”

Noel mendongak. “Kenapa harus tukeran baju kalau gue aja bisa meluk lo terus tiap pengen cium wangi lo?”

Orion terkekeh. “Emang gue mau dipeluk lo terus?”

“Ya masa enggak, sih?” tanya Noel dengan penuh kepercaya dirian. Wajahnya ia letakkan pada dada Orion dengan posisi menyamping, telinganya mampu mendengar dan merasakan detakan jantung Orion yang memburu. Membuatnya susah payah menyembunyikan senyuman itu dari dunia, membuat semua benda di dalam kamarnya yang tengah menjadi saksi bisu merasa tak berharga dan tak dianggap eksistensinya.

Noel dalam diamnya merasa menemukan Orion bak harta paling berharga, menyemai bibit bahagia di dunia dengan penuh harap nantinya ia tumbuh menjadi bunga nan cantik jelita.

Pintu pagar yang berkarat pun mengeluarkan bunyi derit tatkala dibuka, kedua kaki jenjang Noel membawanya menyeruak masuk dan membuat sebagian nyawa di sana terinterupsi akan presensinya. Tak peduli dengan tatapan penuh sarat kebingungan dan interogasi yang dilemparkan ke arahnya, Noel lebih memilih untuk mengedarkan pandangannya, mencari-cari seorang lelaki yang menjadi tujuannya menginjakkan kaki di tempat ini untuk pertama kalinya.

Seperti ada yang menarik, kedua sudut bibir Noel tergerak ke atas ketika matanya menangkap seorang lelaki yang tengah berlari ke arahnya setelah memberikan lambaian tangan singkatnya ke arah seorang lelaki yang lebih tua bermaksud sebagai izin untuk mendekat ke arah Noel.

“Kok di sini?” tanya Orion, ketika kakinya telah mencapai garis tepi lapangan tepat di hadapan Noel.

Alih-alih menjawab, Noel justru mengedarkan pandangannya. Memindai tiap inci lapangan basket yang jauh lebih terawat dibandingkan milik sekolahnya. “Ini kalau lari sprint biasanya dari sini ke ujung sana ya?” tanya Noel, jari telunjuknya menunjuk garis putih sebagai tepi lapangan di seberang sana. “Gih sana lanjut latihan.”

“Lah lo ngapain di sini, Noel?”

“Mau lari.” jawab Noel sekenanya, ia meletakkan tas ransel yang sedari tadi tergantung malas pada pundak kanannya. “Tadi lo udah ngerjain artikel gue, sekarang biar gue ngerasain lari kayak lo.”

“Heh janga-“

Belum selesai Orion mengucapkan kalimatnya, Noel sudah terlebih dahulu lari meninggalkannya dengan kecepatan yang penuh. Turut bergabung bersama beberapa orang timnya yang sedang melakukan pemanasan. Semua mata yang tertuju kepada Orion melemparkan tanda tanya, Orion hanya mampu mengedikkan bahunya dan menggeleng terheran sebelum akhirnya turut bergabung untuk melanjutkan larinya yang sempat terhenti.

Setelah pemanasan selesai kini semuanya tengah berlatih, meninggalkan Orion yang masih harus menyelesaikan hukumannya juga ada Noel yang berlari beriringan dengannya. “Gak usah diselesaiin sampai seratus, Noel. Lo duduk aja.” teriak Orion dengan lantang ketika merasa laju lari Noel mulai melambat sedang keduanya masih belum mendekati angka seratus.

“Gak, gue bisa.” timpal Noel yang lagi-lagi menimbulkan gelengan heran Orion.

Sore itu Orion lagi-lagi dihadapkan oleh sosok Noel dengan segala caranya yang tidak pernah terpikirkan oleh Orion, Noel dengan segala keberaniannya yang tidak pernah terbayangkan oleh Orion.

Ini kali pertama bagi Noel merasakan lari sprint sebanyak seratus kali, dan lagi-lagi kali berikutnya bagi Noel melakukan hal yang sebelumnya tidak ia butuhkan namun sekarang ia merasa harus. Hanya karena Orion. Setelah menyelesaikan seratus kali larinya, Noel kini tengah terduduk di luar tepi garis lapangan basket. Terus-terusan mengatur napasnya dan detak jantungnya yang terasa memburu. Mengawasi Orion yang kini tengah bergabung untuk berlatih bersama teman-teman satu timnya. Bagi Noel, Orion dan segala kekuatannya sore itu telah menyitas seluruh benaknya.

Noel mengetuk ponselnya yang berada pada genggaman tangan kirinya dengan irama yang konstan, sepasang matanya tidak terlepas barang sedetik pun dari bola basket yang terus menerus dioper kesana dan kemari. Diperebutkan dan diinginkan, dua kata yang tepat untuk mendeskripsikan bola basket tersebut. Noel tenggelam dalam pandangan lamat-lamatnya yang ia lemparkan ke bola basket yang kini menyita seluruh atensinya. Orion tahu bahwa Noel tidak memiliki pengetahuan apa-apa mengenai basket. Satu-satunya yang Noel ketahui hanya jika bola tersebut berhasil lolos menyeruak keranjang milik tim lawan membuatnya mendapatkan poin. Namun sepanjang permainan berlangsung, Noel menjadi satu-satunya orang paling antusias dengan memberikan respons terbaik yang mampu ia ekspresikan.

Lagi-lagi, sore itu, Noel dengan segala hal sederhana namun penuh sarat makna yang melekat pada dirinya, membuat Orion semakin menjatuhkan diri sejatuh-jatuhnya kepada Noel.

***

Orion yang terlampau hangat, Orion yang terlampau peduli, dan Orion yang terlampau mengerti. Tiga deskripsi singkat yang mampu Noel tujukan kepada Orion yang terduduk di depannya, di atas motor kesayangan milik Orion yang acap kali ia elu-elukan.

Entah Orion yang akan memasangkan helm pada kepalanya, menyelipkan rambut Noel yang sudah mulai panjang hampir menutupi matanya, dan Orion yang selalu membetulkan rambut Noel saat tiba di tempat tujuan mereka dan menggunakan jemarinya yang akan menyisir pelan helai demi helai rambut hitam kecoklatan milik Noel.

Entah Orion yang selalu menaruh tangan kirinya pada sisi kiri kaki Noel yang bertengger pada pijakan motor ketika menunggu lampu merah. Sedikit memiringkan kepalanya sehingga mampu mendengar lebih jelas apa yang sedang Noel ceritakan atau sekedar pertanyaan yang tidak sepenting itu untuk segera dijawab.

“Capek enggak habis lari?” tanya Orion yang mulai melambatkan laju motornya saat jalanan sudah tak terlalu sarat, kepalanya sedikit miring supaya mampu menjangkau suara Noel di belakangnya.

Noel turut sedikit menundukkan kepala dan punggungnya, mensejajarkan kepalanya dengan milik Orion. “Kalau gue bilang enggak, bohong banget, nggak sih?” jawab Noel menimbulkan gelak tawa dari balik kaca helm Orion.

“Ini mampir beli es batu dulu ya, buat kompres kaki lo biar enggak begitu pegel-pegel atau sakit.” ucap Orion, tangan kirinya meraih tangan kiri Noel yang sebelumnya memberikan pegangan kecil pada jaket Orion. Memainkan jemari Noel di sepanjang perjalanan pulang menuju rumah Noel menggunakan tangan kirinya dan semakin memperlambat laju motornya, berniat mengulur waktu yang semakin terkikis seiring dengan roda-roda motornya berputar.

Segalanya mengenai Orion dengan berbagai macam tingkahnya yang membuat Noel merasa penuh dan butuh.

Matahari bersinar dengan sangat terik, memancarkan gravitasi yang lebih besar dari biasanya dan saling tarik menarik dengan gravitasi Bumi. Membuat permukaan laut lebih tinggi dan ombak lebih besar, menjadikan laut pasang. Namun siapa peduli dengan laut pasang jika terdapat ombak yang lebih besar riuh pada dada Noel yang kini tengah duduk berhadapan dengan Orion yang baru saja melesakkan presensinya di warung Ijo depan sekolahnya.

“Kok lo beneran nyamperin gue, sih?” todong Noel secara tiba-tiba, tidak membiarkan Orion mengambil napasnya terlebih dahulu.

Sedang Orion mengedikkan bahunya, tangannya mengambil alih gelas yang menyisakan setengah es kopi di dalamnya. Menyeruputnya tanpa permisi. “Katanya lo bete? Yaudah, gue ke sini aja.”

Noel menghela napasnya dengan gusar, memberikan tatapan tajamnya kepada Orion yang tengah mengunyah potongan-potongan es batu yang sesekali membuatnya meringis kedinginan ke arah Noel. “Jadi, sekarang lo mau ngajak gue ke mana?” tanya Orion, tangannya mengembalikan gelas ke depan sang empunya.

Noel berdeham cukup panjang, memikirkan tempat mana yang akan menampung keduanya siang itu. “Rumah gue?”

Kedua mata Orion menyalang. “Gila! Nanti kena omel orang tua lo gimana?”

“Enggak. Ayah gue lagi kerja, Bunda gue baik.” ucap Noel dan segera menghabiskan sisa es kopi pada gelasnya. “Yuk?”

“Lo nggak mau nanya dulu?” tanya Orion, tangannya menggenggam pergelangan tangan Noel berniat mencegahnya untuk meninggalkan tempat itu sekarang juga sebab Noel kini telah berdiri dari duduknya.

Kedua alis Noel terangkat, menyaratkan tanda tanya yang tercetak jelas pada wajahnya. “Nanya apa?”

“Ini.” tunjuk Orion pada pelipisnya dan sudut bibirnya secara bergantian. Menampilkan goresan yang Noel yakini dalam hati merupakan bekas dari pertengkarannya beberapa waktu lalu, seperti yang telah dibicarakan oleh Mauren.

“Enggak. Gue akan sangat senang dan menghargai itu kalau lo mau cerita, tapi kalau enggak ya nggak apa-apa juga. Gue bakal diem dan tetep ngehargain lo. Yang penting lo tau, gue di sini.” jawab Noel sebelum akhirnya meninggalkan Orion yang hanya mengangguk pelan dan mulai membuntuti Noel yang telah berjalan terlebih dahulu.

Noel berdiri tepat di samping motornya, sempat mengancingkan jaketnya sebelum akhirnya mendudukkan dirinya di atas motornya. Tangannya meraih helm yang sebelumnya sudah bertengger di spionnya, memakaikan ke kepalanya.

“Ini, sampai bunyi klik, Noel. Bandel banget dibilang.” ucap Orion yang sedari tadi mengamati Noel di sampingnya, tangannya terulur untuk mengunci helm Noel dan memastikannya telah terpasang dengan benar dan erat. Tangan kanannya menepuk helm Noel dengan sedikit kencang, membuat yang ditepuk gaduh dan protes dari balik kaca helmnya.

Orion lekas mengikuti Noel yang sudah terlebih dahulu menjalankan laju motornya. Orion dengan senyum yang ia sembunyikan di balik kaca helmnya lekas mengejar Noel yang belum begitu jauh dan masih bisa tertangkap oleh penglihatannya.

“Curang lo, colong start!” teriak Orion dalam balik helmnya ketika posisi keduanya telah sejajar, Noel hanya terkekeh dan menggembor-gemborkan gas pada motornya yang hanya dibalas oleh gelengan Orion penuh keheranan.

Keduanya terus melaju dengan kedudukan Noel yang selalu berada di depan Orion, membuat Orion sedikit was-was akan Noel yang kerap kali mendahului kendaraan-kendaraan di hadapannya dengan sembrono.

Setibanya di rumah Noel, Orion memarkirkan motornya bersebelahan dengan motor Noel. Netranya terus memindai dari tiap sudut ke sudut. Rumah yang tidak sebesar rumah-rumah gedong pada sinetron, namun terbilang lebih dari cukup. Rumah yang terlihat dan terasa lebih hidup daripada rumahnya, dalam pikirnya.

“Kan, gue bilang juga lebih jagoan gue kalau naik motor.” sombong Noel atas dirinya, kakinya melangkah mendekati pintu rumahnya.

Orion tersenyum. “Lo curang, lagian gue juga nggak tau rumah lo di mana.”

“Oke kalau gitu, besok kita balapan ulang biar lo nggak merasa dicurangi dan bisa ikhlas nerima kekalahan lo.” ucap Noel dan diakhiri dengan juluran lidahnya ke arah Orion, membuat Orion menahan gemas dan mengusak kepala Noel membuat rambutnya sedikit berantakan.

Hal pertama yang Orion dapati ketika melesakkan presensinya pada rumah Noel adalah seorang wanita paruh baya dengan balutan gaun rumahan berwarna putih tulang tengah terduduk di ruang tamu. Tangannya tergerak ke sana dan ke mari, memberi tarian di atas kanvas putih di hadapannya.

“Loh? Kok jam segini udah pulang, El?” tanya wanita paruh baya tersebut, mengalihkan fokusnya dari kanvas. Memandang Noel dan Orion yang tengah berdiri di samping kirinya, melemparkan senyuman hangatnya ke arah Orion. “Temennya Noel? Kok Bunda baru lihat ya?”

Orion menjulurkan tangan kanannya dengan sopan, tubuhnya sedikit membungkuk. “Orion, Tante.”

“Halo, Orion! Kamu temen sekelas Noel?” jawab Bunda Noel dengan membalas uluran tangan Orion, menjabatnya dengan pelan.

“Enggak, Bun. Dia mah satu sekolah sama Moren. Udah ya Bun, langsung ke atas.” potong Noel dengan cepat, melepaskan genggaman tangan keduanya dan memberikan kekehan kepada Bundanya sebelum akhirnya benar-benar meninggalkan Bundanya sendirian.

“‘Mari, Tante.”

“Bunda lo cantik.” puji Orion dengan langkahnya yang berhati-hati, mengikuti ke mana Noel akan membawanya. Sesekali matanya menangkap takjub pada lukisan-lukisan yang terpasang di tembok. “Ini Bunda lo semua yang ngelukis?” Noel hanya mengangguk sebagai jawaban.

“Bentar, gue ambilin minuman sama makanan dulu. Lo kalau mau cuci-cuci kaki atau apa, kamar mandi tuh.” ucap Noel, tangannya menunjuk salah satu sudut dalam kamarnya. Orion hanya mengangguk dan mengacungkan ibu jarinya.

Noel melangkah menjauh, meninggalkan Orion di kamarnya. Ia menuruni anak tangga dengan sedikit tergesa untuk segera mendekati Bundanya yang tengah melanjutkan kegiatan melukisnya.

“Noel bolos ya?” selidik Bundanya ketika Noel telah berdiri di sampingnya, yang ditanya hanya menampilkan cengengesannya. “Kenapa?”

“Iyon, kayaknya lagi ada masalah. Aku nggak tau, cuma mau bantuin aja biar enggak ngerasa sedih. Lagian ya Bun, aku kan nggak pernah bolos. Sekali ini aja, janji.” jelas Noel dengan intonasinya yang mendramatisir.

Bundanya hanya menggeleng pelan. “Janji ya, sekali ini aja?”

Noel mengangguk dengan senyumnya yang merekah. “Nggak janji tapi iya deh, sekali ini aja.”

“Itu diambilin minum sama cemilan dulu. Bunda belum masak buat makan siang, karena Bunda kira kamu pulangnya sore. Mau Bunda masakin dulu atau cari keluar?” tanya Bunda dan meletakkan kuasnya, tubuhnya kini duduk menyamping menghadap Noel. Kepalanya mendongak, menatap anak semata wayangnya. Tangannya terulur untuk memberikan usapan dan menata rambut Noel yang sudah mulai panjang, hampir mengenai matanya.

“Mau keluar aja deh. Kasihan Bunda harus masak dulu, biasa juga Bunda cari keluar. Nanti sekalian Noel beliin makan buat Bunda, tapi bentar dulu ya belum siang-siang amat juga kan.” jawab Noel dengan kakinya yang semakin terbuka lebar, berusaha merendahkan dirinya supaya Bundanya tak terlalu pegal untuk menggapai tingginya dengan susah.

“Yaudah, nanti kalau udah agak siangan langsung cari makan. Gih itu Iyon nya diambilin minum dulu.” ucap Bundanya, memberikan usapan terakhir pada kepala Noel. Noel hanya membalasnya dengan postur tubuh tegap dengan tangan kanannya yang membentuk hormat.

Noel kembali melesakkan tubuhnya ke dalam kamarnya dengan nampan berisikan beberapa cemilan dan dua botol minuman. Orion memasang pandangannya kepada Noel yang dengan penuh kehati-hatian berusaha meletakkan nampan tersebut di lantai, di hadapan Orion. Orion yang melihatnya hanya tersenyum, lucu, batinnya.

“Nanti cari makan siang di luar ya? Bunda belum masak, soalnya.” ucap Noel diakhiri dengan kekehan.

Orion memasang wajah yang sukar diartikan. “Gue nggak enak banget ke Bunda lo. Udah numpang bolos, mana ngerepotin ginian segala.”

Noel hanya menggeleng. “Enggak perlu, Bunda seneng-seneng aja kok! Soalnya ini nggak ada yang ngabisin, tau.” tunjuk Noel ke stoples-stoples yang menjadi teman keduanya.

Orion sempat menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Bunda lo, nggak apa-apa kalau lo bolos?”

Noel mengacungkan kedua ibu jarinya ke hadapan Orion dan memasang senyum yang menampilkan deretan giginya. “Aman!”

“El.”

“Apa, Iyon?” tanya Noel yang kini tengah melepaskan kancing seragamnya.

Orion terlihat tengah menimbang-nimbang, sesekali giginya memberikan gigitan pada bibir bagian dalam. “Enggak deh, nggak jadi.” Noel hanya mengangguk, paham jika mungkin Orion belum bisa sepenuhnya untuk percaya dan bercerita kepadanya.

“Lo lagi pengen makan apa?” tanya Noel yang telah menanggalkan atasan seragamnya, menyisakan kaus hitam polos yang membalutnya. “Ayam geprek? Lo suka nggak? Eh, atau mau nasi padang? Soto, mau? Lo mau apa, Iyon?” tanya Noel rundung.

Orion hanya terkekeh dan mengusak kepala Noel yang terduduk di hadapannya. “Bunda lo mau makan apa?”

“Bunda mah apa-apa doyan.”

“Gue juga apa-apa doyan. Lo mau makan apa, El?”

Noel menghela napasnya dengan kasar. “Ah! Lo mah nggak kooperatif! Sama aja kayak Bunda kalau ditanya mau makan apa malah nanya balik.” tangan Noel membuka stoples yang berisi kue kering buatan Bunda dan mulai mengambilnya untuk ia makan, mendahului supaya Orion juga mengikutinya. “Coba deh, Yon. Buatan Bunda gue.” ucap Noel di sela-sela kunyahnya.

Tangan Orion tergerak untuk mencomot satu keping kue kering di dalam stoples, mengikuti Noel. Kepalanya mengangguk-angguk pelan dan berdeham panjang setelah satu gigitan berhasil ia telan. “Bisa nih Bunda lo ikut Master Chef.”

“Lebay!”

“Serius, enak banget.”

“Nanti bawa pulang aja, okay!

“Apa yang dibawa pulang? Lo?”

Noel mendengus kesal, kakinya menendang kaki Orion dengan pelan. “Kue nya, lah!”

***

Hujan menepati janjinya dengan datang di siang hari, membasahi tanah kering yang berasap saat tersentuh air dan membawa angin yang memberi rasa dingin. Menimbulkan dentingan di atap-atap rumah yang didatanginya.

Baru berapa meter Orion dan Noel meninggalkan rumah Noel, kini Orion melambatkan laju motornya. Berniat menepi untuk mengeluarkan jas hujan atau bertanya Noel jika ingin kembali ke rumah.

“Kenapa kok berhenti?” tanya Noel dengan matanya yang sesekali memejam, menghindari air hujan yang akan mengenai matanya.

“Hujan. Lo mau pulang aja atau tetep cari makan? Ada jas hujan kok gue.” Orion menimpali, kini badannya memiring berusaha melihat Noel yang terduduk di jok motornya untuk kali pertama.

“Tapi gue laper!” seru Noel dengan bibirnya yang sedikit mengerucut, membuat Orion terkekeh dan mati-matian menahan untuk tidak mengusap bibir itu menggunakan ibu jarinya.

“Tapi jas hujan gue jas hujan egois, cuma bisa buat seorang. Lo aja ya pake.” ujar Orion sebelum akhirnya turun dari motor untuk membuka jok dan mengambil jas hujannya. Namun Noel tetap terduduk tak bergeming, membuat Orion tidak bisa membuka jok motornya. “Buruan turun, Noel. Gue mau ambilin jas hujan buat lo.”

“Nggak, kalau lo nggak pakai gue juga enggak. Kita hujan-hujanan aja, Iyon! Gue suka hujan-hujanan.” ucap Noel, kepalanya menengadah mempersilahkan langit untuk menghujami wajahnya dengan air hujan yang kian deras.

“Nanti lo sakit.”

“Enggak, gue mah kuat!” ucap Noel, kini ia sedikit memajukan duduknya untuk mengambil alih kemudi. “Buruan naik, gue yang boncengin.” Orion hanya menurut dan lekas mendudukkan dirinya di belakang Noel.

“Udah siap belum?” tanya Noel dengan lantang, menembus suara hujan yang menenggelamkan suaranya.

“Udah.”

“Pegangan, kita meluncur!” ucap Noel dan melajukan laju motor, membuat Orion menyembunyikan senyum di balik buliran air hujan sebesar biji jagung yang terus berjatuhan dengan lantangnya.

“Iyon!” panggil Noel dengan berteriak, membuat Orion memiringkan tubuhnya untuk mensejajarkan telinganya dengan kepala Noel supaya mendengar percakapan apa yang akan Noel bawa kali ini.

“Apa?” jawab Orion tak kalah lantangnya.

“Jangan malu, jangan takut.”

“Kenapa?”

“Nangis, gak akan kelihatan karena ketutupan hujan. Ayo nangis aja kalau emang lo lagi butuh banget, gue juga suka begitu.”

Tidak ada jawaban apapun dari bibir Orion. “Kalau lo malu sama gue, gue nggak akan denger dan nggak akan bisa lihat lo nangis, kan gue di depan lo. Tangisan lo bakal kalah sama suara hujan.” lanjut Noel.

Orion kembali membetulkan duduknya, menjauhkan kepala dan punggungnya yang sebelumnya sedikit menunduk untuk mensejajari Noel. Tanpa dugaan dan tanpa paksaan, air mata itu berhasil mendobrak dinding pertahanan pada pelupuk matanya. Lelaki yang menarik atensinya sejak beberapa hari terakhir itu tahu bahwa yang paling ia butuhkan saat ini adalah menyuarakan dan meluapkannya, Orion butuh untuk menangis.

Baik Orion juga Noel, keduanya disibukkan dengan ribuan angan-angan dalam benaknya. Menerobos hujan yang tak ada lagi harga dirinya.

Noel menyelipkan rambut panjang Mauren ke belakang telinga si pemilik leher jenjang dengan balutan warna kulit yang cerah dan dingin seperti pualam. Sesekali tangannya menepuk puncak kepala Mauren yang masih terisak dengan posisi tubuhnya yang menekuk kedua lututnya dan membawa ke dalam rengkuhannya.

Kedua tangan Noel meraih kedua tangan Mauren, menggenggamnya dengan erat dengan ibu jarinya yang mengusap punggung tangan Mauren secara terstruktur. “Kenapa kok malah lo yang nangis?”

Mauren menggeleng dengan tangisnya yang kini kembali pecah setelah Noel melontarkan pertanyaan kepadanya. Noel yang terlihat panik bergegas menarik kedua tangan Mauren dan dengan cepat merengkuh tubuh Mauren, mendekapnya dengan erat. Sesekali Noel memberikan usapan dan tepukan kecil pada punggung Mauren, membisikkan beberapa kalimat yang semoga saja dapat menenangkan Mauren dalam isakannya yang tak bersuara.

“Gue mau minta maaf karena dulu sering bantuin temen gue yang minta dicomblangin ke lo.” ucap Mauren yang kini sudah lebih tenang dari sebelumnya. “Gue nggak tau kalau lo-“

Noel melepaskan rengkuhannya pada tubuh Mauren, ibu jarinya menyeka sudut mata Mauren yang masih meninggalkan basah. “Ya enggak apa-apa kali, Mo. Gue nggak pernah marah sama lo, walau kadang temen lo ada yang bikin risih.” potong Noel dengan kekehannya di akhir kalimat.

“El, sejak kapan lo tau kalau lo suka sama cowok?” tanya Mauren menyelidik, tangannya kini menyapu rambut-rambutnya yang sedikit basah dan menutupi penglihatannya.

Noel hanya mengedikkan bahunya, kedua tangannya ia taruh di belakang sebagai tumpuan tubuhnya. “Nggak tau, Mo. Tapi gue ngerasa ada yang beda, gue ngerasa tertarik dan penasaran waktu lihat dia.”

Mauren bergidik ngeri, mengundang kekehan Noel di hadapannya. “Lo kalau jatuh cinta cringe banget, anjing!”

Noel hanya menjulurkan lidahnya, mengejek. “Dia kalau di sekolah gimana Mo?”

Mauren menyandarkan punggungnya pada sisi kasurnya, pandangannya menerawang jauh ke langit-langit kamarnya dan sempat berdeham panjang. “Orion ya? Nggak tau sih, gue nggak begitu perhatiin dia. Tapi yang gue tau orangnya emang famous dan everyone’s crush gitu, deh! Ya secara kan, udah anak band mana anak basket juga. Double combo banget.” terang Mauren menjabarkan sosok Orion menurut sepengetahuannya.

“Lo nggak naksir?”

Mauren yang ditanya hanya terkekeh, sebagian kecil dalam dirinya ingin meneriaki wajah Noel. ”Ya gue sukanya sama lo, monyet!” namun sebagian besar dalam dirinya masih memiliki sisa kewarasan.

“Gue kira lo bakal ngejauh dari gue setelah gue ceritain ini.”

Mauren dengan tawanya yang meledak memukul lengan Noel dengan kencang. “Lo ngeremehin pertemanan kita banget ya, bangsat.”

Noel hanya meringis dan mengelus lengan kirinya. “Perut lo udah enggak sakit?” Mauren hanya mengangguk dan menunjuk bungkus obat yang berada tak jauh dari keduanya.

“Lo mau balik lagi ke bengkel?” tanya Mauren saat memperhatikan Noel yang bergerak dengan gelisah, sesekali matanya melirik layar ponsel pada genggamannya. “Balik gih, biar bisa ngobrol banyak dan makin deket sama Orion.”

Bukannya lekas bergegas dan mengikuti saran dari Maurel, Noel kini membaringkan tubuhnya di lantai. Membiarkan dingin dari lantai kamar Mauren menyapa tubuhnya yang hanya terhalang kaus hitam tipis. “Nanti ah, bentar lagi. Takut kelihatan ngebet pengen ketemu.”

Maura terkekeh dan membaringkan tubuhnya tepat di sebelah Noel. “El, lo seneng, nggak?” tanya Mauren yang menghadap ke samping, ke arah Noel yang tengah memejamkan kedua matanya.

“Seneng kenapa?” tanpa membuka kedua matanya, Noel menanggapi pertanyaan Mauren.

Mauren mengedikkan bahunya. “Nggak tau. Ya, seneng karena akhirnya lo ketemu Orion? Seneng karena akhirnya lo tau apa yang lo suka dan yang lo mau? Seneng karena lo udah paham sama diri lo sendiri? Seneng karena lo udah cerita ke gue? Atau seneng karena lo-“

Noel terkekeh dan membuka kedua matanya. Tangan kananya menangkup sekilas bibir Mauren yang tengah mengerucut. “Iya, gue seneng, Mo.”

“Gue juga seneng kalau lo seneng, El.” Mauren menghembuskan napasnya, benaknya dipenuhi oleh frasa demi frasa untuk ia rangkai. Dari sekian banyaknya dialog-dialog yang menggantung dalam kepalanya, Mauren hanya mampu melontarkan satu kalimat yang terdiri dari tujuh kata.

Dalam keheningan ponsel Noel berdenting, layarnya menampilkan nama Orion di atasnya. Tanpa rencana dan tanpa dipaksa, senyum itu terus mengembang.

***

Noel menambah kecepatan pada laju motor yang ia kendarai tatkala rintik hujan yang kian lebat dan menantang menghujami tubuhnya. Tanggung, pikirnya. Karena hanya tinggal beberapa ratus meter dan dua gang lagi ia sampai pada tujuannya. Kaca pada helm yang ia kenakan pun sesekali ia usap, membersihkannya dari air hujan yang bertengger di sana dan mengganggu penglihatannya.

Ia menghentikan laju motor tersebut sesampainya di tempat tujuannya, memarkirkan sepeda motor itu pada deret-deret motor lainnya yang terjejer rapi. Dengan kaki jenjangnya, Noel lekas menjauh dari motor dan menjejakkan kakinya pada gerombolan laki-laki sebayanya yang sebelumnya terdengar sangat ricuh kini tiba-tiba terdiam. Tak ada satupun yang bergeming dari duduknya, kecuali Orion.

Orion dengan sigap melepaskan jaketnya dan menangkupkannya pada tubuh Noel, yang dengan segera dilepaskan oleh Noel. “Nggak usah, gue mau langsungan balik aja, Yon.”

Tidak ada satupun dari teman-teman Orion yang menginterupsi, memberi ruang bebas kepada keduanya. “Loh? Ini masih hujan, El.”

Noel mengangguk. “Makanya, mumpung masih hujan jadi sekalian aja hujan-hujan. Lagian gue udah basah kuyup gini?” tunjuk Noel kepada seluruh tubuhnya yang memang benar, tidak menyisakan sedikit sisipun yang kering.

“Lagian kenapa lo nggak neduh dulu, sih? Itu di jok motor gue juga ada jas hujannya.” ucap Orion dan segera berlalu ke dalam warung untuk memesan susu hangat, setelah melihat Noel yang sedikit menggigil dalam pijakan kakinya.

“Eh duduk-duduk dulu, El.” ucap Luke yang akhirnya menginterupsi, membukakan jalan dan tempat untuk Noel duduki. Sedang Noel menjawabnya dengan gelengan, tak enak sebab dirinya basah kuyup takut membasahi yang lainnya.

“Nggak apa-apa, kali? Duduk aja nih sambil diminum, gue coba ke sekolah bentar ya.” ucap Orion yang berjalan dari dalam warung, tangannya mengulurkan segelas susu cokelat hangat ke arah Noel. Tangannya mendorong tubuh Noel pelan, menuntunnya untuk duduk di tempat yang tersisa.

Noel dengan wajahnya yang penuh sarat kebingungan hanya mengikuti instruksi dari Orion, wajahnya mendongak untuk menatap wajah Orion yang berdiri di hadapannya. “Gue cariin baju olahraga dulu, ya, kayaknya di ruang basket ada. Sebentar aja, jangan kemana-mana.” Orion bergegas meninggalkan yang lainnya, sebelumnya ia juga telah kembali menangkupkan jaketnya pada tubuh Noel.

Bukan hanya Noel yang tak bergeming, seluruh teman-teman Orion pun hanya diam di tempatnya masing-masing dan menatap Orion dengan langkahnya yang semakin menjauh. Menerabas hujan dengan payung lusuh yang terdapat beberapa lubang di atasnya, hasil pinjaman Bu Romlah pemilik warung.

Noel dengan kikuk meneguk segelas susu yang diberikan Orion, matanya memindai ke sana dan ke mari. Satu-satunya orang yang ia kenal di sekelilingnya hanya Marvel, pun itu tidak terlalu kenal hanya sebatas tahu namanya.

“Santai aja, El. Jangan tegang gitu lo jadi kelihatan kayak tawanan.” celetuk Marvel yang mengetahui gelagat Noel yang dibalas anggukan dan cengiran.

“Mauren masih sakit, El?” kini Luke yang berusaha mencari topik pembicaraan yang dirasa mampu mencairkan suasana di tengah-tengah mereka.

“Loh? Kok tau kalau Mauren sakit?”

“Iya, dari Tweet-nya.” timpal Luke diakhiri dengan kekehan kecil supaya terlihat lebih bersahabat.

Sedang Noel hanya ber-oh-ria dan mengangguk. “Iya udah sih tadi, emang gitu anaknya kalau lagi dapet. Lo perhatiin banget, deh? Naksir Mauren ya, lo?” Noel mulai merasa dapat melesakkan dirinya dengan tenang di antara teman-teman Orion.

“Wah, bukan lagi, El.” timpal Svarga setelah akhirnya menurunkan ponsel dari hadapannya, mengakhiri permainan pada ponselnya.

Sembari menunggu Orion kembali, Noel sudah mampu sepenuhnya menyamankan dirinya di sana. Bahkan Noel yang sebelumnya kikuk dan terus merasa terintimidasi kini tak ada lagi. Bermula dari topik obrolan seputar Luke yang cintanya bertepuk sebelah tangan dengan Mauren, kini mengalir hingga antah-berantah.

Kedatangan Orion dalam ligkaran itu kembali membawa suasana menjadi diam, semuanya membiarkan Orion untuk memiliki waktunya sendiri bersama Noel. Bahkan hujan yang sedari tadi berteriak seolah ingin diperhatikan pun sudah sedikit reda, seolah-olah seluruh alam semesta beserta isinya mengizinkan Orion untuk akhirnya bertemu dengan Noel pada ujung labirin-labirin dunia.

“Dipakai, masuk aja ke dalem ada kamar mandi.” ujar Orion dan meletakkan kantong plastik berisikan pakaian olahraga yang telah ia ambil dari dalam ruang basket. Noel menurut, seluruh perkataan Orion pada dirinya hari itu terasa sebagai tuntut.

Sebelum akhirnya Noel melesakkan dirinya ke dalam warung untuk menuju kamar mandi, Orion menahan pergelangan tangannya. Membuat Noel berhenti dan berbalik menghadap Orion. “Ada minyak kayu putih juga di situ, dipakai ya.” Noel hanya mengangguk dan lekas meninggalkan Orion yang kini tengah menjadi sasaran dari cibiran teman-temannya.

Detak jarum jam terdengar jauh lebih keras kala itu, menemani mata yang nyalang di dalam ruang kamar yang gelap sebab lampunya sengaja ia matikan. Sudah tak terhitung berapa banyak Jazziel menghembuskan napasnya dengan kasar, sesekali ibu jarinya memberikan tekanan pada pelipisnya yang terasa ngilu. Tangan kanannya masih setia menggenggam sebuah kotak kecil yang telah ia siapkan dari jauh-jauh hari, sebelum akhirnya ia merencanakan hari ini untuk melamar kekasihnya; Nafandra.

Kedua netra Jazziel memindai apartemen Nafandra, dari sudut ke sudut lainnya ia sapu habis. Melihat bagaimana dekorasi yang telah ia pasang beberapa waktu lalu dibantu Harsa dan Matteo, melihat kasur yang selalu menjadi tempatnya berbaring dengan Nafandra di dalam rengkuhannya. Segala sudutnya terlihat rapi, bak tidak ada tanda-tanda kehidupan seseorang yang tinggal di ruangan itu. Nafandra, jauh lebih memilih untuk menghabiskan seluruh waktunya di ruang operasi dengan badannya yang dibalut seragam operation kamer berjam-jam lamanya.

Jazziel tidak mungkin menyudutkan dan menjatuhkan segala kegagalan atas rencana-rencana yang telah ia susun untuk malam ini kepada Nafandra. Ia hanya merasa kosong, merasa akan sampai kapan Nafandra terus-terusan mengabaikan dirinya sendiri? Bahkan untuk sekedar makan pun Nafandra hanya akan memakan makanan di kantin rumah sakit tempat ia bekerja, enggan untuk meluangkan sedikit waktunya dari dua puluh empat jam yang ia miliki hanya untuk sekedar mencari makan ke luar. Nafandra nya yang pekerja keras.

Dengan penuh keimpulsifan, Jazziel meraih jaket kulitnya yang sebelumnya tergeletak di atas sofa tempat ia duduk. Setelah selesai mengukung tubuhnya dengan jaket kulitnya, Jazziel bergegas memasukkan kotak kecil yang telah ia genggam sedari tadi ke dalam saku celananya. Sebelum akhirnya presensinya meninggalkan ruangan tersebut, Jazziel sempat meraih sebuah kantong plastik yang berisikan sekotak kue cokelat dengan dua kotak kecil yang membungkus lilin berbentuk angka dua dan tujuh di dalamnya.

Jazziel dengan segala keimpulsifannya, memilih untuk mendatangi rumah sakit tempat Nafandra berjaga malam itu. Tidak peduli dengan pepohonan besar di pinggir jalan yang bergoyang sempoyongan sebab tertiup angin besar dalam gemuruh hujan. Pun dengan tetes-tetes air hujan sebesar biji jagung yang menyerbu tanah dengan tidak sopan, menyapu daun-daun dan ranting yang berguguran karena tak mampu mempertahankan dirinya untuk tetap berada pada tempatnya.

Jauh dalam benak Jazziel saat ini hanya terisi oleh bagaimana ia segera sampai ke rumah sakit dan menjadi orang pertama untuk merayakan ulang tahun Nafandra, membuatnya tak mengindahkan suara-suara klakson dari arah berlawanan tatkala Jazziel mendahului kendaraan-kendaraan yang menghalangi laju mobilnya kala itu.

Bak secepat kilat, Jazziel menutup matanya dengan erat dan membanting kemudinya ke arah kiri tepat setelah kedua pupil mata Jazziel menangkap banyaknya cahaya dari arah lawan. Jalanan yang licin malam itu akibat guyuran hujan yang tak memiliki sopan dan santunnya, membuat mobil yang Jazziel kendarai tergelincir dan menerjang pembatas jalan. Tubuh Jazziel terhimpit jok dan kemudi, kepalanya sempat terbentur ke sisi kanan mobilnya dengan kencang hingga menyebabkan keluarnya banyak darah segar dari ujung sana. Kedua lutut Jazziel menekuk dengan penuh gencatan dari arah manapun. Jazziel dengan seluruh sisa kesadarannya merogoh saku celananya, memastikan keselamatan kotak yang beberapa hari terakhir ini selalu ia bawa kemanapun ia berada.

***

Tubuhnya meringkuk di atas beberapa kursi kayu yang ditata, Nafandra yang baru saja selesai melaksanakan tugasnya sebagai dokter bedah mengistirahatkan seluruh sistem kerja pada tubuhnya. Tenaganya tak bersisa sebab hari ini sudah tiga pasien yang ia tangani. Nafandra berdeham tanpa membuka kedua netranya yang tertutup rapat ketika merasakan tubuhnya tengah digoyahkan secara pelan, nyawanya belum sepenuhnya berkumpul untuk mencerna apa yang baru saja disampaikan kepadanya. Ia hanya mengangguk dan berdeham sebagai tanggapan, tubuhnya kembali meringkuk dengan kedua tangannya yang memeluk kakinya yang tertekuk rapat-rapat ke dalam rengkuhannya.

Untuk kali ini saja, Nafandra hanya menginginkan sedikit waktu dari dua puluh empat jam yang ia miliki untuknya mengistirahatkan dirinya dan absen dari dunia yang dengan perlakuan kejamnya hari ini; pada hari ulang tahunnya tak membiarkan ia berhenti barang sebentar.

“Na.” guncangan yang Nafandra dapatkan kali ini lebih besar dari sebelumnya, dengan penuh paksa dan menuntut untuk menarik dirinya kembali tersadar.

Nafandra dengan buku-buku tangannya yang sibuk mengucek sudut matanya pun terduduk, mengerjapkan kedua netranya untuk mengambil ulang kesadarannya. Keningnya menampilkan kerutan tatkala rekan kerja di hadapannya memasang mimik wajah gelisah dan penuh raut yang Nafandra sukar artikan. “Kenapa? Ada pasien lagi? Atau gimana pasien yang tadi?”

Rekan kerjanya menggeleng dengan kencang, sesekali menggigit bibir bawahnya dengan kasar. Tingkah lakunya penuh sarat kebingungan. “Apa sih?”

“Na, cowok lo.”

“Jiel? Kenapa?” Nafandra sempat meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku sebab tidurnya yang hanya sekilas dan dengan posisi serta tempat yang tak begitu nyaman.

“Cowok lo enggak ada.”

Nafandra terkekeh, tubuhnya membungkuk untuk memasang sepatunya yang ia tanggalkan sebelum meringkukkan diri di atas kursi-kursi yang berjajar. “Ya emang nggak ada, dia mah lagi di apart gue.”

“Cowok lo udah meninggal, Na.”

Nafandra yang masih membungkuk tak bergeming, tubuhnya seketika membeku dan otaknya malfungsi. Ia tak mengerti entah telah terjadi kesalahan apa pada telinganya atau kesalahan apa yang terjadi pada hari ini. Tubuhnya masih terus membungkuk walau kedua tangannya telah selesai mengikat tali sepatu itu erat-erat.

Beberapa menit tanpa adanya salah satu yang berucap, Nafandra menegakkan duduknya. Tangan kanannya menepuk keningnya dengan perlahan, tawanya meledak. “Ya elah, prank lo nggak mempan kali! Iya, iya, jadi mana kue ulang tahun gue? Gue perlu pura-pura kaget nggak ini?” tanya Nafandra dengan kekehannya, kakinya tergerak untuk berjalan di ambang pintu ruangan dengan kepalanya yang celingukan kesana dan kemari mencari orang-orang yang sengaja bersembunyi untuk memberinya kejutan di hari ulang tahunnya.

“Na, gue serius. Jazziel masih ada di UGD, baru mau dipindah ke kamar mayat.”

Banyak kisah patah hati dan kehancuran yang telah Nafandra lalui, namun kali ini menjadi satu-satunya kisah yang enggan ia percayai namun dengan lututnya yang lemas Nafandra segera berlari menuju ruang yang telah disebutkan rekan kerjanya. Mengabaikan banyak kalimat-kalimat khawatir yang berseru di belakangnya. Saat itu ia hanya ingin segera menjejakkan kakinya di UGD, memastikan apa yang telah ia dengar.

Bagai mati rasa, Nafandra memaksa tubuhnya untuk tak memberikan respon atas apa yang tengah ia saksikan dengan kedua matanya. Di hadapannya, terbaring dengan lemas dan tak berdaya. Jazziel, laki-laki yang selalu terlihat kuat dan keras itu tidak lagi ada. Kedua mata Nafandra memanas, air matanya ingin mendobrak seluruh pertahanan yang Nafandra simpan pada kantung matanya yang telah terbendung.

“Selama aku pacaran sama kamu, kayaknya ini prank paling niat dan paling jelek kamu deh, Ji.” ujar Nafandra lirih, tak berani mendekat ke arah ranjang dengan tubuh Jazziel yang bersimbah darah.

Salah seorang perawat yang berada di ruangan itu mendekat ke arah Nafandra, menyerahkan sebuah kotak kecil dan sekantong plastik yang sempat Jazziel titipkan sebelum jantungnya benar-benar berhenti berdetak.

Nafandra membuka kantong plastik tersebut sebelum akhirnya mendudukkan dirinya di lantai. Ia terkekeh saat melihat sekotak kue cokelat yang tak lagi berbentuk. Tangannya membuka dua kotak kecil berisikan lilin dengan angka dua dan tujuh yang kemudian ia tancapkan di atas kue tersebut.

Kedua mata Nafandra memejam dengan erat seolah memang ia tak ingin untuk membukanya lagi jika benar kenyataannya seperti apa yang ada di hadapannya. Benaknya terus-terusan merapalkan banyak doa yang ditujukan untuk Jazziel, yang ia harapkan saat ini hanyalah Jazziel nya.

Matanya terbuka dengan perlahan dan meniup lilin yang tidak pernah sempat ia nyalakan bersama dengan Jazziel.